Janji Lily

Janji Lily
Waktu dan Kesempatan


__ADS_3

"Pa, Lily udah di pesawat. Sebentar lagi take off! "


"Kamu hati-hati sayang, nanti papa jemput di Bandara ya! "


"Gak perlu pa, nanti ketemu di rumah aja, nanti Lily bisa pake taksi kok pulangnya! "


" Beneran gak pa-pa? papa bisa kok jemput Lily, papa juga gak sibuk ini! "


"Iya gak pa-pa, lagi pula Lily gak sendiri jugaa kok!"


"Oya, emang kamu ada teman pulang? " Tanya Irvan.


"Jangan pura-pura gak tahu! papa kan yang kirim mas Nathan kemari, ini aja orangnya duduk di seat yang sama dengan Lily! " Omel Lily.


"Jadi Lily udah tahu? " Kekeh Irvan. Lily memberikan ponselnya pada Nathan.


"Hai om!" Sapa Nathan. Entah apa yang dibicarakan kedua orang itu hingga membuat Nathan tertawa. Nathan mengembalikan ponsel Lily yang sudah mati.


"Kata om Irvan, kalau berhasil membawa anaknya pulang dengan selamat aku bakal di angkat jadi calon mantu! " Kekeh Nathan.


"Ih, papa ada-ada aja!" Omel Lily.


---__---


"Welcome home sayang, gimana perjalanannya?" Irvan dan Sintia menyambut kedatangan anaknya yang baru tiba di rumah saat matahari sudah tak terlihat.


"Lancar ma! " Jawab Lily, sambil memeluk Sintia. sedangkan Nathan membantu supir taxi menurunkan tas dan koper milik mereka.


"Anak papa, akhirnya tiba di rumah! Ayo masuk, pasti lapar, belum makan kan? " Tanya Irvan.


"Belum pa, katanya mama masak, aku jadinya gak makan, udah lama juga gak makan masakan mama! Tapi bentar, aku ambil tas aku!" Ujar Lily, dia baru saja akan meraih tas nya, tapi di larang oleh Nathan.


"Udah, kamu masuk duluan, saya lagi pencitraan Ly! " Ujar Nathan. Irvan dan Sintia tertawa mendengarnya. Irvan manggil salah seorang penjaga rumah, dan memintanya membawa barang Nathan dan Lily.


"Sudah Nathan, kamu ikut masuk juga, kita makan bareng! " Ajak Irvan.


"Eh, gak usah om, biar saya di bawa, saya gak mau ganggu family time nya Lily!" Tolak Nathan.


"Sudah, ikut aja, katanya mau pencitraan! " Ledek Irvan. Nathan mengusap tengkuknya sembari menatap Lily yang di balas anggukan oleh Lily.


"Baik, om!" Ujar Nathan. Bersama mereka menuju ke atas.


---___---


"Terima kasih Nathan, karena telah menjaga Lily dengan baik. Bagaimana, setelah mengetahui banyak hal tentang anak saya, apa


kamu masih ingin lanjut atau berhenti mendekati anak saya? " Tanya Irvan. Saat ini Nathan dan Irvan tengah mengobrol di rooftop sembari menikmati udara pagi.

__ADS_1


Nathan terdiam sejenak. Percakapan saat mereka berada di tengah penerbangan pesawat kemarin kembali terbayang.


"Mas Nathan, terima kasih karena sudah menjadi penjaga dan pelindung saya selama di sini. Terima kasih untuk rasa aman dan nyaman. Tapi, saya harap, kedekatan ini hanya selama di sini saja dan kita kembali seperti sebelumnya saat sudah kembali pulang!" Ucap Lily.


"Kenapa begitu? Kamu gak suka dengan kedekatan kita? atau ada hal lain dalam diri saya yang membuat kamu merasa gak nyaman? " Tanya Nathan.


"Gak, bukan begitu! S-saya cuma ingin semua berjalan sebagaimana mestinya! " ujar Lily sambil menautkan jari-jari tangan nya.


"Saya gak janji. Kita ikuti saja alur nya nanti!" Jawab Nathan sambil menselojorkan badannya. Lalu pura-pura tidur.


"Bagaimana Nathan? "


"Saya gak akan berhenti om, kecuali jika Lily yang meminta! "


"Kenapa begitu? "


"Saya gak ingin Lily merasa gak nyaman dengan keberadaan saya! "


"Maka tugas kamu untuk membuat dia merasa nyaman. Buat dia terbiasa dengan keberadaan kamu! "


"Iya, itu pasti akan saya lakukan! "


---___---


Nathan bersandar dengan dua tangan bersedekap di dada di dinding lorong di samping pintu ruangan yang bertulis kan dr. Yasmin, SpKJ. Sudah lebih dari dua puluh menit Nathan berada di sana. Tak lama terdengar pintu terbuka. Nathan segera menegakkan tubuhnya, tampak Lily sedang bersama seorang wanita yang berparas lembut ke luar dari ruangan tersebut.


"Hai Dok! " Sapa Nathan ramah saat melihat Dr. Yasmin.


"Saya sengaja di sini dari tadi buat nungguin seseorang dok! "


"Nungguin siapa? gak mungkin saya dong! " Kekeh dr. Yasmin.


"Saya nungguin pasien dokter! " Ucap Nathan tersenyum sambil melirik Lily.


"Owh!" Dokter Yasmin tersenyum penuh arti.


"Kenal dengan dokter Nathan, Lily? Dia nungguin kamu katanya! "


"I-iya, dok, saya kenal dengan dokter Nathan. Tapi saya gak tahu kalau dokter Nathan berada di sini! " Jawab Lily yang dari tadi hanya diam menyaksikan interaksi ke dua dokter tersebut.


"Kalau Begitu, saya gak ikut campur deh. Saya permisi dulu. Ingat pesan saya, tetap jaga kesehatan tubuh, jangan mudah stress dan lakukan hal positif yang menyenangkan. Jangan ragu membuka diri dan mengenal dan menerima segala yang ada di sekeliling kamu dengan baik. Saya harap ini awal yang baik Lily!" Ujar Dokter Yasmin sambil menepuk pelan bahu Lily.


"Mari dokter Nathan, saya permisi dulu!" Nathan mengangguk mempersilahkan, dan dokter Yasmin pun berlalu meninggalkan ruangannya.


"Mas Nathan kok tahu saya di sini? " Tanya Lily saat hanya tinggal ia dan Nathan di lorong tersebut.


"Gak sengaja, tadi saat di cafe depan dengan teman saya yang punya klinik, saya lihat kamu turun dari tadi. Saya yakin kamu konseling. Makanya saya nungguin! "

__ADS_1


"Mas Nathan gak kerja? " Tanya Lily.


"Sudah selesai, makanya bisa kemari! " Jawab Nathan.


"Owh, ya sudah kalau gitu saya pamit mau pulang dulu! "


"Loh, saya kan nungguin kamu biar kita pulang bareng, kamu kan gak bawa mobil! "


"Tapi, kan..! " Ucapan Lily terputus. Karena Nathan menggandeng tangan Lily membawanya keluar dari klinik


---___---


"Gimana konseling nya? " Tanya Nathan saat mereka berada di mobil. Lily hanya diam menatap jalanan yang ada di sisi kira jendela mobil Nathan. Nathan melirik sekilas setelah beberapa detik Lily hanya berdiam diri.


"Ya udah, gak pa-pa kalau gak mau cerita! " Ujar Natal lagi sembari tangan kanannya menepul pelan puncak kepala Lily beberapa kali.


"Mas Nathan, bisa gak untuk berhenti seperti ini? "


"Seperti apa, Ly? " Tanya Nathan, berusaha memancing agar Lily berbicara, walau ia sangat mengerti maksud Lily barusan.


"Berhenti untuk bersikap perhatian dan peduli sama saya!"


"Tapi kenapa? "


"Karena saya ingin kita cukup seperti dulu aja! Mas Nathan gak perlu repot-repot dan buang-buang waktu untuk cari tahu keadaan saya!"


"Saya gak merasa repot dan gak merasa membuang waktu kok, semua kan karena keinginan saya sendiri! "


"Tapi saya yang merasa gak nyaman karena selalu merasa ngeropotin mas Nathan! "


"Kalo boleh merasa merepotkan seseorang kalau kamu yang minta, tapi ini kan keinginan saya sendiri, Ly! "


"Tapi saya tetap gak enak! "


"Iya tapi kenapa! "


"Karena semua perhatian dan kepedulian Mas Nathan sama saya sudah terlalu jauh! " bentak Lily.


Nathan menghentikan mobil di pinggir taman yang mereka lewati. Lelaki itu melepaskan seatbelt nya, lalu merubah posisi duduknya menghadap Lily yang fokus menatap lurus ke depan. Nathan menyentuh pelan dagu Lily agar mau menatap nya.


"Ingat, tadi dokter Yasmin bilang apa? Jangan ragu membuka diri dan mengenal dan menerima segala yang ada di sekeliling kamu dengan baik! " Ucap Nathan mengulang perkataan dokter Yasmin.


"Kasih kesempatan pertama buat saya, tolong Terima keberadaan saya, kasih saya waktu untuk menunjukan segala hal tentang diri saya sama kamu! "


"Tapi, saya belum siap, saya harus..! " Ujar Lily sambil menatap Nathan putus asa.


"Kamu gak akan pernah siap kalau tidak pernah mau mencoba. Saya gak akan memaksa kamu, tapi tolong kasih saya waktu dan kesempatan, jangan menolak saya sebelum kamu sendiri memberi kesempatan untuk saya. Kasih saya waktu dan kesempatan! "

__ADS_1


cup!!! Nathan mengecup sekilas kening Lily setelah mengucapkan kata-kata tersebut. Membuat Lily mematung. Nathan tersenyum kecil melihat reaksi Lily. Di acaknya pelan puncak kepala gadis itu sebelum ia memakai seat belt dan kembali melajukan kendaraannya.


---___---


__ADS_2