Jasmine & Prodeo Andrean

Jasmine & Prodeo Andrean
Chapter 55


__ADS_3

Usai pernikahan Sakti dan Shaina yang berlangsung sederhana, sore harinya di rumah sakit yang sama seorang wanita berbalut busana putih dan laki-laki yang tengah berbaring menggunakan warna yang sama.


Mereka adalah Clara dan Leo, mereka melangsungkan pernikahan setelah orang tua Leo didatangkan oleh Andrean. Semua berkumpul, dan Clara duduk di sofa jauh dari Leo.


Akad nikah berlangsung hikmat dan haru, bagi Clara tangisannya ini bukan tangisan bahagia khas seorang pengantin baru. Tapi tangisan sedih, terluka dan kecewa mengapa jalan hidupnya tak sesuai dengan apa yang dia harapkan.


Bahkan ia enggan untuk memasangkan cincin di jari Leo, meski banyak yang bertanya-tanya namun pertanyaan mereka masih rapat tersimpan dalam hati dan fikiran mereka.


Ucapan selamat menempuh hidup baru terasa hambar dan hampa, sebagaimana dirasakan oleh hati Clara saat ini. Tak sekalipun ia melirik atau melihat Leo selama pernikahan berlangsung.


Clara hanya terlihat melamun, tak bersemangat. Menunduk dengan air mata yang selalu mengalir, menangkupkan ke dua tangan untuk menutupi wajahnya.


Semua orang pun pergi tanpa satupun yang mampu mengajak bicara Clara, termasuk Andrean dan Jasmine. Kini ia dibiarkan berdua dengan Leo di kamar rawat.


Leo menatap punggung Clara di balik sofa, ia tahu pernikahan ini adalah pernikahan yang sama-sama tak diharapkan. Leo bangun dan berjalan duduk di sofa, menatap wajah Clara yang kini telah resmi jadi istrinya.


"Nona, meski kita sudah menikah, saya bebaskan Nona untuk melakukan apapun yang Nona mau. Saya takkan memaksa Nona mencintai saya dan sebaliknya, anggap saja pernikahan ini tak pernah ada hingga Nona tidak terbebani.


Saya sudah bicara dengan Tuan Andrean, bahwa saya akan tetap menjadi bodyguard Anda. Buatlah senyaman Anda Nona, saya tidak akan menuntut apapun pada anda dalam hal tugas-tugas kewajiban seorang istri," ujar Leo berharap perkataannya mampu mengurangi beban di hati Clara.


Clara menghela nafas panjang dan berat, ia melihat ke arah Leo dengan tatapan tak terbaca. Lalu tanpa suara ia masuk ke toilet, tak lama ia berganti pakaian dengan yang biasa.


"Cepatlah sembuh, karena aku ingin pergi jauh sementara dari sini," ucap Clara menatap ke arah luar jendela rumah sakit.


"Saya akan meminta dokter untuk bisa memulangkan saya hari ini, jika memang Nona ingin segera pergi," Leo masih duduk di sofa pandangannya lurus menatap meja.


Ia tak melihat Clara, karena ikut merasa bersalah telah memberikan beban berat pada Nonanya akibat perbuatannya itu.


"Tidak perlu, saya butuh waktu sendiri dan tak ingin diganggu siapapun. Saya akan pergi tak perlu mencari, saya akan kembali jika waktunya tiba," Clara masih setia menatap ke luar jendela, di mana hujan turun dengan derasnya.


"Maafkan saya Nona, tapi Nona tidak boleh pergi jika saya tidak bersama Nona, itu pesan dari Tuan Andrean,"


"Saya bisa menjaga diri," Clara tersenyum getir saat berkata ia bisa menjaga dirinya, faktanya ia bahkan kehilangan kehormatannya karena kecerobohannya sendiri.


"Tapi Nona..," Leo berusaha membujuk Clara tapi ucapannya terpotong oleh Clara yang kini menatapnya.


"Tak perlu membantah, segera pulihkan saja kesehatanmu dan tak perlu memikirkan pekerjaanmu yang mengawal saya," ujar Clara mengambil tas ranselnya.

__ADS_1


"Jangan ikuti, saya akan marah jika kamu melakukannya," Clara melangkah pergi, mau tidak mau Leo menelpon teman-temannya untuk mengikuti Clara.


Ia juga melaporkan pada Andrean atas keputusan Clara yang pergi malam ini.


"Biarkan saja Leo, suruh orang-orangmu mengikutinya dan laporkan keberadaannya padaku, sekarang fokus saja pada kesembuhanmu setelah sembuh kamu bisa mengikutinya kembali," ujar Andrean dari telponnya.


"Tapi maafkan saya Tuan, saya akan tetap mengikuti Nona saat ini juga. Bagaimanapun Nona adalah tanggungjawab saya."


"Bagaimana dengan lukamu?."


"sudah lebih baik Tuan, dan saya juga tidak pergi sendiri Tuan, jadi tolong izinkan saya untuk pergi Tuan."


"Baiklah, tapi tetap jaga kondisimu dan obati luka-lukamu."


"Terima kasih Tuan," Leo tersenyum senang lalu ia bergegas berganti pakaian dan keluar mengikuti Clara dari belakang.


Jasmine menatap Andrean yang banyak termenung setelah pulang dari rumah sakit, Jasmine menyandarkan kepalanya di pundak Sakti yang duduk di sofa.


"Akan tiba waktunya mereka saling mencintai dan menerima satu dengan yang lainnya Kak," ucap Jasmine menenangkan Andrean.


Jasmine tersenyum lalu meraih wajah suaminya, "dulu aku juga terpaksa menikah denganmu tapi kini sungguh aku sangat bersyukur Opa Jared memaksaku menikah dengan om-om sepertimu hehe."


"Om-om..," ujar Andrean membalas menjawil hidung istrinya yang mancung.


"Iya om-omku yang guanteng, suamiku tercinta, ayah dari anak-anakku," Jasmine tersenyum dengan menggesek-gesekkan hidungnya ke hidung mancung suaminya.


Andrean mencium kening Jasmine dan kemudian berbaring di paha istrinya. Jasmine mengelus-elus rambut suaminya itu.


"Aku juga bersyukur mendapatkanmu," Andrean mencium perut Jasmine yang kian membuncit.


"Nak, sehat-sehatlah di sana Ayah menantimu hingga waktunya tiba kita akan bertemu," Andrean pun mengelus-elus perut Jasmine, membuat Jasmine menggigit bibir bawahnya.


"Kak...," Jasmine memanggil suaminya dengan suara bergetar.


"Hemm," jawab Andrean tanpa menghentikan aktifitasnya menciumi perut Jasmine yang masih terbungkus pakaian.


"Kak...," panggil Jasmine lagi, membuat Andrean duduk dan menatap wajah istrinya. Mata Jasmine sudah sayu, gerakan nafasnya sudah sedikit memburu.

__ADS_1


Andrean mengerti lalu membopong Jasmine menuju kamar mereka. Meletakkan tubuh Jasmine dengan hati-hati di atas ranjang.


"Lakukanlah sepuasmu, aku menerima pelayananmu malam ini sayang," bisik Andrean di telinga Jasmine. Jasmine tersenyum dan bangkit, membalik tubuh Andrean yang tadi di atasnya kini dia yang memegang kendali.


Malam itu, Jasmine dan Andrean kembali meneguk surga dunia setelah puasa beberapa hari karena kesibukan Andrean yang fokus mengurus kasus Jadit dan Samir lalu pernikahan Clara dan Sakti.


############


Pagi hari yang cerah Andrean sudah berada di meja kerjanya. Ia mendapatkan informasi jika Samir dilepaskan oleh pihak yang berwajib, kini dia yang berurusan dengan pihak berwajib terkait laporan Samir.


Tuan Jared masuk setelah mengetuk pintu mendekatinya dengan kursi roda bersama Ayah Dito.


"Sudah dengar informasi tentang pelaporanmu?," tanya Tuan Jared tanpa basa-basi. Andrean mengangguk dan melihat Ayahnya itu.


"Tak perlu risau, sekarang saatnya Paman Jamilmu yang beraksi kau hanya perlu fokus pada perusahaan. Ayah kembali dari kematian untuk menghentikan Jadit dan Samir yang kian keterlaluan," Tuan Jared terlihat kesal. Karena ia tak pernah menyangka adik tirinya itu sanggup melakukan percobaan pembunuhan terhadapnya.


"Apa yang rencana Paman sebenarnya Ayah?," tanya Andrean yang sudah menaruh curiga pada Paman Jamil.


"Sudah Ayah bilang fokus saja pada perusahaan, Jadit dan Samir jadi urusan Ayah, Ayah Dito dan Pamanmu itu. Jaga saja keselamatan kalian, termasuk Clara, Leo, Sakti dan Shaina. Tak perlu mengatakan pada mereka agar mereka fokus dulu pada rumah tangga dan perusahan, kau juga fokus juga pada Jasmine aku tak mau cucuku kenapa-napa."


"Tapi Ayah, Andrean perlu tau apa sebenarnya rencana kalian. Biarkan Andrean saja yang lakukan, tinggal pantau saja apa yang perlu kalian pantau," ujar Andrean yang khawatir akan keselamatan Ayahnya itu.


Tuan Jared menggeleng "Jika kami sudah tak sanggup baru kami akan memberikannya padamu, tenang saja ya." Tuan Jared tersenyum pada putra satu-satunya itu.


Andrean membalas senyuman itu meski dalam hatinya tetap tak menyetujui keputusan para tetua tersebut.


"Maafkan aku Ayah, jika aku melakukan dengan caraku sendiri," Ujar Andrean dalam hati.


#############


Alhamdulillah Chapter 55 done


budayakan like, komen, vote dan rate 5 ya sebelum membaca terima kasih


mampir di novelku yang lain ya


__ADS_1


__ADS_2