Janji Lily

Janji Lily
Permintaan Maaf Adita


__ADS_3

"M-mas Abi, aku bantu kompres ya? i-itu memarnya makin biru dan gede! " cicit Adita sambil mencuri pandang Abi yang tengah mengompres pelipisnya di sofa living room.


"Gak perlu, saya bisa sendiri! " Jawab Abi ketus. Adita menghela nafas.


"Mas Abi, saya tau, dari awal saya pindah ke sini mas Abi emang gak pernah suka sama saya, gak pernah baik sama saya. Saya gak masalah kok, walau saya sendiri gak tau alasan mas Abi apa. Tapi untuk kali ini aja, saya mau tolongin mas Abi, karena bagaimanapun saya yang sudah membuat mas Abi cedera. Jadi biarkan saya melakukan niat baik saya untuk mengobati cedera mas Abi, paling tidak itu sebagai bentuk tanggung jawab saya. " Jawab Adita tegas membuat Abi sedikit terkejut dengan keberanian gadis itu. Adita segera mengambil kompres dari tangan Abi, lalu menekan lembut di area benjol.


Abi membuang pandangannya saat Adita tengah mengompres dirinya. Setelah beberapa menit Adita menghentikan kegiatannya. Dia membawa kompres anak ke ruang londry, dan meninggalkannya disana. Lalu mengambil sesuatu di kotak P3K yang ada di dapur, juga tak lupa segelas air putih.


Adita mengoleskan salep di sekitar memar yang benjol. Abi hanya diam samb sesekali melirik Adita


 Gadis itu tampak fokus sekali. Baru kali ini Abi memperhatikan gadis ini.


"Benjol nya udah saya kasih salep, semoga aja besok. udah kempes. Ini Air putih sama paracetamol. Jaga-jaga kalau mas pusing atau nyeri. Saya permisi dulu mau kembali ke kamar! Atau mas Abi mau saya bantu kembali ke atas? " Ucap Adita lagi. Abi hanya dia. Ngeloyor pergi meninggalkan Adita. Adita kembali menarik nafas.

__ADS_1


"Sabar! Sabar!" Ucap Adita sambil mengelus pelan dadanya. Gadis itu lalu meraih gelas dan paracetamol yang tadi di berikannya kepada Abi untuk di bawa dan di taruh ke kamar Abi.


---___---


"Bi.. itu kenapa? " Tanya Lily sambil menunjuk jidat Abi lalu menyentuh keningnya sendiri. Maksud Lily, jidat nya Abi kenapa? Pertanyaan Lily mengundang perhatian sebagian penghuni kos yang tengah sarapan pagi di bawah, termasuk Adita yang turut hadir di meja makan.


Abi menarik salah satu kursi kosong yang berada di samping Adita. Membuat gadis itu menahan nafas. Abi melirik gadis itu sesaat sebelum menjawab pertanyaan Lily.


"Kejedot pintu!" Dengus Abi.


"Sampe biru begini.. udah di obatin? " Tanya Lily lagi. Abi yang duduk di sebelah Lily mengangguk. Yaah, sebenarnya sih Abi gak Bener-bener duduk di samping Adita, tapi di apit oleh Lily dan Adita, karena kursi kosong di samping Lily juga ada di sebelah Adita. Hehehe.


"Udah sedikit ngempes ini, gak sekuatnya di malem, walau masih terasa nyut-nyut! "

__ADS_1


"Ya udah, makan dulu, aku bantu ambilin! " Lily segera menyiapkan sarapan untuk Abi. Semua penghuni kos tau, Lily dan Abi memang sahabat lama. Jadi pemandangan mereka berbagi perhatian adalah hal biasa. Tapi Lily juga perhatian kok sama penghuni kos lain.


---___---


Abi baru saja kembali ke kamarnya setelah tadi menemani Lily melihat taman Lili nya sembari bercerita dengan gadis itu.


Abi melihat sebuah benda berpita biru di atas nakasnya. Sebuah wafer coklat yang di ikat bersama satu tube salep, dan sepotong kertas yang tertempel di sana. Abi membaca tulisan singkat yang ada di kertas itu.


"Sekali lagi maaf. Semoga lekas sembuh. Jangan lupa di pake salepnya. Adita. "


Abi mengambil salepnya dan mengoles ke pelipisnya yang benjol. Salep yang terasa dingin saat di usap ke pelipisnya. Sementara wafer coklatnya Abi masukan ke dalam laci nakas. Abi memang kurang menyukai cemilan manis, dia lebih suka ngemil gorengan atau cemilan asin.


Abi merebahkan tubuhnya di kasur. Dia ingin berisi saja hari ini. Walau benjol di keningnya tidak terlalu sakit, tetap saja rasanya mengganggu. Kepalanya sedikit terasa nyut-nyut dan seperti da yang menempel di keningnya. Lagi pula tadi malam Abi pun kurang istirahat. Dia pulang lewat dini hari, di tambah pula dengan insiden yang di buat bocah ceroboh itu. Mengingat kelakuannya gadis itu saja Abi sudah kesal.

__ADS_1


---___---


__ADS_2