Jasmine & Prodeo Andrean

Jasmine & Prodeo Andrean
Chapter 49


__ADS_3

Like, Like, Komen, Vote, Poin dan rate 5 and follow lesta lestari ya guys. Terima kasih


##########


Sakti masih setia menanti Shaina yang belum jua tersadar. Ia terus menggenggam tangan Shaina seolah tak ingin lepas. Sudah dua hari ini ia berada di rumah sakit, namun Shaina belum juga sadar.


Ayah Shaina Paman Jamil pun sudah datang, meninggalkan Opa Jared dengan orang-orang kepercayaannya. Rasanya ia ingin menangis tak bisa menjaga putri tunggalnya itu. Kondisi Shaina yang banyak luka membuat ia mengeram marah.


"Samir, kau lukai putriku maka bersiaplah dengan kehancuranmu". Ujar Paman Jamil dalam hati.


"Sakti tidurlah biar gantian Paman yang menjaga Shaina".


"Biar Sakti saja guru, Sakti tak ingin sedetikpun meninggalkan Shaina".


Ucap Sakti tanpa melepaskan pandangannya pada Shaina.


"Kau begitu mencintai putriku?".


"Sejak dulu, rasa itu tak pernah berubah Guru".


Paman Jamil menghela nafas panjang lalu ia duduk di sofa. Ia kemudian menelpon seseorang entah siapa, lalu ia pun melihat wajah putrinya dari sofa.


"Dulu aku diam saat istriku kau siksa Jadit, tapi kini kau dan putramu bermain dengan putriku. Kali ini aku takkan pernah tinggal diam".


Paman Jamil membuat sebuah foto istrinya, lalu ia mencium dan menyimpannya kembali.


"Ijinkan aku melakukannya".


Suara ketukan pintu membuat Sakti dan Paman Jamil melihat ke arah pintu. Muncul Andrean dan Jasmine, serta Clara.


"Apa kabar Paman?". Tanya Andrean dengan memeluk erat Paman Jamil.


"Baik Nak, bagaimana keadaanmu sendiri?".


Tanya balik Paman Jamil.


"Alhamdulillah sehat Paman, maaf Drean tidak bisa menjaga Shaina dengan baik". Andrean bersedih dan menyesal akan apa yang terjadi pada Shaina".


"Sudahlah, jika pengorbanan Shaina bisa menyeret Samir dan Jadit ke penjara maka pengorbanannya tidak akan sia-sia. Bagaimana kabarmu, perutmu semakin buncit saja Nona".


"Iya Paman, Mine sebentar lagi punya anak doakan Mine Paman".


Paman mengangguk dan tersenyum, lalu matanya melihat ke arah Clara.


"Terima kasih telah menolong Shaina". Ucap Paman pada Clara.


"Sama-sama Paman, bagaimanapun Shaina keluargaku juga jadi sudah sepatutnya kami saling tolong menolong"


Paman mengangguk dan kemudian duduk di sofa. Andrean pun menyalami Sakti yang tertunduk lesu. Clara dan Jasmine melihat Shaina yang masih setia menutup matanya.


"Jika memang aku harus melepasmu aku rela, melihatmu seperti ini lebih menyakitkan bagiku daripada kau diamkan aku selama ini".


Ucap Clara dalam hati, ia menutupi rasa patah hatinya dengan sangat baik. Bibirnya tersenyum namun hatinya saat ini hancur. Sedangkan Andrean dan Paman Jamil duduk di sofa di ruangan yang sama.


"Bagaimana kondisi Samir dan Ayahnya, apakah Samir masih mendekam di penjara?".

__ADS_1


"Sayangnya Paman, Samir sudah keluar penjara koneksinya terlalu kuat. Bahkan sekarang mereka membuat laporan balik berkenaan dengan pencemaran nama baik, kepemilikan senjata dan perlakuan tidak menyenangkan".


"Laporan mereka jika diproses akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri".


"Maksud Paman?".


"Kita lihat saja nanti, kabar apa satu atau dua hari ke depan".


Andrean pun diam, ia mencerna perkataan Paman Jamil, dan mencoba menerka rencana apa yang akan dilakukan oleh Paman Jamil.


"Apa Paman memiliki rencana sendiri?". Andrean cukup lama berkutat dengan terkaannya, tapi pada akhirnya pun bertanya.


"Maaf sebelumnya, Paman tau hari-hari terakhir ini kau disibukkan dengan kasus ini. Tapi Paman ingin minta tolong padamu?".


"Minta tolong apa Paman?".


Paman Jamil membicarakan apa yang dia inginkan pada Andrean dengan suara yang pelan. Andrean seakan tak percaya atas apa yang didengarnya, ia melihat Paman Jamil sekali lagi dengan tatapan keraguan.


"Paman tahu ini berat, tapi Paman rasa ini jalan yang terbaik".


"Aku akan mempertimbangkan dulu Paman bolekkah?".


"Boleh, tapi berikan jawaban pada Paman besok, karena Paman tidak ada waktu lagi".


Andrean mengangguk, ia merasa Paman Jamil menyimpan rencana yang di luar perkiraannya, tapi dia diam dan tak bertanya lagi. Tak berapa lama Paman Jamil pamit pergi, setelah menghubungi seseroang.


Andrean memegang pundak istrinya yang terlihat sedih melihat kondisi Shaina.


"Doakan yang terbaik, Shaina Insyaa Allah akan segera sadar". Ucap Andrean menenangkan istrinya itu.


"Bersabarlah, kita akan carikan dokter terbaik jika hari ini belum sadar juga".


Andrean membawa Jasmine untuk duduk di sofa, sedangkan Clara menatap Sakti yang masih tak melepaskan pandangan dan genggaman tangannya dari Shaina.


"Sak...". Panggil Clara tapi Sakti hanya menoleh sebentar saja.


"Istirahatlah, biarkan kami yang menjaganya".


Clara menghela nafas panjang saat dia melihat Sakti memberikan jawaban dengan gelengan kepala.


"Kita perlu bicara dan ini sangat penting untukku, bisakah?".


Sakti terdiam cukup lama, Andrean dan Jasmine melihat Clara dengan iba.


"Baiklah jika kau bersikeras untuk tidak mau bicara dan terus larut dengan rasa bersalahmu. Aku memang tidak pernah menjadi orang yang penting dalam hidupmu. Maafkan aku bila selama ini status kita menjadi bebanmu.


Cinta yang sepihak itu menyakitkan, tapi didiamkan dan diacuhkan seperti ini ternyata lebih sakit daripada menghadapi siksaan seorang Samir".


Clara kemudian menghampiri Andrean dan Jasmine yang duduk di sofa.


"Drean, Mine aku rasa saat ini waktu yang tepat untukku untuk menjauh. Dan aku butuh waktu untuk sendiri sampai aku kembali siap meski tidak tau sampai kapan aku siap".


Andrean dan Jasmine terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Clara, Sakti yang mendengar hanya melirik sesaat.


"Kau mau kemana Kak, kau tidak boleh jauh-jauh dari kami. Bagaimanapun keselamatanmu juga utama, Paman Jadit dan Samir pasti tidak akan tinggal diam". Ujar Jasmine.

__ADS_1


"Benar Clara, jika memang butuh waktu sendiri aku bisa minta orang-orangku untuk menemanimu di sebuah tempat. Tapi yang pasti tempat itu juga tak boleh jauh dari kami". Ujar Andrean menambahkan.


"Aku hanya ingin menjenguk makam adikku, setelahnya aku ingin ke luar negeri. Negara mana aku juga belum memutuskan".


"Kami masih sangat membutuhkanmu, bisakah tetap tinggal saja di sini?". Ujar Jasmine dengan wajah memohon.


Jelas ia akan kehilangan sosok Clara jika dia benar-benar pergi. Clara adalah sosok kakak baginya, yang benar-benar mengerti dirinya dan banyak membantunya.


"Maafkan aku, aku akan datang lagi jika semua sudah membaik". Meski tak enak hati Clara tak bisa menutupi rasa yang ada dihatinya, sakit, sedih, tak dianggap oleh Sakti. Pengorbanannya selama ini tidak berguna sama sekali.


"Jangan pernah kalah dengan apa yang ingin kau tuju, setiap tujuan pasti ada rintangannya dan aku yakin kau adalah orang yang mampu untuk mengalahkan rintangan itu".


Andrean tidak bisa memaksa Clara untuk tetap tinggal, ia tau bagaimana Clara selama ini berjuang untuk mendapatkan hati Sakti namun sedikitpun Sakti tak berpaling dari Shaina.


"Terima kasih Drean, kuharap kau memiliki anak yang tak kalah tampan denganmu dan juga pemberani".


"Kakak, kau harus menemaniku saat melahirkan nanti aku mohon?".


"Aku tidak berjanji Jasmine namun akan aku usahakan".


"Benar ya". Ujar Jasmine dengan wajah gembira.


"Iya".


"Semua yang kau butuhkan silahkan bicarakan dengan Leo. Dia sudah menunggumu di depan, selalu kabari kami ya dan aku pastikan kau akan dapat pengawalan juga". Ujar Andrean.


"Terima kasih sekali lagi, aku pamit".


Jasmine memeluk Clara erat, di sudut matanya ada air yang mengalir. Clara pergi sedangkan Shaina belum bangun, Jasmine merasa kesepian.


Clara lalu bersalaman dengan Andrean, setelah itu ia mendekati Shaina yang masih setia dengan mata terpejam.


"Shaina, kau beruntung dicintai laki-laki sebaik Sakti. Bangunlah, lihatlah penyesalannya dia terlihat hancur melihat kau seperti ini. Jika kau bangun aku janji, merelakan Sakti untukmu dan menutup rapat cintaku padanya. Maka bangunlah, jangan kecewakan aku pengorbananku akan sia-sia jika kau seperti ini".


Clara menangis dan kemudian memeluk Shaina, dan kemudian bangun. Ia melihat Sakti dan mengulurkan tangannya.


"Aku doakan kau bahagia dengan pilihanmu, Shaina wanita yang baik pantas jika kau memperjuangkannya sampai seperti ini. Maafkan atas kesalahanku selama ini yang telah menyusahkan hatimu, aku pamit".


Sakti menyambut uluran tangan Clara, dan dengan cepat Clara menarik tangannya. Dia tidak ingin berlama-lama memegang tangan Sakti karena takut hatinya akan kembali goyah dengan keputusannya untuk pergi.


############


Alhamdulillah Chapter 49 done


Mohon maaf baru up setelah off selama satu bulan lebih 🙏🙏. Karena kondisi fisik yang sedang terganggu sehingga tidak maksimal.


Mampir juga dikaryaku yang lain ya


CATATAN HATI SEORANG ISTRI


ARINDRA


ANAK DESA 90


Salam literasi 😆

__ADS_1


__ADS_2