Jasmine & Prodeo Andrean

Jasmine & Prodeo Andrean
Chapter 23


__ADS_3

Andrean sudah bersiap meninggalkan padepokan, setelah lima bulan lamanya ia tinggal di sana. Kini tiba saatnya dia berpamitan dengan Paman Jamil dan lainnya.


"Paman, terima kasih sudah mau menampungku dan membimbingku selama di sini".


"Paman senang, kapanpun kau butuh Paman. Paman siap membantumu, untuk saat ini Paman hanya sampai di sini membantu mu nak".


"Terima kasih Paman, maafkan atas sikapku selama ini". Andrean memeluk Paman Jamil erat.


"Akhirnya Paman menyadari, bahwa pekerjaan Paman selama ini menjadi penjaga sekaligus pengasuhmu tidak sia-sia". Ucap Paman Jamil bangga.


"Di mana Shaina dan Sakti Bibi?". Tanya Andrean pada Bibi Aida.


"Aku datang". Jawab Shaina dengan sebuah tas besar telah dipunggungnya. Di susul dengan Sakti yang membawa tas besar juga. Bibi Aida dan Paman Jamil berkerut, memandang mereka berdua.


"Kalian mau kemana?". Tanya Bibi Aida pada Sakti dan Saina.


"Tentu saja ikut dengan Kak Andrean Bibi".


"Hah..kenapa kau ingin ikut denganku. Tidak, tinggalah di sini dengan Paman dan Bibi. Aku tidak mau membuat Paman kesepian berjauhan dengan gadis kecilnya". Ucap Andrean menolak keinginan Shaina yang mendadak itu.


"Lalu Sakti mau kemana?". Tanya Paman Jamil.


"Sakti akan mengikuti kemanapun Shaina pergi Paman. Bukan Sakti pernah berjanji pada Paman, akan menjaga Shaina selamanya".


"Uhuk uhuk, kalian ini benar-benar pasangan serasi ya. Segera nikahkan saja Paman, agar kau segera punya cucu hehe". Ucap Andrean meledek Samir dan Shaina, wajah Samir tentu senang mendengarnya tapi tidak Shaina.


"Aku ingin membantumu Kak, kau mau menemui istrimu yang kemungkinan hamil besar untuk ke luar dari sebuah pulau kan. Kau fikir membawa lari seorang wanita hamil itu gampang. Kau butuh orang untuk membantumu, tidak perlu sok jagoan dengan menolak bantuan. Aku yakin, Kak Sakti dan Aku akan sangat berguna untukmu nanti". Ucap Shaina kesal karena niatnya di tolak mentah-mentah oleh Andrean.


"Benar kata Shaina, aku seorang dokter jadi aku rasa kami bisa membantumu. Apalagi yang kudengar, Samir bukan orang yang mudah".


"Bagaimana Paman?".


Tanya Andrean pada akhirnya, sejujurnya ia tidak ingin melibatkan siapapun dalam misi penyelamatan Jasmine. Tapi di sisi lain, ia juga butuh bantuan karena bagaimanapun ia belum mengenal dunia luar. Terkurung dalam ruang gelap, membuatnya buta akan geografi tempat yang ia tinggali.


"Baiklah, Paman merestui kalian membantu Nak Andrean, tapi ingat Shaina tak perlu memaksakan apa yang di hatimu, tempatkan semua pada tempatnya. Jangan merusak surga yang telah dibangun oleh orang yang kau harapkan di hatimu, tapi bangunlah surgamu sendiri dan tata hatimu kembali".


Shaina menunduk, ia tau Ayahnya mengetahui jika ia mencintai Andrean. Bibi Aida mengelus Shaina dan memeluknya.


"Bibi yakin, gadis kecil Bibi akan selalu ingat pesan Ayahnya. Bibi akan menantikan kalian kembali, dan berharap kepergian kalian akan membawa kabar gembira untuk kami bukan kabar duka".


"Baik Bibi, Shaina pamit dulu, doakan Shaina ya". Ucap Shaina memeluk erat Bibi Aida dan kemudian beralih pada Ayahnya.


"Ayah, Shaina akan selalu ingat pesan ayah".

__ADS_1


"Ayah yakin, putri Ayah orang yang sangat baik".


"Ibu, Sakti pergi dulu ya".


Ucap sakti memeluk dan mencium ibunya itu kemudian beralih pada Paman Jamil.


"Guru, doakan kami".


"Jaga Shaina ya, Paman percayakan padamu sepenuhnya". Ucap Paman Jamil menepuk-nepuk pelan pundak Sakti.


"Iya Guru".


"Bibi, Drean pamit. Terima kasih sudah memberikan kehangatan keluarga yang tak pernah Drean rasakan".


"Bibi senang nak dengan kehadiranmu, datanglah rumah ini akan selalu terbuka untuk anak-anak dan istrimu".


"Terima kasih Bibi".


Ucap Andrean dan kemudian mereka keluar yang sudah disambut anak-anak padepokan di lapangan. Shaina, Sakti dan Andrean pun bersalaman dan berpamitan dengan anak-anak padepokan. Akhirnya mereka membawa mobil sendiri dengan Sakti sebagai pengemudi.


Perpisahan haru membuat Andrean menangis.


"Hah ternyata kau cengeng juga ya, aku tak menyangka seorang Andrean bisa menangis terisak seperti ini hanya gegara perpisahan".


"Nih tisu, jangan sampai ingusmu menetes ke mobil ayahku ya hehe". Ucap Shaina sambil memberikan tisu pada Andrean. Andrean tersenyum mendengar candaan Shaina dan Sakti. Senyum yang sudah hilang puluhan tahun yang lalu.


"Kalian tidak tahu, aku bisa seperti ini sebuah kemajuan yang luar biasa dalam hidupku. Dua puluh tahun lebih aku berada dalam kegelapan, trauma masa lalu membuatku mengurung diriku sendiri.


Beruntung ada Jasmine yang mau menikah denganku, membawaku mengenal dunia terang dan penuh warna ini. Meski berulang kali aku menyakiti fisiknya tapi ia tetap kembali padaku. Jika terjadi apa-apa pada Jasmine, duniaku mungkin akan runtuh kembali".


"Jika Jasmine kuat dalam menghadapimu, dan mampu membawamu dari ruang gelap kr terang. Aku yakin ia pasti kuat diluaran sana, apalagi ada buah cinta kalian yang akan menguatkannya. Percayalah, selama kita yakin akan selalu ada jalan yang menuntun kita mendapatkan tujuan".


Andrean mengangguk, "terima kasih sungguh aku beruntung telah dipertemukan dengan sosok yang baik seperti kalian".


"Orang-orang baik, selama ia berada di lingkungan baik Insyaa Allah dia akan tetap berada dalam kebaikan. Aku yakin, Kau dan Jasmine juga orang-orang yang baik".


Shaina hanya terdiam dalam perjalanan, meski sesekali ia melihat ke arah Andrean.


"Aku tidak kemana cinta ini akan berlabuh, jika benar dia yang jadi pemiliknya maka satukan cinta ini tanpa menimbulkan rasa sakit di hati siapapun".


Shaina kemudian memejamkan mata, meski sepanjang perjalanan Andrean dan Sakti masih saling bercerita.


#########

__ADS_1


Di tempat lain, Samir sudah mulai kehilangan kesabaran pada Jasmine yang terus saja menolaknya.


"Plakk, plaak".


Dua tamparan kembali mengenai wajah Jasmine, perih sakit kini menjadi hal yang biasa. Setiap kali ia menolak Samir yang mengatakan cinta padanya, setiap kali itu juga ia mendapatkan tamparan di wajah putihnya".


"Mau sampai kapan kau terus menolakku hah, habis kesabaranku untuk menghadapimu. Lima bulan sudah aku bersamamu, perutmu yang rata kini membuncit. Tapi kau juga membuka hatimu untukku, haruskah kupaksa dirimu melayaniku baru kau mau menerimaku hah".


Samir menarik rambut Jasmine, "Auuu sakit Samir".


"Sakitmu ini tak lebih sakit dari rasa hatiku yang kau tolak terus menerus. Dasar wanita tak tau diri hah".


"Auuuu sakir Samir".


Teriak Jasmine yang rambutnya kembali di tarik oleh Samir dengan kencang.


"Dengar, tidak akan ada yang menolongmu di sini, meski kau berteriak sekencang apapun. Hahaa, yang bisa menolong dirimu adalah aku, terima saja cintaku bodoh. Maka kan kuberi surga padamu hahaaa".


"Sekalipun surga yang kau janjikan padaku, hatiku hanya milik Andrean. Takkan pernah sekalipun kau bisa mendapatkannya meski dalam dalam mimpi sekalipun". Ucap Jasmine berang meski rasa sakit akan tarikan Samir cukup kuat.


"Kauuuuu Plakk, Plakk".


Samir kembali menampar Jasmine, "dengarlah, malam ini kau akan melayaniku meski kau tak mau sekalipun. Kau harus tau, kau hanya milikku seorang bukan milik siapapun, paham".


Lalu Samir menghempaskan tubuh Jasmine ke kasur dan menguncinya.


##########


Alhamdulillah chapter 23 done


Tolong tinggalkan jejak dong..


Votee, komen, like, poin atau rate lima...


Share and follow lesta lestari


Mampir juga di karyaku yang lain ya...


ARINDRA


CATATAN HATI SEORANG ISTRI


😍❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2