
" Terima kasih dokter " Ucap pasien yang datang kepadanya dan dibalas senyuman oleh dia.
" Hari ini tidak ada pasien, Dokter bisa pulang cepat " ucap perawat yang bernamakan Desi.
" Benarkah ? kalau begitu aku pulang ya "
" Iya dokter "
Dengan senang hati Aletha akan pulang, sebenarnya dia tidak akan pulang karena hari ini dia akan mencari rekam medis dan jejak rumah sakit ini yang ditinggalkan ibunya.
sebenarnya beberapa waktu lalu Melinda memberikannya tapi ada yang aneh dari lembaran itu jadilah dia ingin mencarinya sendiri.
karena sudah tau dimana tempat pengumpulan berkas dirumah sakit itu langsung saja dia kesana, namun begitu banyak file yang tersusun rapi disana.
dilihatnya setiap rak mempunyai tahun tersendiri " 2014 ... 2015 " Dicarinya salah satu file yang ditahun 2015 itu dilihatnya satu per satu catatan pasien.
cukup lama dia didalam sana sampai akhirnya dia menemukan catatan medis ibunya.
" ibu " gumamnya, Diambilnya itu dan dibacanya.
Mata nya membulat tak kala melihat laporan itu, disana tertera kalau ibunya meninggal karena salah satu Racun yaitu Sianida.
" ibuu ... kau ... kau dibunuh " Lirihnya.
hancurlah sudah hatinya, begitu sakit sekali untuknya. Setelah begitu lama dia baru tau tentang setengah penyebab kematian ibunya, yang katanya sakit jantung tapi disini tertera karena racun.
Tangan nya mengepal kuat menahan emosinya, rasanya dia sudah muak dan ingin sekali membalas langsung pelakunya. tapi dia belum tau siapa orang itu yang jelas tujuannya adalah pasti melinda.
***
" Maaf baru bisa bicara sekarang ternyata ada rapat penting yang tidak aku tau. " Ucap Mark yang duduk berdua bersama Olivia di sebuah restoran.
" Aku mengerti. kau ingin mengatakan apa ?" tanya Olivia yang penasaran itu.
" Aku pikir sebaiknya kita tidak tinggal bersama Adelia. dengan tingkah nya dan cara bicaranya itu aku tidak suka. Kau juga akan merasa risih nanti. Benar yang dikatakan Aletha sebaiknya kau menjauh darinya, Begini saja ... aku carikan rumah yang lain untukmu bagaimana ?" usul Mark
" Lalu siapa yang akan tinggal disana ?" Olivia takut jika Mark akan tinggal dirumah sebelumnya bersama Adelia.
" Kita tinggal berdua, aku akan bicara kepadanya mau tidak mau dia harus terima ! "
" Baik ... baik aku ikut semua keputusanmu " jawab olivia yang tidak ingin bertengkar, dia juga berpikir baguslah jika Mark paham jika terus begini maka kehidupan ketiganya pasti akan hancur.
***
dari tadi Aletha hanya diam saja tak berniat sedikitpun membuka mulutnya. padahal semenjak tadi Abigail terus berbicara.
shitttt
Dia terkejut ketika Abigail mengerem mendadak, " Ada apa ?" tanya Aletha sendu.
" Kamu kenapa sih ? diam terus aku dari tadi bicara tentang rumah kita tapi kau .. apa yang sedang kau pikirkan ? "
" Tidak ada aku hanya merasa lelah saja "
" Kamu lelah atau sedang merencakan sesuatu ?" Selidik Abigail yang sangat curiga kepada Aletha, dia tahu aletha sedang ingin balas dendam kepada orang-orang dirumahnya.
" Abigail aku sedang lelah jadi jangan memancingku " ucapnya marah yang tertahan.
" Pemarah " Kata Abigail
mereka pun melanjutkan perjalanannya, sampai pada akhirnya 30 menit kemudian keduanya sampai disebuah rumah berwarna abu-abu.
" ini Rumahmu ?" Tanya aletha saat keluar dari dalam mobil.
" Benar, ayo masuk aku tunjukkan semuanya " ajaknya yang akhirnya keduanya masuk kedalam rumah itu.
" Tidak besar karena aku tinggal sendirian, tapi jika ini kurang katakan saja aku bisa cari rumah baru yang lebih besar atau ingin seperti rumah ayahmu ?"
__ADS_1
" Kepalamu tidak besar. ini bahkan lebih besar cukup untuk menampung 100 pasien. "
" Ini bukan penampungan, Nah kamar kita di lantai 1 itu akan memudahkan akses kita nanti. " tunjuk Abigail.
" Kita beda kamar ?"
" Maksudku memudahkan akses kita keluar masuk "
" Apa ada ruang kerja ?" Tanya Aletha
" Ada. itu disana, hanya satu kita berbagi saja karena aku jarang menggunakannya. "
Aletha menganguk paham, dia pun membuka kamar yang akan ditempati mereka.
" Buram sekali kamar ini. seperti tidak ada kehidupan " Ujar Aletha, bukan tanpa sengaja dia berkata seperti itu melainkan kamar itu rata-rata berwarna hitam dan biru tua, Dia duduk di samping ranjang merasakan empuknya kasur itu.
" Jangan Mengetes kualitasnya semua barang dirumah ini hasil dari perusahaanku. dan semuanya yang terbaik. oh ya lihat penghargaan itu , berbagai macam penghargaan aku dapatkan karena prestasiku dibidang usaha kau bangga pada suamimu ?"
" Hmm setidaknya aku bisa bangga dulu kepadamu. " Jawab aletha mengangguk paham.
" Kau masak ya " Ujar Abigail.
" Kau memanfaatkan aku ?"
" Kata siapa ? kan benar kalau ada istri untuk apa memasak. " Jawabnya santai yang juga merebahkan dirinya di samping aletha.
" Untung aku bisa melawannmu jika saja yang menikah denganmu perempuan berhati lembut kau akan menjadikannya pembantumu. "
" Aletha boleh aku lihat bentuk punggunggmu ?"
Aletha membelakakkan kedua matanya, dia berdiri dan berbalik menatap abigail seraya menutupi dadanya dengan telinganya.
" Hey kau terangsang hanya karena ada perempuan dikamarmu ? secepat itu ? tidak perlu aku mulai ?"
Bigail terkekeh mendengarnya, dia menatap Aletha dengan sendu sambil tersenyum kecil " Aletha bagaimana jika kita nanti sama-sama jatuh cinta ? dan bagaimana jika aku mencintaimu lebih dahulu begitupun sebaliknya apa yang akan kau lakukan ?"
" Entahlah aku belum memikirkannya itu, Dan satu hal kau harus tau aku itu sulit jatuh cinta , kenapa ? karena tidak tau hanya saja begitu, aku seseorang yang perfeksionis aku sibuk satu satu hal bisa melupakan banyak hal lainnya. " ungkapnya
" Aku akan mandi pinjam semua sabunmu ya "
" Sabunnya sudah kecil, aku beli dulu di minimarket depan "
" Baiklah aku tunggu "
Abigail pun keluar untuk membeli sabun dan beberapa kebutuhan lainnya. sementara itu Aletha juga keluar dari kamar dia mengecek ke arah dapur yang terlihat sangat rapi itu , dia buka kulkas dan ternyata masih begitu banyak persediaan makanan.
dia berniat akan memasak untuk nanti malam, ada apa saja disana dia keluarkan, tapi satu hal yang menarik untuk dilihat sebuah catatan di depan kulkas itu.
sebuah foto masa kecil abigail yang memenangkan perlombaan memasak sepertinya bersama ibunya dan disana ada sebuah teks.
" 15 Oktober 1996 , Aku dan ibu memenangkan lomba memasak dan kami membuat soto ayam kesukaanku. Terima kasih ibu aku menyayangimu "
Aletha tersenyum membacanya, dibalik sikapnya yang tengil itu dia juga manis pikirnya.
" Oke karena kau suka itu khusus untukmu aku akan memasaknya. lihat lah Bigail Aku istri yang baik bukan " gumamnya.
sementara itu abigail sudah banyak memasukkan beberapa kebutuhan yang akan dia beli, tapi dia masih berkeliling untuk melihat-lihat.
" Aletha suka apa ya " pikirnya.
" Coklat ?" dia memegang coklat batangan
" Ah tidak mungkin wanita seperti dia tidak romantis. nanti sajalah aku cari tau " Akhirnya dia hanya membeli itu dan langsung menuju kekasir untuk mrmbayarnya.
tak terasa ternyata dia pulang ketika hari sudah gelap, melihat semua lampu sudah menyala itu artinya aletha tau tempat nya.
ceklek
__ADS_1
" Aku lama tadi se... "
tidak ada orang disana, Abigail membawa belanjaannya ke dapur tapi matanya menatap meja makan yang ada beberapa wadah yang tertata rapi disana.
" Apa ini " gumam nya, hingga langsung membukanya , senyumannya mengembang lebar ada soto ayam, Tahu tempe dan telur.
" Dia manis juga " Batinnya.
" Bigail kau lama sekali ! aku mau mandi badanku lengket ! " Gerutu Aletha yang keluar dari ruang kerja itu, Abigail tersenyum melihatnya.
" Istriku apa ini Untuk suamimu ?"
" Ya , sudah mana cepat ini " Pintanya hingga abigail mengambilkannya dan memberikannya.
" Jangan lama aku juga mau mandi "
" Hmm "
****
Selesai keduanya mandi Kini mereka duduk dimeja makan saling berhadapan, Abigail terus menatap aletha dengan senyuman.
" Nanti kau jatuh cinta padaku, ini cobalah aku tidak pandai memasak jangan mengataiku ya "
" lebih baik mencintai istri sendiri dari pada istri orang. "
" Tidak ada yang salah dari perkataanmu, aku yang salah. " jawab aletha.
Abigail mulai mencoba soto itu, dia terhenti dan menatap Aletha " Hei aku tau masakanku buruk jangan membuatku minder " Gumam Aletha.
" Ini enak ... ini enak Aletha ! coba cicipi "
Abigail menyendokkannya dan menyuapi Aletha
" Enakkan ?" Tanya Abigail
Aletha tersentak , bukan karena makanannya tapi tingkah Abigail
" Aletha ?"
" Ha ? ya .. enak "
" Aku bisa minta ini tiap hari boleh kan ?"
" Jika aku tidak malas "
drtt....drrrrtr
ponsel Aletha bergetar, saat dia makan diurungkannya dan lebih mengangkat ponselnya.
" Halo ?"
" ..... "
" Sekarang ?"
" ..... "
" Baiklah aku akan datang "
ditutupnya telpon itu kemudian Abigail menatap aneh karena aletha membereskan dirinya dan juga piringnya
" ada apa ? kau belum selesai makan "
" Ada pasien darurat, sepertinya aku tidak pulang malam ini " Jawabnya yang berlari masuk kedalam kamar tak lama kembali keluar seraya memakai tas.
" Aletha tunggu ! " cegah Abigail
__ADS_1
Tapi aletha tak mendengarkannya dia langsung saja keluar, sebenarnya abigail ingin mengantarnya tapi aletha seakan tuli dan terus memikirkan orang lain.
" Bahkan kau tidak pamit padaku, Huft baru saja menikah sudah ditinggal mendadak seperti ini. "