
Like, Like, Komen, Vote, Poin dan rate 5 and follow lesta lestari ya guys. Terima kasih
#############
Samir bangkit dan merasakan persendian tangannya sakit.
"aaaàaa buk buk".
Ia berteriak dan menendang beberapa anak buahnya untuk melampiaskan amarah.
"Cepat panggilkan dokter". Ucapnya kemudian setelah lelah menendang.
"Baik Tuan".
Tangan kanannya menelpon dokter setelah Samir masuk ke dalam. Sementara Clara melangkah pergi meninggalkan rumah Samir, namun belum sampai pintu gerbang ia sudah dihadang oleh anak buah Samir.
"Tuan memanggil anda nona".
"Jika saya menolak?".
"Kami akan memaksa".
Clara melihat enam orang sudah melingkarinya. Ia tahu, ia akan kalah jika melawan saat ini.
"Baiklah".
Clara pun masuk ke rumah Samir di mana Samir sedang duduk menahan sakit. Clara berdiri dan menatap Samir tanpa kedip.
"Kau terpesona padaku?". Tanya Samir dengan angkuhnya.
"Kau menjebakku". Jawab Clara.
"Haha mereka bodoh".
"Di mana Shaina?". Tanya Clara.
"Kau fikir aku akan memberitahumu hah. Wanita itu belum kucicipi jika sudah maka akan kulepaskan haha".
"Kau memang brengsek Samir".
"Ouh tenang saja sayang, kau juga akan mendapatkan gilirannya".
"Aku lebih baik mati dari pada melayanimu brengsek".
"Haha benarkah, kau akan menikmatinya seperti adikmu".
Clara menerjang Samir namun dihalangi oleh anak buahnya dengan menodongkan pistol ke arah kepalanya. Selanjutnya Clara di ikat ke dua tangannya di belakang.
"Brengsek beraninya kau ingin menghajarku hah".
Samir bangun dari duduknya dan menendang Clara. Beberapa kali di perut, kaki membuat Clara kesakitan.
"Bawa dia ke gudang". Perintah Samir.
"Baik Tuan".
__ADS_1
Anak buah Samir membawa Clara ke sebuah gudang tua dengan kepala tertutup kain hitam selama perjalanan.
Setelah sampai gudang yang bau pengap dan sedikit cahaya, Clara di lepaskan penutup kainnya dan di dorong kasar hingga ia jatuh di lantai kotor dan bau amis darah.
Anak buah Samir lalu mengunci gudang itu, sedangkan Clara melihat sekitarnya. Ia melihat sesuatu yang bergerak-gerak di pojokan gudang. Ia terkejut melihat Shaina yang terikat di atas tali di kedua tangannya, dalam keadaan menggantung.
"Shaina".
Shaina melihat Clara dengan tatapan lemah, Clara bangkit dan mendekati Shaina. Ia berusaha melepaskan ikatan talinya, dan ia berhasil meski tangannya terluka karena gesekan tali yang ikatannya cukup kuat.
Clara memencet tombol signal lokasi, dan segera menolong Shaina terlepas dari ikatan tali tersebut. Meski bersusah payah, akhirnya ia berhasil melepaskan Shaina dari tali yang menggantungnya.
"Shaina, Shaina".
Clara menepuk-nepuk pelan pipi Shaina tapi tak ada pergerakan dari Shaina sedikitpun. Clara memeriksa denyut jantung dan ia bersyukur Shaina masih bernafas.
Clara melepaskan jaketnya dan memakaikan pada Shaina, pakaian yang dipakai Shaina sudah tercabik-cabik. Ada bekas pukulan cambuk di sana sini, luka lebam juga nampak di wajah cantiknya.
"Maafkan aku Shaina".
Clara menitikkan air mata miris melihat keadaan Shaina.
##########
Sementara Sakti yang menunggu layar monitor melihat ada sinyal lokasi yang dikirim Clara.
"Bagus Clara".
Sakti bergegas menemui Andrean dan mengatakan sudah menemukan lokasi Clara dan Shaina.
Sakti mengangguk dan bergegas memanggil polisi yang sudah ia kenal. Rombongan Andrean pun segera mendatangi rumah Samir malam hari, dengan persiapan yang lebih mapan.
Perjalanan pun dimulai, iring-iringan kendaraan mobil, motor pun melaju di jalanan ibu kota. Hanya tiga puluh menit, Andrean dan kawan-kawannya sudah sampai.
Andrean memang membeli sebuah rumah tak jauh dari kediaman Samir. Untuk efektifitas pemantauan gerak Samir.
Tanpa ba bi bu, Andrean dan anak buahnya yang lebih banyak dari anak buah Samir masing-masing menodongkan pistol.
"Menyerah atau mati?".
Ucap Andrea, tapi beberapa anak buah Samir melawan hingga terjadi penembakan dan perkelahian. Karena tidak seimbang, dengan mudah tim Andrean menang.
Samir yang sedang beristirahat terbangun mendengar suara tembakan, tapi ketika ia belum sempat membuka pintu Andrean sudah masuk dan menghajarnya bertubi-tubi.
Samir yang tak siap dengan tangan yang masih di gips membuatnya hanya mengandalkan kaki untuk melawan Andrean. Tak sampai sepuluh menit, Samir dapat dilumpuhkan.
"Jika Shaina terluka maka aku takkan mengampunimu brengsek". Ujar Sakti yang menghajar Samir.
Anak buah Andrean dan Sakti menyeret anak buah Samir untuk menunjukkan letak gudang persembunyian. Anak buahnya itupun lalu menunjukkan tempatnya.
Sakti melihat Clara dan Shaina, ia mendekati Shaina.
"Shaina...".
Sakti segera melepas jaketnya dan meletakkan jaket itu di atas perut hingga kaki Shaina. Ia pun segera mengangkat Shaina dan membawanya ke luar gudang.
__ADS_1
Clara mengikuti di belakang dibantu anak buah Andrean yang lain. Segera Sakti memasukkan Shaina yang tak sadarkan diri itu ke mobil dan tanpa aba-aba ia mengendarai mobil itu menuju rumah sakit.
Shaina dirawat dan disusul Clara yang juga dirawat di ruangan yang sama. Meski tak separah Shaina tetapi Clara juga mendapat pemeriksaan secara menyeluruh.
"Shaina maafkan aku".
Ujar Sakti yang menggenggam erat tangan Shaina. Ia menangis menyesali kesalahannya yang tidak bisa menjaga Shaina, apalagi setelah tahu kondisi Shaina yang banyak luka.
"Shaina bangunlah, aku janji takkan meninggalkan dirimu sendirian lagi".
Ucap Sakti lagi, Clara hanya tertunduk mendengar ucapan Sakti.
Andrean dan Jasmine yang sudah tiba di sana, melihat Clara yang berjalan ke arah pintu keluar kamar rawat Shaina.
"Bersabar ya".
Ucap Jasmine yang memegang lengan Clara.
"Sekarang aku tau, seberapa kuat aku mengikat Sakti, aku hanya mendapatkan status. Persis seperti apa yang dikatakan Shaina, karena cintanya Sakti hanya untuk Shaina seorang". Ujar Clara pelan.
"Terima kasih atas sandiwaramu di depan Samir, jika bukan keberanianmu Shaina belum bisa ditemukan. Samir tidak akan pernah mengatakan di mana orang yang sudah jadi buruannya". Ucap Andrean.
"Santai saja, aku bagian dari team ini wajar jika saling membantu. Bolehkah aku punya ruangan rawat sendiri?".
Andrean mengangguk dan meminta anak buahnya untuk mengurus keperluan Clara dan melakukan pengawalan padanya.
#########
Pihak kepolisian datang dan menangkap Samir dan anak buahnya, menggiring mereka ke penjara dengan tuduhan penculikan, penganiayaan dan ancaman pembunuhan.
Jadit yang mendengar Samir dibawa ke penjara marah besar. Ia mengepalkan tangan saat tangan kanannya melaporkan apa yang terjadi.
"Kau bermain-main dengan kami Andrean. Lihat siapa yang akan menang pada akhirnya".
"Brukkk, prang-prang".
Jadit melempar barang-barang yang ada di ruangannya, tak puas ia memukuli anak buahnya itu tanpa ampun. Karena dianggap tak becus bekerja. Jadit menelpon beberapa pejabat di instansi terkait untuk membebaskan Samir.
Tapi kasus Samir ternyata di blow up ke media oleh Andrean dan tuduhan-tuduhan lainnya yang memberatkan dengan bukti-bukti kuat membuat para pejabat itu enggan membantunya.
Jadit mengeluarkan ancaman dengan mengirimkan vidio-vidio asusia atau gambar, kasus korupsi pejabat-pejabat tersebut. Mereka tau Jadit tidak pernah main-main dengan ancamannya.
Karir mereka bisa tamat, nyawa bisa melayang. Bukan hanya diri sendiri tapi keluargapun akan menjadi korban. Sepak terjang Jadit dalam menjalankan dan mengontrol orang-orangnya sudah sangat umum diketahui di kalangan pejabat korup.
Membuat beberapa pejabat itu akhirnya ada yang bersedia membantu kembali. Karena takut akan ancaman dari Jadit. Selang satu hari Samir digiring ke penjara, ia keluar dengan alasan pengobatan di rumah sakit.
Jadit pun mengumpulkan pengacara untuk melakukan tuntunan balik pada Andrean. Kepemilikan senjata api, dan penganiaan, dan pencemaran nama baik. Pengacaranya melaporkan ke pihak berwajib keesokan harinya.
#######
Alhamdulillah chapter 48 done
Mampir juga dikaryaku yang lain ya 🤗🤗🤗
__ADS_1