Janji Lily

Janji Lily
Surprise???!!!


__ADS_3

"Mas Nathan, itu rumahnya kelewatan loh! " Ujar Lily. Tapi Nathan hanya diam, dia malah berbelok memasuki halaman rumah tetangga sebelah.


"Ngapain berhenti di sini, ih!" Kesal Lily. Dia segera membuka seatbelt dan keluar dari mobil Nathan. Nathan buru-buru mengejar Lily.


"Eh, mau kemana? Sini ikut ke dalam dulu! " Nathan meraih tangan Lily menahan gadis itu pergi.


"Ih, ngapain mas Nathan? ini rumah siapa juga? aku nggak kenal, lagi pula ini rumah kan udah di jual pemilik lama! "


"Makanya....!!! Biar kamu tahu ayo sini ikut!" Paksa Nathan.


"Ih, gak mau mas Nathan! Lagi pula ngapain ajak-ajak aku? Jangan-jangan mas Nathan punya niat yang tidak-tidak ya? " Tanya Lily curiga.


"Tik!!! Ih apaan ini pikirannya!" Nathan menjentik jidat Lily.


"Ih sakit mas Nathan! " Protes Lily.


"Makanya, mikirnya jangan aneh-aneh! saya gak punya niat yang tidak-tidak sama kamu! adanya juga pengen iya-iya! "


"Nah, kan sama aja! " Lily berusaha menarik tangannya. Nathan yang gemas malah membopong gadis itu di bahunya.


"Mas Nathan! Turunin gak!! " Teriak Lily sambil memukul punggung Nathan. Nathan tidak memperdulikan teriakan Lily. Pria itu membawa Lily masuk ke dalam rumah yang tanpa penerangan.


"Turunin gak!!!! "


"Awww!!! sakit Lily!! " Nathan segera menurunkan Lily yang tiba-tiba menggigit pundaknya.


"Makanya! Jangan macam-macam sama Lily! " Ujar Lily yang segera beranjak pergi.


"Surprise!!!! " Tiba-tiba lampu menyala. Lily yang sudah melangkah pergi kembali berbalik. Ruangan menjadi terang benderang. Anak-anak kos, bi Fatma dan asisten, berada di sana. Lily memperhatikan sekeliling. Ada foto pernikahan papa dan mamanya juga di sana, tapi Lily yakin, itu bukan foto lama, foto itu seperti baru.


"I-ini ada apa? " Tanya Lily bingung.

__ADS_1


"kenapa pada di sini semua sih? Bi Fatma? Mas Nathan? " Tanya Lily menatap semua bergantian. Tiba-tiba lampu kembali mati. Terdengar pintu yang terbuka. Cahaya lilin menerangi ruangan.


"Surprise!!! Happy Birthday Lily!! " Teriak semua orang, namun terdengar tidak kompak. Lampu kembali menyala.


"Papa, Mama???!!" Pekik Lily.


"Kalian juga?? "


"Apa sih ini? " Tanya Lily


Sintia dan Irvan menghampiri Lily. Adita mendorong meja dimana kue tart dengan lilin menyala di hadapan Lily, Irvan dan Sintia.


"Pa, ma! Lily gak suka ini! " Lily menggelengkan kepalanya.


"Ly, tenang dulu nak! coba kamu baca tulisan di kuenya! " Ucap Irvan pelan sembari merangkul erat pundak putrinya. Lily menurut membaca tulisan di tart.


 Lily's 23 Birthday!


Anniversary Irvan & Sintia


Tanya Lily serak!


Sintia tersenyum, dia menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna pink.


"Buka! " Ujar Sintia dengan suara tertahan. Lily membuka kotak tersebut. Dua buah buku berwarna hijau dan merah ada di dalamnya. Dengan tangan bergetar Lily mengambil salah satu buku, membuka halaman demi halaman. Air matanya mengalir perlahan dari sudut matanya. Lily mengembalikan buku yang tadi di pegangnya. Gadis itu tiba-tiba berbalik badan dan berlari meninggalkan semua yang ada di sana. Sejenak semua terpaku, karena mereka tidak tau seperti apa reaksi Lily. Nathan yang pertama sadar segera mengejar Lily. Abi ingin turut mengejar. Tapi di tahan oleh Arya.


Lily sudah berada di luar saat Nathan berhasil meraih tubuh yang tengah berlari dalam pelukannya. Gadis itu menangis tergugu. Nathan hanya diam sambil mengusap pelan punggung Lily. Dia akan membiarkan gadis itu melepaskan emosinya dahulu. Bajunya terasa basah oleh air mata Lily.


"Kita duduk di sana dulu yuk! " Ajak Nathan saat tangisan Lily mereda sambil melepaskan pelukannya. Di tangkupnya wajah Lily. Ibu jarinya menghapus sisa air mata yang tersisa. Lily hanya menurut. Dia masih bingung dan terkejut dengan kondisi di dalam tadi.


Setelah tangis Lily mulai mereda, dan hanya sesegukan kecil yang sesekali terdengar. Nathan mulai berbicara kembali.

__ADS_1


"Udah lebih baik? bisa kita ngomong! " Tanya Nathan lembut. Lily mengangguk.


"Kenapa tadi lari, hmm? Kenapa jadi nangis kaya gini? "


"Saya bingung, saya gak ngerti dengan apa yang terjadi di dalam. Apa ini bakal jadi mimpi buruk lagi, mas? " Bicara Lily dengan wajah tertunduk di tengah sisa isakan yang sesekali masih terdengar.


Nathan menyentu pelan dagu Lily dan mengangkat wajah sendu gadia itu untuk melihat ke kedalaman matanya.


"Hei, kenapa bingung? Ini nyata Lily. Kamu sedang tidak bermimpi. Kalaupun mimpi, bagian mana yang buruk? Hari ini ulang tahun kamu, dokter bilang kamu sehat, itu hal yang baik Lily, dan hari ini papa dan mama kamu kembali bersatu, itu juga hal yang baik, lalu bagian mana yang kamu takutkan? " Lily mengerjabkan matanya.


"Tapi, saya bener-bener gak ngerti apa yang terjadi, rumah siapa itu? kenapa ada foto mama dan papa di sana? kenapa semua orang ada di sana? kapan papa sama mama balikan? apa yang sebenarnya terjadi? kenapa semuanya terlalu tiba-tiba! "Lily mengeluarkan pertanyaan yang berputar di kepala nya.


" Kamu bisa tanyakan nanti semuanya sama mama dan papa kamu, nanti mereka akan kasih jawaban dan semua alasan dari semua yang kamu tanyakan! "


"Kenapa mas Nathan langsung ajak saya ke sini? apa mas Nathan tau semuanya sebelumnya? Apa cuma saya yang gak tahu apa-apa? ini yang mas Nathan maksud dengan surprise tadi? Kenapa mas Nathan gak cerita dari awal? " Tanya Lily kembali dengan pertanyaan beruntun. Nathan menghela nafas. Dengan sabar, dia kembali berbicara dengan gadis yang akhir-akhir ini bersamanya.


"Iya, saya tahu semua Lily, saya tahu dari awal. Tapi saya gak bisa cerita sama kamu, karena saya gak punya hak sama sekali, karena ini adalah masalah internal keluarga. Saat ini status saya masih orang luar Lily. Tentang surprise yang tadi saya bilang, ya ini memang bagian dari surprise untuk kamu. Saya minta maaf karena gak ngomong ini sama kamu, bukan saya bermaksud membohongi kamu. Tapi ada papa mama kamu yang jauh lebih berhak untuk mengatakan nya sendiri. "


"Jadi ini rumah siapa? kapan papa mama rujuk? apa papa sama mama selama ini sudah tinggal bersama lagi tanpa saya tahu? " Tanya Lily lagi. Nathan meraih tangan gadis itu, menyelipkan jemarinya di antara jemari Lily.


"Kita masuk ke dalam ya, kita temui mama -papa kamu dulu. Mereka semua menunggu, ingin merayakan ulang tahun kamu untuk pertama kalinya setelah sekian lama kita tinggal bareng-bareng di 'rumah Lily'!"


"Saya gak pernah mau merayakan ulang tahun, karena semua hal buruk pernah terjadi di hari ulang tahun saya! "


"Maka dari itu, jadikan ulang tahun kamu kali ini adalah salah satu hal indah yang akan kamu kenang! "


"Saya gak mau! " Tolak Lily sambil melepaskan tangannya dari Nathan.


Nathan meraih kedua tangan Lily.


"Gak ada apa-apa Lily, hari ini awal yang baik buat kamu, saya janji akan temani kamu melewati semuanya hari ini, tidak akan ada hal buruk. Percaya sama saya!" pujuk Nathan meyakinkan Lily sambil bangkit dan menarik gadis itu berdiri.

__ADS_1


"Tapi? " Lily menatap ragu ke arah rumah, lalu kembali menatap Nathan. Nathan paham kebimbangan dan ketakutan Lily tak sepenuhnya hilang. Karena itu di rangkul nya Lily, lalu perlahan memutar tubuh gadis itu membawanya masuk kembali ke rumah.


---___---


__ADS_2