Jasmine & Prodeo Andrean

Jasmine & Prodeo Andrean
Chapter 43


__ADS_3

Like, Like, Komen, Vote, Poin or Rate 5 nya ya


selalu ditunggu oleh author terima kasih ❤🥰🥰👍


#########


Andrean pagi hari sedang ada di dapur, entah apa yang dilakukan pria itu. Suara kelontengan membuat Jasmine bangkit untuk menemui asal suara.


Jasmine tersenyum dan segera memeluk Andrean dari belakang. Kepalanya ia sandarkan di punggung suaminya itu, meski sedikit terhalang oleh perut besarnya. Tak menyurutkannya bermanja dengan suaminya.


Andrean memegang tangan Jasmine yang melingkar di perutnya.


"Sayang, aku sedang membuat sesuatu untukmu, tapi maaf sepertinya dapur jadi berantakan dan pancakeku gagal".


Jasmine melepas pelukannya dan membalik tubuh Andrean untuk menghadapnya. Ia tangkupkan ke dua tangannya di wajah tampan Andrean yang penuh tepung.


"Hehe, kau lucu sekali dengan wajah bertepung seperti ini".


Jasmine mengelap wajah Andrean, berusaha menyingkirkan tepung-tepung itu dari wajah tampan suaminya, Andrean tersenyum.


Tangannya mengambil tepung sisa dan mengusapkannya pada wajah Jasmine.


"Sayang...".


Rengek Jasmine yang tak terima ulah jahil suaminya.


"Hehehe, kau juga lucu dengan penuh tepung seperti itu".


Jasmine tidak tinggal diam, ia akhirnya mengambil tepung dan menaburkannya di kepala Andrean.


"Hahaa ups jadi mandi tepung deh".


Jasmine sambil berlari menjauhi Andrean, Andrean mengambil tepung lalu berlari mengejar Jasmine.


"Haha kau jail juga ternyata sayang, ayo mandi tepung juga".


"Tidak mau, aku sudah mandi sayang".


Jasmine terus berlari memutari meja makan, Andrean tak hilang akal, agar kejar-kejarannya berhenti mengingat Jasmine yang sedang mengandung.


"Aduhh mataku sayang".


Andrean mengucek-ucek matanya, membuat Jasmine khawatir lalu mendekati Andrean. Melihat itu Andrean tersenyum dan terus berpura-pura kelilipan.


"Sini aku tiupin Kak".


Jasmine mendekati wajah Andrean, ia siap untuk meniup. Bibirnya sudah condong ke depan, namun segera disambar oleh Andrean.


Di sisi lain, tangannya yang memegang tepung ia taburkan ke kepala Jasmine.


"Aaaa Kakak mengerjaiku ya".


"Haha, itu namanya taktik sayang".


Andrean memeluk Jasmine tersenyum, Jasmine memukul-mukul dada suaminya pelan.


"Itu licik namanya, enggak sportif".


Andrean mencubit hidung mancung Jasmine dengan tawa terkekeh, melihat bibir Jasmine yang cemberut merajuk manja.


"Tidak".


"Licik"

__ADS_1


"Tidak"


"Licik"


"Tidak".


"Li...".


Namun bibir Jasmine tak sampai melanjutkan kata-katanya karena ulah Andrean yang membungkam mulutnya dengan bibirnya.


Ia terbawa suasana, Jasmine melingkarkan ke dua tangannya di leher suaminya. Andrean makin bergerak menelusuri bagian-bagian lainnya.


Membuat Jasmine mengeluarkan irama yang menambah gelora dalam diri keduanya. Tak peduli dengan tepung yang menempel di kepala, wajah dan tubuh mereka.


Andrean membuat Jasmine semakin tenggelam dalam pesona dan gerakan cinta suaminya.


Andrean membopong Jasmine menuju kamar mandi, dengan tak sabar ia menyalakan shower untuk membasahi ke duanya.


Sesaat mereka terhenti dan saling tatap masing-masing. Senyuman mengembang di bibir ke duanya dan tangan mereka saling mengusap, menyingkirkan tepung-tepung di tubuh mereka.


"Sayang aku shampoin ya".


Andrean mengambil shampo dan mengusapkannya pada kepala Jasmine. Ia memijit-mijit pelan area kepala Jasmine dengan jari-jari di ke dua tangannya.


Jasmine terpejam menikmati sensasi berbeda di mandi keramasnya saat ini. Hatinya berdesir, saat perlahan-lahan Andrean melepaskan satu persatu untaian benang yang menutupi tubuhnya.


Andrean juga melakukan hal yang sama, lalu melanjutkan pijatan di kepala Jasmine. Jasmine menggigit bibirnya yang dihadapkan pada tubuh atletis suaminya itu.


Konsentrasinya buyar tangannya mulai bergerak membuat Andrean memejamkan mata.


Air mengalir yang menimbulkan suara gemerisik menjadi nada-nada tambahan dalam irama cinta yang dimainkan keduanya.


Permainan tepung yang dimainkan menjadi adonan lain yang mencetak desiran pada gerakan di indra peraba.


Semakin tenggelam dalam nyayian lembut berlirik surga yang diterjemahkan oleh keduanya. Nada oktaf tertinggi menggema seiring berjalannya waktu yang mereka jalani.


Hujan di luar membawa hawa dingin yang menerobos melalui ruang-ruang yang terbuka. Andrean menarik tubuh Jasmine dan membawanya di atas kasur, menarik selimut untuk menutupi keduanya.


Tangan Andrean mulai menari kembali, membuat Jasmine menahan dan mengecup tangan itu, menatap mata suaminya sebelum mendaratkan bibirnya pada telinga Andrean.


"Sayang aku lapar". Bisiknya lembut namun terdengar menggoda di telinga Andrean.


Andrean lalu meraih wajah istrinya dan berbisik di telinga Jasmine.


"Lapar yang mana, yang di bawah atau yang di atas?".


Andrean tak hanya sekedar berbisik, lidahnya menari dan giginya bermainbdi daun telinga Jasmine. Bukan sakit yang dirasakan, tapi serangan itu membuat Jasmine menarik diri membuat Andrean kecewa.


"Maaf sayang, aku benar-benar lapar".


Jasmine menunjukkan ekpresi imut dan merajuknya membuat Andrean tertawa.


"Haha baiklah, aku akan menyiapkan makanan terbaik untukmu, tunggu ya sayang".


Andrean bangkit dan hendak keluar, namun saat hendak membuka pintu Jasmine memanggilnya.


"Sayang, kamu mau keluar dengan seperti itu?".


"Memangnya kenapa?".


"Ahh itu tubuhmu hanya aku yang boleh melihatnya yang lain tidak".


Jasmine bangkit mengambil kaos dan celana untuk Andrean, lalu mendekati suaminya.

__ADS_1


"Ini pakai dulu".


"Haha tidak ada siapa-siapa di rumah ini, mereka sedang berjaga di luar".


"Iya, tapi CCTV tetap ada sayang, aku enggak mau pokoknya".


"Posesifnya istriku ini, baiklah".


Andrean meraih kaos dan celana dari tangan Jasmine. Tapi cukup lama ia hanya membiarkan pakaian itu mengantung di tangannya.


Matanya berkedip-kedip pada Jasmine membuat Jasmine bertanya lewat matanya juga. Mata Andrean mengarah pada pakaian dan tubuhnya, membuat Jasmine menghela nafas panjang.


"Pakai sendiri Kak, jangan manja deh".


Andrean menggeleng dan menunjukkan wajah layaknya anak kecil yang tak dikabulkan keinginannya.


"Iihh manja banget sih Kak, pakai baju sendiri gih".


Andrean tetap berdiri mematung, membuat Jasmine membuat ekpresi kesal sedangkan Andrean kekeh pada keinginannya.


Jasmine mengalah ia hampiri lagi Andrean dan meraih kaos di tangannya.


"Nunduk kakaknya".


Andrean menurut ia menundukkan tubuhnya dan dengan cepat Jasmine memakaikan kaos pada Andrean.


"Sudah". Ujar Jasmine yang kembali duduk di kasur, Andrean mendekati Jasmine dan mengulurkan celananya.


"Apalagi sayangku". Jasmine tau maksud Andrean tapi ia pura-pura tak mengetahuinya.


"Cepatlah sayang aku benar-benar lapar".


Kini Jasmine yang merajuk berharap Andrean bisa luluh.


"Jika kau lapar segera pakaikan maka aku akan cepat keluar, semakin lama kau menolak maka makanan lain yang akan tersedia untukmu, mau yang mana hemm?".


Andrean tersenyum dengan wajah devilnya, membuat Jasmine bergidik. Tubuhnya sudah lelah, ia saat ini tak mau bermain lagi dengan Andrean bisa-bisa badannya seperti patahan-patahan gunung berapi.


Andrean bergerak hendak meraih tengkuk leher Jasmine, tapi sigap Jasmine menghindar.


"Iya-iya aku pakein"


"Haha gitu dong sayang".


Dengan cepat Jasmine memakaikan celana pendek Andrean dengan memalingkan wajah yang bersemu merah. Membuat Andrean tertawa dengan puas sudah mengerjai istrinya itu.


"Kau ini tiap hari aja merasakan masih malu haha".


Andrean dengan jailnya meraih tangan Jasmine dan mengarahkannya pada sesuatu yang keramat membuat Jasmine terlonjak.


"Haha dada sayang muachh".


Andrean tertawa lalu berlari ke pintu, sedangkan Jasmine membenamkan wajahnya pada bantal menahan malu.


##########


Alhamdulillah chapter 43 done


note :


Jangan dibayangin ya guys🤭😆


Mampir juga ya di karyaku yang lain.

__ADS_1




__ADS_2