
pagi harinya
dirlara sudah siap memakai pakainnya, begitupun dengan rendra yang sudah tampan dengan jaketnya. dirlara senang akhirnya dia bisa pulanh sebentar lagi pikirnya.
" sudah siap ?" tanya rendra.
" iya kak "
" ayo " Rendra mengambil tangannya dan menggandeng tangan dirlara, dirlara menatap tangan yang digenggam rendra.
keduanya dijemput oleh sopir sehingga langsung pulang menuju kerumah tapi saat diperempatan dirlara menatap bingung kenapa belok ke kanan padahal arah rumahnya ada disebelah kiri.
" kenapa ... kita kejalan ini ? rumah papa disana kak " tanya dirlara.
" sayang kita pulang kerumah ku " jawab rendra.
" ha ?" dirlara mengernyitkan dahinya dan menoleh kebelakang.
" iya ... papa dan mama sudah menyiapkan kamar kita, dan papa hasan juga sudah mengirimkan semua kebutuhanmu kerumah kakak. "
" Tapi peralatan kuliahku pasti papa tidak tau kak "
" Tenang saja bi du sudah membereskannya "
dirlara hanya diam saja, selalu begini pikirnya semenjak menikah ia tidak bisa bebas. walau rendra tidak marah tapi dia selalu melakukannya lebih dahulu dibanding keinginannya.
" aku tau kau pasti berpikir aku mengaturmu sekarang, tapi ini demi masa depanmu juga " batin rendra.
shittt
mobil itu mamasuki perkarangan rumah, sudah lama dirlara tidak kerumah ini semenjak acara makan malam satu bulan yang lalu.
beberapa pelayan menyambutnya diantara pintu utama itu Hana dan Hartono berdiri menyambut mereka.
keduanya turun bergandengan tangan siapa lagi kalau bukan keinginan dari Rendra.
" Ma , pa " sapa Rendra.
" ha syukurlah mama senang dirimu membaik sayang " kata hana memeluk Rendra.
" Dirlara apa kau kesulitan mengurus Rendra nak ?" tanya Hartono.
dirlara menggelengkan kepalanya " tidak paman "
" papa sayang bukan paman " saut Rendra.
" ah iya , papa " keliru dirlara.
" yasudah masuk yuk, dirlara sayang ayo mama sudah siapkan kamar kalian. para pelayan sudah membersihkannya "
akhirnya mereka semua masuk kedalam , hana dan hartoni mengantarkan mereka berdua sampai ke dalam kamar rendra yang sangat luas itu.
" nah sayang ini kamar kalian berdua, dirlara sayang apa kau menyukainya nak ?" tanya hana.
" iya ma " jawabnya.
hana tersenyum mendengarnya begitupun suaminya dan rendra.
" yasudah ma biarkan mereka beristirahat, jika ada sesuatu panggil saja pelayan nak " kata hartono.
" iya pa " jawab rendra.
hana dan hartono pun keluar lalu mereka menutup pintu kamar sehingga membuat dirlara tersentak kaget.
Rendra tersenyum ketika kamarnya ditutup dia bisa punya banyak waktu dengan dirlara pikirnya, kini tangannya meraih pinggang dirlara dengan lembut dan mendekatkannya ke pinggangnya.
dirlara sangat gugup dan tak tau bagaimana perasaannya sekarang yang jantungnya ingin lompat itu.
" kak "
" iya sayang " mata rendra tak pernah lepas dari wajah dirlara.
" sebaiknya kakak istirahat saja, biar cepat pulih. " kata nya mengalihkan perhatian Rendra.
" Tapi denganmu " jawab rendra.
" a..aku ... "
" kita kan sudah menikah kenapa gugup begitu, malu sama kakak ya ?" tanyanya sambil membawa dirlara menuju ke ranjang dan mendudukkannya dipinggiran ranjang.
__ADS_1
dia menyibakkan rambut panjang dirlara itu " Tidak ... apakah kak rendra akan ... ah jauhkan pikiran itu dirlara " batinnya bergerutu.
Rendra bisa tau kalau dirlara sangat gugup sekarang,
" Temani kakak istirahat saja ya "
" Bagaimana caranya ?"
" bagaimana apanya sayang ? "
" kakak mau apa ?"
" Mau dirlara boleh ?"
" ha ?" wajah dirlara seketika memerah dan kaku.
rendra hampir tertawa melihat wajah istrinya yang memerah itu " kakak tau kau lelah sayang, kakak tidak akan memintanya sekarang. semalaman kau mengerjakan tugas kuliah sebaiknya tidurlah di kasur kakak turun dulu menemui papa dan mama. "
" I-iya kak "
rendra mengusap rambut dirlara, untuk pertama kalinya seseorang mengusap rambutnya dengan lembut seperti Rendra.
" Tunggu kak " cegah Dirlara.
" kenapa ? apa istri kak rendra berubah pikiran ?" godanya.
" bu-bukan itu kak, tapi ... dokter bilang kakak jangan banyak bergerak takutnya ginjalnya akan sakit. "
" tidak turun tangga sayang kakak pakai lift "
" oh begitu "
selepas rendra pergi mata dirlara meratapi ruangan kamar yang besar itu. melihat foto rendra yang terlihat formal itu ia merasa ingin mendekatinya dan menatap dalam foto itu.
***
" pa , ma " katanya masuk kedalam kamar orang tuanya.
" iya nak " saut papanya.
" Rendra ingin bicara "
mereka bertiga pun duduk di sofa, rendra terlihat masih diam sedangkan orang tuanya bingung apa yang akan dikatakan anaknya ini.
" Rendra minta mama dan papa panggil Jemmy untuk menjadi sopir rendra. "
" Jemmy ? bukankah dia sudah kau beri pekerjaan di desa " kata ayahnya.
" Jemmy satu-satunya orang yang bisa rendra percaya, aku ingin menjaga istriku walau aku sakit begini, karena dirlara tanggung jawab rendra sekarang. "
" Baiklah kalau itu maumu, mama nurut saja. " jawab hana.
ceklek
rendra kembali masuk kedalam kamarnya yang ia dapat dirlara yang tertidur nyenyak di ranjang yang biasa tempati. kini kamar ini lebih berwarna karena kehadiran dirlara.
ia pun sengaja mengganti cat yang lebih terang daripada sebelumnya. karena ia melihat kamar dirlara yang seperti anak-anak berwarna ungu pastel.
drttt....drtttt
📱 Aadinata 💞 Calling
mata rendra tertuju pada ponsel pipih itu, hatinya cemburu tapi dia harus menjaga perasaan dirlara sekarang, ada saatnya nanti dimana dirlara akan mencintainya dan membenci Aadinata pikirnya.
dirlara mengerjapkan kedua matanya, lalu ia langsung bangun dan mendapati rendra yang berada di sampingnya.
rendra tersenyum memandangnya " Kau bangun sayang ? " tanyanya.
" kak rendra apa aku tidur lama sekali ?" tanyanya.
Rendra mengangukkan kepalanya " iya ini sudah sore "
" Gawat " gumamnya.
" kau mengatakan sesuatu sayang ?"
dirlara menggelengkan kepalanya , dia melirik ponselnya dan mengambilnya dia hidupkan dan ada beberapa panggilan tak terjawab dari Aadinata.
" Aadinata tumben sekali, apa dia sudah kembali ke jakarta " pikirnya.
__ADS_1
melihat wajah dirlara yang tiba-tiba menjadi diam itu dia tau dia sedang memikirkan kekasihnya.
" Tapi apa yang harus kulakukan sekarang. menemuinya padahal aku tau ibunya tidak menyetujui hubungan kami dan tetap menemuinya walau aku tau dia sudah dipilihkan seorang wanita. "
" Sayang ! dirlara sayang ! " kata rendra menyentuh bahu dirlara.
" ya ?" tanyanya terkejut.
" Mandilah nanti kita turun untuk makan malam."
" baik kak "
Dia bangkit dari tempat tidur namun saat turun dia kakinya tidak seimbang dan akan jatuh tapi dengan cepat tanggap Rendra menariknya hingga kini Rendra ada dibawah dirlara dengan ia menyentuh pinggang dirlara.
kedua mata mereka saling bertemu, rendra tersenyum menatap begitu lekat dirlara.
namun sesuatu berjalan dikaki dirlara ia merasa binatang kecil yang tidak ia suka " haaa " dia teriak lalu memeluk Rendra langsung hingga kini posisi berbalik rendra yang ada diatas dengan pelukan kuat dirlara.
" apa itu ? sesuatu bergerak disana " tanya dirlara memejamkan matanya.
" Sayang aku ini seorang pria " kekeh rendra.
" dirlara takut kak "
Rendra hanya bisa tersenyum " sepertinya memang benar tidak mengganggap kakak seorang pria ya "
dirlara tersadar atas tindakannya dan dia mendorong tubuh rendra hingga ia bangun.
" maaf " katanya.
" hanya maaf ? " tanya rendra lalu dijawab anggukan oleh dirlara.
" kakak tidak mau maafkan "
" maaf kak "
" kakak tidak mau maaf sayang, kakak maunya ... "
" mau apa ?"
rendra mendekatkan wajahnya kepada wajah dirlara, jantung dirlara berdegup kencang seketika " ka...kak ... "
" Kakak ingin dirlara hanya menjadi milik kakak "
" Kak...."
tok
tok
tok
" Tuan nyonya besar memanggil untuk segera ke bawah. "
" kak aku mandi dulu " dirlara langsung masuk untuk menghindari tatapan rendra.
" selalu saja ada yang mengganggu " gumam Rendra.
***
dimeja makan itu semua orang dilayani oleh para pelayan masing-masing. karena malam ini pertama kalinya Dirlara datang sebagai seorang istri dan menantu hana sengaja membuatkan makanan kesukaan Dirlara yang ia tau sangat menyukai masakan rumah ala mamanya.
" malam ini sengaja mama buatkan makanan yang kau sukai sayang, papa mu bilang kau suka masakan yang selalu dibuatkan mamamu. jadi papamu mengirimkan daftar kesukaanmu. " kata hana.
memang benar dirlara menyukai semua yang disajikan hari ini, tapi saat seseorang mengingatkannya pada mamanya membuatnya kembali teringat masa lalu tentang mamanya.
" Terima kasih mama " ucapnya seraya tersenyum.
" makanlah sayang besok harus ke kampus, nanti akan kakak antar bersama sopir juga. " ujar Rendra.
" Besok sudah masuk ya ?" tanya hana.
" iya ma " jawab dirlara.
" cepat sekali sayang. "
" seharusnya satu minggu tapi ada ujian yang belum dirlara selesaikan. "
" oh begitu yasudah semoga ujiannya berhasil ya "
__ADS_1
" iya ma "