
Shaina dan Sakti saling lirik, lewat mata mereka saling bertanya tentang apa yang barusan mereka dengar dari Andrean.
Sedangkan Clara berharap, Sakti tak menyetujui usul Andrean bagaimanapun ia membutuhkan bantuan untuk mencapai misinya.
"Lebih baik kita istirahatkan fisik kita dulu, setelah itu barulah kita bicarakan lagi. Kita juga butuh membersihkan diri agar fikiran kita tenang dan mengambil keputusan yang terbaik. Ini sudah hampir pagi, aku rasa kita semua kelelahan". Clara mencoba menengahi.
"Apakah kita akan aman di sini?". Tanya Shaina
"Untuk sementara tempat ini cukup aman, tapi kita juga harus tetap waspada karena cepat atau lambat tempat ini akan diketahui olah mereka".
"Baiklah, Drean kami keluar dulu". Ujar Sakti lalu keluar diikuti oleh Shaina dan Clara.
Sepeninggal mereka, Andrean segera membersihkan diri dan setelah itu membaringkan tubuhnya di samping Jasmine sambil menatap wajah orang yang dirindukannya itu.
Tangan Andrean memegang lengan yang diperban.
"Apa sebenarnya yang membuatmu nekad melakukan ini, lihatlah wajahmu bahkan penuh dengan bekas tamparan. Maafkan aku yang tak bisa menjagamu". Andrean menangis melihat kondisi Jasmine.
Ia kemudian mengusap-usap perut Jasmine yang sudah membuncit.
"Maafkan Ayah nak, maafkan Ayah yang bahkan tak tau kau tumbuh hingga sebesar ini. Ayah janji mulai detik ini, Ayah akan berusaha keras untuk menjadi Ayah terbaik untukmu dan juga menjaga kalian".
Andrean mencium perut Jasmine, berlanjut di keningnya hingga air matanya yang menetes mengenai wajah Jasmine. Seolah ada kekuatan yang menghampirinya, Jasmine tersadar saat Andrean masih mencium keningnya.
"Kak Andrean". Panggilnya dengan suara lemah. Andrean terkejut dan melihat mata Jasmine terbuka. Ia tersenyum dalam tangis dan menangkup wajah Jasmine.
"Iya sayang, ini aku Andrean suamimu. Maafkan aku, maafkan aku yang baru datang menemuimu". Ujar Andrean menciumi wajah Jasmine.
"Sungguh, kau Kak Dreanku". Tanya Jasmine tak percaya seolah masih ia masih berada dalam mimpi.
Andrean mengambil tangan Jasmine dan meletakkan di wajahnya.
"Iya sayang, ini Kak Dreanmu, kau sedang tidak bermimpi. Kita bersama sekarang sayang".
Jasmine menangis dan terbangun memeluk Andrean.
"Kak Drean, aku merindukanmu".
"Aku juga merindukanmu sayang, sungguh sangat merindukanmu".
"Benarkah, kau mencintaiku sekarang?".
"Dari dulu aku menyukaimu, jangan kau ragukan itu".
Jasmine melonggarkan pelukannya dan menatap Andrean.
"Kau mencintaiku, merindukanku bukan sebagai seorang ibu kan?".
Jasmine teringat jika Andrean menganggapnya sebagai seorang ibu saat terakhir mereka bertemu.
__ADS_1
"Tidak sayang, kau istriku bukan ibuku. Kau wanita yang kucintai dan ibu dan ibu dari anak-anakku".
"Kakak sudah sembuh?".
Andrean mengangguk, membuat Jasmine kembali memeluk erat suaminya dan makin terisak dalam kebahagiaan yang membuncah di hati keduanya.
"I love you Istriku".
"I love you to my hubby".
Andrean mengusap air mata istrinya itu, dan kembali mencium keningnya, ke dua bola matanya, hidung dan ke dua pipinya.
"Kenapa wajahmu jelek begini Kak, mana Kak Dreanku yang tampan?".
"Aku akan kembali tampan jika luka-luka di wajahku sembuh, kau juga jelek lihatlah pipimu memerah begini. Ini pasti sakit sekali kan?".
"Hehe, tak apa yang penting sekarang kita bersama".
Jasmine dan Andrean saling tatap, mata mereka menyiratkan kerinduan yang teramat sangat. Jasmine mendekatkan wajahnya pada Andrean, bibir mungilnya mengarah pada indra pengecap suaminya.
Mereka bergumul saling menikmati rasa si indra pengecap masing-masing. Rasa sakit akibat luka di bibir dan wajah keduanya tak membuat mereka berhenti sebelum nafas keduanya terengah-engah.
"Kau masih saja agresif sayang". Ujar Andrean setelah mereka saling melepaskan diri.
"Ini bawaan hamil sayang, harusnya setiap hari aku mendapatkan lebih dari ini. Ini akibat anak kita yang sangat merindukanmu".
"Sekarang tidur ya, sudah larut malam, kau baru saja siuman. Aku tak mau kau sakit, jika kau sakit aku akan lama menjenguk anakku hehe".
"Sekarang kau mesum Kak hehe".
"Bukankah kau yang mengajariku hemm". Andrean menjawil hidung istrinya yang mancung.
"Kayak tau aja kakak ini".
"Aku tau, Paman Jamil menceritakan semuanya padaku termasuk kau yang mengajari aku membuat adik hehee".
"Apa, memalukan sekali kenapa Paman Jamil menceritakan itu padamu". Jasmine menutup wajahnya menahan malu.
"Hehe tak perlu malu, aku bersyukur kau tak menyerah padaku saat itu. Memiliki ide yang sangat kreatif, aku senang sekali. Andai ada vidionya itu merupakan momen terindah yang takkan pernah kulupakan".
"Kakak, sudah aku malu. Hanya aku yang mengingat itu sedangkan kau tidak".
"Aku akan membuat ingatan lebih banyak tentang kita, terima kasih kau sudah bertahan sejauh ini".
Jasmine mencium kening suaminya itu "terima kasih juga Kak, telah hadir dalam hidupku dan mencintaiku, i love you".
"I love you to".
"Lalu dimanakah kita sekarang Kak, apakah di tempat Paman Jamil?, lalu mengapa wajahmu babak belur begini, di mana Samir si psikopat itu, aakah dia mati atau dia yang membuat wajahmu begini".
__ADS_1
Andrean menarik tangan Jasmine yang ada di wajahnya kemudian menciumnya.
"Kita sedang di rumah Clara, besok akan aku ceritakan semuanya. Sekarang ceritakan padaku kenapa kau nekad ingin bunuh diri hemm".
"Siapa Clara, apakah dia kekasihmu?". Tanya Jasmine dengan wajah cemburu, dan itu disadari Andrean.
"Dia yang membantuku untuk bisa bertemu denganmu. Tenanglah, hatiku ini sudah tak memiliki ruang untuk wanita lain, di sini hanya ada satu nama, Jasmineku seorang".
Andrean menunjuk dadanya membuat hati Jasmine membunga dan tersenyum.
"Benarkah kau tidak berbohong?".
"Tidak sayang, hanya kau satu-satunya wanita mutiara dalam hatiku. Aku korbankan nyawa hanya untukmu seorang".
Jasmine jadi teringat kecelakaan yang membuat mereka terpisah.
"Sekarang kau mau bercerita tau besok?". Ucap Andrean lembut. Jasmine kembali menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu, sesaat ia memjamkan mata mengingat tingkah gila Samir padanya.
"Samir, dia ternyata penipu psikopat gila, brengsek dan tak punya hati. Ia bisa begitu lembut, tapi juga berubah jadi sangat kejam.
Saat dia lembut ia memperlakukanku bagai ratu, tapi saat aku menyingungmu, dan berkata ingin pulang. Ia seketika berubah menjadi pemarah dan tak segan memberikan tamparan, menarik rambutku dan menendangku.
Ia ingin aku menerima cintanya, tapi aku selalu menolaknya. Puncaknya ia marah saat aku kembali menolak pernyataan cintanya.
Lalu ia ingin memperkosaku dengan menyiapkanku dengan suasana seperti malan pengantin. Aku dimandikan oleh pesuruhnya yang perempuan, tubuhku dibuat wangi, kamar dhias layaknya kamar pengantin baru.
Aku dipakaikan lingerlie yang sangat seksi hingga perutku yang buncit ini terbuka. Seperti hanya memakai bikini saja. Tak ada pakaian lain dalam kamar itu, aku menyerah dan tak sudi tubuhku disentuh olehnya.
Makanya aku memukul kaca yang ada di kamar mandi dan mengores nadiku sendiri demi kehormatan diriku meski aku harus membunuh diriku dan anaku".
Andrean tak bisa berkata apa-apa lagi, sedih, marah, senang bercampur jadi satu.
########
Alhamdulillah chapter 28 done
Tolong tinggalkan jejak dong..
Votee, komen, like, poin atau rate lima...
Share and follow lesta lestari
Mampir juga di karyaku yang lain ya...
ARINDRA
CATATAN HATI SEORANG ISTRI
❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1