
sesampainya dirumah Rendra terlihat lebih dahulu masuk kedalam kamar, hana yang baru saja dari dapur itu melihat anaknya bermuka seperti itu langsung bertanya kepada dirlara yang baru saja masuk rumah.
" Sayang ada apa dengannya ?" Tanya hana.
" Tidak tau ma, dari keluar tadi kak rendra seperti itu " jawab dirlara.
" Nanti mama bilang padanya untuk tidak marah padamu, dia memarahimu?"
dirlara menggeleng " tidak ma, tidak apa dirlara akan keatas bertanya pada kakak "
" yasudah kalau begitu selamat malam ya sayang"
" selamat malam ma "
dirlara pun naik ketangga yang besarnya bukan main itu. walau dirumahnya juga punya tangga seperti ini tapi dia merasa agak lelah jika naik tangga.
ceklek
Rendra terlihat habis mengganti pakaian, buktinya Dirlara sempat melihat perut itu dan rendra yang sedang menurunkan pakaiannya.
" Kak "
" hmm "
" Aku ... aku mau bicara "
" bicara saja "
rendra berjalan menuju ke ranjang king size nya itu
" Kakak marah ?" tanyanya.
" Tidak "
" Kenapa kakak diam dan kakak juga tidak bicara "
" Jika tidak mau kakak diam maka kita lanjutkan pembicaraan yang dimobil tadi, bagaimana ?"
Dirlara mengingat-ingat apa yang sebelumnya mereka bicarakan.
" Sudahlah istrirahat lah sudah malam " melihat wajah dirlara diam seribu bahasa itu membuat rendra paham kalau dirlara tidak mau membahasanya.
" kakak minumlah obat dulu. " pinta dirlara.
Rendra diam tapi dirlara tetap menyiapkan obatnya dan membawakannya segelas air putih.
namun tangan rendra tertarik melihat cincin putih yang dipakai oleh dirlara tapi bukan cincin nikah mereka.
" Cincin mu ?" tanya Rendra.
" iya "
" Cincin dari kakak tidak mau dipakai ya ?"
" itu ... cincinnya kebesaran jadi belum bisa kupakai kak."
" Yasudah nanti kakak minta mana mengecilkannya agar kau bisa memakainya di tangan ini, dan cincin ini tidak perlu dipakai lagi. "
" iya "
dirlara menaruh kembali air putih itu dinakas membuat nya membelakangi Rendra, rendra yang melihat tubuh dirlara ada didepannya langsung menarik tangan dirlara hingga ia terjatuh ke ranjang disebelahnya.
" Ka...kak ... "
" Sekarang boleh ?"
" bo..leh apanya ?"
deg ... deg ... deg
jantung dirlara yang tak karuhan itu rasanya benar-benar asing seperti ini.
" Kita kan sudah menikah sayang, lakukan apapun tidak masalah. " Ujar Rendra menatap dalam dirlara.
" Memangnya mau lakukan apa ?" tanya dirlara yang otaknya masih belum mencerna perkataan Rendra.
Rendra tersenyum lalu mengusalkan kepalanya di leher Dirlara " nghhh " tanpa sengaja dirlara mengeluarkan desahannnya membuat Rendra tersenyum.
" Mau dengar suara itu lebih lama, bolehkan ?"
dirlara baru tau maksud rendra yang memintanya untuk melakukan itu.
__ADS_1
" ah itu ... kak , kakak tidak boleh lelah atau akan mempengaruhi stamina kakak. nanti terjadi sesuatu Dirlara takut kak. "
" Memang melelahkan tapi ... akan terasa bahagia jadi tidak ada efek apapun sayang" rendra mengelus wajah halus dirlara itu.
Bagaimana ini , aku harus menolaknya.
" Boleh ya " Bujuk Rendra lagi.
tidak ada jawaban dari dirlara, ia masih bingung bagaimana menjawabnya lalu rendra mulai membuka kancing baju piyama yang dipakai dirlara.
Dirlara tidak tau apa yang dilakukan rendra saat Rendra hampir menciumnya " Tunggu kak " kata dirlara.
rendra pun diam dan memperhatikan dirlara " Kenapa sayang ?"
" Jangan sekarang, tunggu kakak benar-benar sembuh. aku tidak ingin kakak sakit bukankah sangat sakit rasanya menahan sakit kakak ? dan semua orang akan mengkhawatirkan kakak. "
" Termasuk dirimu sayang ?"
dirlara mengangukkan kepalanya " katakan kau mengkhWatirkan kakak " pinta rendra.
" aku khawatir pada kakak "
Rendra kembali tersenyum lalu ia mengambil tangan kanan dirlara dan mengecupnya " Baiklah kakak akan menahannya sampai kakak sembuh oke ? tapi jika kakak sembuh berhati-hatilah " bisik rendra ditelinga dirlara membuat dirlara bergidik ngeri.
" kakak akan tidur memeluk mu " posisi tidur mereka sekarang berubah, kini dirlara yang membelakangi rendra itu tetap dipeluk rendra.
sampai malam hari keduanya masih belum tertidur, Dirlara yang pusing memikirkan hubungannya dengan Aadinata dan Rendra yang memikirkan hubungannya dengan Dirlara.
drrt...drrtt
💬 " Aadinata 💞 Message "
" sayang sudah tidur ?"
dirlara diam- diam membuka ponselnya dan diredupkan cahayanya.
^^^💬 " Belum "^^^
typing...
💬 " Besok aku temui papa kamu ya, aku ingin serius sama kamu "
💬 " Kapan ? aku ingin membuktikan pada papa kalau aku layak untukmu "
^^^💬 " Kenapa kau tiba-tiba ingin menikah ? apakah ada sesuatu ?"^^^
💬 " Tidak ada, aku ingin membawamu bersamaku kemanapun aku pergi. "
^^^💬 " Nata , ini sudah malam aku tidur dulu , selamat malam ❤ "^^^
typing
💬 " selamat malam Dirlara sayang ❤ "
" sayang tidurlah " ucap rendra dengan suara serak ia tau dirlara sedang saling membalas pesan dengan Kekasihnya.
" iya " jawab dirlara yang langsung mematikan ponselnya.
***
Dihari minggu yang cerah ini, dirlara masih tertidur di ranjang king size itu. sedangkan rendra sudah bangun dan berolahraga di sekitar halaman rumah saja.
rendra terlihat berlari kecil di area halaman itu begitupun dengan papanya yang ikut berlari kecil.
" Jangan terlalu lelah " kata papanya yang mengejar rendra.
" eh papa "
" Istrimu belum bangun ?" tanya Hartono.
" Belum pa kasihan dia masih mengantuk "
" hmm mungkin dia kelelahan karena ulahmu " goda hartono.
rendra hanya bisa terkekeh " Mana boleh pa "
" Memangnya siapa yang melarang ?"
" menurut papa "
" hmm papa mengerti "
__ADS_1
" kau yang sabar "
" Tidak apa lagipula dengan begitu aku jadi tau pa, walau dia terlihat cuek dia masih peduli padaku katanya pikirkan kesembuhan ku dulu dia takut aku kesakitan. " katanya dengan bangga sekali.
" ha benarkah ? kalau begitu ada harapan "
" Ya. papa tunggu saja " saut Rendra.
sementara itu dikamar nya dirlara mengulet dan menatap langit-langit kamar. diliriknya yang sudah jam 8 pagi.
" astaga mau ditaruh dimana mukaku " katanya yang langsung membereskan ranjang itu.
" Baru berapa hari menikah sudah bangun siang dirumah mertua " gerutunya.
" Sini !"
dirlara mendengar suara papa mertuanya kebetulan jendela kamarnya begitu lebar sehingga ia ingin melihat apa yang sedang terjadi di bawah itu.
dia mendekati jendela dan melihat ada papa dan mama mertuanya yang sedang duduk di gazebo.
bangun tidurpun ia masih terlihat cantik sekali, di gazebo itu mama dan papa mertuanya terlihat sedang bercanda satu sama lain.
membuatnya teringat akan papa dan mamanya , langsung saja ia tepiskan ingatannya itu.
ceklek
disaat dirlara masih fokus memandangi aktivitas mertuanya rendra masuk kedalam kamar dan mencari tahu apa yang sedang dilihat oleh Dirlara.
" sayang apa yang kau lihat ?" tanya rendra.
" membayangkan papa dan mama duduk seperti itu " jawabnya begitu saja tanpa dipikirkan.
Rendra jadi kasihan melihat nya, dia tau sejak kepergian mamanya 10 tahun yang lalu membuat dirlara kesepian dan jauh dari kata perhatiann dan kasih sayang mama nya.
" Sayang " panggil rendra lembut.
" iya pa "
jawabnya dia berpikir yang duduk disebelahnya adalah papanya.
" eh kakak , maaf kukira aku sedang dirumah papa " ucapnya.
,Rendra tersenyum " kakak paham perasaanmu, sekarang mau kemana ini hari minggu ?" tanya rendra.
" aku mau kerumah papa, menjenguk vano dan papa "
" kakak temani "
Dirlara mengangukkan kepalanya " aku siap-siap dulu " katanya lagi sambil berjalan menuju kekamar mandi.
setelah bersiap dengan pakaiannya keduanya turun bersama.
dihalaman rumah kedua orang tua rendra masih duduk di gazebo.
" kita pamit dulu " kata rendra.
" sayang mau kemana ?" tanya mama rendra.
" Mau kerumah papa hasan ma, dirlara ingin bertemu vano " jawab rendra.
" oh begitu hati-hati ya. oh ya jemmy sedang dalam perjalanan menuju kerumah, nanti sore tiba "
" terima kasih ma , sudah ma pa kami pergi dulu " pamit rendra.
" Hati-hati sayang " ujar keduanya.
***
sesampainya dirumah Hasan dirlara melihat mobil yang ia kenal sebagai mobil Aadinata. secepatnya ia turun namun ia ingat ada Rendra bersamanya.
" kakak jangan masuk, sebaiknya kakak tunggu disini sampai aku bilang masuk "
Rendra paham kenapa wajah dirlara begitu panik, melihat mobil fortuner milik Aadinata itu ia bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.
ceklek
" pa "
katanya terengah-engah dan benar saja papanya sedamg berhadapan dengan Aadinata.
__ADS_1