Janji Lily

Janji Lily
Menjaga Lily (1)


__ADS_3

Lily tertunduk menyembunyikan wajahnya di ujung sofa dengan tangan bertumpu di atas lututnya. Sesekali terdengat isakan tertahan. Gadis itu masih terlihat syok dengan kejadian yang baru saja dialami.


Nathan menyentuh pelan puncak kepala Lily sambil menyodorkan segelas air putih.


"Minum dulu, biar sedikit tenang!"


Lily menyambut gelas yang nathan berikan. meminumnya sedikit, lalu meletakkan gelas itu di meja.


"Terima kasih untuk pertolongannya. Tapi saya minta tolong, jangan cerita pada siapapun!"


Nathan mengangguk. Kedatangan dan keributan yang Andika buat tidak hanya menyakiti Lily, tapi juga membuatnya sangat malu jika di ketahui orang lain. Perbuatan Andika sungguh memalukan. Beruntung Nathan datang tepat waktu.


"Pergilah! saya tidak apa-apa. " Lily menatap Nathan sekilas sambil membersit hidungnya. Nathan mengangguk. Menatap gadis itu sebentar. Lalu keluar dari ruangan Lily di lantai tiga.


---___---


"Bi..! " Nathan mengetuk pintu kamar bi Fatma di lantai satu. Tak lama terdengar suara dari dalam dan pintu kamar terbuka.


"Loh, Mas dokter, Ada apa? Bibi baru selesai ngaji, makan malam udah Bibi siapin kok! " Bi Fatma terlihat bingung karena tidak biasanya dokter muda ini mencarinya.


"Ehm, Bi, saya boleh masuk sebentar? ada yang mau saya ceritain, cuma gak enak kalo yang lain dengar! "


Bi Fatma menoleh ke kiri dan ke kanan.


"Rahasia? " Nathan mengangguk menjawab pertanyaan Bi Fatma.


"Ayo-ayo masuk, mas! " Bib Fatma mempersilahkan dan menarik kursi satunya yang ada di kamar.


"Duduk di sini saja Bi! " Nathan duduk di lantai berasal karpet tipis yang ada di kamar Bi Fatma. Bi Fatma mengikuti Nathan turut duduk di lantai.


"Ada apa, Mas? " Tanya Bi Fatma penasaran.


"Gini Bi, tadi sebelum senja saya pengen nyantai di rooftop. Tapi masih di tangga Saya mendengar keributan yang suaranya berasal dari sana. Begitu saya sampai ke atas, ternyata Lily dan Andika sedang ribut. Bahkan saya melihat Andika seperti ingin berbuat yang tidak- tidak terhadap Lily! "


"Ya ampun, mas? mas gak salah lihat kan? " Bi Fatma terlihat tak percaya.


"Saya langsung menghampiri Lily, Bi, saya juga sempat menonjok Andika. Lily terlihat syok Bi, bahkan sepeninggalan saya Lily masih terisak. Tadi Lily meminta saya pergi. Saya khawatir sebenarnya. Tapi mungkin Lily gak nyaman kalau saya ada di sana. Sebaiknya bibi temani da sekalia buat cek kondisi Lily. Perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Mungkin Lily mau cerita kalau sama bibi! "


"Yaa Allah mas,, Ya udah bibi langsung ke atas. Bi Fatma segera bangkit dari duduknya, ia cukup khawatir dengan anak majikannya itu.


" Bi, kabari saya kalau ada apa-apa. Bibi bawa Handphone saja, jadi bibi bisa langsung telepon. Jujur saya turut khawatir melihat Lily! " Jawab Nathan jujur. Bi Fatma mengangguk. Lalu bergegas keluar meninggalkan Nathan. Tak lama Nathan pun keluar dari sana dan menutup pintu kamar Bi Fatma.


---___---

__ADS_1


"Non Lily! " Panggil bi Fatma pelan. Wajah pucat terlihat berantakan itu mendongak.


"Bi... " Lily merentang kan kedua tangannya minta di peluk.


"Ya Allah, Non! Non Lily kenapa? " Bi Fatma langsung memeluk anak majikannya. Wajah pucat, sembab, mata bengkak dan rambut yang berantakan.


"Non Lily kenapa? " Bi Fatma mengusap usap punggung Lily agar Lily tenang.


"Kak Dika, Bi! Kak Dika jahat! " Isak Lily. Bi Fatma tertegun. Bi Fatma terus mengusap punggung Lily yang tengah tergugu. Menunggu gadis itu tenang.


"Memang mas Dika apain Non Lily? Non Lily mau cerita? " Tanya bu Fatma. Lily melepas pelukannya. Bi Fatma menunggu Lily. Lily mengatur nafasnya yang masih tersengal karena isakan. Perlahan-lahan dia menceritakan apa yang terjadi tadi di sore di rooftop.


"Astaghfirullah, kok mas Dika jadi gitu? kesambet itu orang. Tapi Non Lily gak papa kan? " Tanya Bi Fatma. Lily menggeleng.


"Apa Non Lily mau bibi kasih tau mama dan papa Non Lily? " Tanya Bi Fatma hati-hati. Lily langsung menggeleng.


"J-jangan Bi, Lily gak mau papa sama mama khawatir. Lily gak pa-pa, tadi Lily cuma kaget dan syok! "


"Bi Fatma menatap anak majikannya nelangsa. Ia tau persis bagaimana gadis ini melewati hari-harinya seorang diri setelah perceraian kedua orang tuanya.


" Bi, Lily mohon, jangan kasih tau apapun sama mama papa! plisss! "" Lily memohon. Bi Fatma memutus lamunannya.


"Iya, Bibi gak akan bilang, tapi Non Lily janji apapun masalah Non Lily harus cerita sama bibi, kalau ada apa-apa cepat kasih tau bibi ya! " punya Bi Fatma.


---___---


Nathan terbangun pukul 1 dini hari saat mendengar nada dering ponselnya.


"Ya ,bi? "


"oh, ya, saya ke atas sekarang! "


Nathan segera bangun, mengambil tas perlengkapan medisnya, lalu segera ke lantai tiga. Bi Fatma mengabarinya jika Lily panas tinggi dan mengigau.


"Permisi, Bi! biar saya periksa!" Nathan segera memeriksa suhu tubuh Lily dengan termometer, memasang alat saturasi di jari, lily, mengecek tekanan darah, juga memeriksa tubuh Lily menggunakan stetoskop.


"Badannya panas sekali bi, tensinya juga agak rendah! "


Tubuh Lily terlihat gemetar seperti orang menggigil karena efek suhu tubuhnya yang panas. Sesekali terdengar gumaman tak jelas dari bibir Lily, keringat sebesar jagung keluar dari pori-pori wajahnya.


"Bi, minta kompresan ya, sama air putih, biar Lily minum obat dulu, tadi sebelum tidur Lily makan kan Bi? " Tanya Nathan yang di iyakan oleh bi Fatma.


"Li.. Bangun..!" panggil Nathan pelan sambil menepuk pelan pipi Lily. Lily membuka mata, namun ia tersentak dan langsung beringsut ke pinggir ranjang menjauh saat melihat ada lelaki berada di kamar nya.

__ADS_1


" Ly, ini saya, Nathan! tadi bi Fatma meminta saya ke sini untuk memeriksa kamu. Saya sengaja bangunin kamu biar minum obat dulu. suhu badan kamu sangat tinggi Ly! "


Lily mencoba mengumpulkan kesadarannya. Dia melihat sekeliling.


"Bi.. Bi Fatma di mana?? Bi!! " Panggil Lily.


"Bi Fatma lagi ambilkan kompres buat kamu, kamu mimpi buruk Ly? "


Lily menatap Nathan yang juga tengah menatapnya. Lalu hanya menjawab dengan gelengan. Suasana menjadi sepi hingga bi Fatma kembali.


Nathan memberikan obat demam kepada Lily. Dibantu bi Fatma Lily meminum obatnya. bi Fatma menaruh kompres di kening Lily saat gadis itu telah kembali terbaring.


Bi Fatma baru saja akan beranjak, saat terdengar suara Lily.


"Bi, tangan Lily terasa pegal, tolong urutka sebentar! " Pintanya lemah. Bi Fatma segera menuruti permintaan anak majikannya. Dia duduk di samping tempat tidur dan memijat pelan kedua tangan Lily bergantian. Nathan memperhatikan Lily dari sofa yang ada di sudut kamar, tak lama ia beranjak keluar dari kamar Lily.


---___---


"Loh, mas Nathan masih di sini? " Tanya Bi Fatma saat melihat Nathan ada di Living room lantai tiga.


"Iya, Bi, gimana Lily? udah tidur? " Bi Fatma menghela nafas.


"Kasian Non Lily, mas.. padahal mas Andika salah satu orang yang di percaya non Lily selama ini, yang paling dekat, tapi tega sama Non Lily."


"Kalau boleh tau, sebenarnya hubungan Lily dan Andika itu gimana bi? mereka dekat, tapi setau saya Andika itu punya kekasih! "


Bi Fatma mengangguk.


"Iya, Non Lily dan mas Andika memang dekat dari mereka kecil. Mereka dulu tetanggaan.Rumah mas Andika hanya beda beberapa rumah dari sini. Tiap hari mas Andika pasti kemari nyariin Lily. Non Lily juga kalau lagi ngambek sama orang tuanya ya pasti kabur nya juga ke rumah mas Andika. Apa lagi orang tua mas Andika suka sekali sama Lily.


Sampai Non Lily menerima ujian terbesar di hidupnya, saat orang tua nya bercerai, mas Andika satu-satunya yang mampu menguatkan Non Lily. Bahkan saat non Lily berada di titik terendah, mas Andika adalah pahlawan yang menyelamatkan Non Lily, jika tidak, mungkin bibi tidak bisa lagi bertemu Non Lily! " Bi Fatma mengusap sudut mata nya.


"Maksud bibi.. Lily..? "


Bi Fatma mengangguk membenarkan apa yang di pikirkan Nathan. Nathan menggeleng tak percaya.


"Non Lily pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya. saat orang tuanya berpisah, Non Lily baru 14 tahun. Dia tak siap. Tapi berusaha kuat. Non Lily memilih tetap tinggal di rumah ini. Tidak ikut tuan dan nyonya. Hanya bibi yang menemani di rumah ini! Non Lily tidak pernah mau bergaul dengan siapapun. Hanya ada mas Andika yang selalu menemani. Sampai akhirnya mas Andika harus pindah ke luar kota karena kuliah. Dan adik mas Andika, mas Abi kembali ke rumah orang tuanya, karena dulu mas Abi dari kecil ikut tinggal bersama nenek dan kakeknya. Selama mas Andika gak ada, mas Abi yang menjadi teman Lily. Tapi non Lily selalu nungguin mas Andika, karena selama ini mas Andika satu-satunya teman Non Lily yang paling dekat. Non Lily pernah suka sama mas Dika. Tapi hubungan mereka gak jelas. Mungkin seperti menggantung kata anak sekarang. Mas Dika gak pernah kasih kepastian, tapi gak juga melepaskan non Lily. Non Lily yang takut, akhirnya memilih tak pernah membuka hati. Non Lily gak pernah pake perasaan. Karena takut terluka. Apa lagi trauma non Lily dengan perceraian orang tuanya. Sampai tadi, mas Andika datang, ngomong bakal bertunangan, Non Lily sebenarnya sudah tau dari mas Abi. Tapi sepertinya mas Andika gak terima melihat Non Lily yang responnya biasa saja. Mas Andika memaksa Non Lily untuk bilang cinta, Non Lily gak mau, karena selama ini toh Non Lily benar, gak pernah pake perasaan. Mas Andika marah. Lalu berusaha menyentuh non Lily. Mas Andika berubah kasar. Non Lily kaget, syok. Mas Andika tiba-tiba berubah seperti itu. Padahal memang Non Lily gak pernah main perasaan, Non Lily terlalu takut untuk membuka hati. Satu-satunya yang membuat kedekatan mereka bertahan karena janji! Janji yang pernah Non Lily ucapkan ke mas Andika. "


"Dan satu hal lagi, Non Lily memang selalu seperti ini saat dia mengalami hal buruk, merasa ketakutan, khawatir, cemas, semua akan terbawa ke mimpi dan berakhir demam!"


Nathan menarik nafas. Dia bangkit dari duduknya dan kembali melihat kondisi Lily.


---___---

__ADS_1


__ADS_2