
Like, Like, Komen, Vote, Poin or Rate 5 nya ya
selalu ditunggu oleh author terima kasih ❤🥰🥰👍
#########
Jasmine menatap sedih melihat Opa Jared yang terpasang alat-alat rumah sakit. Akibat kecelakaan itu Opa Jared masih belum sadarkan diri.
Andrean memeluk istrinya itu dari belakang dan mencium puncak kepala istrinya.
"Istirahatlah sayang, kau belum istirahat sejak kepulangan kita".
"Aku tidak apa-apa Kak, aku ingin menemani Opa".
Andrean meraih wajah Jasmine untuk menatapnya. Ia mengusap perut Jasmine dan menciumnya.
"Aku tak hanya mengkhawatirkanmu, tapi juga mengkhawatirkan anak kita. Percayalah, Ayah sudah banyak yang menjaga jadi kau perlu istirahat agar semuanya baik".
"Aku ingin istirahat di sini saja Kak, bukankah di sini juga ada kasur untuk bisa tidur".
"Kau mencintaiku bukan?".
Pertanyaan yang membuat kening Jasmine berkerut.
"Apakah perlu ditanyakan lagi?".
"Jika kau mencintaiku, percayalah jika aku juga mencintaimu dan selalu ingin yang terbaik untuk kita semua, maka ku mohon turutilah perkataanku".
Jasmine tertunduk, berat baginya meninggalkan Opa Jared meski hanya sebentar, bagaimanapun Jasmine sudah tumbuh di sisi Tuan Jared selama puluhan tahun. Tapi ia juga tak bisa menolak keinginan suaminya itu.
"Tapi besok kita ke sini lagi ya"
Andrean tersenyum menggenggam tangan Jasmine. Jasmine melihat Opa Jared sebelum meninggalkannya.
"Opa, cepet sehat ya, anak Mine menunggu Opa untuk diajak bermain, besok Mine akan kemari lagi. Berjuanglah Opa untuk kesembuhan Opa".
Jasmine meraih tangan Opa Jared dan menciumnya, sedangkan Andrean mencium kening Ayahnya dan juga tangannya. Mereka pun keluar dari rumah sakit.
Jasmine menyandarkan dirinya pada Andrean dan memejamkan matanya. Ia tidak beristirahat setelah kedatangannya, ia pun mengantuk dan tertidur di pelukan Andrean.
Sakti membawa Andrean dan Jasmine ke tempat yang sudah mereka rencanakan. Shaina dan Clara juga sudah ada di sana, menyiapkan segala sesuatunya untuk melanjutkan rencana mereka.
Malam beranjak makin larut, Andrean melihat wajah istrinya itu yang terlelap di atas kasur penuh bunga. Ia mencium kening istrinya sebelum tertidur di sampingnya.
########
Pagi hari Jasmine terbangun dan menyalakan lampu, ia terkejut dengan suasana kamar yang dihias layaknya pengantin baru.
Ia mendengar gemericik air dari kamar mandi, tak lama Andrean keluar. Andrean yang melihat Jasmine yang terduduk di kasur tersenyum.
"Sudah bangun sayang".
Andrean hanya memakai handuk dan rambutnya basah mendekati Jasmine duduk di hadapannya.
"Ini apaan Kak, kenapa kamarnya seperti ini. Apakah kakak masih memikirkan kakak bulan madu, saat Opa sedang terbaring?". Tanya Jasmine dengan wajah kecewa.
"Kau percaya padaku bukan?".
"Kenapa kakak harus bertanya seperti itu?".
__ADS_1
Andrean memegang tangan Jasmine dan menciumnya.
"Sayang, maafkan aku jika keputusan ini tak sesuai dengan keinginanmu. Aku tidak ingin egois, tapi keadaan saat ini mengharuskan kita tetap melanjutkan rencana bulan madu kita".
"Kenapa, Opa sedang terbaring kak, apakah kakak tidak sadar itu".
"Dengarlah baik-baik, kecelakaan Opa jangan sampai diketahui oleh orang-orang luar sana".
"Kenapa?".
"Kami sedang mencari bukti siapa yang sengaja melakukan ini pada Opa, kedua perusahaan akan tergoncang jika mendengar Opa kecelakaan bahkan belum bangun dari tidurnya saat ini.
Ke tiga ini salah satu cara untuk mengelabui Samir dan Tuan Jadit yang ingin mengambil perusahaan. Jadi kita tetap melanjutkan rencana bulan madu ini".
Jasmine terdiam berusaha memahami apa yang dikatakan suaminya. Ia ingin sekali bilang jika tidak ingin berpisah dari Opa Jared. Tapi mengingat apa yang dilakukan Samir pada Opa, membuatnya menyetujui rencana Andrean.
"Tapi aku masih boleh melihat Opa di rumah sakit kan?".
"Boleh, tapi sementara ini hanya bisa memakai vidio call saja".
Jasmine mengangguk, Andrean mengacak-acak rambut Jasmine dan tersenyum.
"Anak baik, terima kasih sayang i love you".
"Love you too".
Andrean dan Jasmine menyatukan kening mereka, deru nafas mereka beradu, membuat Andrean mengarahkan bibirnya pada benda kenyal di depannya.
Jasmine mengalungkan tangannya pada leher suaminya, menikmati apa yang dilakukan Andrean padanya.
Andrean mengusap bibir Jasmine dengan jempolnya.
Jasmine mengangguk dan ia pun bangkit dari kasur menuju kamar mandi. Selang satu jam kemudian Andrean dan Jasmine sudah menunaikan sholat subuh berjamaah.
Mereka kemudian hanyut dalam doa masing-masing. Melantunkan doa-doa untuk kesembuhan Opa Jared, dan keselamatan orang-orang yang di sekitar mereka.
Andrean mencium perut Jasmine dan berbicara dengan anaknya.
"Assalamulaikum Nak, apa kabarmu di sana?, tumbuhlah dengan baik Ayah sangat menantikan kehadiranmu.
Sayang hadirlah menjadi anak yang kuat, jangan seperti Ayahmu yang bahkan tak mampu melakukan banyak sehingga kakekmu sekarang terbaring koma.
Sayang, dengarlah Ayahmu, sungguh Ayah dan Ibumu sangat mencintaimu. Kami akan menjagamu sebaik dan semampu yang kami bisa. Jikapun nyawaku jadi taruhannya untuk menjaga kalian berdua, maka aku akan melakukannya".
Jasmine tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Andrean, refleks ia mengelus rambut suaminya yang kepalanya masih berada di perutnya.
"Dia pasti bangga memiliki ayah sepertimu sayang".
Andrean tersenyum dan bangkit,
"Kau ingin makan apa?, selama hamil kau tak rewel sama sekali, adakah makanan atau sesuatu yang sangat kau inginkan?".
"Hemm dulu saat awal-awal aku hanya ingin...".
Jasmine menjeda kata-katanya dan melihat Andrean. Ia senyum-senyum sendiri membuat Andrean heran.
"Mau apa, kenapa jadi ekspresi senyumnya membuatku seperti salah memberikan penawaran hemm".
"Hehee".
__ADS_1
"Apa yang kau mau?".
Jasmine pun membisikkan keinginannya pada Andrean, membuat Andrean menelan ludah.
"Kau yakin menginginkan itu?".
Jasmine mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum.
"Apa tidak bisa diganti yang lain?".
"Tidak".
"Tapi...".
Andrean ragu untuk memenuhi permintaan istrinya itu.
"Kakak tidak mau melakukannya, kalau anak kita ileran bagaimana?". Jasmine memasang wajah cemberut.
Andrean garuk-garuk kepala yang tak gatal, berulang kali melihat ke arah Jasmine berharap apa yang di minta istrinya itu tak perlu ia lakukan.
"Jangan bilang Kak Andrean g mau ya".
Ujar Jasmine melihat wajah Andrean yang tersenyum kecut.
"Ini yang minta anak kita lho sayang, jangan sampai ya ia yang selama ini g minta apa-apa sama Ayahnya, kali ini minta malah g diturutin".
"Yang lain saja bisakah?". Ujar Andrean dengan tampang memelas.
"No".
Andrean pasrah, ia pun meminta Sakti membelikan peralatan untuk memenuhi keinginan Jasmine.
Selang beberapa jam kemudian, Andrean di kamar sedang menyiapkan kostum yang diminta oleh Jasmine.
"Sayang ayo cepat keluar, masa dandan gitu aja lama banget sih".
Andrean pun perlahan membuka pintu dan memunculkan tampilannya.
"Haha hahaa hahaa". Jasmine meledak tawanya.
"Kakak lucu sekali, coba itu mpengnya dimasukin ke mulut hahaa".
Andrean pun menuruti permintaan Jasmine, ia sekarang memasukkan mpeng ke dalam mulutnya, dengan tambilan baju anak sd. Baju lengan pendek putih dan celana pendek merah, rambut dikuncir dua di atas, sepatu dan kaos kaki warna warni yang bukan pasangannya.
"Puas kau menertawakan dan mengerjaiku hemm". Andrean menggelitik Jasmine membuat Jasmine kegelian.
"Ampun kak, haha ampun".
Jasmine yang tak tahan geli berlari, dan dikejar oleh Andrean. Mudah menangkap Jasmine yang sedang hamil besar.
"Kau mau lari kemana hemm".
"Ampun kak, ampun beneran haha".
Andrean pun menghentikan gelitikannya, ia tersenyum senang melihat Jasmine yang tertawa lepas.
"Melihatmu bisa tertawa lepas seperti ini, rasanya bagai melihat dan menikmati surga yang sedang ada di depan mata".
##########
__ADS_1
Alhamdulillah chapter 42 done