
Kondisi Andrean belum membaik meski sudah sepekan telah menjalani terapi, Jasmine beruntung karena sejauh ini Andrean tidak aneh-aneh dan cenderung penurut.
Namun kemudian saat melihat Opa Jared yang datang mengunjunginya, ia mengamuk apalagi setelah dipaksa dibawa ke ruangan oleh Opa yang dibantu oleh beberapa orang bodyguard Opa Jared. Jamine ingin menemani tapi Opa Jared melarang, dan Jasmine ditahan tangannya oleh Samir.
Sekitar dua jam, Andrean berada di ruangan bersama Opa, membuat Jasmine khawatir. Namun kemudian terlihat Andrean digotong oleh para bodyguard ke kamarnya.
"Kak Drean". Jasmine mencoba melepaskan pegangan Samir namun kalah tenaga. Meski ia memohon tapi tak dilepaskan oleh Samir.
"Tenanglah Mine, saat ini Andrean sedang tertidur. Kau bisa menemuinya setelah ini. Sekarang ikut Opa, ada yang ingin Opa bicarakan padamu".
Samir melepaskan pegangan tangannya pada Jasmine. Jasmine mendekati Opa sekaligus mertuanya itu.
"Ada apa sebenarnya Opa, kenapa sekarang Kak Drean melihat Opa begitu ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu Kak Drean. Tolong Opa, jelaskan pada Mine, ada rahasia apa yang Mine tak ketahui tentang Kak Drean?".
"Duduklah dan tenangkan dirimu".
Perintah Opa dingin, wajah yang tak pernah Jasmine lihat selama ini. Ayah dan Ibu Jasmine melihat putrinya dengan tatapan iba.
"Opa sudah putuskan, kau akan bercerai dengan Andrean. Dan besok kembalilah lagi ke rumah Opa, lanjutkan kuliahmu".
"Tidak, Mine takkan meninggal Kak Drean, apalagi dengan kondisi saat ini". Ucap Jasmine tegas dan tak menyangka Opanya itu meminta ia bercerai dengan Andrean.
"Kau tidak posisi menolak sayang, Opamu benar. Jangan menyia-nyiakan dirimu hanya untuk mengurus Andrean. Biarkan dia kembali diurus oleh Paman Jamil seperti dulu".
"Jadi Ayah juga mendukung keputusan Opa, kenapa kalian jahat sekali. Tidak adakah sedikitpun rasa belas kasihan di hati kalian melihat kondisi Kak Drean. Ibu, bilang tolong bilang jika ini tidak benar".
"Maafkan Ibu nak, keputusan ini terbaik untukmu. Tidak ada harapan untuk Drean bisa kembali normal. Bukankah Mine sudah mendengar apa kata dokter sayang, jika Drean kemungkinan bisa sembuh itu sangatlah kecil".
"Tetap saja Yah, Ibu dan Opa, Kak Drean suamiku, dulu kalian yang memaksaku menikah dengan Kak Drean dengan segala keanehannya Mine terima. Dan sekarang kalian ingin memisahkan Mine dengan Kak Drean hanya karena Kak Drean berubah sikap dan prilakunya seperti anak kecil.
Tidakkah kalian memberi kesempatan agar aku bisa mengurusnya, dan mencoba pengobatan terbaik untuk proses kesembuhannya".
Jasmine menangis, benar-benar tidak menyangka akan ide konyol ke dua orang tuanya dan Opa Jared.
"Mau sampai kapan, satu minggu, satu bulan, satu tahun. Kau hanya akan menyia-nyiakan dirimu sendiri Sayang". Terang Opa Jared.
__ADS_1
"Bukankah Kak Drean anak Opa, kenapa Opa bertindak seperti ini, mine benar-benar tidak mengerti kenapa Opa melakukan ini pada Kak Drean".
"Anak yang tidak berguna seperti Andrean, hanya akan menjadi beban untuk kita. Biarkan dia kembali menjalani hidupnya seperti dulu, toh sekarang tak ada harapan untuk dia sembuh".
"Opa sangat tega sekali pada Kak Drean, apa salahnya jika kondisinya seperti ini. Dia butuh kita Opa, Ayah, Ibu, untuk memberikan kasih sayang dan dorongan agar ia bisa sembuh, bukan menjauhinya seperti ini".
"Tidak perlu mendebat Opamu Jasmine, dengarkan saja apa katanya. Besok Ayah akan menjemputmu dan pastikan hari ini kau berkemas".
"Tidak, Jasmine takkan pergi kemanapun. Jasmine akan berada di sisi Kak Drean, tidak peduli kau setuju atau tidak". Tegas Jasmine marah.
"Baiklah, Opa akan memberimu waktu satu bulan. Jika tidak ada perkembangan dengan kondisi Andrean maka terima keputusan kami tanpa ada bantahan lagi".
"Opa, sebulan tidak akan cukup. Kenapa kalian begitu egois, tidakkah kalian memiliki empati meski hanya sedikit saja".
"Setuju atau tidak, buktikan jika Andrean bisa jadi orang berguna dalam satu bulan ke depan. Jika tidak, terima keputusan Opa, tepat satu bulan dari sekarang, berusahalah".
Tegas Opa Jared membuat Jasmine menangis.
"Kami pulang dulu sayang, dengankan ibu ini semua demi kebaikanmu. Kami menginginkan cucu, bukan merawat orang dewasa yang seperti anak kecil yang tak berguna". Ibu Jasmine membelai kepala anaknya itu, tapi Jasmine tak peduli lagi.
"Dengarkan dan patuhi apa yang sudah Opa putuskan padamu, Ayah pergi dulu sayang".
Paman Jamil dan Samir mendekati Jasmine yang tertunduk menangis.
"Sabarlah Nona, kita manfaatkan waktu satu bulan ini untuk pengobatan Tuan Muda". Ucap Paman Jamil iba melihat nonanya itu.
"Benar Nona, kita akan berusaha menyembuhkan Tuan Muda. Jangan menyerah, bagaimanaoun Tuan Muda butuh Anda". Ucap Samir menambahkan.
"Kenapa mereka tega sekali Paman, apa salah Kak Drean sehingga tega melakukan ini padanya. Kenapa di saat seperti ini, mereka malah memintaku bercerai dari Kak Drean. Padahal dulu mereka begitu menggebu, memaksaku menikahinya".
"Saat ini bukan waktu yang tepat untuk sebuah penyesalan Nona, tapi saat ini kita harus menyusun rencana pengobatan untuk Tuan Muda. Bukankah waktu yang diberikan Tuan Besar tak banyak. Saya rasa semakin cepat semakin baik". Ucap Paman Jamil.
"Benar nona, satu bulan itu waktu yang sebentar, jika nona terus berlarut dengan kesedihan maka sepertinya nona kalah sebelum berjuang".
"Aku tidak kalah Samir, baiklah kita akan berusaha memberikan pengobatan terbaik untuk Kak Drean. Tolong bantu aku Paman, Kak Samir. Dan mulai sekarang jangan panggil aku nona, dan aku juga akan memanggil Samir dengan Kak, Paman panggil saja aku Jasmine atau mine".
__ADS_1
"Baiklah, jika itu membuat Nona lebih baik, saya akan berusaha melakukannya".
"Oke".
#########
Di tempat lain di sebuah ruangan terlihat seorang pria paruh baya sedang duduk di meja kerjanya mendengarkan laporan anak buahnya.
"Bagaimana kondisinya?".
"Sepertinya dia menikah dengan seorang gadis Tuan, putri Tuan Dito asisten pribadi Tuan Jared".
"Hemm terus".
"Tapi sepertinya pernikahan mereka takkan berlangsung lama, karena Tuan Jared meminta menantunya itu berpisah dari Andrean yang sudah jadi gila".
"Aku fikir dia tak terlihat dua puluh tahun terakhir ini sudah mati, ternyata masih hidup. Ternyata Jared begitu baik menyembunyikan anak itu, hingga aku tak tau kabarnya hingga puluhan tahun".
"Tuan Jangan khawatir, karena menurut dokter yang menanganinya. Kemungkinan sembuh Andrean sangat kecil, jadi sangat kecil kemungkinan dia kembali pada kehidupan normal Tuan".
"Baiklah, tapi kau harus terus mengawasinya. Aku tak mau kecolongan lagi, bagaimanapun anak itu jika normal pasti akan membalaskan dendam atas peristiwa masa lalunya bersama ibunya".
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu".
Orang itu hanya memberi isyarat lewat tangannya, menyuruh pemuda itu pergi.
###########
Alhamdulillah chapter 14 done
****Tolong tinggalkan jejak...
****like,vote, komen, poin, rate lima
Share and Follow Lesta Lestari******...
__ADS_1
Mampir di karyaku tentang kisah Arindra yang mengharu biru hatimu 😄😍😍**
❤❤❤❤❤❤❤