Jasmine & Prodeo Andrean

Jasmine & Prodeo Andrean
Chapter 29


__ADS_3

"Sekarang tidur ya, sebentar lagi pagi".


Jasmine mengangguk dan mereka berdua terlelap dalam tidur dengan saling memeluk.


Pagi hari suasana di dalam bangunan itu masih sunyi, rasa lelah akibat semalaman membuat mereka lelap ke alam mimpi.


Barulah setelah waktu menujukkan pukul delapan, Clara dan Shaina terbangun. Mereka bergegas membersihkan diri lalu beraktifitas di dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Wow, kau punya persediaan makanan yang cukup banyak ternyata".


Shaina melihat-lihat dapur dan banyak makanan tersedia di sana.


"Aku hanya mempersiapkan apa yang harus kupersiapkan. Aku hanya ingin segala sesuatunya menjadi sempurna".


"Yaa kau memang perfeksionis sepertinya, tapi kau tak bisa memaksa hati seseorang untuk mencintaimu".


"Kau menyindirku?".


"Jika kau merasa, itu bagus".


"Aku sudah mencintai Sakti sejak lama, namun terpendam saat adikku tiada karena aku lebih fokus pada misiku".


"Harusnya kau sekarang juga fokus pada misimu, bukan mengambil kesempatan di saat seperti ini".


"Aku tau Sakti hanya tertuju pada satu wanita sejak dulu, jadi aku hanya memanfaatkan kesempatan yang ada meski di hatinya belum kumiliki".


"Berarti selain perfeksionis kau ternyata sangat egois".


"Aku tak peduli, yang jelas Sakti kekasihku sekarang dan itu artinya dia milikku. Dan jangan coba-coba merebutny dariku, karena ku tahu dia sangat mencintaimu".


"Hah, kau tau sampai sejauh itu". Shaina tak percaya mendengar apa yang dikatakan Clara. Baginya selama ini Sakti hanya menganggapnya adik dan begitu juga sebaliknya.


"Kau pura-pura tidak tau, atau tak mau tau?".


"Kak Sakti hanya menganggapku adik".


"Bodoh, lihatlah pancaran matanya padamu, itu bukan pancaran mata seorang kakak pada adiknya tapi pancaran cinta.


Kau menyiksanya selama ini dengan statusnya itu, bahkan ia menyimpan foto kalian di dompetnya dan ada tulisan di belakang foto itu. Kau tau tulisan apa?".


Shaina menggeleng karena ia benar-benar tidak mengetahui jika Sakti mencintainya.


"Tertulis jelas di sana, Shaina i love you. Maka itu kenapa aku langsung mengetahui jika kau bukan adik Sakti. Saat ku tahu namamu adalah Shaina".


Shaina terdiam, ia merasa bersalah selama ini pada Sakti. Ia tak menyangka jika Sakti yang dianggapnya kakaknya itu menyimpan rasa cinta yang cukup lama padanya.


"Tapi ingat, aku menceritakan ini bukan untuk membuatmu merebut kekasihku, aku takkan mrmbiarkannya. Kau juga tidak mencintainya bukan, jadi biarkan aku yang menyembuhkan lukanya.


Dan kuingatkan sekali lagi, jangan merebutnya dariku karena aku takkan pernah segan membuat perhitungan denganmu".

__ADS_1


Shaina terdiam dan hanya menatap tajam pada Clara tapi Clara terlihat acuh padanya. Di sisi lain, Sakti mendengar percakapan mereka di dapur, ia terbangun saat mendengar suara peralatan masak beradu.


Niatnya ingin membantu namun diurungkan saat mereka terlibat pembicaraan dengan menyangkutpautkan namanya.


Suasana menjadi hening di antara Shaina dan Clara, mereka memasak saling bantu tapi tak ada satupun yang bersuara hingga masakan mereka selesai dan membawanya ke meja dk ruangan di mana Sakti tertidur.


"Sayang kau sudah bangun". Clara melihat Sakti yang baru membuka matanya, Sakti berpura-pura masih tidur saat mereka selesai masak.


"Wow bau masakannya wangi sekali, tak salah jika aku menjadikanmu kekasih ternyata kau pandai memasak".


Sakti melirik Shaina, ia melihat Shaina mendengus kesal.


"*Apakah kau cemburu Shaina, bukankah kau mencintai Andrean?".


"Kak Sakti benar-benar, dia sengaja ingin membuatku cemburu begitu. Enak saja lihat saja kau, aku buat perhitungan denganmu*".


Clara hanya memperhatikan ke duanya yang saling menatap dengan tatapan aneh menurutnya.


"Sakti kau ingin membuat Shaina cemburu bukan, aku tau arti tatapan matamu itu. Baiklah, kubantu kau dengan senang hati".


"Sayang mandilah dulu, aku siapkan makanmu setelah kau mandi". Ucap Clara sambil tersenyum manis ke arah Sakti.


"Baiklah sayang, terima kasih ya hehe". Sakti memberikan senyum manis pada Clara membuat Shaina mengerucutkan bibirnya.


"Kena kau sekarang Shaina, adik manisku hehe kau tak bisa lagi memandangi Andrean karena ada Jasmine di sana. Apakah kau sekarang sadar jika aku mencintaimu hemm".


"Kak Drean apakah kalian sudah bangun?".


Panggil Shaina. Andrean membuka pintu dengan tak memakai baju atasnya, dan Shaina melihat ke dalam.


Kasur yang berantakan membuat Shaina kesal, tapi ia tak melihat Jasmine di sana. Ia hanya mendengar gemericik air dari kamar mandi. Ia menatap tajam Andrean cemburu, kesal menjadi satu dalam dirinya.


"Apakah dia sudah sadar?". Tanya Shaina dengan ketus.


"Semalam dia sudah sadar, maaf tidak memberitahukan kalian, karena kuyakin kalian juga pasti sangat lelah".


"Ya kami sangat lelah, sehingga tak mendengar jika kau mengambil kesempatan terhadap wanita lemah. Meskipun dia istrimu tapi tak seharusnya kau melakukannya semalam, tidakkah dirimu bisa menahan diri untuj menyentuh wanita yang bahkan baru sadar dari aksi bunuh dirinya. Dasar pria brengsek".


Shaina menendang kaki Andrean membuat Andrean sakit dan heran lalu pergi meninggalkannya dengan tatapan marah.


"Apakah dia benar-benar menyukaiku dan cemburu pada Jasmine?". Ahh benar-benar Shaina, dia sudah tau aku hanya mencintai Jasmine. Mengapa jadi begini sih".


Belum sempat Andrean berfikir lebih jauh, suara Jasmine memanggil dari kamar mandi membuatnya segera menuju ke tempat istrinya itu.


"Ada sayang?". Tanya Andrean khawatir dan hendak membuka pintu kamar mandi.


"Jangan di buka Kak, aku malu. Kak tak punya baju". Jasmine segera mengunci pintu kamar mandi, ia hanya tertutup selembar anduk kecil yang hanya mampu menutupi bagian depan dadanya saja.


"Oh sebentar sayang".

__ADS_1


Andrean pun segera mengambil kaos dan celana pendek dan dalamannya. Memberikan pada Jasmine.


"Kak, apaan ini?".


Teriak Jasmine saat melihat ada dalaman laki-laki di sana setelah menerima kaos dan celana dari Andrean.


"Pakai dulu sementara, kakak belum bisa memberimu pakaian yang sesuai".


"Tapi kak..."


"Sudahlah, ini darurat Jasmine toh itu juga milikku bukan, aku suamimu jadi harusnya tak masalah bukan hehe".


Jasmine tersenyum malu mendengar kata suaminya itu, mau tak mau ia memakai kaos, celana kebesaran milik Andrean. Sedangkan b**nya terpaksa ia gunakan lagi.


Setelah selesai ia pun keluar dan melihat kasur masih berantakan seperti sebelumnya.


Andrean memeluk Jasmine dan menciumi harum yang keluar dari tubuh istrinya itu, membuat Jasmine bergidik.


"Kak, aku mau beresin kasur dulu ga enak lihat lihatnya berantakan begini".


Ujar Jasmine yang merasa bulu kuduknya berdiri saat Andrean mulai menciumi tengkuk belakang lehernya. Meski ia pribadi sangat menginginkannya tapi ia tak mungkin melakukannya saat ini, mengingat ia tak tau di mana ia sekarang berada.


"Aku sangat merindukanmu sayang". Andrean sudah serak dalam nada suaranya membuat Jasmine segera melepaskan pelukannya.


"Kak, aku beresin kasur dulu ya bis itu aku lapar, bayi kita ini kelaparan sayang".


Mendengar kata bayi membuat Andrean sadar dan tersenyum malu pada istrinya itu.


"Maaf, aku seakan tak bisa menahan diri. Maafkan Ayah sayang, kau lapar baiklah Ayah akan mencarikan makanan untukmu".


Andrean pun mencium perut istrinya itu, sebelum kemudian secara singkat mencium indra pengecap istrinya dan keluar. Membuat Jasmine tersenyum bahagai.


#######


Alhamdulillah chapter 29 done


Tolong tinggalkan jejak dong..


Votee, komen, like, poin atau rate lima...


Share and follow lesta lestari


Mampir juga di karyaku yang lain ya...


ARINDRA


CATATAN HATI SEORANG ISTRI


❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2