Jatuh Cinta Kepadamu

Jatuh Cinta Kepadamu
Senyuman dan Luka


__ADS_3

" Ayo Arkan " Ucap Ran kepada Arkan, dia memang tidak pernah punya masalah dengan arkan karena dia tahu sifat arkan berbeda jauh dengan istri baru paman dan anaknya yang satu lagi.


***


didalam mobil aletha tertidur hingga terkadang kepalanya terbentur ke jendela, abigail merasa kasihan dia menepikan mobilnya lalu membuka jasnya dan menjadikan jas itu sebagai bantalan di samping jendela.


" Kepalamu akan sakit jika terus begini" gumamnya sambil membenarkan kepala Aletha.


melihat wajah aletha dia ingat tadi bagaimana Aletha kelelahan, diliriknya punggung dan pinggang Aletha.


sesampainya dirumah Dia menggendong Aletha sampai ketempat tidur, lalu membuka sepatu aletha dan kini membalikkan tubuh Aletha hingga membelakanginya.


" Maafkan aku ya ini bukan mesum tapi aku mau memijatmu agar pinggangmu tidak sakit lagi. " ucapnya berbicara sendiri seraya mengangkat baju aletha sedikit, Dia mengambil minyak gosok dan mengelusnya perlahan.


***


" Mark aku tadi membeli sesuatu untukmu di Minimarket depan kau bukalah ada dikamar kita, aku bereskan ini dulu " kata olivia yang akan membereskan dapur.


" Iya "


Olivia tampak tersenyum mendengarnya dan melanjutkan beres-beres. Mark pun masuk kekamar dan benar ada sebuah kotak Kecil diatas kasur.


diambilnya kotak itu dan berusaha membukanya, Dia mengambil sesuatu didalam kotak itu.


" Garis dua ? "


Dia sempat berpikir Apa itu maksudnya tapi kemudian dia ingat benda ini dan maksudnya apa, lantas dia tersenyum.


" Oliviaaa !!! " Teriaknya hingga olivia mendengarnya pun menahan senyum.


Mark berlarian turun lalu dia memeluk olivia dari belakang " Olivia jangan lakukan ini kita cari orang untuk melakukannya kau harus menjaga diri baik-baik ya, jangan bekerja berat sudahlah " Cegah mark yang tiba-tiba menjadi posesif itu.


" Mark memangnya ada apa ?" tanya olivia.


" Kau hamil olivia ? lihat ! aku senang sekali kita akan punya anak ! " jawab mark yang berbahagia sekali.


" Benar "


" Aku bahagia sekali, aku akan menjadi ayah secepat ini. terima kasih oliv terima kasih banyak. " Peluk Mark kepada olivia, oliv begitu bahagia tetapi sampai saat ini Mark tidak pernah mengatakan cinta untuknya.


" Aku juga " Balas olivia yang hampir menangis.


" Kenapa kau menangis ? kau harus bahagia " ujar Mark mengangkat dagu olivia.


" Aku bahagia .. aku sangat bahagia sekali, tapi ... kita harus ingat ada perjanjian pernikahan yang harus kutepati. "


Mark menggelengkan kepalanya " Aku sudah membuang perjanjian itu, kita tidak akan bercerai karena ada anak kita."


" Benarkah ?"


Mark mengangukkan kepalanya " Mari kita besarkan anak kita bersama-sama dirumah ini "


" Mark , kau lupa akan ada anak lain ? "


Mark langsung terdiam, seakan dia lupa jika dia juga sudah menikahi Adelia dan Akan mempunyai anak dari Adelia.


" Olivia jangan merusak kebahagiaan kita karena perempuan itu. aku Tau jika itu juga anakku, aku akan bertanggung jawab kepadanya tapi Adelia harus mengerti posisinya sebagai apa. aku tidak akan membiarkan anak-anakku terlantar kau tenang saja. "


" benar yang dikatakan Aletha, Mark tidak akan membuat keputusan yang hanya menguntungkan dirinya. dia sangat tegas dan bisa memilih dengan cepat. " batin Olivia.


" Terima Kasih Aletha kau membuat rumah tanggaku menjadi sempurna. Aku akan membantumu menjadikan Rumah tanggamu sempurna nantinya. "


***

__ADS_1


Abigail baru saja keluar dari ruang gym, Tubuhnya yang berkeringat dan perut yang kotak-kotak Berhadapan langsung dengan Aletha yang akan keluar dari kamar mereka.


" aduhh " Kening Aletha tertabrak dengan dada bidang Abigail yang basah itu.


" Kau minggir dulu kenapa, sakit sekali dadamu ini terbuat dari apa sih " dia mengetuk-ngetuk dada abigail itu dan meneguk salivanya ketika melihat tubuh itu.


" Ada apa sayang ? kau tergoda kan , sudah aku bilang kau tidak tahan melihatnya jika aku membuka Kaos ku. " goda Abigail yang membawa tangan aletha menyentuh keseluruhan tubuhnya.


" Heyy... ja...jangan... " ucap Aletha yang gemetar


" Sayang kepalamu sayang, menyingkir lihat tangaku terkena keringatmu. ish bau uwekk "


cup


Abigail menariknya kemudian mencium bibir Aletha, " kau merasakan langsung keringatku " dia kembali mencium bibir Aletha dan ********** perlahan lama kelamaan Aletha terbawa suasana dengan itu, Abigail tersenyum smirk mungkin inilah kesempatannya pikirnya.


sambil berciuman dibawanya Aletha keranjang dan dijatuhkannya, tangannya berusaha meraut tangan Aletha, Kejantanannya yang sudah mengeras itu digesekkannya ke bawah milik Aletha.


Tok


Tok


Tok


Ting


Tong


suara ketukan dan bel bunyi itu sungguh mengganggu aktivitas keduanya, Abigail berusaha menutup telinga Aletha agar tak terpengaruh dengan suara itu. dia terus mencium bibir Aletha, lidah keduanya bertautan saling mengecap satu sama lain


Ting Tong


Tok


Tok


Tok


Aletha nampak kehabisa nafasnya dia sudah terpengaruh tadi " Tunggu disini jangan keluar "


Abigail keluar dengan keadaan telanjang dada, nafas Aletha memburu lalu dia masuk kekamar mandi.


" Gila ! gila! gila ! kenapa aku menikmatinya sih, ha rasanya malu sekali. Aletha bisa-bisanya kau "


" Aletha keluar ! " Teriak Abigail membuat dirinya terkejut.


" Sebentar "


dengan rasa malu dia keluar dari kamar mandi, Abigail sudah duduk pinggiran ranjang itu " Kau pesan makanan ?"


dia mengangukkan kepalanya " Kenapa tidak masak saja ?"


" A..anu itu ... aku ... aku sedang malas " jawabnya gugup.


" Kenapa kau tidak bilang dulu, jika kau bilang aku bisa memikirkan bagaimana menerkammu tadi. ini gara-gara pria itu mengantar makanan tidak tepat waktu. "


" Kau tidak marah ?" tanya Aletha dengan hati-hati karena dia pikir Abigail akan marah dengan dia karena sudah memesan makanan dari luar.


" Boleh dilanjutkan tidak ? kau sudah enak kan tadi aku gesekkan disitu ?" Tunjuk abigail dengan mulutnya.


" Hey ! ka...kau , jangan sembarangan dasar cabul ! "


" kau juga menikmatinya tadi "

__ADS_1


" Sudahlah sana mandi, aku lapar ini sudah siang nanti sudah makan siang aku pergi tidak tau jam berapa pulangnya. "


" Mau kemana kamu ? "


" aku belum bisa mengajakmu sekarang, aku janji lain kali akan mengajakmu untuk bertemu dengannya. "


justru jawaban hal itu membuat Abigail makin curiga, Aletha terlihat seperati akan pergi jauh saja padahal dia masih disini.


" Baiklah "


***


Hari ini Aletha tampak berbeda, sebuah selendang melekat di kepalanya dan kacamata hitam yang menutupi matanya, Tangannya berada di antara pusaran nama ibunya.


Hidungnya memerah dan air matanya yang jatuh, Tepat hari ini ibunya meninggal, dia tidak pernah tau sebelumnya tapi sekarang dia akan mengingat tanggal ini untuk selamanya.


" ayah tidak datang kan hari ini, ayah ada begitu banyak pekerjaan mungkin dia sangat sibuk maafkanlah dia. Sekarang sudah ada Aletha yang akan mengingat ibu setiap saat, ibu ... ibu tau aku sangat merindukan ayah, kapan ayah datang hanya untuk menemuiku. "


" Begitu banyak ceritaku dan aku ingin mengatakannya kepada ibu, ibu pasti mendengarkannya kan "


Sebuah tangan yang besar menyentuh pundaknya " Ibumu melihatmu dia sedang tersenyum sekarang. "


Aletha semakin menjadi, dia menumpahkan air matanya tanpa ada suara yang dia keluarkan.


" mengapa kau tidak memberitahuku jika kau akan datang ke makam ibumu ?"


Abigail duduk di samping nya, dan membiarkan Aletha menangis seorang diri.


" jika kau merindukan ayahmu datang saja kerumahmu, itu rumahmu aletha kau berhak datang dan keluar kapan saja."


" Ay-yah bahkan tidak per-nah menelponku, Hanya sekedar untuk bertanya kabarku "


" Aletha , jika kau diberikan satu pilihan kau akan pilih apa diantara keduanya , yang pertama kau kehilangan orang itu karena kematian atau kau kehilangan orang itu karena dia pergi bersama yang lain ?"


Aletha menghapus air matany dan membenarkan kacamatanya yang dirasa matanya sudah sangat sembab disana tapi tidak dia lihatkan.


" Aku akan lebih memilih kematian. "


" Mengapa ?" tatap Abigail yang Aletha terus menunduk ke makam ibunya.


" Ditinggal oleh kematian rasanya memang sakit, tapi akan lebih sakit lagi saat kita punya seseorang tapi dia seperti tidak ada untukku. " Abigail merengkuh wajah Aletha, dia menghapus air mata yang jatuh di pipi nya.


" Kau benar kematian memang membuat kita terpisah tidak bisa melihat rupanya lagi, tapi orang yang hidup seakan dia mati untuk kita itu lebih menyakitkan Mereka tidak tau rasanya jadi orang yang tidak dianggap itu sesakit apa. orang lebih suka meninggalkan dan melupakan tidak pernah sadar apa arti mereka untuk yang ditinggalkan. " ungkapan abigail itu Aletha merasa jika abigail juga sangat terluka dia sangat memahami bagaimana rasanya menjadi dia.


keduanya sama-sama memiliki luka dari orang yang mereka sayangi, hanya berbeda caranya saja.


" kau menaruh foto ini agar ibumu melihat ?" Abigail mengambil foto yang ditaruh Aletha diatas makam itu, fotonya bersama ayahnya yang telah menjadi dokter waktu saat dia awal-awal tahi jika Aletha seorang dokter.


" Foto terkahir beberapa bulan yang lalu setelah 17 tahun kami tidak pernah berfoto. "


" Kau tau ada begitu banyak foto dirumah yang terpajang tapi bukan denganku atau pun ibuku. Hanya ada Istrinya, Arkan dan Adelia. aku tidak ingin iri tapi aku juga punya perasan terkadang rasa iri muncul begitu saja, dia juga ayahku mengapa aku tidak bisa memilikinya seutuhnya "


" Jika dia tidak bisa memberikan aku senyuman setidak nya jangan berikan Luka kepadaku. " sambungnya lagi.


" Kau sangat cantik disini, Ayahmu juga tampan kau mirip dengannya. Aletha ... walau dia sejahat apapun kau tidak boleh membencinya, dia tetap ayahmu buktinya sebelum ada diaa ... "


" Dia mencari wanita lain dan menghasilkan anak hingga hampir 2 anak barulah aku ada. " potong Aletha.


" Hmm walau cara ayahmu salah tapi dulu dia sangat mengharapkanmu, Dalam diri ayahmu pasti ada cinta untukmu. "


" Aku sering bertanya selain itu apa ayah pernah mencintai ibuku , tapi ayah tidak pernah menjawabnya dia tidak pernah mencintai ibuku , bagaimana bisa aku juga dicintainya. aku lahir dari rahim wanita yang sama sekali tidak dia cintai. "


Abigail menarik kepala Aletha dan disenderkannya ke bahunya, mengusap lembut kepala itu.

__ADS_1


__ADS_2