
Selama tinggal di padepokan Paman Jamil, Andrean berlatih giat. Ilmu bela diri karate yang ia miliki dipadu dengan latihan pencak silat dari anak-anak padepokan.
Melakukan adu tanding, baik dengan mata terbuka maupun tertutup ia lakukan. Tak jarang, suara-suara kekaguman terdengar dari anak-anak padepokan. Tak hanya laki-laki tapi juga para perempuannya.
Paman Jamil tersenyum senang, tak menyangka kehadiran Jasmine akan membawa pengaruh besar pada diri seorang Andrean.
"Paman senang, semakin hari kau menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Jika saja Tuan Jared melihat ini dia pasti menyesal telah menyia-nyiakan Anda selama ini Tuan Muda".
"Entahlah Paman, aku hanya merasa Ayah selama ini tak menganggapku sebagai anak. Seorang yang mengasingkanku dua puluh tahun, memisahkanku dengan istri dan calon anakku apakah aku harus tetap menganggapnya sebagai seorang Ayah".
"Tuan, apapun keputusan Anda saya akan menghargainya. Kapan Tuan akan mulai menampakkan diri?".
"Aku harus mempersiapkan secara matang Paman, ada beberapa hal yang masih harus kupelajari. Terutama tentang Jadit dan Samir, informasi yang kudapat masih belum banyak".
"Hei mister angkuh, kau mau bertanding denganku heh". Panggil Shaina.
"Kau menantangku gadis kecil?".
"Kenapa tidak, bukankah kau pria lemah. Jadi aku ingin tau seberapa lemah dirimu".
"Baiklah, ayo kita lakukan. Aku takkan segan meski kau seorang perempuan".
"Dengan senang hati Tuan Angkuh".
Paman Jamil hanya geleng-geleng kepala saja melihat putrinya itu. Merekapun ke tengah-tengah lapangan untuk saling berhadapan.
Sedangkan anak-anak padepokan yang lain membentuk lingkaran.
"Ayooo kak shaina".
Ucap para anak laki-laki
"Ayo Kak Andrean go go".
Seru para anak perempuan.
Membuat suasana seketika ramai oleh para pendukung masing-masing.
"Kau sudah siap gadis kecil?". Ucap Andrean yang sudah siap dengan kuda-kuda karatenya.
"Jika kau takut mundur saja Tuan Angkuh". Shaina juga sudah siap dengan kuda-kuda Tapak sucinya.
"Ohooo kau ternyata pemberani, gadis kecil majulah".
"Jangan menyesal Tuan Angkuh".
Shaina melakukan serangan yang tertuju pada perut, bisa dhindari oleh Andrean. Terus Shaina memukul, menendang, berulang kali tapi Andrean selalu menghindar membuat Shaina kesal.
"Jangan terus menghindar Tuan Angkuh, ayo lawan". Tantang Shaina lagi.
"Baiklah, sebentar".
Andrean membuka kaosnya dan terlihatlah otot-otot perutnya yang membuat siapapun terpesona dan kagum.
"Wuaaa bagus banget". Ucap para anak-anak perempuan memandang tanpa kedip.
Para laki-laki itu langsung menoleh ke arah para perempuan menunjukkan ketidaksukaannya.
__ADS_1
"Hei konsentrasi pada latih tandingnya bukan pada tubuh Kak Andrean". Teriak anak laki-laki.
"Hah kenapa, kami sedang menikmati pemandangan indah hehe". Jawab anak-anak perempuan.
Suara-suara mereka membuat Andrean tersenyum. Shaina pun menelan salivanya, melihat pemandangan indah di depannya itu, tak sadar hingga tatapannya tak berkedip menunjukkan kekaguman. Sakti yang melihat itu menunjukkan raut wajah tak suka.
Sakti sudah lama menyukai Shaina, tapi ia pendam karena mereka terlalu dekat, dan Shaina selama ini hanya menganggapnya sebagai adik.
"Kau kagum padaku heh, lihat air liurmu sampai menetes".
Shaina reflek mengusap bibir bawahnya, tapi tak ada liur yang dimaksud Andrean.
"Kau mengerjaiku heh, rasakan ini".
Shaina melakukan serangan, Andrean tidak lagi menghindar tapi menangkis serangan-serangan dari Shaina. Pertandingan antara Shaina dan Andrean membuat anak-anak lain mulai bersorak.
Shaina menendang, namun karena tidak fokus melihat otot perut Andrean ia tidak fokus pada kuda-kudanya. Sehingga keseimbangan tubuhnya tidak bagus, ia akan jatuh tapi segera ditangkap oleh Andrean.
Wajah mereka terlalu dekat membuat Shaina merasakan detak jantungnya berdebar kencang. Wajah tampan Andrean membuatnya tak sadar jika ia sudah cukup lama memandang wajah Andrean.
"Sudah puas memandang wajahku gadis kecil?".
"ahh ehh siapa juga yang memandang wajahmu Tuan Angkuh, pd sekali huh".
Ucap Shaina mengelak, dan segera melepaskan diri dari pegangan tangan Andrean.
"Oh ya, kenapa wajahmu memerah kalau begitu, kau menyukaiku heh hehehe". Ucapan Andrean membuat Shaina malu.
"Jangan mimpi Tuan Angkuh, cepat pakai bajumu sok pamer". Shaina pura-pura kesal.
"Oh jadi kau suka tidak fokus karena tubuhku ya hehe".
"Ohh benarkah, tapi sepertinya kau menyukainya"
"Cepat pakai kaosmu, aku tak ingin kau lebih lama merusak pemandanganku".
Shaina melempar kaos Andrean dan segera pergi meninggalkan lapangan, menenangkan hatinya yang berdebar-debar begitu cepat untuk pertama kalinya.
Kepergiannya mengundang gelak tawa anak-anak lainnya, Sakti segera mencari Shaina.
Saat ini Shaina sedang membasuh wajahnya dengan air pancuran di belakang padepokan.
"Shaina".
Panggil Sakti, tapi Shaina sama sekali tak menoleh.
"Shaina". Panggilnya lagi lebih keras, membuat Shaina tersadar dari lamunannya dan menoleh.
"Oh Kak Sakti ada apa?".
"Kau baik-baik saja?".
"Yah aku baik-baik saja kak".
"Kau yakin?".
"Sangat yakin hehe".
__ADS_1
Sakti tak yakin Shaina baik-baik saja, sejak Andrean tersadar. Shainanya menurutnya berubah, ia selalu berusaha mencuri-curi kesempatan berbicara dengan Andrean meski dengan memulai pertengkaran atau saling meledek.
Awalnya Sakti menanggapinya biasa, tapi melihat wajah Shaina yang merona saat di pegang pinggangnya saat ia hendak terjatuh, ia menjadi yakin Shainanya sedang tidak baik-baik saja.
Shaina sudah selesai dengan acara mencuci wajahnya dan kemudian tersenyum pada Sakti.
"Aku baik-baik saja Kak, tak perlu sekhawatir itu padaku hehehe".
"Fisikmu memang baik-baik saja Shaina, tapi hatimu sedang tidak baik-baik saja. Kau menggali lukamu sendiri dengan mencintai laki-laki beristri".
"Ayo Kak, kenapa malah diam. Shaina lapar, ayo makan". Shaina menarik lengan Sakti sambil tersenyum manis, membuat hati Sakti meleleh dan mengikuti langkah gadisnya itu.
Hari-hari berganti Shaina makin intens memandangi Andrean saat latihan, bahkan ia sengaja mengusir anak-anak perempuan jika ada yang ketahuan melihat Andrean dengan tatapan suka.
Sakti melihat itu semua, tatapan cemburu Shaina begitu terlihat jika ada anak-anak perempuan datang pada Andrean meminta diajari latihan kuda-kuda ataupun hanya sekedar menyapa.
Tak hanya Shaina yang cemburu pada Andrean karena banyak didekati anak-anak perempuan, Sakti juga cemburu pada Andrean yang membuat hati Shaina mengarah padanya.
Andrean yang hatinya hanya tertuju pada Jasmine bersikap biasa saja, meski Andrean mengetahui jika Shaina menyukainya.
"Dia tampan kan". Tanya Paman Jamil yang melihat Shaina menatap Andrean dari kejauhan.
"Iya". Jawab Shaina tanpa sadar jika ia sedang berbicara dengan Ayahnya.
"Kau menyukainya?". Tanya Paman Jamil lagi.
"Iya". Jawab Shaina belum sadar dari tatapannya yang masih lurus memandangi Andrean.
"Dia sudah beristri sayang".
Mendengar kata sayang, Shaina menoleh.
"Ayah, sejak kapan Ayah di sini". Ucap Shaina terkejut.
"Sejak putri ayah ini sedang sibuk memandangi wajah tampan Tuan Andrean, hingga tak sadar akan kehadiran Ayah di sampingnya".
"Maaf Ayah, Aku tidak memandangi Kak Andrean. Ayah salah paman". Ucap Shaina yang menutupi kebenarannya.
"Baiklah, semoga benar apa yang barusan kau katakan nak, ingat Tuan Andrean sudah memiliki istri dan sebentar lagi akan menjadi Ayah, karena anaknya sebentar lagi terlahir ke dunia".
Ucapan Ayah Jamil membuat Shaina tertunduk dan menghela nafas berat.
"Ayah, apakah cinta bisa memilih pada siapa ia akan menetapkan hatinya. Jika cinta bisa memilih, aku tak ingin jatuh cinta pada pria beristri. Tapi bisakah aku menolaknya saat cinta itu hadir begitu saja tanpa bisa kucegah".
##########
Alhamdulillah chapter 21 done
Tolong tinggalkan jejak dong..
Votee, komen, like, poin atau rate lima...
Share and follow lesta lestari
Mampir juga di karyaku yang lain ya...
ARINDRA
__ADS_1
CATATAN HATI SEORANG ISTRI
😍❤❤❤❤❤❤❤