Jasmine & Prodeo Andrean

Jasmine & Prodeo Andrean
Chapter 53


__ADS_3

Andrean yang mendapat laporan bahwa kepala pengawalnya saat ini berada di rumah sakit yang sama dengan Shaina segera menemuinya. Jasmine yang saat itu bersamanya ikut bersama suaminya.


Andrean melihat Clara yang duduk di sofa dengan penampilan berantakan, sedangkan Leo sudah sadarkan diri. Dua rekannya menatap hormat lalu keluar ruang rawat Leo mempersilahkan Andrean dan Jasmine berbicara dengan Leo dan Clara.


"Bagaimana kabarmu Leo, kenapa bisa wajahmu babak belur begini dan kau Clara mengapa kau berantakan?," tanya Andrean menatap keduanya bergantian. Clara ditemani Jasmine yang masih tak mau menunjukkan wajahnya.


Leo tertunduk lagi-lagi ia bingung antara berbicara jujur dan menerima resikonya atau menunda hingga waktu yang tepat berbicara.


"Apakah Jadit dan Samir yang melakukan ini padamu?," Leo menggeleng.


"Lalu siapa?," tanya Andrean lagi.


"Maafkan saya Tuan, ini di luar kehendak dan kendali saya. Saya dan Nona Clara sama-sama mabuk, dan kami...," Leo menghela nafas panjang menatap Clara yang kini memperlihatkan wajahnya dan menggelengkan kepala ke arah Leo.


"Kami apa, kenapa tidak dilanjutkan Clara?," Andrean mendekati Clara dan menatap tajam. Jelas ia ada kekhawatiran dalam diri Andrean pada Clara, ia sudah menganggap Clara bagian dari keluarganya.


"Kak Clara, tolong ceritakan yang sebenarnya apa yang terjadi sesungguhnya. Ada apa di antara kalian, dan bukankah seharusnya hari ini kakak berangkat ke luar negeri?," tanya Jasmine yang memegang pundak Clara. Mata Clara yang membengkak akibat dari tangisan yang terus mengalir.


"Maaf, bisakah kalian tidak bertanya lagi biar kami menyelesaikan masalah kami sendiri," ucap Clara akhirnya memberi keputusan. Ia benar tidak ingin Jasmine dan Andrean tau masalahnya terutama Sakti. Menurutnya masalahnya adalah aib yang tak perlu siapapun tau, cukup dia dan Leo yang tau apa yang terjadi.


"Jadi Kakak tidak mau berbagi cerita dengan kami, Kak kami anggap kakak saudara jadi tolong jangan sungkan untuk berbagi apapun masalah kakak ya," Jasmine memeluk Clara dan merapikan rambutnya.


Lagi Clara menangis "maaf sungguh aku minta maaf," ucap Clara di sela tangisnya. Andrean menghela nafas panjang, ia berjalan kembali ke arah Leo, namun Leo tertunduk dan hanya berkata maaf.


Andrean tidak bisa memaksa Leo saat ini untuk bicara, tapi ia tidak hilang akal ia keluar menemui dua rekan Leo ingin mendengar langsung apa yang terjadi. Jep dan rekannya di panggil ke ruangan khusus, dan mereka menceritakan detail apa yang mereka lihat saat datang ke apartemen Leo pagi itu.


Andrean mengeram, ia bisa menduga jika antara Leo dan Clara sudah terjadi sesuatu. Setelah mendapatkan informasi, Andrean kembali ke ruang rawat di mana Leo berada.


"Suka tidak suka kurasa ini yang aku bisa aku usulkan pada kalian berdua," Andrean menatap Leo dan Clara berulang kali.

__ADS_1


"Aku tau, aku tidak memiliki hak apapun dalam mengambil keputusan dalam hidup kalian. Tapi sebagai sahabatmu Clara, aku ingin melakukan yang terbaik untukmu."


"Maksudnya apa Kak Dre, memangnya apa yang terjadi antara Kak Clara dan Leo?," tanya Jasmine yang tak mengerti arah pembicaraan suaminya.


Clara dan Leo pun saling tatap, dalam hati mereka menduga jika Andrean sudah tau apa yang menjadi masalah mereka.


"Clara, kau hidup seorang diri sehebat apapun seorang perempuan bukankah butuh sandaran. Aku tau saat ini hatimu sedang terluka, namun bukan berarti kau tak bisa membangun cinta baru.


Justru ini bisa jadi awalan dirimu untuk melupakan cinta lama, dan membangun cinta. Meski kalian memulainya dengan cara yang kurang baik, tapi kalian harus bertanggungjawab atas apa yang sudah terjadi."


Andrean terdiam dan kembali menatap keduanya. Leo memegang pundak Leo "menikahlah kalian berdua, aku akan bantu urus semuanya. Kau laki-laki tak boleh lari dari tanggungjawab meskipun kau saat ini belum mencintainya."


"Maksud Tuan...?," Leo menggantungkan pertanyaannya. Ia tak mau salah bicara, ia merasa tak sepadan jika harus menikah dengan seorang Aferia Clara Andani.


"Kau tau apa yang kumaksud?," ucap Andrean. Jasmine yang mendengar itu memasang wajah terkejut ia melihat Clara berulang-ulang.


"Maaf, tolong jangan beri tau Sakti sungguh aku merasa malu dan hina jika dia sampai tau apa yang terjadi pada diriku," ucap Clara memohon.


"Lalu apa rencana Kakak sekarang?," tanya Jasmine.


"Sesuai dengan rencana awal aku akan keluar negeri."


"Tidak, aku tidak mengijinkannya sebelum kalian menikah. Clara jika ada janin tumbuh di rahimmu bagaimana, lebih baik mencegah itu dulu daripada kelak membuatmu makin malu," ucap Andrean.


"Aku tidak siap menerima semua ini Dre, aku tidak mau sungguh aku bingung saat ini. Aku bagai jatuh tertimpa tangga, dihajar juga oleh buah durian rasanya remuk redam raga dan batinku."


Jasmine mengusap air mata Clara dengan kedua tangannya. "Tolong jangan pergi, aku membutuhkanmu Kak, menikahlah dengan Leo siapa tau pernikahan ini menjadi obat dari patah hatimu," ucap Jasmine.


Clara menggeleng baginya pernikahan bukanlah solusi dari masalahnya, justru akan menambah masalah. Dia dan Leo sama-sama tak kenal dekat hanya sebatas atasan dan bawahan itupun baru dua hari ini.

__ADS_1


Ia tidak ingin melibatkan Leo yang jelas-jelas ini kesalahannya. Ia tidak ingin menyakiti dirinya dan Leo dengan ikatan pernikahan hanya karena kesalahan akibat dari mabuk-mabukan.


"Leo apakah kau memiliki kekasih?," tanya Andrean yang melihat Clara menolak idenya. Leo menggeleng, selama ini dia fokus bekerja karena ingin mengumpulkan uang banyak demi ke dua orang tuanya dan sekolah adik satu-satunya.


"Bagus, kau bersedia menikahi Clara?," tanya Andrean lagi. Leo melihat Clara yang tertunduk.


"Tolong jangan paksa aku Dre, ini bukan hal yang baik untukku?," jawab Clara meski pertanyaan itu ditujukan pada Leo.


"Clara, aku tau kau sangat mencintai Sakti tapi taukah kau besok Sakti akan menikah dengan Shaina. Paman Jamil memintaku mempersiapkan semuanya, mereka akan menikah di rumah sakit besok pagi," Andrean akhirnya membuka rahasia pembicaraan antara dia dan Paman Jamil saat di ruang rawat Shaina.


"Apa..., tapi bukankah Shaina belum sadarkan diri?," Clara terkejut atas berita yang didengarnya. Ia berharap dengan kepergiannya sesaat akan membuat Sakti merasa kehilangan dan saat dia kembali, Sakti mau menerima cintanya kembali.


"Shaina sudah sadar sejak semalam Kak Alhamdulillah, dan dia sudah bersedia menikah dengan Kak Sakti saaf Paman mengatakan permintaannya," terang Jasmine membuat Clara membuang pandangannya ke arah lain.


Matanya kembali berkaca-kaca, harapan yang tersisa luluh lantak sudah. Harapan bersanding dengan Sakti, hidup bahagia dengan orang yang dicintainya kini hanya tinggal angan semata. Dia dekat namun tak mampu disentuh, dia dekat namun terasa jauh.


"Sakti, inikah akhir perjuangan cintaku padamu," ucap Clara dalam hati.


"Qolbu menyendu dalam tangis pilu, merintih dalam sakit yang tak nampak luka, menganak sungai tapi bukan air hujan melainkan air mata. Dentingan irama bukan lagi asa, tapi binasa dalam cinta yang tak terbalas"


###########


Alhamdulillah Chapter 53 done


Mampir di karyaku yang lain ya


Like komen Vote rate 5 ditunggu selalu 😍😍


__ADS_1


__ADS_2