
Clara terus minum hingga ia benar-benar mabuk. Bartender yang melihat itu memerintahkan petugas keamanan pub untuk membawa Clara ke sebuah alamat yang dituliskan di kertas.
Leo yang melihat itu bergerak cepat, ia mendatangi petugas keamanan tersebut.
"Dia nona saya, mau dibawa kemana?". Tanya Leo.
"Jangan ikut campur, atau anda akan menyesal". Bentak petugas itu pada Leo.
"Kalian yang akan menyesal jika sampai terjadi apa-apa pada Nona saya". Ujar Leo sambil tersenyum.
Bartender rupanya menelpon managernya, tak lama managernya datang dan menemui Leo.
"Anda siapa?" Tanyanya.
"Saya pengawal Nona yang hendak dibawa oleh pegawai anda".
"Jangan bercanda dan ikut campur, dia datang sendiri ke sini".
"Nona Clara, apakah anda masih mengenali saya?".
Leo mendekatkan diri pada Clara, Clara yang dipanggil melihat Leo.
"Saya tidak ingin pulang Leo, bilang pada anak buahmu sialan ini, saya masih ingin di disini haha".
Clara menunjuk-nunjuk petugas pub yang didekatnya. Kemudian dia berjalan lagi duduk ke meja bartender.
"Beri aku minum".
Clara memberikan gelasnya pada Bartender minta di isi, lalu Bartender pun mengisi kembali gelas Clara.
"Sudah jelas saya pengawalnya, apakah perlu saya telpon pihak keluarganya untuk memastikan bahwa saya pengawalnya?".
"Telpon saja, kami masih tidak yakin anda pengawalnya". Jawab manager Pub.
"Baiklah, tapi jangan salahkan saya jika Pub kalian ditutup keesokan harinya karena berhasil mengusik kesenangan seorang keluarga ternama, Tuan Jared".
Manager itu pun terkejut dan terdiam seketika. Tiada yang tidak mengenal Tuan Jared, pengusaha nomor satu di negeri ini.
"Baiklah, kami minta maaf". Manager itu membungkukkan badan pada Leo dan memerintahkan anak buahnya pergi.
"Leooo".
"Iya Nona".
Leo mendekati Clara yang mabuk.
"Temani aku minum haha, aku mau kau minum ayo Leoo haha".
Clara memberikan gelasnya pada Leo dan meminta Leo meminumnya.
"Tidak nona, mohon maaf anda sudah mabuk lebih baik saya antar nona pulang".
"No, No".
Clara memainkan jari telunjukkan mengoyangkan ke arah kanan dan kiri sebagai isyarat penolakan ia diajak pulang oleh Leo.
"Anda sudah mabuk Nona".
__ADS_1
"No, saya belum mabuk Leo hehe kau tampan juga rupanya".
Clara memainkan jari jemarinya di wajah Leo membuat Leo mundur.
"Haha aku masih bisa memanggil namamu Leo, artinya aku belum mabuk ". Clara kembali duduk dan meminum wine di gelasnya. Entah itu gelas ke berapa, Clara semakin kacau dan meracau.
"Leo ayo minum".
Leo memanggil dua rekannya yang di luar untuk berjaga-jaga.
"Leo ayo minum".
Clara memaksa Leo minum wine dari gelasnya yang penuh.
"Gluk glukk".
Leo merasakan tenggorokannya seperti terbakar, karena baru pertama kalinya dia minum-minuman keras. Leo mengerjap-ngerjapkan matanya, daya tahan tubuhnya pada Wine tak sebagus Clara yang sudah terbiasa mabuk.
"Haha kau sudah mabuk Leo, baru satu gelas dasar cemen kau".
Clara menusuk-nusuk pipi Leo dengan jari telunjuknya. Membuat Leo yang kesadarannya tinggal lima puluh persen meraih tangan itu.
"Ayo nona kita pulang".
Leo sudah sempoyongan meraih tubuh Clara yang juga sudah sempoyongan berjalan.
"Aku tidak mau Leooo".
Leo memanggil dua rekannya mendekat dan meminta mereka membawanya dan Clara keluar Pub.
Dua rekannya membayar dulu minuman bossnya, lalu membawa Leo dan Clara keluar menuju mobil.
"Boss kita pulang ke mana?". Tanya Rekan Leo tapi Leo tak menjawab, ia hanya memegang kepalanya karena merasa pusing.
"Dah bawa ke apartemen boss dulu, bahaya juga kalo dibawa ke rumah aman dalam kondisi mabuk begini. Bisa-bisa Leo dan kita semua dipecat sama Tuan Andrean". Ujar teman Leo lainnya.
"Benar juga, ya sudah kita cabut".
Lalu keduanya di bawa ke apartemen Leo, masing-masing menopang tubuh dua orang yang sedang mabuk.
Mereka mendudukkan keduanya di sofa apartemen Leo.
"Mereka gimana?, kita tinggalin gitu?".
"Ya mau gimana lagi, kita tidur di markas besok baru ke sini lagi".
"Kalo ada apa-apa sama Nona bagaimana?".
"Sudah tenang saja, g bakalan apa-apa".
Dua orang itupun meninggalkan Leo dan Clara di apartemen. Clara yang melihat Leo seperti Sakti tersenyum senang dan memeluk Leo erat.
"Sakti, sak aku sangat mencintaimu hiks hiks".
"Hehhh".
Leo mendorong tubuh Clara di tengah ketidaksadarannya.
__ADS_1
"Sakti hiks hiks, kenapa kamu tega melakukan ini padaku. Apa kurangnya aku dibanding Shaina, apa karena dia lebih muda dariku hingga kau tak mau berpaling darinya".
Clara kembali meraih tubuh Leo yang dianggapnya Sakti itu.
"Jawab Sak, jangan diam saja aku lelah diabaikan, aku lelah didiamkan".
Clara memukul-mukul dada Leo dan menangis, Leo menahan tangan Clara untuk berhenti memukulinya.
"Kamu jahat Sakti, kamu jahat. Kamu tau sudah lama aku suka sama kamu, aku sudah berusaha meraih hati kamu tapi kenapa kamu tidak membalasnya sedikitpun hiks hiks".
Kembali Clara memukuli Leo, membuat Leo mendekap erat Clara.
"Aku korbanin nyawaku buat menyelamatkan orang yang kamu cinta, tapi apa balasannya kamu sama sekali tak menganggapnya".
Clara menangis tersedu-sedu di sela mabuknya, memeluk erat Leo yang juga sudah tak ingat siapa yang dipeluknya.
"Nona cantik, cantik sekali". Ucap Leo.
"Aku cantikkan benarkah yang kamu ucapkan Sakti?".
"Ya, Nona sangat cantik".
Clara tersenyum lalu segera menyambar bibir Leo dengan bibirnya. Leo pun membalas perlakuan Clara hingga keduanya larut dalam malam panjang tanpa mereka sadari apa yang sudah mereka lakukan.
Mereka bermain dengan hasrat yang tanpa sengaja terbangun, lenguhan suara-suara keduanya menggema berpacu memecah kesunyian tempat di malam itu. Lelah berpacu keduanya terlelap dengan saling memeluk dalam satu selimut.
"Sakti, i love you".
Ucap Clara sebelum memejamkan mata untuk tertidur.
##########
Pagi hari Leo terbangun terlebih dulu, ia merasakan kepalanya masih pusing. Ia melihat jam dinding waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, hanphonenya juga terus berdering.
"Ya hallo". Jawab Leo yang masih belum sadar akan keadaan dirinya.
"Di mana loe boss, kita semua sudah di markas ini sudah pukul delapan tumben loe belum dateng juga".
"Sorry-sorry gue kesiangan, gue baru bangun. Gue segera ke markas, satu jam dari sekarang". Leo menutup hanphonenya dan di saat bersamaan Clara juga bangun.
Clara yang juga belum menyadari apapun duduk dan merasakan perih di area bawahnya. Leo pun menengok karena ada pergerakan di kasurnya. Selimut yang menutupi keduanya melorot menampilkan dada masing-masing.
"Aaaaa".
Clara dan Leo berteriak bersamaan, apalagi saat Leo melihat area dada Clara. Clara yang menyadari langsung menarik selimut menutupi tubuhnya sedang Leo yang terkejut berdiri tanpa sehelai benangpun.
"Aaaaaa".
Teriak Clara kembali kencang, Leo sadar posisi dirinya.
"Maaf maaf Nona".
Leo segera berlari ke kamar mandi dengan segera menyambar handuk di lemari bajunya, sedangkan Clara menutup wajahnya dengan selimut dan kembali membaringkan diri.
###############
Alhamdulillah Chapter 51 done
__ADS_1
Mampir dikaryaku yang lain ya