
Lily menatap ponsel nya nanar. Membaca tulisan demi tulisan yang ada di layar. Perlahan Lily membuka tautan yang ada di sana. Serasa ada yang sakit di dadanya, tapi Lily sendiri tidak bisa mendefinisikan seperti apa sakitnya. Lily menutup laman yang terbuka, lalu menggeser layar ponselnya. Tak lama, nada sambung berbunyi, lalu di susul suara sapaan seseorang.
"Hai, Ly, kamu apa kabar, nak? " Terdengar suara pria di sana. Irvan permana, Ayah Lily.
"Lily baik pa, papa sibuk gak? "
"Gak, sih, emang kenapa sayang? "
"Lily mau ketemu papa, bisa? "
"Bisa, tapi kenapa nak? kamu baik-baik saja kan? " Tanya Ivan khawatir.
"Lily baik-baik aja kok, pa! Jadi Lily ketemu papa di mana? "
"Ini papa share lokasi nya, papa tunggu ya, safe drive nak! "
"Iya pa, Bye! " Lily memutuskan panggilannya. Tak lama sebuah pesan masuk. Lily bergegas bersiap-siap untuk menemui papa nya.
---___---
"Natuna???" Tanya Irvan kaget dengan keinginan anak gadis satu-satunya. Lily mengangguk.
"Tapi itu kan jauh nak, jarak pulau satu dengan yang lain juga jauh. Transportasi utamanya air pula. ke Bali saja ya? atau Lombok deh! " Tawar Irvan.
"Ih, papa, orang Lily mau nya ke sana. Kalau bali atau Lombok kan udah pernah! "
"Tapi kan kamu mabuk laut nak, kamu belum. pernah ke sana juga, mana pergi nya sendiri pula! "
"Paa, Lily udah besar, udah tamat kuliah, udah kerja juga, udah punya uang sendiri juga, gak ada yang perlu di khawatirkan deh pa, lagi pula itu kan bukan pelosok pa, itu tempat wisata kok! Dulu Lily ke Eropa yang lebih jauh aja papa izinkan, kok yang masih di Indonesia papa harus se-surprise itu sih dengarnya! " Lily mengerucutkan bibirnya.
"Ke Eropa kan beda lagi, papa sewa tour guide buat nemani kamu, teman papa pula, ya pasti aman lah! Lah, ini kamu mau pergi sendiri yang tempatnya sulit di jangkau, harus beberapa kali transit tranportasi udara, transportasi laut juga, mana kamu nya mabok laut pula! "
"Kan tinggal minum obat anti mabok pa! Lagi pula kan itu dulu, sekarang yakin deh gak mabok lagi! "
__ADS_1
"Ya udah, sekarang kasih tau papa alasan kamu ke sana? kemana tujuan kamu di sana, kapan waktu nya dan berapa lama! " Tanya Irvan serius.
"Alasan kesana pengen liburan, healing, penasaran sama view alamnya, mau lihat alif stone, gunung rinai, setanau, aku mau eksplore sampai aku puas! Waktu nya satu minggu dari sekarang, lama nya 2-3 minggu, bisa juga lebih!"
Irvan melotot mendengar pernyataan anak gadisnya.
"Gak! Gak lebih dari dua minggu, titik!!!!" putus Irvan. Dia membuka ponselnya melihat kalender. Keningnya mengernyit.
"Ly, jujur sama papa, apa alasan lain kamu ke Natuna? " Tanya Irvan fokus menatap anak gadisnya itu.
"Ya, mau liburan papa, mau healing! " Cicit Lily.
"Yang jujur! "
"Iyaa, kaya yang papa duga! "
"Apa dugaan papa emangnya? "
"Kemarin papa mama tanya kamu gak pa-pa, baik-baik saja, kok sekarang ngindar? "
"Papa, ngapain pake di tanya, ya maleslah pa, Walau gak banyak, paling gak walaupun sedikit Lily tetap ada rasa kecewa, rasa sedih! "
"Jadi, Lily mau menghindar?" Tanya Irvan.
"Gak juga papa, tapi Lily lagi pengen sendiri aja, Lily juga udah lama gak liburan. Please paa, ini murni liburan, Lily gak aneh-aneh, kalo mau aneh-aneh juga Lily ngapain bilang papa, mending langsung kabur! "
"Eits, jangan coba-coba kamu! Kamu pikir papa gak punya mata-mata apa buat ngawasin kamu! " Lily memutar bola matanya. Irvan kembali meraih ponsel yang sempat di taruhnya di meja. Dia menggeser layar, tak lama terdengar nada sambung, lalu suara lembut seorang wanita menyapa.
"Halo, Mas, tumben telepon? " Tanya suara di seberang. Lily turut mendengar karena suara yang di load speaker.
"Iya ma, ini anak mu, minta izin mau kabur, mana jauh lagi, ke Natuna! " Lapor Irvan. saat berbicara dengan anaknya, panggilan papa-mama tidak hilang di antara Irvan dan Sintia, walaupun anak mereka telah dewasa.
"Lily ada di sana? "
__ADS_1
"Iya, kami lagi di restauran! Ini anak tiba-tiba ngajak ketemu, malah ngajuin permintaan kabur! " Lalu panggilan berubah menjadi video call.
"Paling juga pengen healing kan, Ly? pasti ngindarin pernikahan Andika, ya?" tebak Sintia.
"Hehe, kok mama tau? " cengir Lily.
"Gini-gini juga kamu tuh sembilan bulan di perut mama, hal kaya gitu gak mungkin mama gak tau! "
"Hehe, lupa maa, soalnya udah lama banget waktu kejadian Lily di perut mama! "
"Dasar kamu!! Ya udah pa, kasih izin aja! Gak papa kok, Lagi pula Natuna emang bagus sih buat healing, apa lagi yang sedang patah hati kaya Lily! " Ledek Sintia. Lily tak menghiraukan ledekan Mama nya. Yang jelas lampu hijau sudah di beri oleh sang mama. Sekarang tinggal mengharap kesediaan sang papa untuk memberi izin.
"Tapi perjalanan ke sana itu jauh ma, pesawat gak selalu ada, seringnya lewat perjalanan laut. Itu juga butuh waktu dua hari, dari ibu kota provinsi! Ini anak kamu berangkat sendiri loh! "
"Gak papa pa, Lily sudah dewasa, dia tau apa yang dia lakukan, mama yakin Lily bisa jaga diri. Tapi kalo papa ragu, ya papa boleh fikir kan ulang lagi, atau gimana baik nya menurut papa! " Ucap Sintia sabar.
"Kamu kapan rencana mau berangkat, nak? " Tanya Sintia.
"Satu minggu dari seorang sih ma, rencananya! "
"Ya udah, nanti mama lihat jadwal penerbangan kapan ada, biar kamu gak capek kalo harus lewat laut, karena memakan waktu lebih lama. Mama juga bakal tanya resort yang ada di sana, kebetulan yang punya juga teman mama dan papa. Nanti mama juga minta brosur destinasi wisata, biar Lily juga bisa nyusun rencana perjalanan dengan baik, soalnya jarak destinasi yang satu dengan yang lain cukup memakan waktu. Lily siapkan aja dulu apa yang harus dan Lily butuhkan selama perjalanan sembari nunggu izin papa. Tapi ingat, jangan kabur lebih dahulu sebelum papa kasih izin! "
"Oke, siap ma!!!! love u!! " Girang Lily.
"Love u too, dear! "
Lalu Sintia dan Irvan berbicara sebentar, tak lama panggilan pun di putus.
"Jadi gimana paa? Boleh kan? " Tanya Lily dengan ekspresi penuh harapan.
"Tunggu keputusan papa, jangan coba-coba kabur! Sekarang makan dulu, udah itu papa ada janji ketemu klien! " Ucap Irvan sambil menunjuk makanan yang sudah terhidang di meja, yang di antar waiters saat mereka sibuk video call dengan Sintia.
---___---
__ADS_1