
"Ly, kata bibi kamu sakit? kenapa gak kasih tau aku? lagi pula kenapa sih suka nyari penyakit? bang Dika juga, udah tau nonton horor aja kamu bisa ngigo sampe demam, malah di ajak ke rumah hantu! " Omel Abi yang sore itu bertandang ke ruangan Lily.
"Aku gak kenapa-napa, Lagi pula bukan salah kak Dika, Aku aja yang maksa masuk ke rumah hantu!"
"Iya, tapi paling tidak kan bang dika bisa..."
"Bisa apa, Bi? Ini murni kesalahan aku sendiri kok! Lagi pula aku gak pa-pa! kamu nggak perlu khawatir. Toh aku juga sekarang gak kenapa-kenapa kok! "
"Ya udahlah terserah kamu, yang penting kamu baik-baik saja sekarang. Toh gimana pun kamu pasti tetap belain bang Dika kan? "
"Bii, aku bukan belain abang kamu, tapi di sini emang aku yang salah! murni kesalahan aku sendiri. Please Bii, Andika itu kakak kamu. Gak seharusnya kamu nyalahin dia terus-terusan setiap terjadi sesuatu sama aku. Padahal sedikitpun dia gak punya salah apapun sama aku!"
"Ly.. aku belain kamu karena aku peduli sama kamu! "
"Makasih Bi, untuk kepedulian kamu. Tapi bisa kan untuk gak perlu ikut campur apa lagi masuk terlalu jauh untuk urusan aku dan kak Andika? Kamu salah satu teman terbaik aku Bi, aku gak mau kita ribut atau hubungan kita memburuk kita sikap kamu ini." Abi terdiam mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir Lily.
"Benar-benar gak ada peluang untuk aku, Ly? " Tanya Abi putus asa.
"Maaf, kamu sudah tahu jawabannya kan bi? "
"Apa kamu gak lelah, Ly?" Lily terkekeh pelan mendengar pertanyaan Abi.
"Harusnya pertanyaan yang sama buat kamu juga kan, Bi? " Tanya Lily. Abi terdiam. Untuk beberapa saat mereka sama-sama terdiam. Lalu saling berpandangan. Dan tertawa miris.
"Ya, kamu benar, sama seperti kamu, aku juga melakukan hal yang bodoh! " Geleng Abi.
"Tolong, jangan aku ya, Bi! Karena ini akan berat untuk ke depannya. Mau seperti apapun hubungan aku dan kak Dika nanti. Aku takut akan sulit buat kita. " Abi menghela nafas. Dan setelahnya ia pamit karena harus berangkat ke cafe miliknya.
---___---
Sepeninggalan Abi, Lily tercenung memikirkan pertanyaan yang selalu Abi lontarkan.
"Apa kamu gak lelah, Ly? "
"Kamu gak lelah, Ly? "
"gak lelah, Ly?"
Lelah?? Entah, Lily sama sekali tidak tau. Selama ini ia setia dengan janjinya. Janji Lily 9 tahun yang lalu.
----___----
Masa lalu...
"Papa nuduh mama selingkuh, tapi apa pa? dengan kedua mata mama sendiri, mama lihat papa berbuat menjijikkan dengan sekretaris papa itu!! " Teriak Sintia.
"Papa minta maaf, papa khilaf, papa janji gak akan mengulangi nya lagi, papa akan pecat sekretaris papa, tapi mohon, maaf kan papa! "
__ADS_1
"Mama gak peduli apapun yang papa ucapkan, mama Minta kita pisah! kita cerai! mama yang akan urus semuanya!! "
Lily terpaku di depan pintu rumahnya mendengar keributan orang tuanya. Mereka tidak menyadari keberadaan Lily yang baru saja pulang sekolah. Dada Lily terasa sesak. Sekuat tenaga ia tahan air matanya.
Dia berbalik ke arah pintu. Tak ingin mendengar kelanjutan pertengkaran kedua orang tuanya.
---____---
Lily melangkah tanpa tujuan. Keluar dari komplek perumahan mewah tempat tinggalnya. Menyusuri jalan tanpa tujuan, sambil sekuat mungkin ia menahan agar tidak menangis. Matanya memerah. Wajahnya terus menunduk.
"Cuitt!!! Hai cewek!! kenalan dong!! " Lily tak menghiraukan godaan sekelompok remaja yang tengah menongkrong di sebuah pos ronda sambil gitaran. Sebagian lagi asyik dengan ponselnya.
"Eyalah, sombong amat! mentang cantik!! pasti anak orang kaya ya!! "Gombalan lain.
"An! Cakep banget tuh cewek! Gombalin gih, minta nomor hapenya! " Senggol salah satu dari mereka kepada temannya yang asyik dengan ponselnya.
"Lagi malas gue! Elu aja!" Ucap seseorang yang di panggil An.
"Ealah! Lihat dulu coy! " Temannya tadi menarik ponsel si An, memaksa Si An menoleh ke arah yang di tunjuk temannya.
"Anak SMP, masih bocah elu demenin! pedofil elu? "
"Tapi PECE Coy PECE, Potensi cantiknya udah kelihatan banget! Apa lagi pas SMA nanti! Makin cakep tu!"
"Eh, tapi kok kaya kenal ya? itu tas nya?" Andika mengernyitkan kening menyipitkan matanya memperhatikan siswi dengan seragam SMP yang baru saja melintas. Tas hitam dengan gantungan winnie the pooh.
"Lily? Tetangga elo itu? " Tanya temannya yang lain. "Eh tapi mirip sih! " Sambung temannya lagi.
"Apa nyasar ya tu anak? Eh, bentar dan gue samperin tu bocah dulu! " Andika segera berlari mengejar gadis yang makin menjauh.
"Lily? " Panggil Andika saat hampir dekat. Gadis itu terus berjalan sama sekali tak mendengar panggilan di belakangnya.
"Lily, ngapain disini? mau kemana? " Andika menahan tangan gadis itu.
"Aaak!" Lily tersentak saat seseorang tiba-tiba memegang tangan nya. Dia mendongakkan wajahnya melihat siapa yang telah memegang tangannya.
"K-kak Dika! " Ucapnya lirih saat menyadari siapa yang memegang tangannya itu. Andika kaget melihat matan gadis itu memerah berkaca-kaca.
"Ly? Kamu nangis? " Tanya Andika pelan. Pertanyaan Andika malah membuat pertahanan Lily runtuh. Air matanya sudah tak bisa di bendung lagi.
"K-kak! " Isakkknya.
"Hei, kenapa? Ada yang jahatin kamu? " Tanya Andika khawatir. Di raupnya wajah Lily dengan kedua tangannya. Lily menggeleng.
"Terus kenapa?" Tanya Andika lagi tapi lagi-lagi hanya di balas Lily dengan gelengan.
"Ini Lily mau kemana? Kakak antar pulang ya? "
__ADS_1
"L-lily g-gak mau pu-lang k-kak! "ucapnya terbata dengan terisak. Bahunya terlihat berguncang menahan isaknya. Andika menghela nafas. Sepertinya Lily punya masalah besar.
" Terus Lily mau kemana? " Tanya Andika sabar.
"Gak tau!"
"Ya udah, Lily ikut kak Dika aja ya, dari pada Lily jalan gak tau arah kaya gini! Nanti semua orang malah bingung nyari Lily! " Pujuk Andika.
"Tapi Lily gak mau pulang! "
"Iya, Kak Dika gak antar Lily pulang kok! Udah jangan nangis lagi!" Andika menghapus air mata Lily dengan punggung tangannya.
"Yuk, ikut kakak, kita ke sana dulu, kakak mau pamit dulu sama teman-teman kak, lagi pula hape sama motor kakak juga di sana! " Dika segera menggandeng Lily untuk mengikuti nya.
---___---
"Hai adek cantik! Ehh, kok kayak abis nangis? wahhh parah lo An, Elo apain tuh anak orang? Sini dek, sini sama abang aja yuk, bang Dika jahat, buat adek nangis!!" Vernon, salah seorang teman Andika menghampiri Lily dengan merentangkan kedua tangannya, membuat Lily takut dan bersembunyi di balik punggung Andika.
"E eh mau ngapain lu?" Tanya Andika berusaha melindungi Lily.
"Elu yang ngapain buat anak orang nangis? "
"Bukan Gue!!! sembarang, Lu!! Sono, Lily takut sama elu!! "
"Yan, minta hape sama kunci motor! Gue cabut dulu! " Pinta Andika pada Bryan. Lalu segera pamit kepada teman-teman nya.
---___---
Lily memakan eskrim vanila coklatnya perlahan, di sebuah taman tak jauh dari komplek rumahnya. Andika setia duduk disampingnya, menunggui Lily sambil memperhatikan gadis itu yang sesekali menghela nafas berat.
"Setelah ini Lily mau kemana? "
"Kemana aja, asal gak pulang ke rumah! "
"Kenapa gak mau pulang? Lily habis di marahin mama papa? " Lily menggeleng.
"Lily gak mau pulang kak!"
"Terus Lily mau kemana? "
"Kemana aja, asal gak ketemu papa mama! "
"Papa sama mama pasti cemas cariin Lily! "
"Mereka gak peduli sama Lily kak, buktinya gak ada satupun yang mencari Lily! " Lily mulai berkaca-kaca kembali. Andika segera mengusap pelan punggung Lily, menenangkan gadis itu, tak mau jika ia kembali menangis.
"Iya, iya, kita gak pulang ke rumah Lily, Ikut ke rumah Kak Andika aja mau? " Tanya Andika. Lily mengangguk. Andika tersenyum mengusap pelan rambut gadis itu.
__ADS_1
---____---