
Clara terdiam menangis pilu dalam hati melihat Shaina dan Sakti menikah. Ia ingin tak hadir namun langkah kaki menuntunnya untuk berada di rumah sakit untuk menyaksikan pernikahan orang yang sangat dicintainya itu.
Jasmine memegang erat tangan Clara untuk menguatkan, mencoba menghibur sahabatnya itu dengan segala cara. Meski nampak berhasil di wajah, namun Jasmine sadar mata bengkak tertutup kaca mata hitam karena menangis itu bukti bahwa Clara sedang terluka.
Pernikahan yang sederhana berlangsung khidmat, terlihat tangis haru dari orang-orang yang dekat di sana. Shaina yang masih terbaring dipakaikan gaun pengantin yang sudah didesain khusus untuknya.
Polesan wajah sederhana namun tak memudarkan wajah pucat yang masih begitu nampak, Shaina terbaring dengan balutan gaun putih. Paman Jamil, Andrean, Jasmine, Ayah Dito dan istri, Ibu Sakti, dan Tuan Jared yang sudah sembuh meski harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan yang sengaja dilakukan oleh Jadit adiknya menyaksikan pernikahan itu serta beberapa orang dari padepokan.
Hanya orang-orang terdekat saja yang sengaja diundang dan hadir. Sakti juga memakai baju pengantin berwarna senada dengan Shaina. Kini ia sedang berhadapan dengan Paman Jamil untuk proses ijab kabul.
Ijab kabul berjalan lancar, hanya dengan satu tarikan nafas proses akad telah selesai dilakukan. Kini Sakti telah resmi menjadi suami Shaina, Ia memeluk Paman Jamil yang telah berubah status menjadi Ayah mertuanya.
"Terima kasih Ayah, sudah mempercayakan Shaina padaku. Aku akan selalu melakukan yang terbaik untuk Shaina," ucapnya pada Paman Jamil.
"Jaga Shaina dengan baik, Ayah percaya padamu," Paman Jamil balas memeluk Sakti erat dan menepuk-nepuk pundak Sakti.
"Sakti akan berusaha menjadi suami terbaik untuk Shaina, Ayah," ujar Sakti dengan tersenyum bahagia.
"Dengan besarnya cintamu padanya, Ayah yakin dia akan mencintaimu seiring berjalannya waktu. Ayah harap kau bisa bersabar menghadapinya," Sakti mengangguk, Paman Jamil melepaskan pelukannya.
Ia melihat putri satu-satunya itu, lalu Paman Jamil mendekati Shaina.
"Terima kasih karena sudah mau memenuhi permintaan Ayah. Ayah yakin seiring berjalannya waktu hatimu akan tertambat pada Sakti," ucap Paman Jamil pada Shaina.
Shaina yang sejak kesadarannya pulih, dan menerima permintaan ayahnya itu, lebih banyak diam tak seceria dulu. Bahkan sepanjang acara, Shaina hanya menatap pada satu arah, di mana Andrean berada.
__ADS_1
Paman Jamil mencium kening Shaina, dan memegang tangannya dengan menangkup tangan anaknya itu.
"Sayang, putri Ayah kini sudah menjadi istri orang. Sebagai Ayah, Ayah sedih sekaligus bahagia melepasmu pada laki-laki yang tepat. Semoga Allah selalu membuka pintu kebahagaian buat kalian," Ayah Jamil menangis dan ia menyatukan tangan Sakti dan Shaina yang tersenyum dipaksakan.
"Maafkan semua kesalahan Shaina, Ayah. Terima kasih sudah menjaga Shaina selama ini dengan sangat baik," Shaina menatap Ayahnya, ia melepas genggaman Sakti dan menghapus air mata Ayahnya. Ia juga ikut menangis dalam pelukan Sang Ayah, bedanya Paman Jamil menangis bahagia, sedangkan Shaina sedih.
"Maafkan Shaina Ayah, terpaksa aku menyetujui pernikahanmu menikah dengan Kak Sakti. Semata-mata bukan karena aku mencintai Kak Sakti, asal kau tau Ayah, pernikahan ini hanya pelarian bagiku atas rasa luka dan patah hati karena tak bisa memiliki Kak Andrean. Maafkan Shaina Kak Sakti, Shaina memanfaatkanmu sebagai pelarian." Ucap Shaina dalam hati.
"Selamat ya sayang, Ibu tak menyangka anak yang ibu bantu rawat sejak kecil kini sudah jadi menantunya. Doa Ibu selama ini tak sia-sia, menjadikanmu selamanya menjadi anak Ibu," ucap Ibu Sakti memandang menantunya itu. Karena dia sudah sangat sayang dengan Shaina dan selama ini menganggap Shaina putrinya.
Paman Jamil di sudut matanya berkaca-kaca, jelas sedih melepas masa lajang Shaina dengan kondisi Shaina yang masih berbaring sakit.
"Selamat ya kak Shaina, semoga lekas sembuh dan bisa segera menyusulku hehe," Jasmine ceria, memegang perutnya membuat yang lain tersenyum.
"Syukur alhamdulillah semua berjalan lancar, Shaina segeralah sembuh agar kakek tua ini bisa melihat cicit-cicitku yang lucu-lucu," Tuan Jared ikut bahagia sudah lama ia tidak bercengkrama dengan orang-orang terdekatnya sejak kecelakaan itu.
Sakti mengeluarkan cincin pernikahan, lalu ia memasangkannya pada jari manis istrinya itu, Shaina pun memasangkan cincin itu pada jari manis Sakti. Sakti mencium punggung tangan Shaina, lalu beralih di keningnya.
"Terima kasih karena sudah menerimaku sebagai suamimu, i love you adik manisku," bisik Sakti di telinga Shaina. Shaina membuang wajah ke samping, tanpa membalas apa yang dikatakan Sakti.
"Kenapa Ka Shaina seolah tak bahagia menikah dengan Ka Sakti, bukankah selama ini Kak Sakti yang dia cintai. Lalu kenapa sorot matanya selama acara lebih memandang wajah Kak Andrean?," Jasmine bertanya-tanya dalam hati. Ia tak bisa membayangkan jika selama ini Shaina yang mencintai suaminya, bukan Sakti yang selama ini ia tahu.
"Baiklah, setelah pernikahan Shaina dan Sakti ada berita gembira juga hadir di tengah-tengah kita, hari ini juga tepatnya sore nanti Clara dan Leo akan menikah di rumah sakit ini juga. Hanya beda kamar rawat saja, kami sedang menunggu orang tua Leo yang sedang menuju kemari," terang Andrean yang membuat orang-orang di sana terkejut.
"Kau sedang bercanda Andrean?," ucap Ayah Dito, ia sangat tau betul siapa Leo karena Leo merupakan orang kepercayaannya.
__ADS_1
"Kak Andrean tidak sedang bercanda Ayah, benar Kak Clara dan Leo akan menikah sore nanti," ucap Jasmine membantu memberikan jawaban.
"Clara kau bisa jelaskan pada kami apa yang sebenarnya terjadi," tanya Paman Jamil.
Sakti melihat Clara dengan tatapan tak percaya, begitu juga dengan Shaina.
"Begitu cepatkah dia bisa memutuskan menikah dengan orang lain, padahal selama ini dia bilang mencintaiku," ujar Sakti dalam hati. Di sisi lainnya ada rasa tidak rela Clara dimiliki laki-laki lainnya.
Selama menyandang status pacar Sakti, Clara begitu perhatian. Menyiapkan makan setiap hari, bahkan tak jarang melayani dengan mengambilkan piring dan lainnya. Clara juga menyiapkan minum, dia tau kapan Sakti membutuhkan minum.
Ia seperti istri yang melayani di luar kecuali di kamar. Meski Sakti selalu seolah tak menganggapnya jika bicara hal pribadi mereka berdua, tapi Sakti cukup menikmati semua perlakuan manis Clara padanya.
"Ahh bicara apa aku ini, aku mencintai Shaina sangat mencintai Shaina!," Sakti menyakinkan dirinya, jika hatinya milik Shaina seorang.
Shaina melirik Sakti yang terlihat kecewa mendengar Clara yang akan menikah dengan Leo.
"Kenapa wajahmu menampilkan wajah tak rela, apakah kau baru menyadari isi hatimu sebenarnya Kak. Sungguh jika benar kau menyukainya aku takkan bahagia menjadi orang ke tiga di antara kalian," ujar Shaina yang mengetahui betapa besar cinta Clara pada Sakti.
Pengorbanan cinta yang sudah dilakukan oleh Clara sungguh luar biasa, membuat Shaina jika bukan karena Ayahnya sungguh ia takkan menerima pernikahan ini. Walau akhirnya ia putuskan untuk mau menikah sebagai pelarian.
"*Maafkan aku Kak Clara."
###########
Alhamdulillah Chapter 54
__ADS_1
Mampir di karyaku yang lain ya*