Jasmine & Prodeo Andrean

Jasmine & Prodeo Andrean
Chapter 37


__ADS_3

Keesokan harinya Jasmine dan Andrean turun, wajah berbinar sangat terlihat pada Jasmine, senyum mengembang begitu merekah sedangkan Andrean hanya memasang wajah datar meski dalam hati ia juga sangat senang.


Jasmine bergelayut manja di lengan suaminya, membuat beberapa pasang mata berkerut melihat pemandangan tak biasa itu.


Sakti memandang Shaina, Clara melihat Sakti dan mata Shaina mengarah pada Andrean dan Jasmine.


"Maaf membuat kalian menunggu lama". Ujar Andrean lalu duduk di meja makan untuk sarapan.


Shaina, Sakti, Clara dan Paman Jamil kini tinggal bersama di rumah Andrean yang dulu.


Paman Jamil melirik Jasmine yang lehernya terdapat tanda merah.


"Oh tidak apa-apa Dre, meluapkan kebahagian bersama istri itu tak masalah, wajar jika lupa waktu hingga membuat kami semua menunggu". Ujar Paman Jamil tersenyum.


"Paman ini ngomong apa sih, kami semalam mengobrol hingga lupa sampai larut". Ujar Jasmine yang belum menyadari, Andrean melihat Jasmine yang masih memeluk tangannya.


"Oh, mengobrol mengajari Andrean caranya membuat adik ya hehe".


"Pamaaan jangan bikin malu ya". Ujar Jasmine tersipu menutup wajahnya dengan ke dua tangannya.


"Yang perlu kau tutupi itu lehermu, bukan wajahmu Jasmine". Ucap Clara santai lalu mengambil makanan untuk sarapannya.


Jasmine melirik Andrean seolah bertanya kenapa dengan lehernya. Andrean hanya tersenyum dan mengambilkan makanan untuk Jasmine.


"Makanlah, semalam kau sudah bekerja keras sekarang waktunya isi tenaga lagi". Ucap andrean sambil melihat leher istrinya.


Lalu ia membekap mulutnya tak percaya apa yang dilihatnya, menahan tawanya, ia baru menyadari tanda betapa ia buas semalam.


"Kenapa kau tutup mulutmu kak?". Jasmine menarik tangan yang menutupi mulut Andrean.


Melihat ekspresi Jasmine membuat Andrean tak tahan, ia tertawa membuat Jasmine bingung.


"Memangnya kenapa dengan leherku?". Tanya Jasmine pada semuanya.


"Astaga, kau benar-benar tak mengetahuinya ataukah pura-pura saja Jasmine". Ujar Clara geleng-geleng kepala.


"Tidak sungguh aku tak mengetahuinya". Ucap Jasmine yang benar-benar tak tau.


"Drean kenapa istrimu ini, dia polos atau apa apa dia hanya bisa menikmati tanpa bisa merasakan jika berbuatanmu dan perbuatannya itu meninggakan bekas akibat terlalu hot".


Andrean meneguk ludah "maksudnya".


"Lihat lehermu juga Dre".


Jasmine melihat leher Andrean dan ia pun tertawa terbahak-bahak, membuat yang lain terkejut. Normalnya seorang wanita akan malu, Jasmine malah tertawa.


"Hahaa jadi ini dari tadi yang dibicarakan Paman".


"Kau tidak malu?". Tanya Shaina.


"Tidak". Jawab Jasmine lalu mengambil makanan dari tangan suaminya, lalu ia memakannya.


"Seharusnya kau malu, kami menjadi tau betapa buasnya kalian semalam". Ujar Shaina lagi.


"Apa kalian mengintip kami semalam?". Tanya Jasmine penuh selidik.

__ADS_1


"Seperti kurang kerjaan saja". Ujar Sakti.


"Haaahaa aku pikir kalian mengintip, aku hanya kasihan pada jiwa jomblo kalian".


Ucap Jasmine santai.


"Nona Jasmine sekarang banyak berubah ternyata, Paman senang melihatnya".


"Hari ini aku sangat senang Paman, karena kami akhirnya akan berbulan madu sebelum adik kecil kami lahir".


"Apakah benar Andrean?". Ujar Paman yang terkejut.


"Benar Paman".


"Lalu bagaimana dengan perusahaan, bukankah kau baru semalam diangkat CEO". Ujar Sakti.


"Aku sudah memikirkannya, Sakti dan Paman yang akan menghandel pekerjaanku. Clara dan Shaia bertugas membantu Sakti dalam mengawasi gerak Samir dan Jadit".


"Lalu kau akan enak-enak begitu, sementara kami bekerja keras". Protes Shaina tak terima. Ia kesal melihat kemesraan Jasmine pada Andrean yang terlihat di depan matanya.


"Jasmine sudah enam bulan kehamilan, selama ini ia tidak pernah jalan-jalan ataupun refresing selama menikah denganku. Aku harap kalian mengerti, aku hanya ingin memiliki waktu khusus untuk berdua dengannya". Ucap Andrean membuat Jasmine tersenyum.


"Benar Shaina, setelah aku melahirkan pasti aku akan lebih sibuk dengan anakku ya kan sayang, jadi waktu berdua dengan suamiku yang tampan ini sangat sedikit. Jadi aku harap kalian mengerti, ini juga mungkin pengaruh hormon kehamilan.


Kalian tak boleh menolak atau memprotesnya, karena aku tak mau anakku nanti ileran jika keinginannnya di tolak".


"Haha Paman rasa itu keinginan Ibunya bukan anaknya".


"Sayang, Paman meledekku lagi". Jasmine cemberut, membuat yang lain melongo karena tak pernah melihat Jasmine semanja ini.


"Ya ya, Paman mengerti, memangnya kalian mau bulan madu ke mana?".


Jasmine sumringah dan menatap Andrean, ia juga tak tau suaminya itu akan mengajaknya bulan madu ke mana.


"Kami takkan jauh-jauh Paman, mengingat Jasmine yanh sedang hamil. Aku tak ingin membuatnya kelelahan".


"Bukannya dia yang suka membuat dirimu kelelahan Dre?". Ujar Clara.


"Haha jiwa orang yang belum menikah selalu saja penuh selidik". Ujar Jasmine disambut tawa yang lain, hanya Shaina yang tersenyum tipis.


"Sakti yang akan mengurus bulan madu kami Paman, rencananya dua hari lagu kami akan berangkat. Aku juga perlu datang ke perusahaan untuk berkenalan dengan para pegawai di sana".


"Ya baiklah, Paman hanya menyarankan berhati-hati saja bagaimanapun Samir dan Tuan Jadit takkan tinggal diam".


"Kami tau Paman, maka dari itu aku butuh dukungan, tenaga dan waktu kalian semua untuk membawa Samir dan Jadit masuk penjara".


"Kami semua akan membantumu Dre, tenang saja". Ucap Sakti diangguki yang lainnya.


"Sayang, suapi aku ya". Ujar Jasmine tersenyum manis.


"Sekarang aku baru tau, ternyata kau manja sekali Jasmine". Ujar Shaina dengan nada tak sukanya, Andrean tak peduli ia mulai menyuapi Jasmine. Baginya apapun permintaan Jasmine ia akan turuti selama ia bisa.


"Maafkan aku Shaina, tapi ingatlah hatiku hanya milik Jasmine, dan aku takkan membiarkan dirimu mencintaiku lebih jauh".


"Kau mau apa lagi sayang?". Ujar Andrean setelah menyuapi Jasmine.

__ADS_1


"Aku mau minum, setelah ini temani aku tidur aku sangat lelah. Setelah aku tidur kau baru pergi ya".


"Baiklah Tuan putriku, aku akan melayanimu dengan senang hati, tapi kau juga harus selalu siap memberi hadiah untukku ya".


Andrean mengambilkan minum dan memberikannya pada Jasmine.


"Siap sayangku". Ujar Jasmine dengan gerakan hormat ke arah suaminya.


Sakti melihat Shaina yang tersenyum kecut, setelah makan Shaina langsung ke taman belakang di rumah itu. Lalu tak lama Sakti menyusul meski mata Clara mengikutinya.


Paman Jamil memahami gejolak muda Shaina, ia berniat menikahkan Sakti dengan Shaina secepatnya tapi tak menyangka jika Sakti ternyata berpacaran dengan Clara.


"Cinta memang rumit". Gumam Paman yang terdengar oleh Jasmine.


"Cinta siapa yang rumit Paman, apakah Paman sedang jatuh cinta?".


"Oh tidak Jasmine, Paman hanya teringat akan mendiang istri Paman, Ibunya Shaina saat melihat kemesraan kalian".


"Maafkan kami Paman, kami tak bermaksud begitu".


"Tak apa, tak perlu dibahas. Paman hari ini akan ke rumah Ayahmu Andrean, apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan padanya?".


"Tidak Paman, aku akan mengatakanya langsung jika ingin berbicara padanya".


"Ya sudah baiklah, Paman berangkat dulu".


"Hati-hati Paman"..


Paman jamil mengangguk dan pergi meninggalkan meja makan. Clara masih menikmati sarapannya, ia tak suka Sakti yang mengejar Shaina tapi ia juga tak bisa mencegahnya.


"Clara, kapan kau menikah dengan Sakti?". Tanya Jasmine tiba-tiba membuat Clara tersedak.


"Maaf ini minumlah". Clara meminum air yang diberikan Jasmine.


"Hubungan kami masih baru, dan aku belum berfikir untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi aku belum melihat Samir dan Jadit membusuk di penjara. Aku tak ingin fokusku terbagi".


"Baiklah, semoga kau lancar dan aku rasa Shaina mencintai Kak Sakti bukan sebagai kakak, tapi sebagai wanita".


Clara tersenyum dan melihat Jasmine, Andrean terdiam dan khawatir jika Clara mengatakan jika Shaina mencintai dirinya.


"Wajar jika mereka berdua saling mencintai, karena mereka sudah tumbuh bersama bertahun-tahun. Mungkin hanya karena ke duanya saling menutupi perasaan, makanya begini".


"Oh, tapi apakah kau tak cemburu bukankah Sakti saat ini kekasihmu".


"Cemburu..., pasti aku cemburu tapi fokusku bukan itu saat ini".


"Ah ya, baiklah tapi kuharap kita semua tak terlibat masalah dengan satu dan lainnya. Bagaimanapun kita saat ini adalah team, jadi harus kompak".


Clara hanya tersenyum, dan wajah Andrean nampak lega.


"Jasmine andai kau tau laki-laki yang dicintai Shaina adalah suamimu, apakah kau masih akan bersikap biasa saja padanya?".


#############


Alhamdulillah chapter 37 done

__ADS_1


__ADS_2