
Like, Like, Komen, Vote, Poin or Rate 5 nya ya
selalu ditunggu oleh author terima kasih ❤🥰🥰👍
#########
"Jangan lagi kau mengungkit cinta Shaina di depan Jasmine, Clara".
Ucap Sakti setelah Andrean dan Jasmine pergi ke kamarnya. Clara hanya tersenyum santai, meski hatinya dan sorot matanya kecewa akan cintanya yang masih bertepuk sebelah tangan.
"Apakah kau senang melihat rumah tangga Andrean dan Jasmine berantakan. Toh Shaina selama ini juga memendam perasaannya sendiri. Tidak cukupkah itu membuatmu tidak memancing-mancing masalah?".
Sakti sedikit geram melihat Clara yang acuh tak acuh.
"Kau terluka dan marah saat mendengar Shaina disinggung. Aku yang menjadi kekasihmu di sini, kau hanya anggap sebagai rekan bisnis saja". Terang Clara yang tak kalah sinis.
Ia sudah lama memendam rasa pada Sakti, hingga ia berusaha selalu mencurahkan cintanya meski Sakti selalu bersikap acuh tak acuh. Ia tak acuh jika membahas masalah pekerjaan, tapi begitu acuh dan selalu menghindar jika membahas tentang hubungan mereka.
Tinggal seatap dengan waktu cukup lama, awalnya menjadi harapan yang membumbung tinggi berharap Sakti akan mudah melupakan cintanya pada Shaina. Tapi kenyataannya hingga kini, Clara hanya mampu menatap Sakti dengan berjarak.
Karena Sakti selalu menjaga jarak darinya, dan cintanya sama dengan Shaina bertepuk sebelah tangan. Jika Shaina cemburu pada kemesraan Andrean dan Jasmine, ia cemburu pada perhatian Sakti pada Shaina yang tak pernah ia dapatkan.
Salahkah, jika ia ingin memberi Sakti sedikit pelajaran dengan sedikit bermain-main tentang rasa cinta Shaina. Setidaknya ia sedikit membalas luka hatinya dengan melihat Sakti juga terluka karena Shaina.
"Jangan mengungkit sesuatu yang bahkan kau tau alasan mengapa kita menjadi sepasang kekasih".
"Apakah kau tak menyisakan ruang untukku di hatimu, meski hanya sedikit?".
"Fokuslah pada tujuanmu Clara, tujuan utama kau bergabung di sini bukan untuk meraih cintaku yang sudah terisi penuh oleh cintaku pada Shaina. Tapi membalaskan dendam adikmu pada Samir dan Papanya".
Clara berdiri, mendekati Sakti yang menatapnya tajam.
"Kau kekasihku jika aku tak bisa memilikimu maka siapapun juga tak bisa memilikimu. Tak peduli salah atau benar caraku, yang kutahu selama aku masih hidup. Meski hanya ragamu atau status, aku tetap akan mengikatmu dengan itu".
Clara semakin dekat, membuat Sakti melangkah mundur.
"Jangan melakukan sesuatu yang membuat aku semakin tak menyukaimu Clara". Geram Sakti dengan langkah terhenti saat tubuh belakangnya sudah menempel di tembok.
__ADS_1
Clara tersenyum menyeringai, dengan gerakan cepat tanpa di duga oleh Sakti bibirnya sudah menempel pada benda kenyal milik Clara. Sigap ia segera mendorong tubuh di depannya hingga Clara terjatuh ke belakang.
Sakti mengusap bibirnya dengan tangan, seolah ia jijik akan perlakuan Clara padanya.
"Sudah kubilang jangan membuatku semakin tak menyukaimu. Kita sama-sama patah hati, kita sama-sama terluka karena cinta kita saling tak berbalas. Jangan lagi menambah luka dan masalah, jika tidak ingin tujuan utamamu hancur".
Clara bangun dari jatuhnya, menatap kepergian Sakti yang berwajah marah.
"Apa yang harus kulakukan Sakti, hingga aku bisa mendapatkan hatimu?".
Clara menghela nafas panjang, ia sentuh bibirnya. Hatinya bergetar antara rasa sedih dan bahagia, ciuman pertamanya ia arahkan pada orang yang sangat ia cintai meski orang itu tak membalas cintanya.
##########
Sementara Sakti yang kesal lebih memilih ke kamarnya dan memeriksa hanphone. Berharap Shaina menghubunginya mengatakan rindu.
Tapi ia justru mendapatkan telpon yang mengejutkan, membuatnya cemas dan takut kehilangan. Sakti mendapat telpon dari anak buah yang menjaga rumah utama Andrean.
Sakti pun segera berlari menuju kamar Andrean, dengan tergesa-gesa ia mengetuk pintu kamar itu berulang kali.
"Tok...tok...tok...buka pintunya Andrean".
"Tok...tok...tok..., Andrean buka pintunya. Tolong Andrean buka pintunya".
Sakti kembali mengetuk, dengan tak sabar ia mulai mendendang pintu kamar Andrean. Andrean yang baru keluar kamar mandi bersama Jasmine terkejut mendengar ketukan kasar dan suara pintu yang di tendang-tendang.
Andrean segera membukakan pintu, ia melihat wajah panik Sakti.
"Ada apa?".
"Shaina Dre, Shaina di culik, rumah utama di serang".
"Shitt, baiklah ayo segera kita kesana".
Jasmine yang mendengar Shaina diculik shock, ia ingat bayangan saat Samir memperlakukannya dengan kasar hingga ia ingin bunuh diri. Banyangan itu membuat tubuhnya melemas, beruntung Andrean segera membopong Jasmine dan mendudukkannya di kasur sebelum Jasmine terjatuh.
"Tenanglah, tenang. Insyaa allah Shaina tidak apa-apa?". Andrean menenangkan istrinya sambil mengambil beberapa barang-barangnta yang dianggap perlu.
__ADS_1
Lalu bergegas memeluk istrinya yang menangis, dan tubuhnya bergetar. Ia tak tega melihat Jasmine, lalu ia membopong tubuh itu turun menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Sakti.
Clara selalu memperhatikan Sakti sepanjang perjalanan mereka ke rumah utama. Dengan kawalan para penjaga mereka berkendara beiringan. Clara melihat wajah panik Sakti yang berulang kali mengusap wajahnya kasar.
Sedangkan Andrean memeluk Jasmine yang masih menangis di pangkuannya. Sesekali Andrean melihat Sakti dan Clara. Clara yang terlihat paling tenang di antara mereka, menunjukkan ekspresi yang tak bisa dibaca.
Sedangkan Sakti sendiri berulangkali menghubungi beberapa Paman Jamil namun hasilnya nihil. Om Dito fokus pada perusahaan, diberi kabar terkejut mendengar kabar jika Shaina diculik.
Paman Jamil yang menemani Opa Jared berobat ke luar negeri, berkali-kali dihubungi namun tak jua diangkat. Rasa bersalah Sakti akan semakin besar jika Shaina tak dapat ditemukan.
"Bersabarlah Sakti, kita semua akan berusaha menemukan Shaina".
Ujar Andrean yang meminta Paman Dito menyiapkan orang-orangnya membantu mencari Shaina. Semua bergerak cepat, Andrean juga tidak ingin Shaina mengalami nasib yang lebih buruk dari Jasmine jika benar Samir dan Jadit yang menculiknya.
Jika Jasmine beruntung karena Samir sangat mencintainya, tapi tidak berlaku pada Shaina. Shaina bisa menjadi pelampiasan psikopat ayah dan anak itu.
Tak segan mereka berprilaku menyalurkan hasrat kebinatangan mereka dengan cara yang sangat sadis. Tak peduli tubuh korbannya sudah terluka parah dan mengeluarkan banyak darah.
Mereka takkan berhenti jika belum puas, meskipun mangsanya sudah menjadi mayat sekalipun. Andrean akan sangat menyesal jika putri dari orang yang selama ini menjaga dan melindunginya tak mampu ia jaga dengan baik.
Dua jam perjalanan mereka sudah sampai di rumah utama. Terlihat pihak kepolisian sudah hadir di sana, Paman Dito pun sudah menunggu kedatangan Andrean dan kawan-kawannya.
"Bagaimana Shaina Paman?". Tanya Sakti yang langsung berlari menghampiri Paman Dito.
"Sabar ya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi sampai detik ini Shaina belum dapat kami temukan. Jarak pelaporan anak buahmu dan waktu kejadian cukup lama. Sehingga kita butuh waktu lebih untuk melacak keberadaan Shaina".
Sakti tertunduk dan memasuki rumah itu, sedangkan Jasmine ditemani Clara tidak diperkenankan untuk turun dari mobil. Penjagaan super ketat tetap dilakukan, anak buah yang terluka semua sudah dibawa ke rumah sakit oleh Paman Dito.
Sakti memasuki kamar Shaina mencari sesuatu yang bisa memberinya petunjuk, ia menemukan hanphone Shaina yang retak, tapi layarnya masih berfungsi. Ia buka hanphone itu dan melihat riwayat terakhir yang dilihat atau dibaca Shaina.
Hatinya teriris saat tahu wajah Andrean yang terpampang di sana, Andrean yang melihat itu terdiam membiarkan Sakti menangis dalam diamnya.
"Maafkan aku Shaina, maafkan aku Sakti, kehadiranku di tengah-tengah kalian membuat cinta kalian saling bertepuk sebelah tangan".
Andrean memegang pundak Sakti tanpa berkata apa-apa. Hanya memberi penguatan pada sahabatnya itu.
#########
__ADS_1
Alhamdulillah chapter 46 done