Jasmine & Prodeo Andrean

Jasmine & Prodeo Andrean
Chapter 32


__ADS_3

*Guys like and komen or votenya dong kan gratis 😍❤ biar rame nih...Author biar semangat up ya🥰🥰.


Arindra dan Catatan Hati Seorang Istri


juga menanti kalian. Semangat 💪💪👍👍


###########


Paman Jamil menelpon Shaina, jika malam ini mereka akan dijemput oleh Tuan Jared, mereka diminta untuk bersiap-siap. Semua bersiap, termasuk Clara. Mereka kini sedang menunggu jemputan.


Sementara Samir mendapatkan informasi jika di mana tempat persembunyian Clara dan lainnya. Segera ia mengumpulkan anak buahnya untuk mendatangi tempat itu. Rombongan Samir datang dan mengepung pintu keluar gedung tua itu.


Andrean yang pendengarannya tajam, menajamkan pendengarannya. Setelah memastikan ia segera melihat ke arah empat orang itu.


"Clara apakah ada pintu rahasia atau tempat bersembunyi rahasia?". Tanya Andrean.


"Tidak ada, memangnya kenapa?".


"Mereka sudah dekat di sekitaran kita, jumlahnya cukup banyak, ita takkan mampu melawannya"


"Maksudmu rombongan Tuan Jared?". Tanya Sakti.


"Bukan, sepertinya rombongan Samir atau Tuan Jadit".


"Lalu bagaimana?, bukankah rombongan Paman Jamil juga sedang datang kemari". Ucap Shaina khawatir.


"Aku tidak tahu, yang jelas kita akan berhadapan terlebih dulu dengan Samir cs".


Semua terdiam dan tampak berfikir, Shaina segera menghubungi Ayahnya tapi nomornya tak aktif, membuat Andrean tak punya pilihan.


"Shaina, Clara tolong jaga Jasmine, Sakti tetaplah di dalam. Aku akan keluar menemui mereka sebelum mereka menemukan kalian.


Aku akan berusaha menahan mereka hingga rombongan Paman Jamil datang, Sakti bantu aku untuk mematikan lampu. Setidaknya gelap bisa membantuku untuk memudahkan melawan mereka".


"Baik". Sakti pun bergegas menuju saklar lampu yang diberitahukan oleh Clara.


"Kak Drean". Jasmine memeluk Andrean erat, tangisnya pecah kembali, ketakutan kehilangan dan perpisahan terjadi terbayang di depan pelupuk matanya.


"Tenanglah, berdoalah". Andrean melepaskan pelukan Jasmine, ia mencium kening istrinya dan keluar lalu Sakti segera mengunci pintu.


Sakti segera mematikan lampu setelah Andrean keluar. Samir melihat ada yang keluar dari gedung tua itu, dan menyorot dengan lampu mobil untuk memastikan. Lalu ia turun dan mendekati Andrean.


"Wow kau keluar seorang diri, baru aku sedang berencana untuk menghancurkan gedung tua ini. Tapi ternyata Kau muncul, harus aku akui jika keberanian orang gila memang tak ada batasnya". Ucap Samir tertawa devil.


"Aku memang gila Samir, tapi psikopat sepertimu. Ayo kita bertanding satu lawan satu, jika kau menang kau bisa membawaku dan jika aku menang maka pergilah tinggalkan tempat ini".


"Hahaha pilihan bodoh yang takkan diambil oleh seorang Samir. Tentu saja aku menang, untuk apa aku mengambil pilihan bersusah payah berkelahi denganmu. Jika dengan satu tarikan peluru saja aku bisa mengalahkanmu".


"Kau memang pengecut Samir".


Samir memberi kode pada beberapa anak buahnya untuk menghajar Andrean. Sedangkan yang lain berusaha menerobos pintu masuk gedung.


Andrean tak tinggal diam, ia mulai menghalangi banyak orang yang berusaha membuka pintu.


"Buk, buk".


Perkelahian tak dapat dihindari, pintu pun sudah terbuka. Dengan cepat Andrean segera kembali menutup akses itu, ruangan gelap membuatnya mudah mengalahkan beberapa anak buah Samir.

__ADS_1


Samir kesal karena anak buahnya tak kunjung datang membawa Andrean ke hadapannya, ia pun kembali mendobrak pintu.


"Buk, buk". Pukulan Andrean mengenai Samir.


"Sorotkan lampu mobil ke arah sini cepat". Teriak Samir ditengah pukulan Andrean yang tak mampu ia lihat.


Anak buah Andrean pun salah pukul, tapi kondisi gelap tak berlangsung lama, anak buah Andrean menyorotkan lampu mobil hingga suasana menjadi terang. Membuat Samir melihat jelas Sakti, Clara, Shaina, dan Jasmine.


"Berlutut semua". Perintah Samir pada Andrean cs. Anak buahnya menodongkan pistol ke arah mereka. Mau tau mau, kelima orang itu pun berlutut.


Samir menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya. Ia melihat Andrean dan menarik tubuhnya.


"Buk, buk".


Tubuh Andrean dipukuli Samir dengan brutalnya.


"Kak Drean". Teriak Jasmine sambil menangis, ia ingin berlari ke arah suaminya tapi ditahan oleh Shaina dan Clara.


"Kau fikir bisa memukul seenakmu hah, kau buat luka maka aku akan lebih membuatmu terluka, brengsek dasar orang gila buk, buk".


Samir menendang perut Andrean yang sudah tersungkur di lantai.


"Rasakan ini brengsek, ingat Jasmine hanya milikku. Dan kau takkan pernah bisa mendapatkan apa yang sudah jadi milikku".


"Ikat mereka semua". Perintah Samir pada anak buahnya.


Semua diikat termasuk Jasmine, Samir mendekati Jasmine.


"Kau tidak akan pernah bisa lari dari Samir sayang, mari kita nikmati malam panjang kita yang tertunda haha".


"Haha plakk".


Samir menampar Jasmine dan meraih wajahnya.


"Sekali lagi kau coba membunuh dirimu sendiri, maka Andrean dan bayi dalam kandunganmu ini akan mati sayang".


Samir menganggkat tubuh Jasmine membawanya ke dalam kamar.


"Lepaskan aku brengsek, lepaskan". Jasmine berteriak tapi Samir tak bergeming.


Andrean yang melihat itu marah, Sakti, Clara dan Shaina saling lirik seolah memberi kode lewat mata mereka.


"Samir brengsek lepaskan Jasmine, berani kau sentuh dia maka kau akan menyesal".


Teriak Andrean saat tahu Jasmine dibawa paksa oleh Samir.


"Buk, buk".


Anak buah Samir menghajar Andrean lagi.


"Berisik, sepertinya bos sedang berpesta. Kita juga bisa berpesta lihat ada dua gadis cantik di sini hahaha".


Disambut tawa yang lain, membuat Shaina dan Clara bergidik. Mereka berdoa Paman Jamil segera datang sebelum Samir bertindak pada Jasmine.


Sementara di kamar, Andrean merobek paksa pakaian yang ada ditubuh Jasmine.


"Samir, aku mohon Samir. Jangan lakukan ini, aku sedang hamil hiks, hiks".

__ADS_1


"Haha kau hamil aku tak peduli, kau harus puaskanku malam ini karena kau telah berani menolakku berkal-kali".


"Breet".


Samir menarik celana Jasmine, Jasmine berusaha duduk dan bangun. Tapi ke dua kakinya di pegang oleh ke dua tangan Samir.


"Sungguh menggairahkan sayang, sudah lama aku membayangkan ini dengamu".


"Samir, hentikan seumur hidup aku akan sangat-sangat membencimu". Teriak Jasmine.


"Bencilah aku sayang sepuasmu, tapi puaskan aku dulu haha".


Samir mulai menciumi kaki Jasmine, Jasmine terus meronta berusaha lepas. Tangisan dan teriakan seolah jadi irama yang membuat Samir tersenyum dan bergairah.


Andrean mendidik mendengar teriakan Jasmine, ia berusaha melepaskan ikatan di tangannya. Ia pejamkan mata, dengan sekali tarikan ikatan itu terlepas.


Lalu ia segera menerjang salah satu anak buah Samir dan mengambil pistolnya.


"Diam atau kutembak dia".


Ucap Andrean yang menodongkan pistol di kepala anak buah Samir.


"Tembak saja, kehilangan satu orang tak membuat kami mundur". Ujar kepala preman-preman itu.


Anak buah Samir yang lain menodongkan pistol ke arahnya. Andrean menembak ke arah pintu di mana Samir dan Jasmine berada.


"Dor".


Membuat Samir terkejut dan menghentikan aksinya.


"Brengsek siapa yang berani bermain-main denganku hah". Teriak Samir lalu membuka pintu kamar.


"Dor".


Lagi Andrean mengarahkan tembakannya ke arah Samir, membuat Samir terkena di bagian bahu.


"Brengsek, bunuh mereka semua sekarang juga". Perintahnya.


Seorang anak buah Samir datang menghampiri, lalu memeriksa luka dan kemudian membebatnya dengan kain seadanya.


"Kau mau main-main denganku hah".


Samir menembak orang yang menutupi tubuh Andrean, orang itupun luruh seketika membuat Andrean terkejut.


Andrean terkepung oleh todongan Samir dan anak buahnya, Andrean nekat ia juga menodongkan senjata itu ke arah Samir.


"Ayo mati bersama". Ucap Andrean


############


Alhamdulillah chapter 32 done


Poin, Share and Follow Lesta Lestari..ya


Terima kasih


❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2