
Setelah kepergian Clara kini Jasmine yang duduk di samping Shaina. Sedangkan Andrean membawa Sakti duduk di sofa.
"Sak, kau sangat mencintai Shaina?". Tanya Andrean meski ia tau jawabannya.
"Kau tau jawabannya". Ujar Sakti yang menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Nikahi dia jika kau mencintainya".
"Aku sangat ingin, tapi dia selalu menolakku".
"Paman memintaku menyiapkan pernikahanmu dengan Shaina".
Sakti terbangun dan mendekat ke arah Andrean.
"Kau serius?".
"Ya, dan setelah kufikir itu kurasa itu lebih baik. Paman sangat mengkhawatirkan Shaina, dia tak selalu ada di samping putrinya maka dia butuh seseorang untuk menjaga dan kau adalah orang yang dipercaya olehnya".
Sakti kembali menyandarkan tubuhnya memandang ke langit-langit kamar.
"Andai cinta Shaina untukku tentu aku sangat bahagia mendengar ini". Lirihnya tapi masih didengar Andrean.
"Paman merencanakan dua hari lagi kalian menikah, dan waktu dua hari ini kita semua berharap Shaina sudah sadar".
"Apa kau bercanda kan?".
Teriak Sakti membuat Jasmine menoleh ke arah mereka berdua.
"Ada apa kak?". Tanya Jasmine yang masih tetap duduk di kursinya di samping Shaina.
"Tidak apa-apa sayang, Sakti hanya kelelahan makanya tanpa sadar dia teriak". Andrean berfikir belum saatnya Jasmine tahu akan cinta Shaina yang sebenarnya.
"Tidak, aku tidak menyetujuinya".
Sakti menggeleng-gelengkan kepalanya, bagaimanapun dia tahu persis jika Shaina menganggapnya hanya sebatas Kakak.
Berulangkali dia melihat Shaina yang memandangi foto Andrean. Dia tak sampai hati memaksakan cinta dan egonya. Dia tidak ingin berakhir seperti hubungannya dengan Clara hanya status saja.
"Kenapa?".
"Kau tau jawabannya Drean".
Andrean dan Sakti menghela nafas, urusan cinta memang rumit.
"Tapi kau bisa membuatnya jatuh cinta setelah kalian menikah nanti".
"Tidak akan semudah itu Dre, aku sangat mengenal Shaina sejak kecil dan kami tumbuh bersama. Tak mudah baginya membuka hati saat hatinya sudah terisi oleh satu nama seseorang".
"Aku yakin cinta yang kau miliki mampu meluluhkan hatinya".
__ADS_1
"Aku takkan menikahinya jika dia tidak mau, aku tidak mau merusak ikatan kuat yang sudah terjalin selama ini".
"Aku akan mengatakan ini pada Paman, bagaimana keputusannya nanti aku harap kau takkan mengecewakannya". Putus Andrean pada akhirnya.
###########
Di sisi lain Clara tak berhenti menangis sepanjang perjalanannya menuju makan adiknya. Tiga pengawal mengikutinya dalam satu mobil yang dipimpin oleh Leo.
Leo dan lainnya yang tak tau apa-apa hanya diam membiarkan Clara larut dalam tangisannya.
"Nona kita sudah sampai". Panggil Leo yang menyadarkan Clara. Clara pun menghapus tangisannya, ia menggunakan kaca mata hitam dan tanpa bicara turun dari mobil menuju tempat di mana adiknya dimakamkan.
Sebuah nisan bertuliskan Afira Claire Andini yang telah meninggal dengan sadis lima tahun yang lalu. Leo menemani sedangkan dua yang lainnya berjaga-jaga.
Clara duduk jongkok di makam itu, Leo memberikan bunga yang dibelinya dijalanan saat pamit membeli minuman. Clara yang melihat itu mengambil keranjang bunga kecil dan menaburkannya di makan adiknya.
"Dek, maafkan kakak yang baru bisa menjengukmu setelah sekian lama. Maafkan kakak yang kalah oleh perasaan ini sehingga dendammu belum mampu kakak tuntaskan".
Clara kembali menangis sesegukkan tanpa bisa ia tahan, sedih karena patah hati sekaligus ia kecewa pada dirinya sendiri yang saat ini kalah dengan tujuan awalnya.
Tubuhnya bergetar karena tangisan, Leo yang melihat itu merasa iba. Ia ikut duduk jongkok tepat di samping Clara. Ia membantu Clara menaburkan bunga di makan adiknya itu.
"Tenang saja Nona Claire, kakakmu akan kembali membalaskan dendammu. Saat ini dia hanya butuh waktu untuk sendiri".
Ucapan Leo membuat Clara menoleh menatap wajah Leo dari dekat.
Clara pun kembali menaburkan bunga-bunga ke makan adiknya, meski tangisannya belum berhenti. Clara mengusap-usap nisan adiknya lalu menciuminya seolah ia sedang menciumi wajah sang adik.
Iba, jelas terlihat dari wajah Leo wanita cantik dihadapannya ini terlihat rapuh. Sejak ia ditugaskan menjadi kepala pengawal oleh Sakti dan Andrean baru kali ini ia bisa melihat dari jarak dekat wajah Clara. Karena biasanya ia hanya berkomunikasi dengan Andrean ataupun Sakti.
"Dek, kakak pamit dulu. Kakak janji setelah kakak siap, kakak akan memberitahukan padamu dan datang lagi kemari. Tolong bantu kakak agar selalu ingat bahwa misi kita belum selesai sehingga kakak bisa cepat bangkit dan memulainya kembali".
Clara menaburkan bunga untuk terakhir kalinya di makam adiknya itu, lalu setelah itu dia bangkit berjalan menuju mobil. Leo mengikutinya dari belakang.
"Terima kasih".
Ucap Clara pada Leo saat Leo membukakan pintu mobil untuknya. Leo tersenyum lalu mengangguk. Ia kemudian duduk di depan sedangkan satunya menyopir dan satunya lagi di belakang Clara.
Hari sudah menjelang malam, Clara yang masih dalam suasana patah hati tak ingin segera pulang. Bayangan Sakti menari-nari di kepalanya. Sakti tersenyum, Sakti makan, warna pakaian kesukaaan Sakti, bahkan Sakti saat berbicara.
Semua itu terlintas begitu saja membuat dadanya sesak. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jalanan, berharap semua kenangan tentang Sakti bisa teralihkan. Namun sayangnya matanya kini berkaca-kaca kembali saat betapa Sakti sering mengacuhkannya, Sakti yang lebih perhatian pada Shaina, Sakti yang begitu terluka melihat keadaan Shaina.
"Kita mampir ke sana".
Tunjuk Clara ke semua pub membuat Leo menoleh ke arah Clara.
"Tapi Nona, Tuan Andrean berpesan membawa anda ke rumah aman terlebih dulu". Ujar Leo mengingatkan Clara.
"Turunkan aku di sana aku akan loncat dari mobil ini". Clara tak peduli saat ini dia hanya ingin menghilangkan beban pikirannya sementara di pub.
__ADS_1
"Nona saya bertindak sebagai pengawal Anda, sudah sepatutnya saya menjaga keamanan dan keselamatan. Saat ini situasinya tidak memungkinkan untuk Anda ke mana-mana terlebih dulu mengingat Tuan Samir sudah lepas dari penjara dan Tuan Jadit memata-matai kita semua".
"Turunkan atau aku lompat".
Clara membuka pintu cukup lebar saat kendaraan masih berjalan membuat Leo terkejut.
"Baiklah, tutup dulu pintunya".
Leo pun memerintahkan rekannya menuju sebuah Pub yang ditunjuk Clara. Clara langsung turun tanpa melepas kacamata hitamnya hendak masuk ke Pub tersebut.
Pakaiannya yang tidak seksi membuat penjaga Pub curiga jika Clara seorang aparat. Jadi penjaga menolak mengijinkan Clara masuk. Clara marah lalu menghajar dua penjaga tersebut tanpa ampun.
"Aku hanya ingin masuk tapi kalian menghalanginya, sudah kubilang aku hanya ingin mabuk tapi kenapa kalian larang hah".
Ucap Clara marah, manager Pub itu muncul dan melihat dua penjaganya babak belur. Leo hanya memperhatikan dari belakang dan geleng-geleng kepala.
"Ada apa nona?". Tanay Manager Pub.
"Saya hanya ingin mabuk, tapi cecungukmu ini menghalangiku masuk". Tunjuk Clara pada dua penjaga Pub.
"Dia aparat". Kata salah seorang penjaga.
"Saya bukan aparat brengsek".
Clara hendak melayangkan tinjunya tapi ditahan manager Pub.
"Baiklah silahkan masuk nona, maaf atas kesalahpahaman ini". Ujar Manager Pub itu dan meminta penjaga memohon maaf. Tapi Clara tak mengacuhkannya ia sudah melenggang masuk ke dalam dan duduk di meja bartender.
"Berikan aku wine paling mahal". Ujarnya.
Bartender melihat Clara lalu melihat managernya yang memberi kode dengan menganggukkan kepala.
Bartender memberikan wine yang diminta oleh Clara, Clara meminumnya hingga tak bersisa.
"Lagi..". Clara menyodorkan gelasnya pada bartender, lagi Bartender mengisinya gelas Clara hingga penuh.
"Biarkan dia mabuk berat".
Bisik manager pada bartender dengan kerlingan mata, membuat bartender itu tersenyum licik mengiyakan.
#############
Alhamdulillah Chapter 50 done
Mampir di karyaku yang lain ya
Vote, komen and likenya dang lupa ok 😍😍
__ADS_1