Janji Lily

Janji Lily
Broken


__ADS_3

"Kamu gak pa-pa? kamu baik-baik aja kan? kamu boleh menangis kalau itu bisa membuat kamu lega! " Lily mendongak menatap sosok yang membantunya, kenapa suara nya begitu familiar???


"M-mas Nathan?!" Lily kaget begitu melihat wajah orang yang telah menolongnya, dan membawanya menjauh dari pasangan suami istri tadi. Nathan hanya tersenyum tipis menjawab keterkejutan Lily.


"Kamu duduk di sini, biar saya lihat kaki kamu! " Ujar Nathan sambil membantu Lily untuk duduk di bongkahan batu. Lalu berjongkok memeriksa kedua kaki dan telapak tangan Lily.


"Lutut kanan kamu sedikit lecet, ujung jempol kakinya ada yang sakit gak kebentur batu? " Tanya Nathan. Lily mengangguk sambil memegang jempolnya yang terasa nyut-nyut.


"Kamu bawa tisu basah? buat bersihin lutut kamu! " ucap Nathan sambil memijat pelan jempol kaki Lily. Lily meraih sling bag nya yang berpindah kebelakang karena terjatuh tadi mengambil tisu basah dan memberikannya pada Nathan. Nathan membersihkan goresan kecil di lutut Lily juga kedua telapak tangannya.


"Masih nyut-nyut? bisa jalan?" Tanya Nathan sambil mendongak. Dia melihat mata Lily yang berkaca-kaca dan hidung yang memerah menahan tangis.


Nathan beringsut, duduk di samping Lily.


"Kalau mau nangis, nangis aja, biar hati kamu lega, gak nyesal lagi, gak papa kok! " Ucap Nathan pelan sambil menatap ombak di kejauhan.


"Cuma luka kecil, gak perlu nangis!" Ujar Lily serak. "Kok Dokter bisa di sini? " Tanya Lily tanpa menatap Nathan.


"Liburan." Jawab Nathan tanpa mengalihkan fokusnya. Lily hanya mengangguk mendengar jawaban Nathan.


"Kamu mau saya tinggal sendiri? mungkin kamu gak nyaman ada saya. Kamu boleh menangis kalo itu membuat kamu lega. saya tau apa yang terjadi, sakit di kaki kamu gak seberapa, tapi mata kamu menunjukkan ada bagian lain dari diri kamu yang gak baik-baik saja! " Ucap Nathan pelan sambil menatap Lily yang tengah menunduk. Nathan dapati setetes air bening jatuh saat Lily menunduk. Gadis ini menangis dalam diam.


"Ya sudah, saya tinggal dulu ya, nangis aja jangan di tahan! " Ujar Nathan sambil mengusap sekilas puncak kepala Lily. Baru saja hendak berdiri, Lily berbalik memeluk Nathan. Isak tangisnya kentara terdengar. Nathan terpaku sejenak. Sebentar saja kaos tipis yang Nathan kenakan terasa basah dan hangat karena air mata Lily. Nathan mengusap pelan punggung Lily, mencoba mengalirkan rasa tenang dari usapannya.


"Kenapa sesakit ini, rasanya sesak banget!!" Isak Lily dengan suara yang serak.


"Lepasin semua emosi kamu, biar sesaknya berkurang! " ujar Nathan sambil terus mengusap pelan punggung Lily.


"kenapa semuanya jahat? kenapa semuanya tega nyakitin saya? saya salah apa? kenapa harus saya yang harus merasakan semuanya? saya lelah! benar-benar lelah!! " Teriak Lily histeris. Nathan mempererat pelukannya. Sambil sebelah tangan terus mengusap punggung Lily.

__ADS_1


"Saya capek!! capek banget!! tidur pun gak tenang! " isak Lily lirih.


"Terkadang saya ingin menyerah!"


"Sttt!!! Semuanya bakal baik-baik saja, kamu kuat Lily, kamu bisa lewatin semuanya!" Ucap Nathan sambil mengusap pelan rambut Lily.


Isakan Lily semakin lama terdengat lirih. Lily melepaskan pelukannya, di ikuti Nathan yang juga melakukan hal yang sama.


"Maaf, saya malah nangis di dekat dokter, baju dokter jadi basah! " Ujar Lily serak sambil tertawa hambar.


"Gak pa-pa, Ly, nanti juga kering. Kamu udah enakan? mau balik ke penginapan? " Tanya Nathan.


Lily menatap ragu ke tempat tadi ia sempat terjatuh. Nathan mengerti arti tatapan Lily.


"Kamu boleh sembunyi di punggung saya jika kamu melihat siapapun yang tidak ingin kamu temui! " Ujar Nathan.


"Boleh? " Natahan mengangguk.


"Saya bisa jalan kok! kayaknya udah gak sakit lagi!" Lily berusaha berdiri, tapi ternyata lututnya yang justru terasa sedikit sakit, sehingga Lily sedikit terpincang.


"Ayo saya bantu jalan! " Nathan memberikan lengan kirinya untuk dipegang Lily sebagai pegangan untuk membantu menopangnya berjalan. Lily menurut. Ia berjalan sambil menunduk. Seolah takut melihat orang.


Nathan mengerti arti sikap Lily. Dengan suka rela Nathan membantu Lily agar tidak menyenggol atau menabrak apapun sepanjang perjalanan menuju kamar Lily.


"Kamu gak pa-pa saya tinggal? " Tanya Nathan saat ia dan Lily sudah berada di kamar Lily.


"Saya gak pa-pa mas Nathan! Sekali lagi terima kasih buat sore ini! "


"Iya, kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu kamu telepon saya, atau kamar saya ada di di ujung, 3 kamar dari sini! " Ujar Nathan.

__ADS_1


"Makasih mas, Saya masuk dulu! " Ucap Lily. Nathan mengangguk. Di tunggu nya Lily masuk dan menutup pintu. Baru ia juga menuju kamar miliknya.


---__---


Lily duduk di sofa menghadap jendela yang tertutup kaca transparan menatap laut yang disinari cahaya remang-remang dari pinggiran pantai dengan tatapan kosong. Sejak pulang tadi, ia tidak melakukan aktivitas apapun. Hanya berdiam diri di sana. Air matanya berulang kali jatuh. Sesekali ia tersenyum miris, kemudian terisak kembali, lalu kembali diam. Hal itu terjadi berulang-ulang. Segala bayangan dan kenangan masa lalu berputar-putar di memorinya.


"Lily benci! Lily benci semuanya!!! mereka jahat!!! " Teriak Lily frustasi. Kemudian menangis sesegukan.


---__---


Nathan bolak balik mengetuk pintu kamar Lily, menelponnya berulang-ulang. Tapi sama sekali tidak ada jawaban. Sudah jam 9 malam, tapi Lily belum juga keluar untuk makan malam. Sementara restoran hanya buka sampai jam 9 malam. Mencari rumah makan pun cukup susah di kota ini yang buka hingga larut malam. Tidak hanya Nathan, bahkan Irvan dan Sintia berusaha menghubungi Lily. Tapi tidak ada jawaban sama sekali. Sampai akhirnya Nathan meminta izin Irvan untuk memaksa masuk ke kamar Lily dengan meminta petugas hotel membuka kamar Lily dengan kunci lainnya. Begitu handle pintu bisa di putar, Nathan segera meminta petugas hotel pergi. Pemandangan yang Nathan lihat pertama kali saat pintu terbuka adalah Lily yang terlihat sangat kacau dengan rambut yang kusut, meringkuk, terisak di sofa. Pakaiannya tidak berganti, masih yang ia kenakan tadi sore. Nathan segera menutup dan mengunci pintu. Ia tak ingin siapapun melihat Lily yang mungkin tengah berada di titik terendah hidup nya.


Nathan melangkah berlahan mendekati Lily. Lalu berjongkok di samping sofa menghadap gadis yang tengah meringkuk dengan dua kaki di atas sofa dan kepala yang tertunduk di atas tangan yang terlipat di atas lutut. Rambut gadis itu tampak kusut


"Ly, Are u okey? " Tanya Nathan sambil menyentuh pelan lengan Lily. Gadis itu tersentak.


"K-kamu??" Lily menatap bingung antara Nathan dan pintu bergantian.


"Bagaimana kamu bisu masuk?? pergi!!! " Usir Lily marah penuh emosi! Gadis itu berdiri dari posisinya. Nathan lantas turut berdiri.


"Maaf, saya lancang, saya khawatir, soalnya..! " Ucap Nathan tenang, namun segera di potong oleh Lily.


"Saya bilang pergi! Pergi! " Lily mendorong Nathan.


"Ly, tenang Ly! Jangan kaya gini ya! " Mohon Nathan.


"Pergi!! " teriak Lily. Beruntung kamar ini kedap suara. Sehingga tidak akan ada yang mendengar teriakan Lily dari luar. Lily terus mendorong Nathan bahkan sampai memukul.


"Pergi!!! saya gak butuh kamu! Pergi!" Nathan berusaha menenangkan Lily yang terus memukulnya dan semakin kasar. Nathan meraih bahu Lily dan menahan gadis itu erat dalam pelukannya.

__ADS_1


"Ly, tenang ya, kamu nggak sendiri! kamu yang tenang ya! " Bisik Nathan. Dibiarkannya Lily yang terus berusaha memukul dadanya sambil berteriak minta lepas. Butuh waktu beberapa menit sampai akhirnya Lily lelah kemudian terisak dalam pelukan Nathan.


---___---


__ADS_2