Jasmine & Prodeo Andrean

Jasmine & Prodeo Andrean
Chapter 15


__ADS_3

"Ibuu, Ibuuu".


Suara Kak Andrean membangunkanku di tengah malam. Kulihat keringat Drean bercucuran.


"Ibuuuu, Ibuuuu"


"Kak Drean, Kak ". Aku menggoyangkan tangan Kak Drean. Kak Drean terbangun dan melihatku.


"Ibuuu..." Panggilnya dengan nafas terengah-engah seolah habis berlari.


"Iya Kak, Kakak kenapa?".


"Ibuu, aku bermimpi Ibu meninggalkanku. Aku takut Bu, takut Ibu pergi jauh dariku".


"Ibu takkan kemana-mana sayang, Ibu akan tetap di sisimu". Jasmine matanya sudah berkaca-kaca.


"Benarkah Bu".


"Iya sayang, tenanglah, tidur kembali ya"


"Peluk buu".


"Iya sini Ibu peluk sayang".


Andrean menyembuyikan wajahnya di dada Jasmine. Sedang tangan jasmine mengusap-usap rambutnya, ia mencoba menahan tangisnya, karena Andrean akan selalu merasa bersalah pada dirinya sendiri jika melihat Jasminr menangis.


Dan ia selalu akan meminta maaf, karena menurutnya ia nakal dan tidak menurut. Membuat hati Jasmine semakin bersedih melihat kondisi suaminya.


"Apa yang harus kulakukan Ya Allah, terapi sudah dilakukan dua minggu ini tapi tak menunjukkan perkembangan. Kak Andrean pun terus menerus bermimpi buruk, tentang aku yang meninggalkannya. Tolong ya Robb, mohon petunjukMu".


Andrean kini terlelap lagi dalam tidurnya, dengan memeluk Jasmine erat. Jika dalam keadaan normal, Jasmine akan malu atau hatinya berdebar kencang dipeluk oleh suaminya, atau malah ia yang menggoda suaminya yang menolak di sentuh olehnya.


Tapi kini, saat mata suaminya sudah terbuka dan sudah berani berinteraksi dengan beberapa orang kondisinya malah berbalik menjadi seperti anak kecil. Membuat Jasmine merasa menyesal telah membuat suaminya membuka matanya, hingga trauma itu menghinggapinya kembali.


Beberapa kali Jasmine mencoba bertanya pada Drean tentang apa yang dialaminya. Tapi Drean selalu menolak, ia akan menangis dan tertunduk. Seolah beban berat sedang menderanya saat ini.


Beberapa psikiater dan psikolog juga menyerah dengan kondisi kejiwaan Andrean yang parah. Jasmine menghela nafas berat, membuat Andrean bangun dan mensejajarkan kepalanya dengan kepala Jasmine. Cepat-cepat Jasmine menghapus air matanya.


"Ibu menangis lagi?". Tanya Andrean sambil menghapus air mata yang masih ada di sudut mata Jasmine.


Jasmine memegang tangan Andrean dan menciumnya.


"Tidak sayang, Ibu bahagia karena Kakak sekarang jadi anak yang pintar".


"Ibu, bolehkah aku bernyanyi untuk ibu?".


"Mau bernyanyi apa sayang?".


"Ibu tidak keberatan, aku tidak mengganggumu?".


"Tidak sayang, lakukanlah".


"Baiklah Bu". Andrean mulai bernyanyi dengan wajah mereka yang masih saling berhadapan.


Sebening tetesan embun pagi


secerah sinarnya mentari


bilaku tatap wajahmu oh ibu


ada kehangatan didalam hatiku


air wudhu’ selalu membasahimu


ayat suci selalu dikumandangkan


suaramu penuh keluh dan kesah

__ADS_1


berdoa untuk putra putrinya


(chorus)


oh ibuku


engkaulah wanita


yang ku cinta selama hidupku


maafkan anakmu bila ada salah


pengorbananmu tanpa balas jasa


ya allah ampuni dosanya


sayangilah dia seperti menyayangiku


berilah dia kebahagiaan


di dunia juga diakhirat


(Lirik lagu by Shaka).


Jasmine menangis, tak lagi menghapusnya, ia membiarkan air mata itu mengalir deras membasahi pipinya. Melihat itu Andrean kembali merasa bersalah.


"Ibu, apakah aku berbuat salah lagi?". Andrean tak mengerti karena yang ia tahu ia bernyanyi untuk menghibur Jasmine yang dianggap Ibunya.


"Tidak sayang, Kak Drean tidak salah".


"Lalu kenapa Ibu menangis?".


Andrean mengusap pipi Jasmine berniat menghapus air matanya.


"Aku menangis karena terharu, mendengar Kakak bernyanyi begitu indah".


"Iya sayang".


Cukup lama mereka saling pandang, senyuman polos Andrean, tatapan wajah lugu membuat Jasmine bersedih.


"*Ya Allah benarkah yang di depanku ini suamiku. Laki-laki yang pernah menghajarku habis-habisan. Tapi lihatlah dia saat ini, hanya wajah lugu dan polos khas anak kecil yang diperlihatkannya.


Maafkan aku ya Robb jika langkah yang kuambil ini salah. Aku hanya tidak ingin berpisah dengannya, aku ingin dia sembuh apapun caranya*".


"Ibu, aku mengantuk. Bolehkan aku tidur di pelukanmu".


"Sayang..."


Jasmine membelai pipi Andrean, menelusuri wajah tampan yang ada di hadapannya itu. Andrean terpejam menikmati sentuhan orang yang dianggap Ibunya itu.


"Ada bu?".


"Maukah kau membantu Ibu?".


"Dengan senang hati Bu, Drean akan membantu Ibu. Apa yang harus Drean lakukan?".


"Apakah Drean ingin punya adik kecil?".


"Iya Bu, Drean mau. Drean sudah lama ingin memiliki adik, Drean janji kelak akan menjaga adik kecil dengan baik". Andrean menunjukkan wajah gembiranya.


"Benarkah, Drean senang jika punya adik?".


Jasmine tersenyum getir melihat wajah polos laki-laki yang ada di hadapannya ini.


"Iya Bu, senang sekali. Lalu di mana adik kecil Drean?".


"Adiknya belum ada sayang, tapi kita harus membuatnya dulu?".

__ADS_1


"Membuat adik kecil?" Tanya Andrean bingung.


"Iya sayang, kita membuatnya dulu".


"Bagaimana caranya, apakah seperti membuat kue Bu. Jika begitu ayo kita keluar membuat adik kecil".


Jasmine menahan tangan Andrean yang sudah terbangun hendak turun. Mereka kini saling berhadapan dengan posisi duduk.


"Bukan seperti membuat kue sayang". Ucap Jasmine mencoba menjelaskan. Antara berdebar dan sedih, dia merasa tidak memiliki pilihan lain.


"Lalu seperti apa bu, apakah seperti membuat boneka menggunakan busa?".


"Tidak juga sayang, bukan seperti itu".


Kening Andrean berkerut, menatap wajah Jasmine dengan wajah penuh tanya dan kebingungan.


"Ibu akan menuntunmu, dan turuti apa yang ibu katakan padamu tanpa membantah ya"


"Baiklah, Drean janji akan turuti perintah Ibu tanpa membantah".


Jasmine membawa Andrean dalam pelukannya, air mata kembali mengalir.


"Maafkan aku kak, jika aku harus melakukan ini padamu. Sungguh aku tidak ingin kehilanganmu, hatiku telah jatuh padamu kak, meski kau tak menyadarinya".


"Ibu, Ibu menangis lagi?". Tanya Andrean dalam pelukan Jasmine.


"Aku bahagia Kak, karena kakak anak yang baik".


"Terima kasih bu, Drean akan selalu berusaha jadi anak baik yang baik buat Ibu".


Jasmine menangguk dan melonggarkan pelukannya, ia menatap wajah suaminya itu sekali lagi untuk memantapkan hatinya, jika caranya tidak salah.


Jasmine menghapus air matanya dan kemudian menciumi wajah Andrean, setelah itu menyatukan kening mereka.


Andrean terkaget, saat kepalanya juga di tahan oleh Jasmine.


"Ibu, apa yang Ibu lakukan, kenapa menciumi wajahku?". Deru nafas Andrean mengenai wajahnya, Jasmine memejamkan matanya.


"Jadilah anak baik, diam dan lakukan saja perintahku Kak hikss, hikss".


Melihat Jasmine kembali menangis, Andrean diam. Ia membiarkan Jasmine dengan tangis yang masih bercucuran menciumi wajahnya.


Bahkan meski ia ingin protes saat Jasmine meraih bibirnya dan men*****nya tapi ia urungkan. Ia sudah berjanji menjadi anak baik dan patuh pada Jasmine.


Jasmine setelah beradu b**** dengan Andrean, ia menatap wajah Andrean sesaat sambil menggingit bibir bawahnya sendiri.


Ia kemudian melepaskan kaos Andrean, tangannya mulai menari di atas perut rata suaminya. Membuat Andrean bergidik, tapi diam saja membiarkan Jasmine bermain-main dengan tubuhnya.


Jasmine menuntun Andrean masuk dalam pusara yang diinginkannya. Antara sedih, kecewa, bahagia bercampur menjadi satu di hatinya.


Rasa sakit di malam pertama mereka tak dihiraukannya. Ia hanya ingin memiliki anak dari orang yang telah membuatnya jatuh cinta sehingga ikatan di antara mereka menjadi lebih kuat.


##########


Alhamdulillah chapter 15 done


****Tolong tinggalkan jejak...


****like,vote, komen, poin, rate lima


Share and Follow Lesta Lestari******...


Mampir di karyaku tentang kisah Arindra yang mengharu biru hatimu 😄😍😍**


Dan Catatan Hati Seorang Istri...


Sudah dilanjut ya guys sesuai permintaan, masih proses review CHSI nya. 2 Chapter langsung

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2