Jasmine & Prodeo Andrean

Jasmine & Prodeo Andrean
Chapter 11


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, bergerak tanpa bisa dicegat. Baik Andrean dan Samir juga sudah sembuh dari sakitnya, ia sudah bisa berjalan seperti biasanya.


Samir kini menjadi lebih waspada pada Andrean, bagaimanapun baru sehari ia bekerja sudah memiliki pengalaman yang tidak mengenakkan.


Jasmine, setelah kesembuhan Andrean ia senang sekaligus takut. Senang karena Andrean sekarang sudah lebih banyak bicara, sudah tidak mempermasalahkan lampu terang meski matanya masih tertutup. Dan yang membuatnya senang, Andrean sudah terbiasa dengan kehadiran sosok lain selain Paman Jamil.


Takut, mengingat emosi Andrean yang belum stabil. Bahkan saat ini, Jasmine sedang dikejar oleh Andrean. Meski ada Samir yang membantunya, tapi ia tidak mau keduanya kembali berkelahi.


"Hei si cerewet sini kau, akan kubuat perhitungan denganmu. Bukankah kau menantangku hah". Bentak Andrean yang terus berlari mengejar Jasmine yang keluar ruangan.


"Samir tolong aku". Teriak Jasmine saat hampir saja Andrean berhasil memegang tangannya.


Samir dengan sigap menarik tangan Jasmine dan membawanya ke arah kolam renang di belakang rumah. Paman Jamil tertawa tertahan melihat tingkah tiga orang dewasa itu yang berlarian di dalam ruangan.


"Kalian akan kubuat tak bisa bangkit lagi, kemarilah". Andrean berhenti mengatur nafasnya.


"Ayo kejar aku wekk, Kau tak bisa lagi seenaknya hehee". Jasmine berani meledek Andrean karena ada Samir di samping. Samir hanya tersenyum melihat Nona Mudanya itu.


Andrean mendengar suara air, awalnya ia ragu untuk kembali mengejar Jasmine dan Samir. Tapi karena egonya ia kembali mengejar mereka.


Jasmine memutari kolam renang, dengan Samir yang terus berada di dekatnya.


"Ayo, ayo, kenapa kau diam hemm hehe, sudah puas main lari-lariannya. Ayoo aku tak takut lagi denganmu wekk. Ayo sini monster Vampir tampanku hehe".


"Kau...". Geram Andrean kemudian terus berlari memutari kolam renang. Tapi saat berlari keseimbangannya tidak baik sehingga ia jatuh ke kolam renang.


"Byuurrrr".


"Hauaaa huaaaa, rasakan itu nimatilah. Bagus sekali untuk menurunkan emosimu hahaaa".


Jasmine tertawa puas, Samir tersenyum memandang Nona Mudanya itu membuat hatinya berdesir.


Andrean tidak bisa berenang, kolam renang yang ada ini ternyata cukup dalam. Ia berusaha untuk menggapai dasarnya untuk menginjakkan kakinya. Tapi ia tak bisa hingga ia sudah meminum air kolam renang.


Tangannya melambai-lambai, meminta pertolongan.


"Hahaa hahaa apa, ayo keluar dan kejar aku". Teriak Jasmine yang tidak tahu jika Andrean tidak bisa berenang. Sedang Samir begitu fokus menikmati wajah cantik wanita yang ada di depannya itu.


"Hei aku belum puas berlari denganmu, ayo kejar aku lagi. Kau payah hanya segitu ancamanmu heh, ya sudah kalau kau mau berenang. Ayo Samir kita masuk ke dalam".


Jasmine dan Samir meninggal Andrean yang mulai melemas, air kolam sudah cukup banyak ia telan. Ia pasrah dengan keadaannya saat ini, jika kematiannya tiba.

__ADS_1


Paman Jamil yang melihat Jasmine dan Samir masuk dengan tawa dan langkah ringan tersenyum.


"Kalian tidak berhasil ditangkap Tuan Muda".


"Tidak Paman, si monster itu tidak melanjutkan permainan, ungguh tidak seru sama sekali". Adu Jasmine pada Paman Jamil. Paman Jamil berkerut, tidak biasanya Tuan Mudanya akan mudah menyerah.


"Lalu di mana Tuan Muda".


"Sedang bercengkrama dengan air Paman".


"Maksudnya?".


"Berenang di kolam renang".


"Apaaa".


Paman Jamil syok dan panik, membuat Jasmine terkejut.


"Ada apa Paman?".


"Samir cepat bantu aku". Perintah Paman pada Samir yang membuat Samir sadar. Paman berlari menuju kolam renang, diikuti Samir dan Jasmine. Paman syok melihat Tuan Mudanya sudah tak terlihat di sana.


"Samir tolong, kau bisa berenang kan".


"Cepat tolong Tuan Muda, dia tak bisa berenang". Ucap Paman penuh kekhawatiran.


Perkataan Paman membuat Jasmine syok, ia lantas menceburkan diri ke kolam renang bersamaan dengan Samir.


Samir dan Jasmine berhasil mengangkat tubuh Andrean yang sudah lemas ke pinggiran kolam.


"Kak, maafkan aku. Sungguh aku tidak tau jika kau tidak bisa berenang hiks, hiks". Ucap Jasmine menggocangkan tubuh Andrean.


Samir beberapa kali menekan dada Andrean tapi tak ada pergerakan sama sekali. Ia membuka tali pengikat di mata Andrean. Kembali melakukan penekanan kuat di dada Andrean. Andrean tetap tak bergeming, wajah pucat Paman Jamil sangat terlihat.


"Kakak bangun, aku janji terima hukuman apapun asal kakak bangun. Tolonglah hikss, hikss maafkan aku hiks hiks".


Samir melirik Jasmine, ia kembali melakukan penekanan di dada Andrean dengan kuat dan berulang-ulang tapi tak jua ada pergerakan.


"Nona tolong beri nafas buatan pada Tuan Muda". Ucap Paman Jamil karena melihat usaha Samir sia-sia. Jasmine menatap Paman Jamil dan Samir, ragu untuk melakukannya. Bagi Jasmine yang tak pernah melakukan sentuhan bibir pada laki-laki.


Melihat keraguan di mata Nonanya, Paman Jamil berkata lagi.

__ADS_1


"Cepatlah, tak banyak waktu Nona, wajah Tuan sudah sangat pucat". Perintah Paman Jamil membuat Jasmine tersadar. Lalu ia menggeser Samir mendekatkan dirinya dengan kepala Andrean.


"Bismillah".


Jasmine menutup matanya dan mulai memberikan nafas buatan pada Andrean. Satu kali belum berhasil, dua kali belum juga menunjukkan tanda-tanda membuat tiga orang itu khawatir.


Jasmine pun melakukan yang ketiga kalinya, kali ini ia sedikit lebih lama dibanding sebelumnya. Tak lama dari dia melepaskan nafas buatan dari bibir Andrean.


"Hukk hukk"


Andrean sadar dan memuntahkan air dari mulutnya. Matanya terbuka, sebelum sadar sepenuhnya Jasmine sudah memeluknya erat.


"Kakak, akhirnya kau sadar hikss..hikss maafkan aku. Aku janji akan terima apapun hukumanmu, maafkan aku. Aku tidak tahu jika kau tak bisa berenang".


Andrean terdiam dan membeku di tempatnya, ia membuka mata perlahan dan menutupnya jembali. Lalu membuka lagi dan melihat sekelilingnya, membuat Paman Jamil senang dan takjub.


"Tuan membuka mata, Tuan bisa melihat saya". Paman Jamil yang berada tepat di depan Andrean terharu, air matanya menetes akhirnya setelah dua puluh tahun berlalu. Untuk pertama kalinya, Tuan Mudanya membuka mata.


Andrean merasakan silau dengan sinar matahari, ia merasakan pusing di kepalanya. Jasmine yang mendengar Andrean membuka mata senang. Ia mengendurkan pelukannya dan melihat wajah Andrean.


"Kau bisa melihatku Kak, lihat aku kak. Lihat, aku cantikkan hikss". Jasmine menangis senang, dan menangkupkan tangannya di wajah suaminya itu.


"Sekarang jangan tutup matamu lagi ya, aku akan selalu menemanimu dan mengenalkanmu dunia padamu. Lihatlah dunia ini indah bukan".


Jasmine haru dan sangat senang, tanpa sadar ia memajukan wajahnya.


"Cup, cup, cup, cup".


Ia menciumi ke dua mata Andrean secara bergantian, kemudian ke kedua pipinya. Tindakannya tak hanya membuat Andrean membelalakkan matanya tapi Paman Jamil dan Samir juga tak percaya akan keagresifan Nona Muda mereka.


##############


Alhamdulillah chapter 11 done


****Tolong tinggalkan jejak...


*like,vote, komen, poin, rate lima


Share and Follow Lesta Lestari***...


Mampir di karyaku tentang kisah Arindra yang mengharu biru hatimu 😄😍😍**

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2