
Tin
Aletha menoleh kesampingnya, Arkan memegang sebuah Payung hitam yang memayunginya.
" Kau ingin pulang ?"
" Hmm "
" Pakailah ini, atau kau akan menunggu lama disini "
" tidak perlu "
" Kau sakit kan ? Pelayan itu mengatakannya kepadaku "
" Dasar mulut besar " kata Aletha yang dia pikir pelayan dirumahnya sama saja menghianatinya.
" Dia hanya bilang kau sakit itu saja, apa kau ingin aku antar ?" Tanya Arkan lagi.
" Kau peduli atau kasihan kepadaku ? jika kau peduli aku tidak hargai itu tapi jika kau kasihan kepadaku, maaf aku tidak butuh kasihan darimu. " Ucapnya
" Aku mengkhawatirkanmu " balas Arkan.
" Ayo sayang cepatlah berdiri disamping ibu atau kau akan kehujanan "
" hehhe terima kasih ibu, ibu sigap sekali membawa payung"
" Karena ibu tau kau mudah sakit jika terkena air hujan "
melihat betapa indahnya kasih sayang seorang ibu kepada seorang anak yang sudah remaja itu membuatnya iri, dia bisa membayangkan jika itu adalah dirinya.
" Aletha pulanglah " Kata Arkan dia tau dia sedang melihat kedua orang tadi.
Aletha pun menerima payung itu " Terima kasih " sebelum pergi dia mengatakan itu, Arkan tersenyum tipis mendengarnya.
" Berhati-hatilah " ucapnya kecil.
***
ceklek
" hey tadi adik sekarang kakak , masuklah diluar hujan apa kau bawa payung untuk kita keluar ?" Tanya Abigail seraya menyesap rokoknya
" Aletha membawanya pulang "
Abigail mengurungkan dirinya untuk merokok ketika mendengar itu " Dia menerimanya ?"
" hmm aku juga tidak menyangka "
" Kau senang sekali,.seperti baru dimaafkan pacar "
" Tentu saja " batin Arkan
" Ngomong-ngomong kenapa perban dileher itu, katanya dia tidak sengaja " tanya Abigail.
" Siapa lagi yang melakukannya "
" Ayahmu "
" hmm dia dipukul dengan ikat pinggang "
Abigail langsung mengingat wajah Aletha yang menangis tadi, dan rokoknya pun terjatuh ke lantai kemudian dia injak hingga mati.
" Kalau begitu aku mempermainkannya di waktu yang tidak tepat, oh astaga abigail kenapa kau jahat " pikirnya.
" Tapi sebelum itu aku yakin ada orang yang mendorongnya"
" Aku juga tidak mengerti semuanya mendorong ayah untuk melakukannya termasuk Aletha sendiri, karena itulah ayah berani. "
" Baru kali ini aku melihat kehancuran seseorang yang bertubi-tubi dalam satu hari. ini yang dinamakan kejutan setiap saat aku bertemu dengannya. "
***
ceklek
Aletha baru saja sampai dirumah, walau menggunakan payung tapi dia tetap kehujanan. Lalu ayahnya datang membawakan selimut dan menyelimuti dirinya.
" Mandi dan istirahatlah setelah ini " ucap Hasan.
" Kenapa kau peduli "
" Pertanyaan ?" tanya hasan.
" pernyataan " jawab Aletha.
" Ayah salah , ayah emosi maafkan ayah "
" Sudah dari kecil aku melihat ini tapi biasanya kau tidak pernah meminta maaf kepada ibuku. jadi jangan minta maaf "
" Aletha .. "
__ADS_1
Aletha berhenti , lalu dia menoleh kesamping ayahnya.
" ayah kenapa kau jahat, kau orang baik ayah ... tidak bisakah kau kembali seperti dulu lagi " ujar Aletha dengan mata yang berkaca-kaca.
lalu dipeluknya Aletha, aletha benar-benar ingin menangis lagi tapi percuma nanti ayahnya pasti berubah lagi.
" Maafkan ayah, ini pasti sakit " dia mengusap luka yang disebabkan olehnya itu.
Terdengar suara mobil dari luar lalu ayahnya langsung melepaskan pelukannya itu " Ayah " gumamnya.
" masuk dan istirahatlah tubuhmu panas "
Aletha pun menurutinya tangannya menggenggam erat selimut yang dipakaikan ayahnya itu.
" Benar .. ayah itu orang baik hanya saja wanita itu yang membuat ayah tak berkutik "
***
krek
dia sudah mengunci kamar nya, dilepaskannya selimut itu dan dipandanginya sekilas dia tersenyum.
" Terima kasih ayah " ucapnya
***
didalam kamar hotel itu, Adelia sudah terbangun dengan rambut yang basah dan memakai mantel mandinya yang sangat minim itu.
sementara Mark dia masih berada di ranjang tertidur pulas sekali. Adelia sengaja mendekatinya kemudian dia mengibaskan rambutnya ke depan Mark hingga mark mengerjapkan kedua matanya.
" ahh kepalaku " desis Mark.
" Selamat pagi sayang " ucap Adelia dengan manja.
Mark mengernyitkan alisnya , dia terkejut ketika melihat adelia didepannya " Kau ! kau kenapa ada disini ?" tanya mark.
" Bermain , tidak lihat "
mark menatap sprei yang terdapat noda darah itu.
" aa .. aku ... aku tidak mungkin .. "
" mungkin saja sayang, kau akan menikahiku kan " kata adelia..
" Kau menjebakku ! kau perempuan murahan ! " kata mark.
" Ehh jangan marah aku saja tidak marah yang kau ambil keparawananya. "
" Mark tunggu aku ! " Teriak adelia yang akan mengejarnya tapi dia ingat kalau dia hanya memakai pakaian minim.
***
minggu pagi
yang seharusnya menjari hari libur dari pekerjaan tapi bagi aletha itu tidak mungkin,dia hanya bisa libur ketika dihari biasa sesuai jadwalnya untuk 3 bulan kedepan.
namun dia pergi agak siangan, walau sudah bangun dia tetap masih diranjangnya.
kryuk...kruyuk.,
" huft lapar sekali " memegangi perutnya yang berbunyi itu.
" mandilah aletha ini sudah jam 7 dan sarapanlah diluar " gumammnya.
tak butuh waktu lama setengah jam cukup baginya untuk mandi dan berpakaian, dia sangat simple dalam memakai riasan dan juga pakaian.
melihat hillls apa yang cocok untuk dia kenakan , tapi sayangnya matanua tertuju pada sneakers putih yang cerah itu.
" Jangan hujan ya aku ingin kau tetap bersinar terang " ucapnya sendiri.
ceklek
" Nona "
baru saja dia keluar kamar pelayan yang kemarin masuk kedalam kamarnya.
" Nona saya menemukan ini , ini sepertinya resep obat saat 5 tahun lalu ini juga sudah kusam lihat ada tanggalnya. "
Aletha menerimanya, dia melihat tanggal dan resep obat itu.
" Kau dimana menemukan ini "
" Ditumpukan baju lama nyonya melinda Nona "
" Baiklah , cari apapun yang menyangkut kejadian 5 tahun lalu. dan ... jangan katakan apapun tentang ku saat Arkan atau siapapun bertanya "
" Baik nona "
lantas Aletha pun pergi atau dia akan telat, dia akan mengecek nama obat itu nanti saja dirumah sakit. saat sudah menuruni anak tangga dia melihat keluarga itu sedang berkumpul di ruang keluarga tengah mengobrol dengan asiknya.
__ADS_1
" Eh ada Aletha , kamu mau kemana nak ? tidak sarapan ?" Sapa melinda.
" Apalagi kalau bukan men-****** " Saut Adelia yang hari ini ini selalu tersenyum setiap saat.
mendengar itu aletha kembali berhenti, dia pun berbalik " Benar ! semua pria mendambakan aku kenapa aku harus menyia-nyiakanya " saut nya yang ada Arkan disitu.
" Aletha kau tidak bisa bicara seperti, adelia kau juga " saut Arkan.
" Kenapa sih kakak sok membela sekali "
" Berapa kamu dapat ? ho pasti kau simpanan pria tua "
Aletha melirik ke wajah ayahnya " Satu kali main 20 juta " jawabnya santai.
adelia menelan salivanya begitu juga dengan arkan " Adel , Aletha cukup. Aletha jika kau memang harus bekerja pergilah hati-hati " kata ayahnya.
Aletha pun pergi, jam 11 nanti dia ada operasi yang sudah dijadwalkan. Mobilnya distirnya dengan kecepatan tinggi dan hanya butuh waktu setengah jam saja dia sudah sampai
langsung saja dia masuk keruangannya kemudian mengganti pakaiannya menjadi tenaga medis yang siap bertempur di dunia perebutan nyawa itu.
" Pasien sudah siap ?" tanyanya yang akan menuju ruangan operasi.
" Siap dokter " jawab perawat yang ada disebelahnya.
krek
mereka berdua masuk kedalam ruangan operasi, dan lampu operasi mulai dinyalakan.
***
" Astaga ibu iya ! iya aku pasti akan menikah tapi nanti ya tenang saja anak ibu itu tampan semut saja menoleh kalau sedang jalan dibarisannya kalau aku sedang lewat "
📱 " Sudah jangan membual ibu sudah muak mendengarnya. siapapun perempuan yang akan kau nikahi ibu tidak menolaknya "
" iya -iya Nyonya Ratu, sudah ya aku sedang makan oke dahh "
Tut..tutt...tutt
bukannya dia yang mematikan ponsel tapi ibunya Abigail lah yang menutupnya
" ha ya ampun wanita ini sensi sekali " ucapnya kemudian kembali makan sambil dia menonton acara televisi kartun anak-anak itu.
" Doraeeemoon " suara yang keluar dari televisi itu
drtt...drttt
" ibu anak paling tampan mu ini sedang kenapa diganggu terus "
📱 " ini aku "
" hmm ada apa "
📱 " aku mau bertanya serius kepadamu "
" Sejak kapan sih aku tidak serius denganmu "
📱 " Abigail ... aku mengkhawatirkan Aletha , dia bilang sekali main 20 juta apa kah menurut dia benar melakukannya "
" kau bicara apa sekali main 20 juta taruhan ?"
📱 " kau pria pasti mengerti "
" Katakan aku sedang tidak bisa berpikir "
📱 " menjual tubuh "
uhuk
uhuk
uhuk
dia yang sedang makan itu langsung tersedak
📱 " kau masih hidup kan ? Abigail ! Abigail ! "
" Sekali main 20 juga " gumamnya.
dia kembali mengambil ponselnya itu
" Kau percaya yang dia katakan ? tapi memang sih tubuhnya berisi wajahnya cantik kulitnya mulus baginya 20 juta sekali main itu lumayan tapi ... ah tidak mungkin dia berpendidikan tinggi terus seorang do... "
kata-katanya terhenti ketika dia ingat kalau tidak boleh memberitahu Keluarga Aletha.
📱 " seorang apa katamu ?"
" hm itu .. Ya... seorang lulusan luar negeri "
📱 " Aku harap dia bekerja dengan benar dan sesuai dengan gelarnya. " Ujar Arkan.
__ADS_1
" Kau tenang saja aku jamin itu , sudahlah aku ingin menikmati waktu me time ku bye "