Jatuh Cinta Kepadamu

Jatuh Cinta Kepadamu
Sampai Aku Tau


__ADS_3

" Tidak tau pa. sekarang dirlara hanya ingin menyelesaikan kuliah dan belajar dengan baik. "


" keduanya bisa dilakukan bersamaan sayang "


" bagaimana jika dirlara punya anak dan dirlara masih kuliah. tidak mau ayah, mungkin dirlara menerima pernikahan ini tapi dirlara belum siap jika harus mempunyai anak sebelum menyelesaikan kuliah. "


" Kalau itu urusan kalian berdua sayang, papa hanya bisa memberitahu apa yang menurut papa benar. diskusikan dengan suamimu karena sepenuhnya dia berhak menentukan jalan pernikahan kalian. "


Dirlara mengangukkan kepalanya membuat hasan terasa senang, sepertinya dia sudah berhasil membuat dirlara membuka pikirannya dari matanya juga terlihat dia tidak akan menyakiti papanya.


***



" memikirkan kekasihmu ?" tanya vano yang duduk agak jauhan dari dirlara.


" apa ?" tanya dirlara.


" kakak memikirkan kekasihmu kan "


" Apa dia masih kekasih kakak sekarang ?" tanya vano.


" Entahlah " jawab dirlara.


" Vano tidak suka dengannya. seperti dia sangat ingin memiliki kakak karena sesuatu hal saja. " ungkap vano.


" jangan bicara seperti itu, kau menuduhnya. "


" heh masih cinta ya " kata vano.


" apasih van, kakak kesini untuk melihatmu kau disini malah mengatakan itu. " geruru dirlara.


" sungguh ? kakak rindu padaku ya ? " tanya vano yang semakin mendekati dirlara.


keduanya tertawa bersama, dari jauh papa nya dan rendra melihat kaduanya yang sedang akur itu.


" Papa suka melihat istriku dan vano seperti ini ?" tanya rendra.


" iya, mengingatkan papa pada kakak nya juga. dulu kecil mereka sering duduk disana dan dari belakang yuda kakaknya selalu membelikan es krim rasa pisang mereka kemudian bercerita disana. "


rendra melirik papa mertuanya " Rendra ingat pada yuda, dia sangat menyayangi dirlara. "


" hmm karena dia ingin seorang adik perempuan, dirlara dulu sangat manja padanya. " saut papanya.


" tapi sekarang yuda sudah tiada, tidak ada yang bisa membuat dirlara bermanja lagi seperti dulu. alangkah bagusnya jika dia kembali menjadi anak yang seceria dan semanja itu, karena kepergian mama dan kakaknya membuatnya menjadi sosok yang dewasa. "


" ada Rendra pa, rendra akan membuat dirlara seperti ia menganggapku kak yuda bahkan lebih dari kak yuda. " katanya dengan yakin.


" pa " tidak sadar kalau dirlara dan vano telah kembali, keduanya menghampiri papanya bersamaan.


" Apa vano ?"


" vano mau pindah ke kamar kakak dirlara boleh kan ?"


" tidak pa , dirlara tidak mau kamar dirlara penuh kulit kacang " saut dirlara.


" Baru putus , baru saja putus 🎵 " Vano mengejeknya dengan menyanyikan sebuah lagu yang sedang hits itu.


" hey aku tidak akan melepaskanmu "


" sudah ! " tegas papanya


hingga membuat ketiganya menatap ngeri papa hasan.


hasan pun tersenyum " takut ?"


" papa " rengek dirlara.

__ADS_1


" papa akan ke perkebunan sebentar lagi, kalian istirahatlah. ada beberapa pegawai yang ingin bicara pada papa. jika butuh sesuatu mintan sama bi du "


" iya ayah " jawab dirlara dan vano bersamaan.


selepas papanya pergi dirlara meninggalkan rendra bersama vano tanpa berkata apapun, ia ingin kekamarnya dan sangat merindukan kamarnya itu.


ceklek


dirlara merebahkan tubuhnya dan menikmati ranjang empuknya itu " haa ini bahkan sangat empuk " dia berguling-guling di kasurnya.


" aku merindukanmu " gumamnya


tanpa ia tahu kalau rendra melihat tingkahnya, diam-diam rendra tersenyum. suara nya begitu lembut dan menggemaskan sekali pikirnya.


" Pasti istri kakak merindukan kamarnya bukan ?" ujar rendra lalu dirlara menoleh dan terbangun dari tempat tidurnya.


dirlara hanya tersenyum " iya " jawabnya.


lalu rendra pun merebahkan tubuhnya di ranjang karena dirlara duduk ia menarik tangan dirlara hingga sama-sama tertidur di ranjang.


" kak "


" apa ? "


" tidak "


Rendra menarik dirlara dan membuatnya menghadap ke arahnya, hingga tak sengaja rendra melihat belahan dada dirlara. dia hanya meneguk salivanya.


dirlara yang paham itu kembali terlentang lalu rendra mendekatinya sendiriaan dengan tangannya yang mengelus pipi dirala.


" Halus sayang " puji rendra mengelus kulit wajah dirlara.


" kak jangan "


" Kakak rasa tidak apa sayang, boleh ya sekali saja. "


Dirlara menggelengkan kepalanya " kenapa ? " tanya Rendra lembut.


" kakak aku tidak mau punya anak sekarang " jawab dirlara dengan jujur.


" Memangnya melakukan itu akan selalu punya anak ? kan bisa dicegah sayang. "


" tapi ... aku belum siap kak, aku pernah dengar walaupun begitu bisa tetap punya anak. "


" Sekarang kakak tanya kenapa dirlara tidak mau punya anak dengan kakak hmm "


" Bukan tidak mau tapi ... belum siap, aku baru memasuki semester 6 dan itu masih lama kak. " ungkapnya


Rendra menganguk paham , ia mendekatkan bibirnya lalu mencium hidung mancung dirlara.


" Kakak akan menahannya tapi izinkan kakak jika kakak ingin memeluk, mencium dan mencintaimu bagaimana ?"


dirlara sedikit berpikir, melihat mata rendra ia tau rendra begitu mencintainya dan hal ini tidak sebesar yang ia lihat dimata Nata.


" hmm " dirlara mengangukkan kepalanya


lalu rendra mencium bibir dirlara, awal-awal ia hanya menempelkannya saja. tapi lama kelamaan ia mulai ********** dan betapa senangnya ia saat ciumannya dibalas oleh dirlara.


sampai rendra terbawa suasana ia mulai beralih ke leher jenjang dirlara dan mengendusnya karena terlalu wangi


" shhh " desis dirlara saat rendra menyesapnya.


namun saat ia ingin berbuat jauh ia tersadar sendiri bagaimana dirlara tidak ingin melakukannnya sebelum ia sembuh.


ia melepaskan dirlara dan terlentang, lalu dirlara menatap kesebelahnya. " Maaf kakak terbawa suasana " gumam rendra.


Dirlara pun jadi salah tingkah bisa-bisanya ia menikmati semua itu pikirnya " Kak ! kak dirlara ! " terial vano dari depan.

__ADS_1


" ya " jawab dirlara.


ceklek


vano dengan senyuman dan gigi ginsulnya itu tersenyum " Kak ikutlah denganku. "


" kemana ?" tanya dirlara saat vano menarik tangannya.


" hee kenapa leher kakak merah ?" vano menyingkirkan rambut dirlara.


" itu... "


melihat wajah salah tingkah mereka berdua vano ingin tertawa " haha aku tidak jadi lihat " kata vano.


" ayo kak papa sudah membenarkan piano milik kak Yuda, mari kita coba " ajak vano menggeret tangan dirlara hingga rendra menyusulnya.


mereka naik kelantai paling atas dilantai 3 itu, sebuah ruangan yang sangat besar semua perlengkapan musik ada disana.


" lihat ! " vano membuka kain putih hingga piano klasik itu terlihat sangat indah sekali.


dirlara menatapnya sendu kemudian menyentuh nya dengan lembut, membuatnya teringat akan kejadian dulu.


dulu dia dan kakaknya akan duduk bersebelahan di piano ini lalu memaikannya bersama, jika kakaknya yang bermain piano maka dialah yang bernyanyi.


Saat itu yuda telah smp kelas 8 sedangkan dirlara baru kelas 4 sd, keduanya terlihat sangat dekat sekali ditemani ibunya yang sedang menemani vano bermain.


" Kakak bermainlah untukku "


dirlara menggelengkan kepalanya " kenapa ?"


" sampai aku tau karena apa kakak meninggal aku tidak akan memainkannya "


" Tapi itu sudah lama sekali." Jawab Vano.


drttt...drrttt


mereka berdua menoleh karena suara telpon yang berasal dari ponsel Rendra " kakak keluar dulu "


dirlara mengangukkan kepalanya " vano kau percaya kakak mati begitu saja ? " tanya dirlara.


" entahlah kak tapi dari pekerjaannya tidak memandang siapapun juga akan mati. "


" Tidak akan ada yang berani menyakiti kak yuda karena semua orang tau siapa kak yuda itu. tidak vano kakak yakin pasti telah terjadi sesuatu dan kakak tidak mengetahuinya. kakak tidak bisa menerima semua ini dan akan mencari apapun yang menyebabkan kakak meninggal. "


" sayang ( rendra mendekati keduanya ) ayo kita pulang, temanku datang kerumah, mama baru saja menelpon. "


Dirala mendengarkannya saja, ia pun menatap vano " Kau boleh memakai kamar ku sepuasmu, tapi jagalah papa dan jangan pulang terlalu malam kalau keluar. " jelas dirlara , ia sangat sayang pada vano dan tidak pernah ingin menyakiti hatinya.


" Terima kasih kak " jawab vano dengan semangat.


lalu dirlara memeluknya, sebenarnya ia masih ingin tinggal disini bersama papa dan adiknya. dia ingin menjaga keduanya dengan tangannya sendiri.


Rendra selalu tau kalau dirlara sangat menyayangi vano, walau dirlara terlihat cuek dan suka marah terkadang. tapi tidak membuat cinta dirlara untuk vano memudar walau sudah besar ia selalu menanyakan kondisi vano.


" Sudah pergilah kak "


" katakan pada papa kalau kakak pulang "


" iya "


" vano kakak pulang dulu " ujar rendra berpamitan


" Jaga kesehatan kakak " balas vano.


" tentu "


lalu mereka berdua turun menggunakan lift.

__ADS_1


__ADS_2