
"Dari kisah tadi mereka tak hanya bermodalkan keyakinan, doa dan keberanian, tapi menemukan strategi yang tepat untuk menang. Jika mereka menutup beberapa sumber air sebagai strateginya, lalu apa strategimu?".
Andrean terdiam mendengar pembicaraan panjang Paman Jamil. Ia merenungi apa yang dibicarakan oleh orang yang selama ini setia di sisinya ini adalah sebuah kebenaran.
"Tuan, saat ini yang anda bisa lakukan adalah pulihkan diri anda sendiri, tak hanya fisik tapi juga emosi. Ketenangan akan membawa fikiran jernih, dan menghasilkan keputusan jernih.
Tapi jika emosi yang menguasai anda, sesungguhnya anda sudah kalah dalam beberapa langkah.Emosi yang tak terkendali tak hanya akan menguras anda, tapi juga kejernihan dalam berfikir.
Sekarang terserah Anda Tuan, saya hanya kekuatan luar yang tak bisa membangkitkan Anda dan mengubah Anda, tapi andalah yang harus mengubah diri anda sendiri.
Kemenangan awal adalah pengendalian emosi, jika emosi anda belum terkendali maka sesungguhnya kekalahan sudah terjadi.
Tuan, Andalah yang memiliki peran besar di sini, bukan Saya ataupun yang lainnya. Saya hanya akan membantu sebisanya, tapi secara keseluruhan Andalah penguasanya".
"Terima kasih Paman, maafkan Andrean. Tolong ajari Andrean Paman, untuk mempersiapkan diri".
"Baiklah, sekarang Tuan harus pulihkan dulu fisik Tuan, baru kita akan berlatih agar Tuan semakin kuat".
"Baik Paman". Andrean tersenyum membuat Paman Jamil senang.
"Apa yang Tuan keluhkan saat ini?".
"Hanya kepala Paman, rasanya sakit".
"Sakti akan memeriksanya, Paman panggilkan Sakti dulu ya".
"Paman..."
"Ada apa Tuan?".
"Apakah Jasmine sudah ditemukan?".
"Paman tidak tau, nanti akan Paman minta seseorang untuk mencari informasi tentang Nona. Tuan mengkhawatirkannya?".
"Dia sedang mengandung anakku Paman, tentu aku mengkhawatirkannya".
"Ingat Tuan, yang akan anda hadapi adalah dua kekuatan besar di negeri ini. Jika diibaratkan anda hanyalah kurcaci bagi mereka. Jadi Anda harus memukan langkah yang tepat untuk melawan mereka".
"Baik Paman, aku akan mengikuti saran Paman".
Tak Lama Sakti yang dipanggil oleh Paman datang bersama Shaina.
"Periksalah, cepat". Perintah Andrean
"Huh kau ini, masih saja arogan. Kenapa tidak bisa sedikit saja Anda sopan Tuan". Protes Shaina.
"Sudahlah Shaina, biarkan Sakti berkonsentrasi dulu dengan pekerjaanya. Jika dia sudah sembuh kau bisa mengerjainya kan hehehe". Ucap Paman Jamil setengah berbisik pada Shaina tapi tetap terdengar oleh Andrean.
"Terima kasih Ayah, Ayah memberiku ide bagus". Shaina senang Ayahnya mendukung untuk memberi pelajaran pada Andrean.
__ADS_1
"Tidak perlu kalian berbisik, aku mendengarnya". Ucap Andrean pada ke dua anak dan Ayah itu. Paman Jamil senang, kemampuan unik Andrean ternyata masih berfungsi.
Serangkan Sakti, dia hanya tersenyum dan fokus pada pekerjaannya.
"Dia sudah tidak apa-apa Paman, benturan yang terjadi di kepalanya tidak cukup parah, karena langsung mendapatkan perawatan. Jadinya hanya akan menimbulkan efek pusing saja jika kelelahan".
"Benarkah, tapi mengapa saya baru bisa bangun setelah tidur satu pekan?".
"Itu kemungkinan Anda yang malas berusaha untuk bangun".
Perkataan Sakti disambut tawa Shaina dan Paman Jamil.
"Senang kalian menertawakanku?".
"Sekarang berarti kau bisa membersihkan dirimu sendiri Mr. Angkuh".
"Memang selama ini siapa yang membersihkan tubuhku?".
"Aku". Ucap Shaina sengaja mengerjai Andrean.
"Kau...". Andrean memindai tubuh Shaina.
"Kau beruntung bisa menyentuh tubuhku yang indah dan tampan ini, jika bukan karena sakit kau tidak akan mendapatkannya". Lanjut Andrean.
"Huh dasar mister angkuh, pedenya selangit".
"Sepertinya kau sekarang memiliki lawan tangguh Shaina". Ucap Sakti
"Dia tangguh, dia hanya pria lemah Kak. Lihat saja akan aku buktikan jika dia pria lemah". Ucap Shaina yang berkacak pinggang, dan memasang wajah meremehkan.
"Kau jangan menyesal Shaina, kau bisa bertekuk lutut padaku. Jika itu terjadi jangan salahkan aku ya". Balas Andrean, Shaina hendak membalas tapi ditatap oleh Ayahnya dan Sakti, membuat ia hanya mendengus kesal.
Shaina, Sakti dan Paman Jamil keluar, membiarkan Andrean sendiri. Andrean bangun dan melihat ke luar jendela.
"Jasmine, aku akan segera kembali untuk menemukanmu. Tunggulah aku dengan sabar".
#########
Sementara Jasmine benar-benar tak bisa kemana-mana, ia tidak diperkenankan keluar tanpa didampingi Samir.
"Makanlah, ini kubuatkan makanan kesukaanmu". Kata Samir dengan lembut.
"Sampai kapan aku di sini, aku ingin pulang setidaknya bertemu dengan Ayah Ibuku".
"Sudah kukatakan padamu, Tuan Jared itu hanya mengingkan anak dalam kandunganmu. Jangan harap kau bertemu dengan mereka sebelum kau menerima cintaku".
Geram Samir, Jasmine selalu menanyakan hal yang sama.
"Kau egois Samir, aku wanita bersuami tak seharusnya kau mengurungku seperti ini".
__ADS_1
"Sudah kukatakan, orang gila itu sudah mati dan kau hanya akan menjadi milik Samir selamanya".
"Jangan tanam kebencian yang lebih besar di hatiku padamu, Andrean masih hidup. Selama aku tidak melihat jasadnya, maka selama itu pula aku tidak akan pernah percaya suamiku telah tiada".
"Apa bukti vidio itu belum cukup hah, dengar aku bisa saja membuatmu kehilangan bayi orang gila itu. Aku hanya minta cintamu, maka berikan saja itu".
"Kau takkan pernah mendapatkan cintaku, kau bisa mengurungku tapi kau takkan bisa memaksaku untuk mencintaimu Samir".
"Kau...". Samir mencengkram wajah Jasmine kuat, membuat Jasmine kesakitan.
"Jika kau terus melawanku, aku akan buat kau melayaniku malam ini. Jika kau tidak ingin aku melakukan itu, maka lupakan Andrean dan buka hatimu untukku. Maka aku akan sabar, untuk bisa mendapatkanmu seutuhnya".
Samir melepaskan cengkramanya, membuat Jasmine bernafas lega.
"Sekarang makanlah, jangan membuatku marah lagi". Ucap Samir yang kini berubah lembut.
Samir membawa Jasmine duduk di sofa, dan ia menyendok makanan dan berniat menyuapkan makanan kepada Jasmine. Jasmine menolak, membuat Samir kembali mengeram.
"Makan, atau kubuat kau makan dari mulutku". Bentak Samir.
"Kau mudah sekali berubah, sebentar lembut sebentar kasar. Bagaimana aku bisa mencintaimu jika kau sendiri memiliki kepribadian yang tak kumengerti".
"Kau bahkan bisa tidur dengan orang gila, dan mencintainya. Sekarang takkan ada masalah bukan jika kau juga mencintaiku yang berambisi menjadikanmu milikku. Makanlah, ayo aku tidak ingin kau sakit".
Jasmine akhirnya menerima suapan demi suap dari tangan Samir, karena dia tidak membolehkan Jasmine makan sendiri dengan tangannya.
Jasmine diperlakukan sangat baik oleh Samir, ketika Jasmine tak pernah menyinggung soal Andrean dan keluarganya. Atau ketika ia meminta untuk pulang.
Tapi jika ia melakukan itu, Samir tak segan membentak, marah-marah, dan bahkan menamparnya. Meski ia akan berulang kali meminta maaf, tapi ia akan melakukannya kembali saat Jasmine menyinggung hal yang tak disukainya itu.
Jasmine hanya berharap, semoga keluarganya dan Andrean segera menemukan dirinya. Yang terkurung di sebuah pulau terpencil dan akses untuk kabur cukup sulit. Tak ada alat komunikasi sama sekali, bahkan Samir tak pernah meninggalkan rumah yang mereka tempati kini. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Samir meminta seseorang untuk membawakannya setiap pekan.
############
Alhamdulillah chapter 20 done
Tolong tinggalkan jejak dong..
Votee, komen, like, poin atau rate lima...
Share and follow lesta lestari
Mampir juga di karyaku yang lain ya...
ARINDRA
CATATAN HATI SEORANG ISTRI
😍❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1