
"Kak Andrean Hikss". Jerit Jasmine saat melihat Andrean yang tertabrak mobil dan kini tergeletak dengan berlumuran darah.
"Kakak, bangun kak. Kakak banguunnnn hikss, hiksss". Jasmine memangku kepala suaminya itu, ia terus menangis dan tak peduli dengan darah yang mengenai pakaiannya.
Paman Jamil terkejut saat melihat Andrean yang berlumuran darah, ia segera menghampiri dan meminta warga yang ada di sekitar menggotong Andrean dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
"Kak bangunn kak hikss, hikss". Jasmine terus memanggil Andrean, membuat Paman Jamil iba.
Andrean segera ditangani oleh team dokter, tak lama Ayah dan Ibu Dito, orang tua jasmine datang bersama Opa Jared, Paman Jamil yang menghubungi mereka. Samir pun tak lama berselang sudah tiba di rumah sakit, karena mendengar Andrean yang ditabrak mobil suruhan Ayahnya Jadit.
"Kak Drean Bu, Kak Drean Hikss, hikss". Jasmine menangis di pelukan ibunya.
"Tenanglah sayang, Andrean sedang dalam penanganan dokter ya. Berdoalah untuk kesembuhannya". Ibu Dito membelai rambut putrinya itu, dan berusaha menenangkan Jasmine.
Sedangkan Paman Jamil menerangkan kejadian yang ia ketahui pada Tuan Jared dan Ayah Dito.
"Hemm ternyata mereka masih saja mengusikku, sepertinya mereka tidak menyerah". Ucap Opa Jared.
"Maksud Tuan, apakah Tuan Jadit dibalik semua ini?". Tanya Paman Jamil yang mengetahui permusuhan dua kakak beradik itu.
"Iya, sepertinya mereka tahu jika Jasmine mengandung. Dan sasarannya adalah Jasmine agar anak yang dikandungannya mati". Terang Opa Jared.
"Maksud Tuan, anak saya yang menjadi sasaran?". Tanya Ayah Dito yang tak mengetahui permusuhan kakak beradik itu.
"Iya, mereka ingin menguasai hartaku dengan cara membunuh semua calon pewarisku. Andrean mereka buat gila setelah tak berhasil membunuhnya. Dan kini saat mereka tahu Jasmine hamil mereka ingin melakukannya lagi".
"Jadi sasarannya bukan Andrean, tapi Jasmine". Gumam Ayah Dito mulai khawatir pada putri satu-satunya itu.
"Benar Dito, Andrean sudah tak masuk hitungan mereka karena mereka berhasil membuat Andrean gila. Jadi secara hukum, orang gila takkan bisa memegang perusahaan, maka sasarannya dialihkan pada calon cucuku".
"Lalu apa yang akan kita lakukan Tuan". Tanya Paman Jamil.
"Tunggu saja perintahku, Dito perkuat pengawalan pada Jasmine, pastikan mulai hari ini ia tak boleh sembarangan keluar tanpa ijinku".
"Baik Tuan".
Ayah Dito langsung menghubungi orang-orangnya untuk menuju ke rumah sakit. Sementara Samir terkejut saat mendengar jika Ayahnya menjadikan Jasmine target.
Lalu ia permisi kepada Opa Jared, Paman Jamil dan asisten Dito untuk berpura-pura ke toilet. Setelah diijinkan ia pergi dan buru-buru menelpon Papanya.
"Papa, apakah benar kau yang menyuruh orang untuk membunuh Jasmine?". Tanyanya tanpa basa basi, nada suaranya jelas menunjukkan kemarahan.
Jadit yang mendengar suara anaknya sedang menahan marah itu terkejut.
"Kenapa kau marah?".
__ADS_1
"Jawab saja pertanyaanku Pa. Apakah benar Papa menyuruh orang untuk membunuh Jasmine?".
"Jika benar, memangnya kenapa. Anak yang dikandungannya akan menjadi masalah kita nantinya. Apakah kau tidak paham Samir".
"Papa, jangan pernah menyentuh dan menyakiti wanitaku. Jika Papa lakukan, aku takkan segan-segan berhadapan dengan Papa".
"Samir, apakah kau sudah gila. Ingat dia musuhmu".
"Tidak, Jasmine milikku Papa. Wanita yang kucintai, jika Andrean yang mati maka aku akan berterima kasih pada Papa. Tapi jika Jasmine mati, maka Papa akan tau akibatnya".
"Apa, kau berani mengancam Papamu, tugasmu hanya memata-matai mereka bukan jatuh cinta dan melindungi wanita itu brengsek".
"Samir tidak peduli Papa, yang Samir pedulikan saat ini hanyalah Jasmine. Sekali lagi jangan pernah coba-coba membunuh atau menyakiti Jasmine lagi, jika Papa masih ingin aku ada di pihakmu".
"Baiklah, kita perlu bertemu apa alasanmu menginginkan wanita yang bahkan sedang mengandung anak dari musuhmu. Jangan bilang hanya karena alasan cinta, karena Papa takkan terima itu, paham". Geram Tuan Jadit yang kemudian mematikan telpon dari anaknya.
"Brengsek, mengapa Samir jadi melawanku hah. Ini tak bisa kubiarkan, wanita itu dan anak di kandungannya harus tetap mati". Tuan Jadit tersenyum sinis, memandang foto Jared kakak tirinya.
"Saat ini kau bahagia Jared, akan kehadiran calon pewarismu. Tapi kebahagiaanmu takkan berlangsung lama, karena aku akan menghancurkannya seperti kau yang menghancurkan kebahagiaanku".
########
Sementara di rumah sakit, Andrean sudah melewati masa kritisnya meski belum sadar. Dia kemudian di pindahkan ke rumah sakit milik Opa Jared, dan di letakkan diruang vip khusus.
Opa Jared yakin, mereka takkan mengincar Andrean lagi karena Andrean sudah di luar daftar ahli waris dari Opa Jared.
"Sayang, ganti bajumu dulu nak dan makan. Kasihan bayi yang ada dikandungamu sayang, dia membutuhkan sosok ibu yang kuat dan sabar".
Ibu Dito mencoba merayu Jasmine kembali, karena sejak tadi Jasmine menolak berjauhan dengan Andrean.
"Benar Nak, lihatlah pakaianmu sudah bau amis. Kau tidak bisa berdoa jika tubuhmu dalam keadaan kotor seperti ini. Ayah sudah meminta Samir membawakan pakaian untukmu, pakailah sayang".
Ayah Dito memberikan bungkusan pakaian pada Jasmine. Jasmine mengangguk dan mengambil bungkusan itu.
"Tolong jaga suamiku Yah, Ibu, Opa, aku hanya sebentar membersihkan diri".
"Iya sayang, tenang saja Opa akan menjaga putra Opa dengan sangat baik. Bersihkan dulu dirimu, lihat sebentar lagi nyamuk-nyamuk mengkerubungimu karena kau begitu bau heheee".
"Terima kasih Opa". Ucap Jasmine mencoba tersenyum dengan candaan mertuanya itu, lalu ia bergegas ke kamar mandi, yang masih dalam satu ruangan dengan ruangan Andrean.
Samir dan Paman Jamil, berjaga di luar. Paman Jamil mengkhawatirkan Tuan Mudanya itu, tapi tidak untuk Samir. Ia tersenyum saat mendengar, Andrean cukup parah keadaannya.
Bahkan dokter sudah memberikan wanti-wanti jika Andrean bisa berada di kondisi terburuk seperti meninggal dunia. Itu yang membuat Jasmine tak mau beranjak dari sisi Andrean.
"Jasmine, sebentar lagi kau akan jadi milikku. Tunggu saja sayang, aku akan lebih membahagiakanmu ketimbang Andrean yang gila itu".
__ADS_1
Sementara Paman Jamil tertunduk, dan tak lama ia dipanggil oleh Opa Jared dan mereka berdua berbicara di ruangan yang berbeda.
"Jamil..."
"Iya Tuan".
"Kali ini, aku harus kembali mengasingkan Andrean". Ucap Opa Jared membuat membuat Paman Jamil terkejut.
"Tapi kenapa Tuan, bukankah Tuan Muda saat ini sedang membutuhkan perawatan terbaik untuk kesembuhannya".
"Dia sudah tidak memiliki harapan lagi Jamil meski dia bisa bangun kembali. Saat ini fokusku tertuju pada keselamatan cucuku. Jika cucuku lahir, aku tidak mau ia mengenal Ayah yang cacat dan gila seperti Andrean".
"Tapi Tuan...".
"Jangan membantahku Jamil, bawa Andrean ke alamat ini. Pastikan tidak ada yang tahu, termasuk Samir".
"Lalu bagaimana dengan Nona Jasmine Tuan, Tuan tahu, Nona Jasmine sangat mencintai Tuan Muda".
"Itu urusanku, selesaikan saja tugasmu. Dan jangan banyak bertanya lagi ataupun membantah, paham Jamil".
"Baik Tuan, sayq mengerti".
"Bawa malam ini juga, karena Jasmine akan kami bawa pulang ke rumah. Ingat jangan pernah muncul lagi, dan jangan memberi kabar apapun, bayaranmu akan segera diurus Dito. Tugasmu telah selesai sampai kau mengasingkan anak tak berguna itu".
"Baik Tuan".
Opa Jared pun segera meninggalkan Paman Jamil menuju ruangan Andrean.
##########
Alhamdulillah chapter 18 done
****Tolong tinggalkan jejak...
****like,vote, komen, poin, rate lima
Share and Follow Lesta Lestari******...
Mampir di karyaku tentang kisah Arindra yang mengharu biru hatimu 😄😍😍**
Dan Catatan Hati Seorang Istri yang akan diusahakan update ya guys 😍😍😍
Terima kasih readers.
❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1