
Lily merasa salah tingkah dengan perlakuan Nathan. Gadis itu menarik dan membuang nafasnya berkali-kali untuk menghilangkan perasaan aneh yang akhir-akhir ini datang karena ulah Nathan. Lily berusaha menjaga matanya agar tidak melihat Nathan. Tanpa sengaja tatapan Lily menangkap bayangan seorang gadis remaja yang tengah duduk seorang diri di bawah pohon yang sedikit jauh. Lily melihat sekeliling. Semua terlihat asyik dengan aktifitas mereka masing-masing. Dengan ragu, Lily menghampiri gadis itu.
"Hai! " sapa Lily. Gadis itu terlihat terkejut saat ada yang menyapanya.
"Maaf, saya buat kamu kaget ya? " Ujar Lily sambil mengambil posisi di samping gadis itu.
"eh, oh, gak pa-pa kak! kalau kakak mau duduk di sini, silahkan, saya mau masuk dulu! " Jawab gadis itu sambil berusaha bangun dari duduknya. Tapi Lily segera menahan gadis itu.
"Saya tahu kamu lagi sedih, dan saya tahu kamu sedang menghindar dari orang lain. makanya kamu menyendiri di sini! ".
" Kok kakak tahu? "
"Karena saya pernah bersikap seperti kamu saat ini ketika sedang ada masalah." Gadis itu menatap Lily.
"Memang kakak punya masalah? Kayaknya kakak orang yang bahagia. Kakak cantik, baju kakak bagus, kakak wangi, kakak pasti anak orang kaya, dan orang tua kakak pasti sayang sama kakak! " Ujar gadis itu.
"Setiap orang pasti punya masalah, tapi cara setiap orang menyikapi nya berbeda-beda. ada yang menyimpan sendiri, ada yang pura-pura kuat, ada yang butuh bantuan dan semangat dari orang lain! Oya, nama saya Lily, nama kamu siapa? " Tanya Lily.
"Lily? bunga Lily? kalau saya cemara." Ujar gadis itu.
"Ya nama saya di ambil dari nama bunga Lily, karena orang tua saya menyukai bunga Lily, saya juga. Dan kamu Cemara? nama yang bagus, di ambil dari nama pohon? " Tanya Lily.
Gadis itu mengangguk. "Kata nenek, nama saya di ambil dari nama sebuah pohon, cemara. Cemara pohon yang meneduhkan, membawa kedamaian dan ketentraman.
Begitu menurut papa! " Matanya menerawang dan terlihat sedih.
"Kenapa sedih? " Tanya Lily.
"Tapi kenyataannya saya gak bisa membawa kedamaian dan ketentraman untuk mama dan papa. Buktinya mereka memilih berpisah." Ujar Cemara sendu.
"Berati nasib kita sama cemara, orang tua saya juga bercerai! " Ucap Lily pelan. Cemara menatap Lily.
"Jadi orang tua kakak juga bercerai? Terus kakak tinggal sama siapa? "
__ADS_1
"Saya memilih tinggal sendiri, tidak ikut mama atau papa, karena menyakitkan jika harus memilih salah satu diantara mereka! "
"Jadi kak Lily tinggal di panti juga? "
"Enggak, saya tinggal di rumah papa dan mama yang mereka tinggalkan untuk saya! kalau kamu? kenapa bisa ada di sini? " Tanya Lily.
"Papa dan mama cemara pisah, tapi mereka kemudian menikah sama selingkuhan masing-masing. Terus cemara di tinggalkan sama nenek. Saat nenek meninggal, cemara gak punya siapa-siapa, papa dan mama gak ada yang bisa ajak cemara, karena om dan tante menolak cemara! Cemara terlantar di rumah peninggalan nenek. Lalu Bunda Nisa menemukan cemara, dan membawa cemara ke panti. Sudah berbulan-bulan cemara di sini, tapi sepertinya papa dan mama gak ada yang kepikiran buat cari cemara. Mungkin karena mereka sekarang sudah punya anak lain! " Keluh cemara dengan mata berkaca-kaca. Lily memeluk gadis itu, ia tak tega mendengar cerita cemara.
"Cemara gak marah sama mama dan papa, cemara bersyukur, walau entah kapan, cemara masih ada kesempatan untuk berjumpa dan melihat mereka lagi. Di banding teman-teman yang lain, mereka sudah tidak punya kesempatan untuk bertemu orang tuanya. Yah, walaupun kadang cemara merasa marah, kecewa, sedih! Tapi kita tetap harus bersyukur kan kak? "
"Ya! " Jawab Lily pelan, sungguh ia sendiri bingung seperti apa menanggapi cerita cemara. Lily persis seusia Cemara saat mengalami perpisahan orang tuanya. Tapi Lily akui, ia tak sekuat Cemara.
"Kamu, kenapa gak gabung sama yang lain, kenapa menyendiri di sini? " Tanya Lily. "Karena hari ini, hari anniversary pernikahan papa dan mama jika mereka masih bersama. Dulu, saat kami masih bersama, papa sama mama pasti akan merayakannya, kami bisa makan di restoran atau jalan-jalan. Cemara cuma kangen masa itu kak, cemara ingin mengenangnya. Makanya cemara memilih menyendiri di sini! " Lily menghela nafas. Ingin membantu dan menghibur Cemara. Tapi ia bingung harus berbuat apa. Lalu hening tercipta di antara mereka.
"Lily, kamu ngapain di sini? " Tiba-tiba suara Nathan memecah keheningan.
"Loh, sama Cemara juga? Itu Bunda ngajak makan, semua udah ngumpul, cuma kamu aja yang ngilang, mana telepon gak di angkat! " Ujar Nathan.
"Ya udah, yuk masuk! kita udah di tungguin! " Nathan mengulurkan tangannya membantu Lily berdiri. Lily melakukan hal yang sama untuk Cemara. Bertiga mereka berjalan masuk ke dalam panti.
"Nah, itu kak Lily, ayo Lily sini, kamu duduk di sini!" Bunda Nisa segera memanggil Lily begitu melihat Lily masuk ke ruang makan bersama Nathan dan Cemara. Cemara segera duduk di bangkunya. Nathan meraih tangan Lily, membawa gadis itu mendekat ke Bunda Nisa.
"Nah, anak-anak! ini kak Lily nya, kak Lily udah pesankan makanan yang enak-enak buat kita makan hari ini, ayo bilang apa sama kak Lily? " Ujar Bunda Nisa. Seketika Lily teringat sesuatu segera ia meraih ponsel yang ada di sling bag nya.
"Ly, itu anak-anak bilang makasih loh! " Bisik Nathan. Lily segera mendongak menatap Nathan. Lalu melihat Bunda Nisa yang tersenyum, lalu anak-anak yang tengah menunggu Lily.
"Eh, iya, Sama-sama, semoga suka ya!" Jawab Lily. Lalu Bunda Nisa mempersilahkan semua menikmati makan siangnya. Sementara Lily kembali sibuk dengan ponselnya
"Ada apa? " Bisik Nathan.
" Saya tadi pesan semua makanan, tapi saya lupa, terus semua udah tersaji, Saya gak tau siapa yang bayar! " Jawab Lily.
"Tenang aja, saya yang bayar kok, sekarang kamu makan gih! " Perintah Nathan.
__ADS_1
"Beneran? Mas Nathan yang bayar? Nanti Lily ganti uang nya! "
"Ckk!!! makan Lily!! " Tekan Nathan.
---___---
Sepanjang perjalanan pulang, Lily hanya diam. Pandangnya kosong ke depan. Nathan meraih tangan Lily dan menggenggam nya sebentar. Membuat gadis itu sedikit terkejut.
"Mikiran apa? " Tanya Nathan yang kembali fokus dengan kemudi nya.
"Cemara! "
"Kenapa Cemara? "
"Tadi Cemara cerita, papa mama nya pisah dan sudah menikah, Cemara di tinggal dengan neneknya. Tapi setelah neneknya meninggal, gak ada satupun dari salah satu orang tuanya yang mau mengurus Cemara. Cemara sempat terlantar sebelum di bawa Bunda kemari! " Lily terdiam sejenak, Nathan tau kemana arah pembicaraan gadis ini. Dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang lengang.
Nathan kembali meraih tangan kanan Lily.
"Setiap orang berbeda Lily, kamu gak bisa menyamakan diri mu dengan orang lain. Jangan berpikir macam-macam. Jangan menyalahkan diri sendiri. Kamu kuat Lily, selama ini kamu kuat dengan cara kamu. Paham? Jangan Bandingkan diri kamu dengan siapapun. Jangan pernah menyalahkan diri kamu karena kamu merasa lebih lemah! Okey?! " Ucap Nathan sambil menatap dalam gadis itu. Lily hanya diam. Kemudian mengangguk. Nathan memberikan senyum tipis. Kembali mengacak puncak kepala gadis itu. Lalu kembali melanjutkan perjalanan.
"Oya, Tadi berapa semua pesanan saya? Nanti saya transfer. Bisa minta rekening mas Nathan gak atau akun dompet digital nya juga boleh! " Tanya Lily.
"Kapan jadwal konseling selanjutnya?" Bukannya menjawab, Nathan justru balik bertanya.
"Lusa." Jawab Lily.
"Kalau gitu Lusa saya temani kamu! Jangan nolak! Karena konseling kamu selanjutnya, saya memaksa ikut! " Jawab Nathan membuat Lily terperangah.
"Eh, jangan, nanti mas Nathan repot, saya bisa sendiri! "
"Gak, gak repot! pokoknya kasih tau saya kapan waktu kamu konseling! atau saya gak akan biarkan kamu mengganti uang pesanan kamu tadi, kamu bakal berhutang seumur hidup sama saya!" Ancam Nathan.
----___----
__ADS_1