Janji Lily

Janji Lily
Jangan di Hapus!!!


__ADS_3

"Emang kita mau kemana sih mas? Ini semua buat apa? kok mas Nathan beli semuanya sebanyak ini buat apa sih? " Tanya Lily sambil membantu Nathan memindahkan belanjaan dari troli ke bagasi mobil. Ada banyak mainan dan alat tulis yang dibeli Nathan. Juga beberapa snack dan kotak minuman ringan.


"Sabar! Nanti juga kamu tahu! Udah semua, yuk masuk ke mobil, saya mau antar troli nya dulu di sana! " Ujar Nathan sambil menutup bagasi, lalu mengembalikan troly ke emperan supermarket. Lily sudah siap di bangku penumpang saat Nathan masuk di kursi kemudi.


"Siap! Kita jalan sekarang! " Ujar Nathan. Jalanan lumayan lengang di saat tanggal merah di pertengahan minggu. Akan berbeda jika tanggal merah berdekatan dengan weekend. Jalur wisata akan padat. Setelah 40 menit perjalanan, mereka memasuki sebuah halaman yang asri dengan pepohonan buah. Disana berdiri bangunan dengan papan nama Panti Asuhan Anugrah Kasih.


"Kita ke sini? " Tanya Lily pada Nathan yang tengah mematikan mesin mobil dan melepas seatbelt nya.


"Iya, gak pa-pa kan saya ajak kamu ke sini? " Tanya Nathan.


"Iya, tapi harusnya mas Nathan bilang dari tadi, kan saya juga mau bawain sesuatu untuk penghuni panti! "


"Loh, itu kita udah bawa banyak kan? "


"Iya, tapi kan itu dari mas Nathan, saya juga mau berbagi mas! " Ujar Lily.


"Sama aja Lily, ayuk kita turun, kamu gak lihat beberapa bocah lagi ngintip di balik jendela nungguin siapa yang datang!" Lily melihat dari balik tirai jendela panti ada beberapa kepala yang menunggu mereka. Lily tersenyum melihat nya. Nathan mendekat melepas seatbelt Lily. Membuat Lily mundur tersandar di kursi. Nathan tersenyum setelah berhasil membuka seatbelt yang dikenakan Lily. Dia menyempatkan mengacak pelan pucuk kepala Lily sebelum membuka pintu disampingnya. Lalu segera keluar, mengitari setengah mobil dan membukakan pintu di samping Lily.


"Ayo! "


Lily segera keluar dari mobil, Nathan menutup pintu setelahnya. Lalu berjalan ke belakang mobil membuka bagasi dan mengeluarkan sebagian barang bawaan mereka. Seorang wanita berusia 50 tahunan keluar dari panti diikuti beberapa anak-anak.


"Hai anak-anak! Kak Nathan bawa sesuatu ni! " Ujar Nathan menyapa sambil mengangkat benda yang ada di tangganya. Bocah lelaki yang berusia sekitar 8 tahun itu masuk ke dalam sembari berteriak.


"Ayo jeluar, ada kak Nathan loh! " Teriak bocah itu. Lalu kembali keluar mendekati Nathan dan Lily bersama bocah yang lain. Nathan menyerahkan bungkusan yang di bawanya kepada bocah itu.


"Itu di bagasi masih ada, bawa masuk semua ya! " perintah Nathan kepada bocah lainnya, lalu ia menghampiri wanita paruh baya tersebut.


"Hai Bunda! " Sapa Nathan sambil mencium punggung tangan wanita yang di sapa bunda tersebut.


"Ya ampun Nathan, kemari kok gak ngabar-ngabari dulu? Bunda kira siapa yang datang waktu kaif bilang ada tamu! " Ujar wanita sambil menepuk pelang lengan Nathan.


"Kejutan, Bun! " Kekeh Nathan.


"Ini Nathan bawa siapa? " Tanya wanita itu sambil menunjuk Lily.


"Owh, iya kenalan, ini Lily bun, yang punya kosan tempat Nathan tinggal! " Nathan menarik pergelangan tangan Lily agar mendekat. Lily segera menyalim tangan wanita itu, melakukan hal yang sama seperti Nathan barusan.


"Saya Lily, tante! " Ujar Lily memperkenalkan namannya.


"Anisa! panggil saja Bunda Nisa seperti Nathan dan anak-anak yang lain, jangan panggil tante, rasanya aneh! " Kekeh Bunda Anisa.


"Ayo, Lily, masuk, nanti kita lihat-lihat kondisi panti sekalian main bareng adik-adik, mereka pasti senang ada yang menjenguk! " Ujar Bunda sambil menggamit lengan kanan Lily. "


"Ya udah, Lily kamu masuk duluan bareng Bunda, saya mau nutup bagasi mobil dulu! " Ujar Nathan sambil berlari menuju mobilnya. Sementara Lily mengikuti Bunda Nisa ke sebuah ruangan.

__ADS_1


"Ayo di minum teh sama kue nya, ini kue nya buatan Bunda loh! " Ujar Bunda Nisa mempersilahkan Nathan dan Lily mencicipi hidangan yang beliau sajikan. Nathan mencicip sedikit teh, lalu mengambil piring kecil berisi potongan bolu pandan. Lily mengikuti.


"Bunda gak makan kuenya? " Tanya Lily sebelum mencicipi potongan bolu yang beraroma pandan tersebut.


"Bunda mah udah! ayo, Lily enak gak kue buatan Bunda! "


Lily tersenyum mulai mencicipi kue buatan Bunda Nisa.


"Enak banget Bunda, lembut, gak seret, wanginya juga enak! " Ujar Lily memuji setelah mencicipi dia potong bolu.


"Itu Bunda buatnya pake jus pandan asli yang di masak dengan santan. Jadinya enak, kue nya lembut dan berasa tradisional banget karena gak pake margarin dan pewarna buatan. Ayo di habisin, nanti kurang Bunda tambah! "


"Eh, udah Bunda, ini udah cukup kok, nanti kasian adek-adek gak kebagian! " Ujar Lily. Bunda Nisa tersenyum melihat keramahan Lily.


"Nathan baru kali ini loh nawa teman kemari, jadi pasti Lily ini spesial makanya kamu ajak? Iya kan Nathan? " Tanya Bunda pada Nathan yang sedari tadi diam dan santai mencicipi kue buatan Bunda Nisa.


"Kalau itu, Bunda tanya Lily deh! " Ujar Nathan yang juga terlihat santai berhadapan dengan Bunda Nisa, terlihat sekali lelaki ini sudah sering berada di sini.


"Baiklah, Bunda tanya Lily saja. Jadi Lily ada hubungan apa sama Nathan? " Tanya Bunda Nisa dengan senyum menggoda.


"Eh, gak Bun, kita cuma teman kok! " Jawab Lily.


"Teman hidup, Bunda! " Sambung Nathan cepat. Bunda Nisa tertawa.


"Eh, gak Bunda, mas Nathan cuma bercanda! "


"Benar Bunda, cuma teman kok! " Jawab Lily berusaha bersikap biasa .


"Iya, lebih juga gak papa, Bunda dukung! " Kekeh Bunda Nisa. Lily menduduk karena malu di goda oleh Nathan dan Bunda Nisa.


"Udah ah, bercandanya, Lily jadi malu! " Ujar Lily.


"Haha, ya udah, maafin Bunda ya. Kalian mau main bareng anak-anak gak? Kita ke kebun belakang yuk, tadinya kita mau main di gazebo! Sekalian makan siang juga, kalian harus mau makan di sini!" Ujar Bunda Nisa


.


"Boleh Bunda! Yuk Ly! " Jawab Nathan sambil meraih tangan kanan Lily menggandengnya. Bunda Nisa pura-pura tak melihat. Dia tak ingin Lily salah tingkah dan merasa tak nyaman. Lily mengikuti Nathan keluar dan Bunda Nisa. Mereka keluar dari ruangan Bunda, lalu melewati lorong dan beberapa ruangan hingga tiba di belakang rumah panti. Ternyata di belakang Panti terdapat kebun organik dan hidroponik, juga beberapa pohon buah-buahan. Halaman Belakang nampak jauh lebih asri, di sekeliling pohon besar ada gazebo yang sejuk.


"Ayo anak-anak! ke sini sebentar, Bunda mau ngenalin kalian sama kakak cantik! " Teriak Bunda Nisa saat mereka tiba di gazebo, semua anak-anak panti segera mendekat.


"Bunda mau kenalin, ini temannya kak Nathan, namanya kak Lily. Cantik gak kak Lily? " Tanya Bunda Nisa dengan suara riang.


"Cantik Bunda! "


"Ayo salim kenalan sama kak Lily! " Perintah Bunda Nisa.

__ADS_1


Anak-anak panti yang berjumlah sekitar 40 anak tersebut segera menghampiri Lily, menyalaminya bergantian. Sebagian besar adalah anak berusia sekolah dasar, dan sisanya duduk di bangku SMP dan SMA, beberapa yang masih berusia batin dan balita. Lalu ada beberapa mbak dan mas sukarelawan maupun pengurus panti yang menjaga dan mengurus anak-anak ini.


Nathan segera berbaur dengan anak-anak tersebut. Terlihat Nathan sudah terbiasa bergabung dengan anak-anak dan pengurus panti. Dia langsung bermain dan bercanda dengan anak-anak tersebut.


"Nathan dari kecil sudah terbiasa berada di lingkungan panti, makanya dia bisa bermain dan bercanda lepas seperti itu tanpa canggung! " Ujar Bunda Nisa. Lily menoleh sekilas.


"Pantes, soalnya baru kali ini Lily melihat mas Nathan selepas ini, Bun. Biasa di kosan mas Nathan itu kalem! "


"Jadi, kali ini Lily melihat sisi lain dari Nathan gitu? " Tanya Bunda. Lily mengangguk.


"Iya Bunda. "


"Anak-anak ini mereka anak yang kurang beruntung Lily. Sebagian dari mereka ada yang tidak memiliki orang tua, ada yang di buang orang tua, ada yang tidak di akui keluarga, ada juga yang terlantar karena keegoisan orang tuanya! "


"Kamu lihat anak lelaki yang di gendong Nathan? Dari umur 2 tahun, bocah itu menjadi yatim piatu. Nah anak yang mengekor di belakang Nathan, dia di buang orang tuanya sejak bayi! " Ujar Bunda Nisa sambil menatap Lily. Bunda Nisa tersenyum melihat mata Lily yang mulai berkaca. Di usapnya pelan lengan Lily.


"Tidak mengapa nak, setiap manusia punya ujiannya sendiri. Mereka memang tidak beruntung, tapi mereka hebat dan kuat karena mampu melewati cobaannya! "


"Iya Bunda, Lily hanya terharu! " Ujar Lily sambil mengusap sudut matanya.


"Lily masih punya papa dan mama? "


"Masih Bunda! "


"Syukurlah, sayangi mereka selagi masih ada! "


"Iya, Bun!" Mereka melihat anak-anak yang bermain. Sesekali Lily tertawa melihat Nathan yang di keroyok anak-anak hingga berguling di rumputan. Beberapa kali Lily mengabadikan moment anak-anak panti dengan ponselnya. Tentunya setelah meminta izin dan di izinkan oleh Bunda Nisa untuk memotret anak-anak. Nathan yang kewalahan bermain kejar-kejaran bersandar di bawah pohon, dia mengusap keringatnya. Iseng Lily mengambil foto Nathan. Lily mengarahkan kameranya, setelah focus Lily segera menekan tombol penangkap gambar dan melihat hasilnya. Lily tersentak saat melihat hasil bidikan kameranya dan segera melihat kearah Nathan. Lelaki itu tengah berjalan ke arah Lily dan mengambil ponsel yang ada di tangan Lily lalu duduk di samping gadis itu, "Ganteng juga! kenapa gak bilang kalau mau ambil foto saya? " Tanya Nathan sambil menatap Lily dengan tatapan teduh.


"Gak, tadi cuma mau candid aja! aku juga ambil foto anak-anak kok, tadi udah izin Bunda Nisa! "


"Ya udah, Sini, kalo gitu kita foto bareng sekalian! " Nathan segera merangkul bahu Lily, membawa gadis itu lebih rapat dengannya.


"1, 2.. Senyum!! eh senyum dong! " Ujar Nathan sambil menatap Lily.


"Malu mas Nathan, itu di lihatin anak-anak! " ujar Lily. Nathan melihat sekeliling.


"Gak kok, anak-anak lagi asyik main! ayo senyum! " ujar Nathan. Lalu kembali menghitung.


"1, 2,.. Klik! oke sekali lagi!!! 1, 2, Ly lihat saya." Bisik Nathan. Lily mendongak disaat bersamaan Nathan menundukkan kepalanya, sehingga bibir Nathan menyentuh kening Lily. Ini ciuman ke dua yang di curi oleh Nathan. dan kembali Lily salah tingkah.


Klik!!!


"Bagus!!! " Ujar Nathan sambil menggeser Layar hape tersebut dan mengirim foto itu ke nomor ponselnya, lalu memperlihatkannya pada lily. Wajah Lily memerah. Nathan sengaja mengerjainya.


"Gak usah malu gitu dong, merah banget pipinya. awas jangan coba-coba di hapus fotonya! " Ujar Nathan sambil mencubit pelan pipi Lily lalu kembali bergabung dengan anak-anak.

__ADS_1


---__---


__ADS_2