
Like, Like, Komen, Vote, Poin or Rate 5 nya ya
selalu ditunggu oleh author terima kasih ❤🥰🥰👍
#########
Jasmine dan Andrean menikmati waktu bahagia mereka meski mereka juga mengkhawatirkan Opa Jared yang hingga kini masih terbaring di rumah sakit yang belum juga sadar.
Seminggu telah berlalu, belum terlihat ada tanda-tanda baik Jadit maupun Samir bergerak. Sejauh dalam pantauan, mereka mencoba mengeluarkan berita tentang kondisi Opa Jared namun pemberitaan itu labsung di tangkal.
Tertutupi oleh pemberitaan tentang Jasmine dan Andrean yang menikmati bulan madu. Foto-foto mesra mereka bertebaran di kolom-kolom utama media surat kabar ternama.
Perut buncit Jasmine yang sudah memasuki bulan ke enam membuat orang-orang semakin haru dan penasaran akan dua pasangan kalangan pengusaha papan atas ini.
Shaina sepanjang Jasmine dan Andrean berbulan madu, ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berlatih atau berolahraga. Menyalurkan kecemburuan dan kecewa hatinya dengan memukuli samsak.
Berharap tenaganya terkuras hingga ia tak perlu memikirkan lagi wajah Andrean yang terbayang di pelupuk matanya.
Malam ini ia menatap langit di balkon kamarnya. Clara dan Sakti pergi menemui Jasmine dan Andrean yang akan kembali dari bulan madu mereka. Ia menatap rembulan yang berbentuk sabit, tangannya ia gunakan untuk menjadi bantalan kepalanya.
"Bulan sabit, kau seolah tau hatiku kini sedang tersambit oleh luka cintaku sendiri.
Panah asmara yang hadir membawaku pada tangisan dan kecewa.
Cintaku bertepuk sebelah tangan, sebelum mampu aku ucapkan. Ia bahagia di sana, sedang aku menahan derita di sini. Akankah aku sanggup terus bertahan dalam kondisi seperti ini.
Langit, aku mengadukan resahku padamu. Ingin kutitip salam rindu hatiku tapi bibir ini tak mampu berkata. Kelu terperangkap oleh cintaku sendiri.
Haruskah aku pergi melepaskan cinta ini, cukup menyakitkan melihat kemesraan mereka live di depan mata.
Salahkah cinta yang hadir dalam hati secara tiba-tiba. Salahkah cinta yang tak mampu memilih di mana ia ingin berlabuh. Cinta yang awalnya bagai penerang, kini bagai gelap yang menyelimutiku. Gelapnya pekat hingga tak mampu kulihat sedikitpun cahaya asa untuk mampu kumiliki".
Shaina menghela nafas panjang, ia menatap foto Andrean yang tersimpan rapi di hanphonenya. Beberapa foto kebersamaan mereka, bersama Clara, Sakti, Jasmine dan Andrean.
Jari Shaina menjulur menelusi foto wajah tampan Andrean yang tersenyum. Pesona Andrean membuat ia mengigit bibirnya sendiri menahan tangisan yang selama ini ia tahan.
__ADS_1
Tapi malam ini runtuh sudah pertahanannya, rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan itu meremukkan hatinya. Seolah hatinya diperas antara rasa cintanya sendiri dan rasa bersalahnya pada Jasmine.
"Kak Drean, menjauh darimu sepertinya menjadi langkah terbaik untukku saat ini. Maafkan aku yang tak bisa terus membantumu sesuai janjiku.
Hati ini tak kuasa menahannya, terlalu sakit untuk dilihat, diingat dan dirasakan melihat kalian selalu menampilkan kemesraan di depanku".
Shaina menangis, menciumi foto wajah andrean dan memeluknya. Semilir angin malam menambah dingin hatinya yang terluka. Shaina membiarkan dirinya dalam suasana seperti itu cukup lama.
Matanya ia pejamkan, air matanya ia biarkan terus mengalir. Hingga terdengar suara-suara langkah kaki yang cukup banyak membuat ia terhenyak saat pintu kamarnya di dobrak. Ia melihat beberapa orang berpakaian hitam berjumlah lima orang di hadapannya kini.
"Siapa kalian?". Tanya Shaina yang segera menghapus air mata di sudut matanya. Ia bersiap dan memasang kuda-kuda.
Lima orang menyerang secara bersamaan, Shaina mampu menghindar. Shaina mencoba terus memberikan perlawanan, namun ia kewalahan.
Tendangan dan pukulan ke beberapa bagian tubuhnya membuat ia merasakan nyeri. Sudut bibirnya juga sudah mengeluarkan darah. Dengan cepat ke lima orang itu mengikat tangan dan kaki Shaina, menutup kepalanya dan menyuntikkan sesuatu pada pundak Shaina.
Tak lama Shaina lemas tak berdaya, ia pingsan karena pengaruh obat bius dari suntikan tadi. Satu laki-laki memanggul tubuh Shaina dan membawanya ke mobil yang sudah siap.
Meluncur membelah jalanan kota menuju pinggiran. Rumah yang penjaganya berkurang itu mudah dilumpuhkan oleh serbuan orang-orang yang berpakaian serba hitam dengan menggunakan topeng yang jumlahnya empat kali lebih banyak.
#########
"Sepertinya Samir berfikir berulang kali untuk melakukan aksinya kembali". Ujar Clara sambil menikmati susu hangat.
"Entahlah, firasatku dia sedang melakukan sesuatu yang entah kenapa fikiranku tertuju pada Shaina". Sakti menatap Clara yang menunjukkan wajah tak sukanya akan ucapannya barusan.
"Bukankah saat kalian tinggalkan dia baik-baik saja?". Tanya Andrean yang memandang Sakti dan Clara.
"Iya, tapi baru kali ini ia menolak untuk turut serta. Aku merasa ada sesuatu yang membuatnya tak nyaman". Clara memancing Sakti yang jelas ia tau arti ketidaknyamanan Shaina.
"Memangnya Shaina mengapa tidak nyaman?". Tanya Jasmine yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan orang-orang terdekatnya itu.
"Bukan sesuatu yang penting, hanya dia butuh waktu untuk sendiri mengingat dia kembali ditinggalkan Paman Jamil pergi keluar negeri beberapa hari ini".
Sakti berusaha mencegah sesuatu yang tak diinginkannya. Ia masih sangat berharap Shaina menjadi pendamping hidupnya kelak.
__ADS_1
Clara menatap Sakti tajam, yang tentu saja membuat Jasmine heran. Tapi tidak untuk Andrean yang lebih memilih diam berharap pembahasan tentang Shaina segera selesai.
"Kak Clara, sepertinya kalian menyembunyikan sesuatu tentang Shaina padaku. Apakah aku benar?".
"Hehe tidak Jasmine, Shaina hanya sedang patah hati makanya itu butuh waktu sendiri".
Perkataan Clara membuat mata Sakti melotot, Andrean juga reflek menoleh pada Clara, sedangkan Jasmine semakin dibuat penasaran.
"Aku rasa pembahasan tentang Shaina cukup. Jika sudah bersiap, kita akan kembali dini hari nanti". Ujar Andrean menengahi.
"Ayo sayang, kau perlu istirahat sebelum kita kembali ke rumah Opa".
Andrean memegang jemari tangan Jasmine lembut. Tapi dijawab gelengan kepala oleh Jasmine.
"Aku masih penasaran, siapa sebenarnya sosok laki-laki yang membuat Shaina patah hati".
"Bukan hal yang penting Jasmine, sekarang ayo kembali ke kamar". Ujar Andrean berusaha menghindarkan Jasmine bertanya lebih lanjut.
"Dia mencintaiku, tapi aku berpacaran dengan Clara dan itu membuatnya terluka". Ujar Sakti yang membuat mulut Clara menganga tak percaya.
Sakti sukses membungkam mulutnya yang tadi hendak mengatakan bahwa laki-laki beristrilah yang membuat Shaina patah hati tanpa ingin menyebutkan nama Andrean.
"Tapi bukankah Shaina sudah mengetahui sejak awal jika kalian berpacaran?".
"Iya, awalnya aku menyukai Shaina tapi karena kedekatan kami membuatku sungkan. Akhirnya aku belajar mencintai Clara karena selama ini ia juga sangat mencintaiku. Sayangnya saat aku mulai menyukai Clara, Shaina mengatakan jika dia mencintaiku. Tentu saja aku menolak mengingat hubunganku dengan Clara".
Sakti terpaksa berbohong, meski tidak seratus persen. Faktanya Shaina tak pernah mengatakan cinta padanya, dan ia tak pernah menolak Shaina. Hatinya masih milik Shaina, dan belum mampu mencintai Clara.
Clara yang tahu Sakti berbohong tersenyum kecut, apa yang dikatakan Sakti tentang mulai menyukainya adalah kebohongan belaka. Ia sangat menyadari betapa besar cinta Sakti untuk Shaina.
Ucapan Sakti sukses membuat Jasmine diam dan mempercayainya. Membuat ia berdiri dan berpamitan untuk beristirahat sejenak sebelum berangkat kembali pulang.
##########
Alhamdulillah chapter 45 done
__ADS_1