Jasmine & Prodeo Andrean

Jasmine & Prodeo Andrean
Chapter 27


__ADS_3

Clara membawa mobil mereka ke sebuah pinggiran kota, dan bangunan tak terawat yang cukup tua.


"Turunlah".


Andrean mengangkat Jasmine yang belum sadarkan diri, dibantu dengan sakti, Shaina mengeluarkan barang-barang yang ada di mobil lalu masuk mengikuti Clara.


"Letakkan Nona Jasmine di kamar". Clara menunjuk sebuah ruangan.


"Wah aku tidak menyangka, bangunan buruk rupa di depannya ternyata di dalamnya cukup mewah, kamuflase yang sempurna". Ucap Shaina yang takjub dengan isi di dalam bangunan.


"Istirahatlah, itu kamar untuk kita berdua sedangkan Sakti akan tidur di sofa". Clara menunjuk sebuah ruangan di lantai dua.


"Baiklah, terima kasih". Shaina pun segera membawa barangnya ke kamar yang ditunjuk Clara, tapi sebelumnya ia memberikan barang-barang Andrean dan Sakti.


Di kamar, Andrean membaringkan Jasmine dengan hati-hati, Sakti keluar menemui Clara.


"Apakah kau punya peralatan untuk memeriksa Jasmine?". Tanya Sakti.


"Panggil aku sayang, bukankah kita sepasang kekasih sekarang". Clara tersenyum dan mendekati Sakti.


"Jangan bercanda pada saat seperti ini, berikan saja alatnya, aku harus segera memeriksa Jasmine".


"Kau begitu peduli dengannya, tapi kau tak peduli dengan kekasihmu ini. Padahal aku hanya memintamu memanggilku sayang".


"Ayolah Clara, ini bukan waktunya untuk hal-hal seperti itu".


"Aku takkan memberikan alatnya jika kau tak memanggilku sayang, kau tau aku bahkan menyukaimu sejak semester satu".


Sakti menatap Clara kesal, "baiklah, sayang tolong berikan alatnya". Ucap Sakti akhirnya membuat Clara tersenyum senang.


"Tunggu sebentar sayang". Clara masuk ke sebuah ruangan mengambil alat yang diminta Sakti, Shaina yang turun mendengar Sakti memanggil sayang berkerut.


"Kakak sudah gila memanggilnya sayang". Shaina protes pada Sakti.


"Kita tak punya waktu berdebat untuk hal seperti itu Shaina".


Shaina hendak protes lagi, tapi Clara sudah berjalan menghampiri mereka.

__ADS_1


"Ini sayang alatnya".


Sakti mengambil alat itu dan segera masuk ke ruangan Jasmine, diikuti dua wanita itu di belakangnya.


"Ada alatnya?". Tanya Andrean, Sakti segera memeriksa detak jantung Jasmine dan kemudian mengecek matanya.


"Aku tidak bisa memastikan kondisinya pastinya saat ini. Kita lihat sampai dia sadarkan diri, denyut jantungnya normal. Kandungannya juga semoga tidak apa-apa, kita berdoa saja, Jasmine segera siuman".


Ujar Sakti membuat semua lega.


"Kondisinya cukup stabil ketika terakhir kali aku periksa, dia hanya cukup banyak kehilangan darah. Tapi beruntung pasokan darah di rumah sakit tersedia, hingga ia cepat mendapatkan penanganan".


"Drean, lebih baik kita bersihkan diri dulu. Kau juga harus mengobati lukamu itu, agar Jasmine bisa mengenalimu saat bangun nanti hehe". Ucap Sakti yang melihat Andrean tak pernah melepaskan tangan Jasmine sejak dari mobil.


"Terima kasih, tanpa kalian aku belum bisa bertemu istriku saat ini". Mata Andrean berkaca-kaca.


"Sungguh aku tak tau bagaimana ceritanya kalian bisa bermusuhan dengan Tuan Jared dan Tuan Jadit. Jika aku menarik benar merahnya, Jasmine itu anak Tuan Jared dan kalian menikah tanpa direstui begitu?".


Sakti, Andrean dan Shaina tersenyum pada Clara, mereka sadar jika Clara belum mengetahui apa-apa tentang bagaimana mereka terhubung dengan dua penguasa itu.


"Kau salah Kak Clara, Kak Drean itu anak tunggal Tuan Jared". Terang Shaina membuat Clara terkejut.


"Ceritanya panjang Clara, tapi akan kusingkat saja. Aku dan Jasmine menikah karena perjodohan Ayahku Jared. Saat itu aku memiliki trauma cukup parah, sehingga pernikahan ini bertujuan hanya agar Ayahku memiliki penerus perusahaannya.


Jasmine berhasil membuatku menghamilinya dengan memanfaatkan situasiku saat itu. Dia hamil, lalu saat kami memeriksakan kandungan untuk pertama kalinya ada orang yang ingin membunuh Jasmine karena tak ingin pewaris Ayahku lahir ke dunia.


Tapi aku melihatnya dan aku yang kemudian mengalami tabrakan itu hingga tak sadarkan diri berhari-hari. Ternyata Samir itu adalah anak Jadit yang diselundupkan untuk menjadi mata-mata. Samir menyukai Jasmine, dan menculiknya". Jelas Andrean.


"Oke, aku mulai mengerti sekarang lalu kenapa kau memukul Ayahmu sendiri?".


"Ayahku, tak mengangapku seorang anak karena trauma masa lalu membuatnya yakin bahwa aku adalah orang gila. Aku diasingkan olehnya dan hanya diurus oleh Ayah Shaina Paman Jamil.


Bahkan terakhir kali saat aku tak sadarkan diri, ia meminta Paman Jamil kembali mengasingkanku karena menganggapku anak yang tak berguna, tapi lagi-lagi Paman Jamil menolongku hingga aku kini bisa pulih dari traumaku".


"Wow, sungguh tragis hidupmu Tuan Andrean. Seorang putra pengusaha kaya, tapi dunia bahkan tak mengenalmu".


"Lalu apa yang membuatmu memiliki dendam pada Tuan Jadit dan Samir?". Tanya Shaina.

__ADS_1


"Adikku dulu masih SMA, ia diculik dan dijadikan pemuas nafsu mereka berdua. Kemudian adikku dibunuh dengan sangat keji". Mata Clara berkaca-kaca mengingat tubuh adiknya terpotong-potong sehingga sulit dikenali.


"Bagaimana kau mengetahui jika itu mereka?". Tanya Sakti yang penasaran.


"Ada seseorang yang mengirimkan vidio itu padaku. Aku mencoba melaporkan ini ke pihak berwajib, tapi vidio itu malah dirampas, dan aku juga mendapatkan teror.


Pada akhirnya aku berhenti tapi bukan berarti aku diam. Lima tahun terakhir aku mencari informasi pada tentang mereka, meski sekecil apapun informasi itu akan aku buru. Termasuk menjadi dokter di rumah sakit mereka, hanya semata-mata aku memburu dan mencari sekutu.


Aku pun mulai berlatih bela diri dan belajar mengemudi dengan tak biasa, aku bersyukur akhirnya aku bisa bertemu kalian, dan menemukan sekutu yang tepat untuk membalaskan dendamku". Ucap Clara berapi-api.


"Kami turut prihatin atas apa yang menimpa adikmu. Tapi tujuan kami sudah tercapai, Jasmine sudah ada bersama kami sekarang". Terang Sakti.


"Kalian fikir setelah mendapatkan Jasmine kalian akan aman dari kejaran mereka. Samir si brengsek itu, takkan melepaskan apa yang sudah diklaim menjadi miliknya. Ayah dan anak itu akan melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang jadi tujuan mereka.


Tuan Jared, maaf ayahmu Tuan Andrean juga tak kalah kejam di dunia bisnis. Ia rela melakukan apa saja, bukankah kau juga merasakan kekejamannya.


Kita saat ini sedang diburu oleh dua penguasa kejam, mereka takkan berhenti sebelum mangsanya mati".


Sakti, Shaina terkejut mereka berdua tak pernah menyangka jika niat menolong Andrean akan membawa mereka pada kondisi yang tak pernah dibayangkan.


"Kalian sudah cukup membantuku, pulanglah ke Padepokan. Paman Jamil pasti sangat mengkhawatirkan kalian terutama Shaina. Sudah cukup bantuan yang kalian berikan padaku saat ini, biar aku yang menyelesaikan sisanya".


Ujar andrean, ia tak mau melibatkan orang yang tak bersalah dan orang baik seperti Paman Jamil, Shaina dan Sakti lebih jauh lagi. Baginya sudah cukup mereka terlibat pada masalah yang dihadapinya saat ini.


########


Alhamdulillah chapter 27 done


Tolong tinggalkan jejak dong..


Votee, komen, like, poin atau rate lima...


Share and follow lesta lestari


Mampir juga di karyaku yang lain ya...


ARINDRA

__ADS_1


CATATAN HATI SEORANG ISTRI


❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2