Jasmine & Prodeo Andrean

Jasmine & Prodeo Andrean
Chapter 25


__ADS_3

Andrean tetap pada tempatnya, meski malam terus beranjak. Kemudian ia berjalan ke area pelabuhan, ia melihat ada kapal cukup mewah bersandar. Dan melihat beberapa orang berseragam pengawal sibuk menyiapkan mobil.


"Jasmine bangunlah hiks hikss".


Samir segera menggotong tubuh Jasmine untuk turun kapal dan membawanya ke rumah sakit terdekat.


"Shit". Ucap Andrean saat mendengar suara Samir, ya kemampuan Andrean dalam mendengar dan mengenali suara masih cukup baik, meski jaraknya cukup jauh. Kemampuan yang ia asah selama dua puluh tahun.


Andrean segera menelpon Sakti dan Shaina, jika ia menemukan Jasmine di pelabuhan saat ini. Andrean mendekati kerumunan pengawal yang berjumlah sepuluh orang itu, lalu tanpa ba bi bu Andrean menghajar satu persatu pengawal membuat Samir terkejut.


"Buk-buk".


Andrean menghajar, menendang, memukul dengan keahlian karatenya. Ia kini di kepung oleh tujuh orang, karena tiga pengawal lainnya bersama Samir menuju mobil.


"Buk, buk".


Pukulan-pukulan baik dari lawan maupun dari Andrean terus bertubi-tubi di layangkan. Andrean kewalahan, ia mundur menjaga jarak dari pengawal yang tampak bringas.


Ia berlari ke beberapa tempat agar bisa melawan satu-satu para pengawal itu. Tak lama Shaina dan Sakti datang, segera membantu Andrean menghajar para pengawal.


Setengah jam pertempuran akhirnya Andrean cs menangkan.


"Di mana Samir membawa Jasmine hah?".


Tanya Andrean dengan menarik rambut pengawal. Pengawal yang sudah babak belur itu meringis kesakitan.


"Cepat Jawab hah, atau kubuang tubuhmu ke laut". Bentak Andrean tak sabar.


"Rumah sakit cipta". Ucap Pengawal itu.


"Ayo cepat".


Ujar Sakti yang mengemudi, dan segera Shaina dan Andrean masuk mobil.


"Kak, bersihkan dulu lukamu".


Shaina memberikan tisu dan air dalam botol, ia iba melihat Andrean yang cukup banyak luka lebam di wajahnya.


"Terima kasih".


"Biar aku bantu bersihkan Kak".


"Tidak perlu Shaina, Sakti lebih cepatlah".


Andrean khawatir karena melihat Jasmine tak berdaya di gendongan Samir.


Sesampainya di rumah sakit, mereka dikejutkan oleh beberapa pengawal yang telah berjaga.


"Terlalu banyak pengawal Dre".


Ujar Sakti.


"Apa kau tidak mengenal satupun dokter di sini Sakti?".


"Sebentar".


Sakti memeriksa kontak hanphonenya, ia akhirnya menemukan rekan sekampusnya dulu yang dia ingat bekerja di rumah sakit Cipta.


"Sebentar aku telpon dulu".

__ADS_1


Tak lama seorang dokter wanita itu keluar ke area parkir, menemui Sakti.


"Hei Clara apa kabatmu?". Tanya Sakti basa basi lalu menyalami Clara.


"Baik Sak, kamu sedang apa di sini. Apa ada saudaramu sakit di sini". Tanya Clara.


"Ada, itu temanku wajahnya cukup parah butuh pengobatan".


"Ya sudah bawa saja masuk, aku periksa temanmu".


"Tidak bisa Clara, kami tidak bisa masuk. Kau lihat para pengawal itu, siapa mereka?".


"Oh mereka pengawal Tuan Samir, ku dengar istri Tuan Samir sakit".


"Istri?". Tanya Andrean terkejut.


"Iya, Istri Tuan Samir pemilik rumah sakit ini".


"Kau tau dimana dia di rawat?". Tanya Andrean yang makin marah dan penasaran.


"Dia di rawat di ruang vvip khusus pemilik".


"Di lantai berapa?". Tanya Andrean tak sabar, Clara melirik Sakti.


"Ceritanya panjang jika aku menceritakannya sekarang. Tolong bantu kami, dekatkan kami dengan ruang vvip itu dengan merawat temanku ini.


Aku janji akan menceritakan ini padamu nanti, tapi sekarang tolong bantu kami ya".


Clara terdiam sesaat, ia menatap Sakti berulang-ulang.


"Oke tapi ada syaratnya?". Ucap Clara akhirnya.


"Bukan kamu yang kuminta jadi syaratnya, tapi Sakti".


Shaina menatap Clara, dengan tatapan tak suka. Ia melihat Clara sebagai perempuan licik yang memanfaatkan situasi.


"Kau menyukai kakakku kan?". Ucap Shaina to the point, membuat Sakti, Clara dan Andrean terkejut.


"Kau adiknya Sakti?". Tanya Clara.


"Ya, aku adiknya, kau ingin membuat kakaku menjadi pacarmu begitu?".


Clara matanya membeliak, ia tak menyangka gadis di hadapannya ini bisa menebak isi hatinya.


"Apa benar begitu Clara?". Tanya Sakti dengan nada tak suka.


"Terserah padamu Sakti, kau tau sejak dulu aku menyukaimu. Jika kau ingin menolong temanmu maka penuhi syaratku. Berhadapan dengan Tuan Samir akan berimbas dengan pekerjaanku. Maka adil bukan, jika dengan resiko besar aku juga harus mendapatkan tangkapan besar".


"Shit, kau wanita tak punya hati heh". Ujar Andrean marah. Sakti terdiam dan Shaina menatap tajam pada Clara.


"Jika tidak mau, maka aku tak memaksakan. Karena aku akan membantumu juga dalam hal lain jika kau bersedia".


"Cinta yang membutakan mata hatimu, jangan dia Sakti, lebih baik kita berusaha sendiri". Ujar Andrean kesal.


"Apa bantuanmu selain ini jika aku bersedia menjadi kekasihmu?". Tanya Sakti.


"Membantumu membawa kabur Nyonya Jasmine. Karena yang kutahu, Nyonya Jasmine melakukan upaya bunuh diri".


"Apaa?". Semua terkejut, terlebih Andrean.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya sekarang?".


"Keadaanya tadi sempat kritis karena banyak kehilangan darah. Tapi beruntung dia masih selamat, dan sekarang kondisinya stabil meski ia masih belum sadar akibat obat".


"Apa kau bisa dipercaya?". Tanya Sakti.


"Sudah kukatakan jika tak mau, aku tak kan memaksa".


"Apa alasanmu?". Tanya Sakti lagi.


"Ceritanya panjang, tapi semua karyawan di sini tau jika Tuan Samir adalah orang yang kejam. Tak segan membunuh orang-orang yang dianggapnya salah. Aku mempertaruhkan nyawaku tak cuma pekerjaan jika membantu kalian". Clara memberi penjelasan dengan tenang.


"Baiklah, aku bersedia".


"Kak" Ucap Shaina terkejut.


"Sakti". Panggil Andrean yang juga tak percaya Sakti bersedia menjadikan Clara pacaranya. Karena yang dia tahu, Sakti sangat mencintai Shaina.


"Tenanglah, yang penting saat ini kita selamatkan Jasmine dari Samir dulu, baru memikirkan yang lain".


"Baiklah, kita obati temanmu dulu. Ikut aku, kupastikan para pengawal itu tak melihat kalian".


Tanpa banyak kata lagi, Andrean, Sakti dan Shaina mengikuti Clara. Mereka masuk melalui lorong rahasia rumah sakit, menuju tangga lalu tiba di sebuah ruangan gelap, sebelah gudang.


"Clara apa maksudnya ini?". Tanya Shaina yang melihat gelagat aneh Clara.


"Tunggulah di sini, jangan dihidupkan lampunya. Karena akan mengundang kecurigaan. Aku akan kembali dengan membawa obat. Tenanglah, aku takkan mengkhianati kalian".


Clara pun pergi meninggalkan mereka bertiga setelah mengunci ruangan tersebut.


"Kak, apakah kakak tidak curiga sama sekali pada Clara?". Tanya Shaina kesal, karena merasa mereka tertipu.


"Kita lihat saja Shaina, waktu yang akan menjawab rasa curigamu itu". Ucap Sakti meski dia was-was juga dibohongi Clara.


"Akan kubuat dia patah kaki jika dia berani menipu kita Kak". Shaina geram, ia begitu menyakini jika Clara sudah membohongi mereka.


Andrean menajamkan telinganya, ia mendengar langkah kaki menuju kemari.


"Cepat sembunyi". Ujar Andrean mencari jalan keluar. Ia melihat Jendela rusak, lalu dia membuka kaosnya untuk menyingkirkan sisa kaca yang masih menempel di sana.


"Shaina cepatlah".


Perintah Andrean, Shaina menurut dan menaiki jendela, diikuti Andrean dan Sakti.


#########


Alhamdulillah chapter 24 done


Tolong tinggalkan jejak dong..


Votee, komen, like, poin atau rate lima...


Share and follow lesta lestari


Mampir juga di karyaku yang lain ya...


ARINDRA


CATATAN HATI SEORANG ISTRI

__ADS_1


😍❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2