
Andrean membopong Jasmine masuk ke dalam kamar setelah sarapan, ia membaringkannya di kasur.
"Maafkan aku yang membuatmu terlalu lelah semalam". Ujar Andrean lalu menyelimuti tubuh Jasmine.
"Tidak apa aku suka, tapi kurasa aku semalam kewalahan. Kau buas sekali, sehingga tak memberiku waktu beristirahat hehe".
"Hehe habisnya kau selalu terlihat menggoda".
"Tapi kenapa selama ini aku yang selalu minta duluan?".
"Karena aku suka kau meminta duluan, meski aku tak pernah sabar ingin melahapmu setiap kali kita berada di kamar".
"Hahaa aku rasa didikanku berhasil dan bahkan melebihi ekspektasiku".
"Kau memang guru terbaik sayang, tidurlah nanti malam kau juga akan begadang kembali".
"Uhh aku akan menantikannya, pergilah dan hati-hati di jalan".
Andrean mencium kening istrinya sebelum sesaat mendaratkan bibirnya ke benda kenyal milik istrinya. Mereka beradu sesaat, sebelum Jasmine menghentikannya.
"Aku lelah, aku takkan sanggup melayanimu jika kau ingin sekarang".
"Baiklah, aku pergi dulu ya i love you".
"I love you too".
Andrean pun bangkit dan meninggalkan Jasmine yang memejamkan mata. Sakti sudah ada di teras depan menunggunya.
"Ayo berangkat". Ujar Andrean.
"oke".
Saktipun melajukan mobil menuju perusahaan diikuti beberapa mobil pengawal di depan dan belakangnya.
Sedangkan Clara, ia duduk menemani Shaina yang tertunduk.
"Cinta katanya memang tak harus memiliki, tapi kurasa kata-kata itu hanya ditujukan untuk pecundang. Cinta tanpa memiliki rasanya sakit bukan, sama sepertiku meski Sakti berstatus kekasihku, tapi cintanya hanya tertuju padamu".
"Pecundang atau bukan itu bukan urusanmu, tak perlu memprovokasiku untuk melakukan hal-hal yang memecah tujuan kita bersama di sini".
"Aku tidak memprovokasimu, aku hanya berkata apa adanya. Cinta yang dipaksakan dan cinta yang tak bersambut adalah dua hal yang sama-sama menyakitkan".
"Apakah kau akhirnya menyerah pada Kak Sakti?".
"Apakah kau juga menyerah akan cintamu itu?".
Shaina dan Clara terdiam tenggelam dalan fikiran masing-masing.
"*Andai cinta ini bisa memilih aku tak ingin menjatuhkannya pada pria beristri. Andai juga cinta Kak Sakti ku ketahui sebelum ia menjalin kasih mungkin rasanya tak sesakit ini.
__ADS_1
Aku terjebak oleh satu rasa pada pria yang berbeda, aku tak rela kak sakti bersama Kak Clara, tapi di sisi lain aku juga cemburu melihat Jasmine begitu manja pada Kak Andrean.
Cintaku pada Kak Andrean sudah pasti bertepuk sebelah tangan, tapi apakah cintaku pada Kak Sakti mengalami hal yang sama. Apakah aku mencintai Kak Sakti ataukah aku tak rela dia dekat dengan wanita lain karena selama ini hanya aku wanita lain selain ibu yang dekat dengannya.
Ahh Tuhan, beri aku petunjuk agar rasa sakit yang saat ini kurasakan tidak begitu menyakitkan. Aku benar-benar tak rela Kak Sakti dimiliki oleh Kak Clara*".
Clara hanya memandang fotonya bersama Sakti yang tersimpan rapi di dompetnya. Foto kenangan mereka berdua saat masih kuliah.
"*Shaina kau gadis beruntung dicintai oleh Sakti. Cinta yang tak kudapat dan berusaha kukejar darinya. Cinta yang membuatku bahkan seolah lupa tujuan awalku.
Cintaku bertepuk sebelah tangan meski status kudapatkan, akankah cinta ini bersambut seiring berjalannya waktu.
Setiap kali Sakti menatap wajah Shaina, pancaran cinta itu terlihat jelas. Pancaran yang selalu aku impikan.
Sakti, berilah aku kesempatan untuk mendampingimu meski hanya sesaat dan hatimu masih menginginkannya. Hingga ku harap kau sadar di suatu hari jika diriku mencintaimu dengan tulus*".
"Kak Clara". Panggil Shaina.
"Iya".
"Jika Kak Sakti akhirnya tidak menikahimu, apa yang akan kau lakukan?".
"Apa yang kau lakukan saat ini, saat tau cintamu tak terbalas?".
"Kau balilkan pertanyaan dengan pertanyaan".
"Hehe karena posisi kita sama, sama-sama bertepuk sebelah tangan".
Keduanya tertawa, "Aku harap, baik rasa cintaku dan cintamu takkan menggoyahkan tujuan kita membantu Andrean dan Jasmine". Ujar Shaina.
"Seperti yang kau lihat, aku masih bertahan di sini bukan karena hanya ada cintaku di sini, tapi juga ada adikku yang menari-nari memintaku menuntut keadilan untuknya".
"Kau tau mengapa ayahku setia pada Kak Andrean dan meminta kami juga membantunya?".
"Memangnya kenapa?"
"Karena kami juga menjadi korban dari Tuan Jadit. Ibuku hanya gara-gara tak sengaja menumpahkan makanan di baju Tuan Jadit saat ia bekerja sebagai pelayan restoran.
Ia mengalami nasip yang sama seperti adikmu, bedanya saat ini kami tak tau dimana dia sekarang berada. Apakah masih hidup ataukah sudah meninggal".
"Maksudmu?".
"Alasan Ayah bekerja pada Tuan Jared karena tau Tuan Jadit adalah adiknya sekaligus musuh utama Tuan Jared. Maka dari itu, saat usiaku masih satu tahun ia pergi untuk menjadi orang kepercayaan Tuan Jared agar bisa mengetahui di mana ibuku berada".
"Lalu Sakti?".
"Jika Kak Sakti, aku tak tau alasannya mengapa ia ikut membantu Ayah. Tapi yang pernah kudengar, jika Ibu Aida juga pernah berurusan dengan Tuan Jadit.
Dan Ayah menolong mereka waktu itu dan membawanya ke padepokan. Tapi berurusan tentang hal apa aku juga tak mengetahuinya. Baik Ayah, Ibu Aida dan Kak Sakti sangat tertutup mengenai hal ini".
__ADS_1
"Shaina, andai aku kelak bisa menikah dengan Sakti aku berharap kita akan tetap menjadi sahabat, jikapun tidak aku harap kaulah yang mendampinginya".
Shaina hanya tersenyum getir, ia sendiri masih ragu akan perasaannya.
##########
Sedangkan di kantor Sakti terlihat sedang memikirkan perkataan Shaina tadi pagi. Ia menghela nafas, saat melihat raut wajah Shaina yang sedang menahan kesal dan marah.
"Kau memikirkan Shaina?". Tanya Andrean yang mengagetkan Sakti. Sakti hanya menoleh sebentar lalu ia mengambil berkas yang akan diberikannya pada Andrean.
"Kau mengenal baik keduanya, aku harap kau bijak dalam menentukan sikap".
"Kau tau benar Dre, cintanya Shaina hanya tertuju padamu".
"Dan kau tau benar Sakti, cintaku hanya tertuju pada Jasmine".
"Itulah yang aku fikirkan, mengapa Shaina harus jatuh cinta padamu sedangkan aku selama ini yang berada di sisinya. Bahkan kami tumbuh besar bersama".
"Cinta memang tak bisa memilih dimana ia akan menjatuhkan rasanya, tapi bukan berarti cinta tak bisa dikendalikan bukan".
"Kau tak tau rasanya cinta yang bertepuk sebelah tangan, karena cintamu pada Jasmine saling berbalas.
"Haha itulah beruntungnya diriku, tak perlu merasakan sakit hati dengan cinta".
"Kau menertawakanku Dre, memikirkan cintaku pada Shaina membuat kepalaku seakan mau pecah, belum lagi rasa bersalahku pada Clara".
"Nikahi saja dua-duanya haha".
"Andai saja itu bisa haha, aku laki-laki beruntung bahkan aku lebih beruntung darimu".
"Dasar serakah, katanya tak cinta tapi kau mau juga mendua".
"Mana ada laki-laki yang menolak memiliki dua istri jika para wanitanya bersedia. Tapi sayangnya tak banyak wanita seperti itu, Shaina dan Clara ku jamin mereka akan berkelahi haha".
"Melihat mereka berkelahi rasanya seru juga".
"Drean, kau ini".
"Cobalah tetapkan hatimu Sakti, jika benar kau mencintai Shaina ungkapkan saja. Bukankah kau tak pernah mengungkapkannya bukan?".
"Meski kuungkapkan pasti dia menolaknya".
"Kau menyerah sebelum mencoba kawan, sebelum kau menyesal berilah kepuutusan terbaik untuk dirimu, Shaina dan Clara. Aku yakin, Shaina mungkin tak menyadari jika sebenarnya dia menyukaimu".
Sakti terdiam dan menghela nafas panjang.
"Andai yang kau ucapkan benar, sungguh aku beruntung Dre, tapi kau tak tau tadi pagi dia marah dan kesal menahan cemburunya melihat kemesraan kau dan Jasmine".
#########
__ADS_1
Alhamdulillah chapter 38 done