Janji Lily

Janji Lily
Kunjungan papa dan mama


__ADS_3

"Papa??!! Mama??!! " Pekik Lily girang. Dia sangat kaget sekaligus senang melihat kedua orang tuanya ada di lantai tiga saat ia baru kembali dari berbelanja keperluan pribadinya di super market. Dia segera berhambur melepaskan barang belanjaannya sembarangan memeluk kedua orang tua nya bergantian.


"Ya ampun, papa mama kok gak bilang mau kemari? mana kompakan lagi, kalian datang bareng? " Tanya Lily tanpa jeda.


"Ya ampun sayang, Satu-satu nanyanya!" Tegur mama Lily sambil melepas pelukan anak tunggal nya.


"Masa mau ke rumah anak sendiri harus kasih kabar dulu sih nak? Emang udah ada yang larang??" Goda papa Lily.


"Ih, enggak gitu papa, kan takutnya aku lagi gak di rumah. Untung habis belanja langsung pulang! " ujar Lily, dia segera duduk di antar kedua orang tuanya.


"Kita gak sengaja bareng nak, tadi ketemu papa juga pas di bawah. Kamu apa kabarnya nak? " Tanya mama Lily lembut.


"Oowh, Lily kira barengan. Lily baik kok ma! papa mama gimana? Kok papa kurusan sih pa? " Tanya Lily sambil meraih tangan papanya.


"Papa baik. Cuma emang sedikit kurusan, akhir-akhir ini papa sibuk banget! " Ujar Irvan Permana.


"Jangan terlalu sibuk pa, ingat kapan istirahat, kapan makan, jangan kecapekan, kalau sakit nanti papa juga yang susah, kita kan gak tinggal bareng! " Pinta Lily.

__ADS_1


"Kalau mama gimana? baik kan ma? mama kok makin cantik? " Goda Lily.


"Bisa aja sih anak mama ngeledeknya, mama ini udah makin tua, cantik dari mana coba? " ucap Sintia sambil pura-pura cemberut. Lily tertawa.


"Ih, beneran tau maaaa!! Iyakan pa, mama makin cantik? " Tanya Lily pada Irvan, papanya.


"Eh, I-iya! " Jawab Irvan gugup. Yaa, mantan istrinya jauh lebih cantik dan makin terlihat awet muda. Irvan pun mengakui akan hal itu.


"Tuh kan ma, papa aja bilang iya! " Ujar Lily lagi sambil menyenggol lengan mama nya itu. sementara Sintia hanya tersenyum tipis sambil melirik Irvan sekilas.


"ehem! " Irvan berdehem. Membuat antusias Lily berpindah ke pada papanya.


"Lily baik-baik aja seperti yang papa lihat, malah Lily lagi senang karena ada papa mama di sini! "


"Sebenarnya, kami datang ingin tau, apa kamu baik-baik, karena mama papa dengar, kalau Andika sudah melakukan prosesi lamaran dengan seseorang. Kamu.. tidak apa-apakn sayang? " ucap Sintia hati-hati.


"Maaf nak, kami takut kamu kecewa dan patah hati di tinggal Andika. Walau jujur, kami senang saat kamu tak lagi sama Andika! "

__ADS_1


"Pa, ma, Lily gak apa-apa kok, tidak terjadi apapun dengan Lily, Lily gak kecewa atau patah hati sedikitpun pa, ma. Papa sama mama jangan hawatirin Lily! "


"Gimana gak hawatir nak, apa lagi kami dapat laporan Andika sudah berbuat kasar sama kamu. Bahkan kamu sampai demam karena kelakuannya! "


"Lily cuma shock aja pa, Lily gak kenapa-kenapa. Justru Lily sendiri heran kenapa Lily biasa aja saat tau kak Dika akan tunangan! Papa tau ini dari mana? Bi Minah ya? " Tebak Lily.


"Gak penting papa dan mama tau dari mana, yang pasti kami akan memantau kamu nak. Sampai kapanpun, berapapun usia Lily, kamu tetap anak kesayangan kami! " Ucap Irvan.


"Nak, kamu.. beneran gak patah hati? mama kira dulu kalian sedekat itu! "


"Beneran ma.. "


"Ly, jujur sama mama, selama ini kamu sendiri bukan karena trauma dengan perceraian papa mama kan nak? "


"Ma, Lily baik-baik saja, Lily gak trauma kok ma, hanya saja Lily ingin sendiri. itu saja! "


"Udah ah, Lily males bahas ini. Papa mama mau gak temani Lily makan yuk, udah lama kan kita gak makan sama- sama? " Pinta Lily.

__ADS_1


Dan papa mama Lily pun memenuhi ajakan putranya. sore itu, setelah sekian lama akhirnya Lily bisa duduk satu meja bersama kedua orang tuanya. Hubungan mereka masih trlihat harmonis. Tidak ada yang mengira jika mereka adalah keluarga yang bercerai berai.


---___---


__ADS_2