
Like, Like, Komen, Vote, Poin dan rate 5 and follow lesta lestari ya guys. Terima kasih
#############
Sakti, Andrean dan Clara beserta para anak buah mereka mendatangi Samir. Samir tersenyum saat mendengar informasi dari anak buahnya.
"Hemm kita tunggu apa yang mereka mau".
Samir pun sudah duduk di ruang depan rumahnya, sedangkan anak buahnya juga sudah bersiap-siaga. Rombongan mobil Andrean pun memasuki rumah mewah Samir. Andrean turun berbarengan dengan Sakti, dan yang lain menyusul di belakang mereka.
"Ooo rupanya hari ini aku kedatangan tamu istimewa".
Samir tersenyum mengejek sedangkan Sakti sudah mukanya memerah. Ingin sekali ia menghajar Samir habis-habisan. Tapi niatnya masih terhalang Andrean yang memberi kode untuk tenang.
"Aku datang tak ingin berbasa-basi, katakan dimana Shaina?". Tanya Andrean menatap tajam Samir.
"Ho ho kau mencari orang di tempat yang salah. Kami bukan tempat penampungan orang asal kau tau itu".
"Jangan banyak bicara, katakan di mana Shaina jika kau tidak ingin menyesal". Andrean masih berkata dengan wajah dingin, sedangkan Samir hanya tertawa.
"Sudah kubilang kalian datang di tempat yang salah".
Samir menghentikan tawanya dan menatap serius ke arah Andrean.
"Orang yang kalian maksud tidak pernah ada dalam daftar rencana kami".
Ucap Samir menegaskan, Andrean melihat sorot mata Samir ingin lebih masuk ke dalam mencari kebohongan.
"Ini adalah pertanyaan ke tigaku, jika kau tidak mengatakannya juga maka jangan pernah menyesali apa yang terjadi".
"Kau ingin melakukan apa mantan orang gila hah".
Samir mulai terpancing kemarahannya, karena baginya pantang untuk diancam.
"Aku tanya di mana Shaina?".
Samir mendekati Andrean dan melihatnya tajam. Sudah terlihat gurat emosi yang tertahan di wajahnya.
"Sudah kukatakan kalian mencari di tempat yang salah".
Andrean tersenyum lalu ia mengambil hanphonenya, tak lama terdengar suara Ayah Dito di sana.
"Ayah, tolong lakukan sekarang". Ucap Andrean
"Baik".
Jawab Ayah Dito di sebrang telpon, Andrean pun duduk di susul Samir yang menatapnya penuh tanya.
Di sebrang sana Dito meminta anak buahnya mengapload sebuah vidio kebejatan Samir di media online. Dalam beberapa detik saja, vidio itu menyebar dan menjadi viral.
Samir yang masih duduk berhadapan dengan Andrean, hanphonenya berdering. Lalu ia mengangkat telpon yang ternyata dari Papanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, lihatlah vidio di media online xxx". Ucap Papa Samir marah, Samir mematikan telpon dan membuka link, ia melihat vidio dirinya bersama wanita sedang berbuat tak senonoh.
Samir mencengkram kerah baju Andrean, Sakti yang hendak menolong Andrean mundur karena Andrean telah memberi isyarat melalui matanya.
"Kau, berani sekali hah, kau fikir dengan melakukan tindakan bodoh itu membuatku takut".
Bentak Samir pada Andrean, namun hanya ditanggapi senyuman oleh Andrean.
"Itu belum seberapa, bukankah aku sudah peringatkan sampai tiga kali. Aku beri kesempatan sekali lagi, untuk menjawab pertanyaanku maka bisa kupastikan apa yang kau lihat barusan akan hilang dalam sekejap".
"Bukk".
__ADS_1
Samir memukul Andrean, tapi Andrean dengan sigap memutar badannya dan berbalik mengunci pergerakan Samir. Anak buah Samir sudah maju, tapi dihalangi oleh anak buah Andrean.
"Selama ini aku menahan diri setelah apa yang kau lakukan pada Jasmine dan Ayahku. Tapi kali ini Aku tidak akan tinggal diam, kau balas satu maka akan kubalas seribu kali lebih menyakitkan".
Andrean menekan tangan Samir hingga terdengar bunyi kretek.
"Akh".
Samir menjerit tangannya sakit, anak buah Samir mulai bergerak melawan anak buah Andrean.
"Hentikan perkelahian atau Tuan Muda kalian tinggal nama". Teriak Andrean membuat anak buah Samir melihat bosnya yang kesakitan lalu mengangguk tanda menyetujui apa kata Andrean. Perkelahian antar anak buah itu terhenti, tapi Andrean masih mengunci tangan Samir.
"Kutanya sekali lagi katakan di mana Shaina?".
"Aku tidak tahu".
"Kretek-kretek".
Tangan Samir kembali berbunyi membuar Samir berteriak kesakitan.
"Akhh"
"Baiklah, kau tidak mau mengatakannya. Sakti telpon Ayah Dito katakan lanjutkan rencana".
Samir meringis ia mencoba bertahan dan gigi gerahamnya beradu antara sakit dan marah.
"Lakukan apa yang mau kau lakukan, tapi aku mengatakan kebenarannya. Shaina tidak ada padaku".ynn6m6nn6n6m6jnnnnnn
Andrean kembannmnnli menekan lebih kuat, Samir kembali merasakan seolah tulang tangannya retak.
"Akhhhh tanyakan pada Clara di mana dia membawa wanita itu".
Ucapan Samir membuat Clara dan lainnya terhenyak. Sakti mendekati Clara yang wajahnya menunjukkan kebingungan.
"Jangan percaya apa yang dikatakan oleh Samir, dia hanya ingin mengadu domba kita".
"Jangan mencari alasan, cepat katakan di mana Shaina?".
"Sungguh aku tidak tahu Sakti, tolong jangan mudah terhasut".
Clara melangkah mundur karena Sakti terus berjalan ke arahnya.
"Jangan sampai aku bertindak di luar nalarku". Ancam Sakti yang terus mendesak Clara. Clara tak berkutik saat ia sudah terhimpit oleh dinding di belakangnya.
"Cepat katakan di mana Shaina". Bentak Sakti dengan meninju dinding tepat di samping wajah Clara. Clara memucat, ia tak pernah melihat Sakti semarah ini.
"Sungguh Sakti, aku tidak tahu apa-apa tentang Shaina".
"Kau memiliki motif, selama ini kau selalu cemburu jika aku memperhatikan Shaina. Wajar jika kemudian aku mencurigaimu".
"Apa yang harus kulakukan agar kau percaya jika bukan aku pelakunya?".
"Baiklah, kau yang memintanya bukan maka lakukan".
"Apa?".
"Bunuh Samir".
Deg
Wajah Clara makin memucat, ia menelan ludah saat Sakti mengatakan permintaannya.
"Kenapa kau tak sanggup?".
__ADS_1
Clara terdiam, ia melihat Samir yang masih dalam status sandra Andrean.
"Bukankah kau ingin balas dendam atas kematian adikmu hah, itukan tujuan awalmu".
Ujar Sakti lagi.
"Lakukan sekarang dalam hitungan sepuluh kau harus mengambil keputusan, jika tidak maka kau akan menanggung akibatnya".
Sakti menyerahkan sepucuk pistol ke tangan Clara yang ia ambil dari belakang pakaian Andrean. Samir yang melihat itu pucat, apalagi setelah melihat Clara yang memandang ke arahnya.
"Sepuluh". Sakti mulai berhitung mundur, sedangkan Clara masih menatap Sakti agar menghentikan permintaannya.
"Sembilan".
"Delapan".
"Tujuh".
"Enam"
"Lima"
"Empat".
"Tiga".
Sakti mulai menodongkan pistol yang dibawanya ke kepala Clara.
"Ayo kita mati sama-sama". Ujar Sakti
"Dua"
Samir memejamkan matanya pasrah, Andrean melihat Clara yang memejamkan mata dan mengarahkan pistolnya ke arah Sakti.
"Akhirnya aku tau, kaulah mata-mata Samir selama ini". Ujar Sakti yang mulai ancang-ancang menarik pelatuk pistolnya.
"Satu".
"Dor"
Clara menembakkan pistolnya ke arah Samir, Sakti pun menembakkan pistolnya ke arah Clara.
"Dor".
Clara terkejut, keringat dingin mengucuri tubuhnya. Ia jatuh terduduk seluruh tubuhnya lemas. Begitu juga Samir yang terbaring dengan tubuh bergetar.
"Hahaha, kalian fikir kalian akan mati dengan mudah hah".
Sakti menatap Clara dan Samir bergantian, tersenyum menyeringai saat melihat keduanya ketakutan.
"Kalian sudah begitu pucat padahal tembakan pertama dari pistol ini sengaja tidak di isi. Tak kusangka, ternyata kalian begitu takut menghadapi kematian tapi kalian tak berhenti melakukan kejahatan". Ujar Andrean.
"Kalian kuberi waktu 1x24 jam, kembalikan Shaina pada kami atau kalian akan terima lebih dari ini". Lanjutnya.
Ia kemudian melangkah pergi diikuti Sakti dan yang lainnya, meninggalkan Samir yang menatap mereka penuh dengan kekesalan. Sedangkan Clara terdiam, hanya memandang kepergian Andrean dan Sakti dengan tatapan sendu.
##########
Alhamdulillah Chapter 47 done
mampir juga ya di novelku di bawah ini
__ADS_1