
"Jadi bener kalau kamu ke klinik sehati untuk konseling? "
"Mas Nathan tau? Apa mas Nathan orangnya mama sama papa yang disuruh buat mengawasi saya? " Tanya Lily curiga.
"Ya gak lah, saya aja baru kemarin ketemu dan kenalan sama papa kamu, tepat di hari kamu tiba-tiba menghilang. Saya tahu kamu melakukan konseling awalnya karena gak sengaja lihat kamu saat berkunjung ke sana. Klinik Sehati itu milik sahabat saya. Tepatnya milik keluarga sahabat saya yang juga praktek di sana. Awalnya saya pikir kamu sedang berkunjung. Tapi setelah beberapa kali bertemu rasanya gak mungkin kamu hanya membesuk sampai saya akhirnya melihat kamu keluar dari ruangan psikiatri saya yakin kamu datang bukan untuk membesuk, dan keyakinan saya semakin kuat saat bi Fatma meminta saya memeriksa kamu saat kami sakit. Saya juga gak sengaja melihat obat yang sama di nakas kamu yang sedikit terbuka. Saya gak bertanya karena itu privasi. "
"Mas Nathan sekarang tau kan gimana saya? menyedihkan gak sih hidup saya? Atau mas Nathan malah kasian ngeliat saya yang sebenarnya kaya gini? " Ujar Lily pelan sambil menatap Nathan sekilas yang ternyata tengah fokus menatap Lily.
"Emangnya kamu nyaman di tatap kasihan dan di kasihani oleh orang lain? " Lily menggeleng.
"Saya gak suka di kasihani, itu membuat saya semakin lemah! "
"Ini yang membuat saya kagum dari awal sama kamu, kamu kuat Lily, kamu gak pantas di kasihani. Kamu perempuan tegar. Kamu sanggup melewati setiap ujian di hidup kamu hingga sejauh ini. kamu hebat Lily! " Ujar Nathan sambil mengusap pelan puncak kepala Lily. Lily membalas dengan senyum tipis. Nathan membalas senyuman itu. Itu artinya Lily merasa sedikit lebih baik.
"Jadi, selama di sini, masih konseling? " Tanya Nathan. Lily menggangguk.
"Ya! "
"Alasan kamu ke sini apa karena ada yang ingin di hindari atau saran dari psikiater yang menangani kamu? "
"Ke duanya benar. Awalnya saya ingin menghindar, walaupun psikiater yang menangani saya menyarankan saya untuk mencoba menghadapi, tapi dia juga bilang, kalau saya gak kuat dan lelah, tidak mengapa jika saya healing untuk mengistirahatkan semua beban yang saya punya agar setelahnya saya punya energi buat menghadapi dan menyembuhkan sakit ku. Dan saya memilih kemari, karena saya pikir ini cukup jauh dan asing karena gak ada satu pun yang saya kenal di sini, eh, gak taunya takdir berkata lain, saya malah ketemu mas dokter juga di sini! " kekeh Lily.
"Jangan panggil dokter lah, saya lagi liburan, kalau di panggil dokter kok saya ngerasa malah kaya lagi bertugas! " guyon Nathan. Di tanggapi senyum tipis oleh Lily.
"Bukannya sekarang saya kayak lagi konsultasi sama dokter? " Nathan terkekeh.
"Sepertinya kok iya ya? Ya udah deh, gak papa saya jadi dokter dan perawat kamu sekalian saya rela kok! " Ujar Nathan lagi sambil mengambil Puding coklat almond. Menyendok nya dan mengarahkan ke mulut Lily.
"Eh, jangan, saya bisa sendiri kok! " tolak Lily.
__ADS_1
"Ayo, aaa saya jadi perawat kamu juga nih! Jarang-jarang loh ada dokter merangkap jadi perawat. " Kata Nathan sambil tetap menyodorkan ujung sendok ke hadapan Lily. Membuat Lily mengalah dan menerima suapan dari Nathan.
"Padahal saya cukup susah buat bujuk papa biar diizinkan kemari sendiri ke tempat yang kayaknya saya bakal jadi orang asing deh di sini! " Kekeh Lily.
"Ternyata malah saling ketemu ya? " kekeh Nathan
"saya kaya orang sial banget gak sih, jadi saksi bulan madu nya salah satu orang yang sebenarnya lagi aku hindarin? " Keluh Lily.
"Gak kok, justru kamu beruntung, karena takdir menginginkan kamu bisa menyelesaikan semuanya lebih cepat! "
"Dan saya ternyata gak siap! Saya malah kayak orang depresi gak sih? " Nathan tersenyum. Kembali memberikan sesuap puding kepada Lily.
"Buat mas Nathan saja, saya lagi gak mood! " Tolak Lily.
"Justru itu, karena ada kandungan coklat di pudingnya, kamu harus mencicip nya, karena coklat mengandung zat yang membuat mood kamu jadi lebih baik, biar gak sedih, gak stress lagi! " Ujar Nathan yang membuat Lily kembali menerima suapan dari Nathan.
"Oh, iya masih di tas, mungkin batrei nya habis karena dari pagi gak di charge lagi! "
"Coba di cek deh, kasian loh kalo papa sama mama kamu juga gak bisa telepon kamu! "
Lily mengangguk. Dia berdiri dan mengambil sling bag yang tadi ia letakan di atas kasur. Ponselnya benar-benar mati total. Lily segera menchargenya.
"Kamu mau istirahat? pasti lelah hari ini! "
Lily menggeleng, "Saya belum ingin tidur! " Nathan mengangguk mengerti.
"Kalau gitu, minum obat kamu, terus, kita lihat pantai sebentar di malam hari, nanti kalau kamu ngantuk, kita langsung pulang dan kamu bisa langsung tidur. "
"Saya gak mau keluar!" Geleng Lily. Nathan tersenyum. Dia mengerti kenapa Lily menolak keluar.
__ADS_1
"Gak pa-pa, Saya janji jagain kamu, gak akan terjadi apa-apa malam ini. Minum obatnya dulu! " Ujar Nathan sambil memberikan kotak obat milik Lily juga segelas air. Lily meminumnya. Nathan tersenyum melihat Lily yang menurut.
"Sekarang, ambil jaket atau baju hangat, kita jalan sebentar! " Nathan mengulang ajakannya.
"Tapi? " Tanya Lily ragu.
"Ayo, percaya sama saya, saya janji akan jagain kamu, gak ada apa-apa di luar, dan kamu gak akan lihat apa yang ingin kamu lihat! " Ujar Nathan lagi. Lily mengangguk. Dia berdiri masuk ke walk in closet. Lalu kembali dengan long cardi rajut. Nathan segera menghampiri Lily dan meraih tangan gadis itu lalu membawanya keluar. Nathan menatap sekeliling. Dia harus memastikan Lily aman, paling tidak gadis itu tidak melihat apa yang tak ingin ia lihat.
Lily dan Nathan duduk di atas bebatuan, mendengarkan ombak pantai dan melihat gulungan ombak yang menghantam bibir pantai. Angin sepoi, langit malam yang cerah, bulan yang terang, bintang yang bertaburan, membuat pantai juga terlihat indah di malam hari. Di kejauhan terlihat kelip lampu kapal yang lewat.
"Maaf ya, kalau tadi saya lancang masuk ke kamar kamu! " Ucap Nathan sambil memandang lurus ke depan.
"Ya. Dan makasih juga, keberadaan mas Nathan membuat perasaan aku jadi lebih baik! "
Nathan mengangguk.
"Besok, rencananya kamu mau kemana? " Tanya Nathan. Namun belum sempat Lily menjawab, ponsel Nathan yang berasa di saku celananya berdering. Nathan mengangkat ponselnya. Menjawab telepon seadanya sambil sesekali melirik Lily. Hanya beberapa menit. Lalu pembicaraan berakhir. Nathan menyimpan ponselnya kembali di saku.
Lily menatap Nathan dengan wajah serius.
"Kenapa? " Tanya Nathan sambil memberikan seulas senyum.
"Saya sangat mengenal suara papa saya, bahkan melalui ponsel sekalipun! " Nathan terkekeh.
"Oke, saya akan jujur, karena saya tahu kamu gak suka di bohongi, dan saya juga gak mau kamu marah, dan menjadikan saya sebagai kandidat salah seorang yang juga bakal kamu hindari! " Jawab Nathan tenang.
"Jadi benar, kalau mas Nathan orang nya papa? " Tembak Lily.
---___---
__ADS_1