
Leo di kamar mandi membasuh seluruh tubuhnya, awalnya ia ingin mandi dengan cepat namun saat mengingat apa yang terjadi pagi ini. Ia menundukkan wajah frustasi, mabuk telah membawanya dalam celaka. Ia pasti akan mendapat kemarahan dari Tuan Muda Andrean.
"Huhhhh kenapa bisa jadi begini sih".
Ucap Leo dengan menggaruk-garuk kepalanya yang basah oleh air yang terpancar. Belum lagi menghadapi kemarahan dari Nona Clara, orang yang seharusnya ia jaga malah dia sendiri tak bisa menjaganya dengan menodainya meski tanpa kesengajaan.
Leo terus berfikir bagaimana caranya agar dia tidak dimarahi oleh Clara dan lainnya, dengan bertanggungjawab. Leo menggeleng-gelengkan kepala, yang ada di benaknya apakah Clara mau menerima pertanggungjawabannya sedangkan dia hanya seorang pengawal.
"Ahhh kenapa jadi rumit begini sih, pekerjaan terancam, amukan pasti dapet. Duh bukan durian runtuh, malah ketimpa buah durian ini mah namanya".
"Tok-tok".
Suara ketukan pintu membuyarkan fikiran yang sedang berkecamuk dalam kepala Leo.
"Keluar kau Leo".
Teriakan Clara membuat nyali Leo makin menciut.
"Mau berapa lama kau berdiam diri di kamar mandi brengsek?". Clara kembali menggedor pintu lebih kuat.
"Keluar atau kudobrak pintu kamar mandi ini".
Ancam Clara karena Leo tak jua kunjung keluar.
"Iya Nona sebentar".
Jawab Leo dengan suara bergetar, ia segera memakai handuk.
"Duuhh lupa lagi ambil baju".
Leo menepuk keningnya akan kecerobohannya kali ini.
"Leo bukaa".
Lagi Clara mulai menendang-nendang pintu kamar mandi membuat suara semakin gaduh.
Terpaksa Leo membuka pintu, namun di saat ia membuka pintu Clara yang mendorong pintu kuat akhirnya hilang kendali dengan menabrak Leo hingga keduanya jatuh ke lantai.
Clara berada di atas Leo karena Leo dengan sigap mendekap Clara agar tidak terbentur lantai. Leo menahan sakit di punggung dan kepalanya.
Clara terkejut dan merasakan sesuatu yang tak nyaman di area bawah. Reflek ia terbangun dan melihat tubuh Leo dengan posisi handuk terbuka.
"Huaaaaaa".
__ADS_1
Clara kembali menjerit dan berlari keluar membuat Leo lagi-lagi panik menghadapi situasi tak terduga, Ia bangun dan keluar.
"Ada apa nona?".
"Cepat pakai bajumu".
Ucap Clara dengan membelakangi Leo dan menutupi wajahnya, untuk kedua kalinya ia melihat Leo tak berbusana sehelai benangpun.
Seakan tersadar Leo segera berlari mengambil pakaiannya, dan kembali ke kamar mandi. Tak lama ia keluar dan langsung duduk bersimpuh di depan Clara yang duduk di sisi kasur.
"Maafkan saya Nona, maafkan saya. Sungguh saya tidak menyangka kejadiannya seperti ini, saya juga mabuk Nona sama seperti Nona".
Terang Leo masih dengan menundukkan kepala.
"Kamu memanfaatkan aku saat mabuk kan, dasar pria brengsek". Maki Clara dengan berusaha menendang Leo.
Namun bukan tendangan kuat yang dia hasilkan karena area bawahnya masih merasakan sakit, bahkan untuk berjalanpun ia merasakan keanehan. Jadilah ia hanya memukul-mukul Leo dengan tangannya.
"Kamu brengsek Leo, kenapa kau melakukan ini padaku". Tangis Clara pecah seketika, tadi ia berusaha menahannya karena dia tau ia juga merasa bersalah. Dia yang mengajak Leo mabuk meski pria itu sudah bilang tak tahan akan alkohol.
Clara terus memukuli wajah Leo, dada dengan kedua tangannya. Leo diam saja menerima pukulan tersebut.
"Aku harus bagaimana sekarang Leo, aku sedang patah hati, kau malah buatku begini. Pengawal macam apa kau menodai orang yang kau kawal sendiri hiks hiks".
Clara sudah merasa lelah, ia duduk seperti Leo bersimbuh di lantai. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya menunduk dan menyatukan kedua betisnya. Tangisan terus menggema dalam ruang apartemen Leo.
Kehormatan yang selama ini ia jaga hanya untuk Sakti, tapi kini bukan Sakti orang yang telah membuatnya patah hati yang menghilangkan kehormatannya tapi pengawalnya sendiri. Meski kesalahan tak semua terletak pada Leo.
Sakti memandang pilu Clara, namun ia tak berani bergerak sedikitpun. Ia tak pedulikan darah yang mengalir di sisi setiap sudut bibirnya. Luka lebam di wajah yang membiru pun tak dihiraukannya.
Ia mengakui kesalahan dan akan menerima hukuman apapun yang Clara atau Tuan Andrean berikan.
"Nona maafkan saya, sungguh saya tak bermaksud sama sekali melakukan itu pada Nona".
Suara Leo juga sudah tak terdengar jelas akibat area wajahnya yang sudah membengkak.
"Apa yang harus saya lakukan Nona, agar bisa menebus kesalahan saya?". Tanya Leo dengan mata yang mulai berkunang-kunang.
Pandangannya mulai kabur, karena pukulan Clara yang jago beladiri cukup telak membuat kepalanya berputar-putar.
"Nona...".
Suara Leo makin melemah, seiring tubuhnya yang menunggu tumbang. Sedangkan Clara masih bersembunyi dan tenggelam dalam tangisan penyesalan.
__ADS_1
Leo tak kuasa lagi untuk duduk, tubuhnya perlahan namun pasti terhuyung ke belakang dan kini ia di lantai. Masih melihat Clara, yang tak menyadari dirinya sudah di lantai.
"Maafkan saya Nona".
Tapi suara Leo hanya sebuah ungkapan tanpa nada, tercekat dan tak keluar. Hanya gerakan bibir yang berkata maaf sebelum ia benar-benar tak sadarkan diri.
Clara terus menangis, sesak di dadanya semakin sesak. Bagaimana dia bisa kembali tegak jika berhadapan dengan Sakti kembali. Jika Sakti mengetahui peristiwa ini, sungguh Clara akan sangat malu.
"Apa yang harus aku lakukan, kalau Sakti tau mau taruh di mana mukaku ini. Selama ini dia sudah tak menganggapku kini semakin tak menganggapku ada jika ia tau aku sudah tak suci lagi. Oh Tuhan, kenapa begitu kejamnya jalan hidupku.
Aku hanya ingin balas dendam pada orang yang membunuh adikku dengan keji, tapi mengapa malah jadi begini". Clara terus bergelut dengan suara hatinya.
Suara pintu apartemen terbuka, Clara tak sadar juga.
"Boss Boss".
Panggilan dua rekan Leo baru menyadarkan Clara, ia segera menghapus air matanya dan matanya melihat Leo yang tak sadarkan diri.
"Leo Leo...".
Panggilnya dengan menggoyangkan badan Leo, tapi Leo sama sekali tak bergerak membuat Clara panik.
"Leooo bangunn, Leo bangun".
Teriak Clara dan dua rekan Leo yang mendengar itu langsung melihat Leo.
"Boss boss".
Rekan satunya mencoba membangunkan tapu Leo masih setia menutup mata.
"Ayo bawa ke rumah sakit, cepat Jep".
Orang yang dipanggil Jep pun membantu rekannya mengangkat Leo, Clara tak tau meski berbuat apa hanya mengikuti dua pengawalnya itu yang mengangkat tubuh Leo turun menuju mobil.
Clara ikut masuk mobil bersama dua rekan Leo yang membawa Leo menuju rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit Leo langsung ditangani intensif. Dua rekan Leo melihat Clara yang rambutnya berantakan. Keduanya saling lirik, ingin bertanya namun melihat keadaan Clara mereka tak tega.
Apalagi selain terlihat berantakan, Clara juga duduk di kursi rumah sakit dengan memeluk kedua lututnya, membuat mereka iba. Berbagai pertanyaan yang ada di kepala mereka saat ini tersimpan rapi menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan peristiwa yang sebenarnya.
##########
Alhamdulillah Chapter 51 done
Mampir di karyaku yang lain ya.
__ADS_1
Like, komen, Vote, rate 5nya selalu di tunggu makasih buanyak 😍😍😍