Janji Lily

Janji Lily
She is my girl


__ADS_3

"Jadi benar, kalau mas Nathan orang nya papa? " Tembak Lily.


"Tolong dengerin saya baik-baik, biar kamu gak salah paham. Benar, yang barusan telepon adalah papa kamu, om Irvan. Tapi, saya bukan orang suruhan papa kamu. Iya benar, keberadaan saya di sini adalah campur tangan orang tua kamu, tapi atas keinginan saya sendiri, kemauan saya. Saya gak di bayar kok, saya tulus dan saya juga gak bermaksud buruk. Ceritanya sangat singkat hingga akhirnya saya berada di sini. Saya baru beberapa hari kenal dengan papa kamu, dan ya seperti yang kamu tahu, papa kamu sepertinya menyuruh seseorang untuk terus memantau kamu. Dan mungkin karena akhir-akhir ini kita terlihat dekat dan beberapa waktu terlihat berdua. Jadilah informasi tentang saya sampai ke papa kamu. Dan kamu juga mungkin tahu, selama kamu gak ada, papa dan mama kamu yang stay di rumah. Di situ awal saya akhirnya tahu papa kamu, dan beliau mengajak saya berbicara di rooftop, menanyakan beberapa hal tentang saya, dan antara saya dan kamu. Lalu tiba-tiba mama kamu keceplosan mengatakan keberadaan kamu, mungkin kamu ingat malam saat kamu minta izin ke senoa? " Tanya Nathan. Lily mengangguk.


"Ya, saat itulah, saya bersama om Irvan, dan mama kamu keceplosan ngomong sama papa kamu kalau kamu ingin ke senua.Dan saya langsung tanya apa benar kalau kamu berada di Natuna? Akhirnya dengan berat hati mama kamu mengakui kalau benar kamu di sini, sera alasan kamu berada di sini. Dan saya yang tidak sengaja mendengar kabar jika seseorang yang kamu hindari justru juga akan kemari, membuat orang tua kami panik. Lalu saya menawarkan diri untuk kesini, menemani kamu. Karena jujur, saya juga khawatir dengan kamu saat itu! " Jawab Nathan.


"Hhh, papa mama emang gak bisa di percaya! " Keluh Lily.


"Hei, bukan begitu, mereka cuma hawatir saat itu, tidak bermaksud mengabaikan permintaan kamu Ly, mereka gak mungkin menyusul karena hawatir kamu marah. Makanya, jadilah saya yang mengajukan diri untuk ke sini. Semoga kamu mengerti maksud baik orang tua kamu Ya! " Ucap Nathan pelan sambil menepuk pelan pucuk kepala Lily.


Lily mengangguk. "Terima kasih, bahkan sampai ke sini pun saya masih merepotkan mas Nathan! "


"Saya gak merasa di repotkan kok, malah saya senang bisa menemani kamu! " Jawab Nathan.


"Terus gimana kerjaaan mas Nathan? "


"Saya beneran cuti kok, jadi gak ada masalah. saya tetap menikmati liburan saya ju..! " Nathan memutus ucapannya. Segera di rangkulnya Lily, di tahannya sisi kiri kepala Lily.


"Jangan menoleh, jangan melihat ke belakang atau ke samping! " Bisik Nathan.


"Tapi ke..! "


"Pejamkan mata kamu, pura-pura tidur! " Ucap Nathan sambil merapatkan rangkulan nya. Dibawanya Lily ke dadanya. ditahannya gadis itu disana. tangan kirinya masih tetap menahan sisi kiri kepala Lily, dan menutup telinga gadis itu.


"Loh, Nathan, jadi beneran kamu? " Suara seorang perempuan yang tak Lily kenali suaranya terdengar. Nathan semakin mengeratkan dekapannya dengan tangan kanan yang juga turut menahan tubuh Lily.

__ADS_1


"Dia?? " Tiba-tiba suara pria yang familiar masuk ke indra pendengaran Lily. Dada Lily berdegup kencang. Dia paham kini alasan Nathan makanannya seperti ini.


"Honeymoon ke sini juga? " Basa basi Nathan.


"Dia, siapa?" Kali ini Lily bisa memastikan suara perempuan ini milik Ivana.


"She is my Girl. Silahkan lanjutkan honeymoon kalian! " Usir Nathan. Ivana terkekeh.


"Ayo beb, kita pergi, kita di usir Nathan tau! " Ujar Ivana sambil menarik Andika. Andika mengikuti Ivana sambil menatap gadis yang ada di pelukan Nathan. Setelah Ivana dan Andika menjauh, Nathan segera melepaskan dekapannya.


"Maaf! Kita balik sekarang ya! " Ajak Nathan. Lily menggangguk. Nathan memberikan tangan nya membantu Lily berdiri. Lalu di genggamnya erat tangan gadis itu hingga ke pintu kamar Lily.


"Aku masuk dulu, makasih buat semuanya! " Pamit Lily. Gadis itu baru akan menutup pintu saat Nathan menahannya.


"Ya?" Tanya Lily bingung. Nathan mendorong pintu hingga sedikit lebih lebar. Dia masuk ke dalam, berjalan menuju nakas, meraih ponsel Lily dan memberikan pada gadis itu.


"Biar saja panggilannya aktif. Biar saya bisa memantau kamu. Saya gak mungkin menjaga kamu di sini, kamu bakalan gak nyaman. Karena itu biarkan panggilannya tetap aktif! " Ucap Nathan. Lily mengangguk.


"Ya sudah, kamu istirahat. Selamat istirahat, semoga tidur mu nyaman Lily! " Ucap Nathan sebelum keluar dari kamar Lily.


----___----


Lily tersenyum melihat panggilan di ponselnya yang masih menyala. Tak ada suara apapun. "Apa mas Nathan masih tidur ya? " Pikir Lily. Lily beranjak turun dari kasur, suasana hatinya jauh lebih baik pagi ini. Malam tadi Lily bisa tidur nyenyak. Padahal sebelumnya Lily sulit untuk bisa tidur dengan nyenyak. Mungkin efek dia berhasil mengeluarkan apa yang selama ini ia pendam, sehingga hatinya menjadi lebih lapang.


Lily sudah siap untuk membuka pintu, namun tiba-tiba keraguan menghantui nya kembali. Lily takut ia bertemu Andika dan istrinya, dan ia kembali tidak siap.

__ADS_1


"Kenapa gak jadi keluar? saya sudah di depan pintu loh dari tadi! " Suara Nathan dari ponselnya terdengar. Lily tersadar bahwa panggilan dari ponsel Nathan ke ponselnya masih terhubung.


"Eh, iya! " Lily segera membuka pintu.


"Pagi! " Sapa Nathan saat pintu kamar Lily terbuka.


"Mas Nathan udah dari tadi? " Tanya Lily.


"Iya, aku mau ajak kamu ke suatu tempat! kamu bawa baju ganti dan yang lainnya ya! " perintah Nathan.


"Emang mau kemana?? " Tanya Lily bingung.


"Udah, nurut aja!! " Nathan mendorong Lily kembali masuk ke kamarnya.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka berdua.


----___----


Andika duduk melamun di halaman resort. pikirannya sedikit terganggu saat melihat Lily dan Nathan.


"Sejak kapan mereka dekat?" Pikir Andika.


Andika mengenal Nathan karena mereka adalah teman seprofesi. Andika sama sekali tidak menyangka bertemu Nathan dan Lily di sini. Terutama Lily. Sejak kapan mereka dekat? Andika tahu Nathan memang ngekos di rumah Lily. Tapi mereka tidak sedekat itu. Bahkan jarang bertegur sapa. Tapi kini?? Bahkan Nathan bisa dengan santai merangkul dan menggandeng Lily, dan Lily sama sekali tidak terlihat keberatan.


"Beb! Kamu mikirin apa? " Andika tersentak saat seseorang menyentuh bahunya pelan.

__ADS_1


"Ivana! Aku gak mikirin apa-apa. Cuma tadi lihat Nathan, mau ngajak sarapan tapi udah keburu pergi! " Ucap Andika. Lalu segera membawa istrinya menuju restoran untuk sarapan sebelum mereka berangkat menuju ke lokasi wisata yang akan mereka kunjungi.


---___---


__ADS_2