
Guys like and komen or votenya dong kan gratis wkwk ❤😍😍
Biar rame nih...Author biar semangat up ya🥰🥰. Author sayang kalian semua 😍😍😍
Arindra dan Catatan Hati Seorang Istri
juga menanti kalian. Semangat 💪💪👍👍
#########
Samir menarik salah satu anak buahnya ke depan, tubuh besarnya terhalangi oleh mereka.
"Tembak sekarang". Perintahnya.
"Dor, Dor"
Suara tembakan menggema, sirine mobil polisi datang membuat Samir terkejut.
"Bagaimana Tuan".
Tanya salah seorang anak buah Samir.
"Cepat bereskan". Perintah Samir.
"Dor, dor".
Dua preman anak buah Samir roboh, tapi tembakan itu bukan berasal dari anak buah Samir, tapi rombongan Tuan Jared.
Samir mengeram kini dia dan anak buahnya terkepung. Dito maju dan melihat Samir.
"Mau pergi sekarang atau kita semua mati".
Ucap Dito sambil menunjukkan sebuah bom aktif pada Samir.
"Brengsek kau tua bangka".
Samir menodongkan pistol ke arah Dito.
"Kau ingin anakmu mati juga hah". Bentak Samir.
Ayah Dito hanya tersenyum.
"Untuk menghadapi psikopat sepertimu maka aku juga harus berfikir seperti seorang psikopat. Aku tidak peduli, pilihan ada di tanganmu, kita semua mati atau kau pergi. Kuhitung dalam waktu 10 detik, maka seluruh gedung ini akan rata dengan tanah".
"Kau gila sama seperti menantumu". Teriak marah Samir.
"Satu".
Dito mulai berhitung, di sela Dito berhitung Andrean menyusup diam-diam dan melepaskan ikatan Sakti, lalu ia memberi kode Sakti untuk melepaskan ikatan Shaina dan Clara.
Andrean segera menuju kamar di mana Jasmine berada, Jasmine dalam kondisi pingsan karena mendengar tembakan.
"Empat, lima, enam, tujuh".
"Dor".
Samir menembak anak buah Dito namun Dito tak bergeming.
"Delapan, sembilan".
"Baik, aku pergi, ingat akan kubalas kau nanti".
Ucap Samir sambil berjalan keluar gedung dan diikuti anak buahnya. Ia tahu, ia kalah jumlah dengan anak buah Tuan Jared saat ini.
"Cepat matikan penghitung waktunya".
Perintah Dito pada anak buahnya untuk segera mematikan alat penghitung waktu bom yang dibawanya. Ia lega, lalu melihat Clara, Sakti, Shaina.
"Kalian tidak apa-apa?". Tanyanya.
"Tidak apa-apa Tuan". Jawab Sakti.
__ADS_1
"Di mana Jasmine?".
Andrean muncul dan memanggil Clara.
".Clara tolong".
Clara berlari ke arah kamar Jasmine dan segera memeriksa nadi Jasmine.
"Apakah kita perlu membawanya ke rumah sakit?". Tanya Andrean khawatir.
"Bawalah, kau tidak apa-apa?". Tanya Dito pada Andrean.
"Tidak apa-apa". Jawab Andrean.
Andrean dan Jasmine di bawa ke rumah sakit, sedangkan Shaina, Sakti dan Clara di bawa ke rumah Tuan Jared.
Sedangkan mayat anak buah Samir segera dibawa oleh anak buah Dito.
##########
Jasmine dan Andrean ditempatkan di satu ruangan yang sama dengan penjagaan ketat. Setelah diperiksa oleh dokter dan diobati luka-luka di tubuh Andrean, Ayah Dito menatap Andrean.
"Kau sembuh?". Tanyanya.
"Sejak dulu aku tidak sakit".
"Hehehe ya ya, syukurlah, Aku senang mendengarnya. Jasmine butuh suami yang kuat, dan kuharap aku tidak salah memilihmu".
"Ayah salah, aku bukan orang yang kuat tapi aku akan berusaha melakukan hal terbaik untuk Jasmine termasuk mengorbankan nyawaku".
"Ya Ayah percaya padamu, sekarang istirahatlah. Kalau ada apa-apa, hubungi Ayah, Ayah ada di ruangan sebelah".
"Ayah, di mana Paman Jamil?".
"Jamil sedang mendapat tugas dari Tuan Jared, ia besok akan kemari menemuimu bersama Ayahmu tentunya".
Andrean mengangguk dan Ditopun keluar setelah mencium kening putrinya. Andrean mendekati kasur milik Jasmine, memeluk istrinya itu dan tertidur bersama.
#########
"Ini semua gara-gara Papa, Papa yang membuat Jasmineku pergi".
Tuan Jadit yang mendengar berita tentang kekalahan Samir hanya mengeram.
"Kau takkan hidup tenang Jared, selama aku masih hidup".
Lalu ia pergi meninggalkan rumah Samir dan kembali ke kediamannya.
############
Pagi masih dini hari, Jasmine terbangun dan terkejut ada tangan yang melingkar di perutnya. Ia lalu segera menyingkirkan tangan itu membuat Andrean terbangun.
"Aku suamimu sayang, ini masih pagi tidurlah kembali". Ucap Andrean dengan mata terpejam dan tangannya kembali memeluk Jasmine.
"Kak Drean, Samir".
"Jangan sebut nama ******** itu, kau aman sayang". Andrean membuka mata dan melihat istrinya itu.
"Wajahmu makin buruk, apakah kau tertembak. Aku dengar suara tembakan begitu banyak".
"Tidak, ******** itu yang terluka. Ayahmu datang dan menolong kita".
"Tapi aku, tubuhku diciumi ******** itu hiks-hiks, aku jijik Kak".
Andrean mengeram marah, tapi ia berusaha tenang.
"Tenanglah, nanti akan aku hapus jejaknya. Bagian mana saja yang ia sentuh sayang?".
"Kaki Kak, ujung-ujung jari kakiku bagian lutut ke bawah hiks-hiks, aku jijik Kak".
"Kau ingin mandi, setelah mandi akan aku hapus jejaknya".
__ADS_1
Jasmine mengangguk lalu kemudian ia turun dari pembaringan dibantu oleh Andrean. Tak lama Jasmine sudah selesai dan keluar dengan memakai kaos Andrean, termasuk celananya.
"Sudah".
Jasmine mengangguk, Andrean mendudukkan Jasmine di pembaringan.
"Akan aku mulai membersihkan jejaknya ya".
Jasmine lagi-lagi mengangguk, lalu Andrean segera turun ke daerah kaki milik Jasmine. Bibirnya mulai menari di sana, menelusuri kaki jenjang dan putih milik Jasmine.
Jasmine memejamkan mata, menikmati perlakuan suaminya. Darahnya berdesir, dadanya berdegup kencang. Ia menggigit bibirnya, ke dua tangannya meremas sprei.
Cukup lama Andrean menari-nari di sana, hingga hampir ia terbawa suasana. Jika tak mengingat Jasmine dan dirinya masih lelah, mungkin hal ini akan terus berlanjut.
"Cukup ya".
Andrean mendudukkan dirinya di samping Jasmine.
"Terima kasih sayang".
Jasmine meraih wajah Andrean dan mendaratkan sebuah kecupan. Namun Andrean menahan itu dan mereka bergumul lewat indra pengecap.
"Cukup sampai di sini dulu, biarkan kita pulih baru kita berpuas diri ya".
Jasmine tertunduk malu, membuat Andrean tersenyum.
"Terima kasih, jangan pernah pergi dari ku, sungguh aku sangat mencintaimu".
"I love you to Kak".
"Kita tidur lagi ya".
Jasmine mengangguk dan memeluk Andrean erat. Rasa lelah membuat mereka segera kembali terlelap.
Ibu, Ayah Dito, Opa Jared, Paman Jamil, Shaina, Sakti dan Clara sudah sampai di rumah sakit. Tapi saat Ibu Dito masuk kamar, ia kemudian segera kembali lagi keluar.
"Kenapa kembali keluar?".
Tanya Dito pada istrinya itu.
"Mereka masih tidur, biarkan mereka istirahat dulu, sepertinya mereka sangat lelah".
Opa Jared melihat jam yanh di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul delapan membuat ia berkerut.
"Bangunkan". Perintah Opa Jared pada Ibu Dito.
"Tapi Tuan...".
"Bangunkan, atau aku yang membangunkan mereka dengan caraku. Anak tak berguna itu benar-benar membuatku naik darah".
"Baik Tuan".
Akhirnya Ibu Dito masuk kembali untuk membangunkan anak dan menantunya itu.
Jasmine terbangun duluan dan melihat Ibunya.
"Ibuuuuu".
Jasmine menghambur ke pelukan ibunya dengan penuh kerinduan, lima bulan tak bertemu membuat mereka saling menangis bahagia.
"Anak ibuuu, wah ternyata perutmu sudah membuncit sayang".
"Iya Bu, Mine kangeeenn banget sama Ibu".
"Ibu juga kangeeen banget sama Mien".
Mereka saling berpelukan, suara keduanya membuat Andrean terbangun, lalu terdiam saat tau adegan di depannya. Yang lain akhirnya memasuki ruangan Andrean.
############
Alhamdulillah chapter 33 done
__ADS_1
Poin, share and Follow Lesta Lestari ya...
❤❤❤❤❤❤❤❤