Janji Lily

Janji Lily
Mendemam (2)


__ADS_3

Selang beberapa waktu sepeninggalan ** Fatma, Lily terbangun. Di rasanya keningnya, di raihnya kompres yang ada di kepala. Lily beringsut duduk menyandarkan diri pada head board. Kepalanya sudah terasa lebih ringan, dan demamnya juga sudah tidak sepanas tadi.


Suara dengkuran halus tertangkap indera pendengaran Lily. Dilihatnya sosok yang tertidur di sofa. Lily mengernyit. Nathan? Fikirnya. Lily menoleh ke nakas, hendak meletakkan kain kompres saat dilihatnya stetoskop, tensi meter, dan termometer ada di sana. Mungkin dokter muda itu di minta tolong oleh Bi Fatma untuk memeriksa dan menjaganya disini. Pikir Lily.


Lily meraih ponselnya. Ia ingat ada beberapa notif yang tadi ia abaikan. Ia memeriksa ponselnya.


Salah satunya chat dari Andika.


"Pagi cantik! Gimana tidurnya? Nyenyak? Atau malah ngigo karena mimpi dikejar setan? "


Tulis Andika, lengkap dengan emoticon ketawa sampai nangis guling-guling. Dikirim pria itu jam 6 tadi. Lily melihat ponselnya, sudah hampir jam 12 siang.


"SANGAT BURUK!!!! PUAASSS!!! " Balas Lily dengan tulisan huruf besar.


Tak lama, kembali masuk notifikasi dari Andika. Emoticon ketawa yang banyak sekali. Lily sudah tak berminat untuk membalasnya lagi.


Lily bangkit dari tempat tidurnya. Ia ingin membersihkan diri di kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket dan tidak nyaman. Lily keluar dari Walk in closet dengan pakaian yang sudah berganti, rambut di kuncir, dan tubuh yang lebih segar.


Dilihatnya Nathan yang masih tertidur. Lily keluar dari kamar. Membiarkan pria itu disana. Dia duduk di sofa depan televisi yang ada di ruang lantai tiga.


Tak lama, pintu kacanya terbuka, Bi Fatma masuk dengan baki berisi makanan.


"Non Lily sudah bangun? gimana badannya udah enakan Non? " Tanya bi Fatma sambil meletakkan baki di atas meja bar kitchen.


"Jauh lebih baik, bi. "


"Mas Nathan tadi udah bangun apa masih ketiduran non? Tadi bibi minta tolong mas Nathan buat periksa non Lily, terus Bibi tadi harus ke pasar, jadi sekalian minta tolong jagain Non Lily.


" Masih tidur bi! " Lily bangkit menuju counter table, aroma menggugah penciumannya.


"Bibi bangunin aja ya Non? Soalnya tadi bibi sekalian bawain makanan buat mas Nathan nya. "


"Gak usahlah bi, kasian mas Nathan, mungkin capek, kayaknya nyenyak banget deh, tapi bibi temani di sini ya, soalnya aku juga gak enak kalo cuma berdua. Atau bibi aja yang makan? "


"Bibi masih kenyang Non, tadi beli pecel di pasar. " Lily menganggukkan kepalanya. mulai menyuap bubur dan supnya.


"Bibi rapiin kamar Non Lily dulu, biar sprei bibi gantiin, Non tadi keringetan banget. Biasa kalo udah gitu pasti non Lily tidurnya gak nyenyak dan mimpi buruk ya?" Tanya Bi Fatma. Masih ingat dalam bayangan bi Fatma, Lily kecil jika sudah demam, sering mimpi buruk, terkadang sampai histeris berlari keluar dari kamar seperti orang bingung. Padahal Nona mudanya tidak memiliki trauma apapun saat itu.


"Iya bi, Lily mimpi seram. Bibi duduk sini aja dulu. Nanti aja ganti sprei. Tunggu mas Nathan bangun aja bi! " Bi Fatma menuruti permintaan nona mudanya.


"Emang Non Lily mimpi aja?"


"Dikejar-kejar hantu bi, mana wajahnya seram, tangannya bisa lepas melayang-layang mau nangkapin kaki aku juga. Aku ampe lari-lari, sampe rasanya capek banget. Eh pas bangun, udah ngos-ngosan keringetan. Pas tidur lagi malam mimpi lagi. " Cerita Lily sambil menyuap dan mengunyah pelan makanannya.

__ADS_1


"Kok bisa? Non Lily emang tadi malam kemana sama mas dika? Gak mungkin mas dika ajak nonton horor. Kan mas Dika tau Non Lily penakut! "


"Ih, bibi, Lily bukannya takut, cuma gak tau, kalo habis liat yang seram kenapa mudah ke bawa mimpi! "


"Jadi benar Non Lily nonton film horor? "


"Gak, bi, kita gak nonton kok, cuma jalan aja! "


"Terus kenapa Non Lily bisa mimpi sampai demam gitu? " Tanya Bi Fatma lagi. Kemudian Bi Fatma teringat sesuatu.


"Oh, Jangan-jangan Non Lily pergi ke rumah hantu lagi kayak waktu itu? Dulu kan Non Lily juga pernah kaya gini habis diajak mas Dika ke rumah hantu? Bibi ingat Non Lily sampai ngo...!!! "


"Bibi!!!!! Jangan di ingat lagi, aku malu!! " lily menekuk wajahnya yang merah. Merasa malu karena Bi Fatma masih mengingat kejadian yang sudah lama berlalu.


"Sampai apa, Bi? " Tanya Nathan yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka.


"Mas Nathan, sudah bangun! " basa-basi bi Fatma. Nathan tersenyum.


"Maaf Ly, tadi saya gak sengaja ketiduran di kamar kamu. Gimana kondisi kamu sudah enakan? " Tanya Nathan.


"Gak pa-pa mas, malah aku makasi tadi udah mau ngerawat aku. Duduk mas, itu bi Fatma tadi bawain makan siang untuk mas Nathan. Mungkin mulai dingin, atau mau di hangetin sebentar? " Tanya Lily.


"iya, sama-sama, Ly. Gak usah, biar saya makan aja! ini beneran gak pa-pa saya makan di sini? " Tanya Nathan.


"Kalo gitu karena mas Nathan udah bangun, bibi beresin kamar Non Lily dulu. Mas Nathan di sini saja makan sama Non Lily, biar semangat makannya ada teman! " Bi Fatma segera berdiri merapikan kamar Lily. Lily mengambil gelas bersih yang ada tersusun di kabinet counter, menuangkan air putih dari teko kaca yang ada di atas counter lalu menyodorkannya kepada Nathan.


"Silahkan mas! " Nathan mengangguk, meminum sedikit dan mulai menyendok makanannya. Suasana hening kemudian, hanya ada denting peralatan makan yang terdengar. Dari seluruh penghuni kos, Lily termasuk jarang berinteraksi dengan Nathan, mereka hanya saling menyapa jika kebetulan berselisih, Apa lagi Nathan waktunya lebih banyak habis di rumah sakit. Waktu itu sebenarnya Lily sempat heran, saat seorang dokter spesialis malah memilih ngekos di tempat nya, padahal secara finansial, Lily yakin Nathan sangat mampu untuk menyewa apartemen.


"Biar ada teman dan tak terlalu bosan, kalo di apartemen cuma tinggal sendiri, dan suasananya terlalu sepi. Lagi pula kosan ini tempatnya nyaman, berbeda dengan kosan lain, seperti di rumah sendiri, apa lagi penghuni di sini sangat ramah saat tadi Nathan bertanya dimana pemilik kos, dan fasilitas nya juga lengkap! " Begitu alasan Nathan saat itu memilih tinggal di sini.


"Maaf, tadi saya gak sengaja dengar kalo kamu suka mimpi buruk jika sudah melihat sesuatu yang horor? " Tanya Nathan memecah kesunyian. Lily meringis.


"Iya, mas. Padahal saya gak takut, di lantai tiga ini aja sendiri, tapi gak tau kalo habis lihat yang horor malah sering ke bawa mimpi! "


"Mungkin kamu terlalu tegang atau cemas bahkan stres saat itu, dan kondisi terbawa sampai kamu tertidur sehingga otak kamu ikutan stres dan mengeluarkan emosi dan ekspresi sulit yang akhirnya menciptakan mimpi buruk itu! "


"Bisa jadi, Soalnya semalam saya kaget dan sempat syok! " Lily menepikan piring bubur dan juga sup yang sudah tandas.


"Memang apa yang kamu lihat? "


"Sebenarnya, tadi malam saya nekat masuk rumah hantu yang ada di pasar malam! " Cengir Lily.


"Terus lihat hantu beneran? "

__ADS_1


"Gak sih, tapi saya kaget pas tangan saya megang tangan tapi gak ada badannya, ternyata cuma tangan mainan. " Ringis Lily.


"Ah, ga mungkin cuma kaget, pasti ada drama lain itu! " Sambung Bi Fatma yang keluar dari kamar membawa sprei dan pakaian kotor milik Lily.


"Oya? Kok bibi tau? Jadi Lily ini bisa drama bi? " Tanya Nathan penasaran.


"Haha, Non Lily itu penakut mas, Liat orang pake topeng hantu aja udah panas dingin! "


"Bibi... " Tegur Lily.


"Mumpung ada mas dokter non, jadi sekalian konsultasi, mumpung gratis, orang mas dokter udah tau gara-gara ke rumah hantu aja Non Lily sampai demam! " Ledek Bibi. Lily memasang tampang cemberut, bibir kecilnya mengerucut. Ekspresi yang baru kali ini Nathan lihat. Lelaki itu tersenyum tipis. Gemas sekali. pikirnya.


"Bi Fatma sepertinya sudah kenal sekali sama nona muda kita ini? "


"Bibi udah dari orok mas ngerawat Non Lily, makanya tau luar dalemnya gimana. Non Lily juga takut gelap, dia mudah panik kalo tiba-tiba lampu mati." Nathan hanya tersenyum. Yaa setiap orang terkadang punya kecemasan dan phobianya tersendiri.


"Pantesan saja bibi tau sekali tentang kamu Ly. Gak papa, rasa takut itu manusiawi kok, asal jangan terlalu berlebihan, belajar mengontrol kecemasan, agar tidak mudah panik dan bersikap tenang. " Sambung Nathan. Dia menepikan piring bekas makannya. Bi Fatma segera mengambil piring kotor di atas meja, menyusun di nampan dan memindahkannya ke


"Oya, bi, obat yang tadi boleh kasih Lily lagi, nanti saya kasih vitamin juga. Sebelum saya kembali ke bawah, boleh saya periksa sekali lagi?" Izin Nathan.


"Saya udah jauh lebih baikan kok mas! " Tolak Lily.


"Udah mas Nathan, periksa aja, Non Lily itu emang susah kalo di suruh berobat. Apa lagi kalo di suntik! " Sambung bi Fatma.


"Ya, udah, tunggu 15 menit lagi, saya tensi kembali. Tadi pagi tensi kamu juga rendah, mungkin karena kurang tidur ya tadi malam? " Lily hanya mengangguk mengiyakan.


"Periksanya di sini aja atau di sofa? alat dokter mas nya masih di kamar Non Lily, biar bibi bawain.


" Terima kasih bi, di sini saja gak pa-pa! "


Bi Fatma segera membawa peralatan milik Nathan dan meletakkannya di atas meja.


"Tensi dulu ya!" Lily meletakkan tangan kanan di atas meja, dengan cekatan Nathan memasangkan manset tensi meter di lengan Lily.


"Badan kamu gimana?" Tanya Nathan menyentuh kan punggung tangan ke kening dan leher Lily. Lily sedikit tersentak, seperti ada aliran listrik yang menyentuhnya. Tapi di liriknya Nathan yang biasa-biasa aja.


"Sudah normal, malah dingin. Tensi kamu normal, 100/80. Coba pake termometer Ly! " Ucap Nathan, sambil melepas manset tansi dan menyimpan di tas nya.


Lily menurut, setelah termometer berbunyi dia menyerahkan alat pengukur suhu tubuh itu kepada Nathan.


"36,6 derajat. Udah normal sih. Semoga gak demam lagi ya. Obatnya jangan lupa di minum, nanti Saya titip sama bi Fatma vitamin buat kamu nya. saya permisi dulu Ly." Ucap Nathan sambil membereskan tas medisnya kemudian keluar dari ruangan Lily sembari memberi tepukan pelan di punggung Lily.


---___---

__ADS_1


__ADS_2