
ceklek
dirlara membuka pintu kamar rumah sakit itu, Rendra terlihat menunggunya di ranjang dan sedang diperiksa oleh doktet.
rendra tersenyum ketika mendapati dirlara yang tersenyum kecil kepadanya. dirlara langsung berubah pikirnya tidak seperti pagi tadi yang bermuka datar.
" darimana ?" tanya rendra.
" itu ... tante hana memberitahukan semua jenis obat yang akan diambil di apotik kak " jawabnya.
rendra menggengam tangan dirlara membuat dirlara terpaku.
" Kakak janji akan sembuh untukmu, kakak tidak akan merepotkanmu lagi sayang. dan jangan panggil tante lagi panggil saja mama. "
dirlara tersenyum lalu mengangukkan kepalanya " Ini sudah malam sebaiknya beristirahat dan kau istrinya kan ?" tanya dokter itu.
" i..ya "
" Jaga dengan baik dan jika terjadi sesuatu panggil saja suster. "
" Terima kasih dokter "
dokter pun tersenyum lalu segera pergi dari kamar itu dan ditutupnya, kini tinggal mereka berdua diruangan yang cukup besar itu.
" Kita hanya berdua sekarang " ujar rendra yang terus menggengam tangan dirlara.
" i..ya kak " jawabnya kaku.
" kenapa wajahmu memerah ? malu pada kakak ?" godanya.
dirlara tersenyum " tidak "
" lalu ?"
" tidak ada kak "
" yasudah. oh ya berapa hari izin tidak kekampus ? "
" satu minggu "
" hmm begitu, baguslah jadi kakak bisa melihatmu terus setiap hari disini. sayang ... mau tidur ?" tanya rendra.
" iya aku sudah mengantuk. "
" tidurlah disini nanti kakak tidur disofa sana, kakak ba.."
" eh tidak ! jangan-jangan biar aku saja yang disana. kakak tidurlah disini. " tolaknya.
" tapi sayang tubuhmu akan sakit. "
" tidak kak aku sudah biasa tidur disofa "
" yakin ? "
" iya yakin "
" Selamat malam sayang " ucap rendra.
" selamat malam kak "
dirlara pun menuju ke sofa itu, beruntung sofa itu ada bantal kecil kalau tidak dia bisa pusing besok paginya.
krek
suara lampu yang dimatikan oleh rendra, sedangkan dirlara tidur membelakangi Rendra yang dari tadi tidur miring untuk melihatnya.
" sayang sudah tidur ?"
ti dak ada suara dari dirlara dan sebenarnya dia belum tidur dan malah tidak bisa tidur diposisi seperti ini. dia tidak mudah tidur kalau itu bukan tempat tidurnya jika benar-benar lelah maka barulah ia bisa tidur.
jam 12.00
jam 12.20
12.50
13.00
Rendra masih belum tidur dia tidak tega melihat istrinya tidur seperti itu tanpa selimut apalagi di ruangan ber AC. jadi dia bangun walau merasa agak sakit di bagian pinggangnya.
dengan selimutnya ia menyelimuti dirlara yang tertidur nyenyak itu.
__ADS_1
" Aku akan sembuh dengan caraku, apapun itu aku ingin hidup lebih lama bersamamu dirlara ... "
hingga akhir ia menggeser tubuh dirlara lebih ke pojok sofa dan dengan sisa tempat itu dia tidur disebelah dirlara dan memberanikan untuk memeluknya.
jantungnya berdebar ketika ia bisa memeluk pertama kalimya dirlara. dia senang sekaligus gugup merasakannya.
" Good Night my Life , I love you " gumamnya.
***
keesokan paginya
walau matahari belum terbit dirlara sudah bangun itu menjadi kebiasaannya, namun dia merasa tidak bisa bergerak dan ada sesuatu yang menimpa pinggangnya.
sebuah tangan besar yang menimpa pinggangnya, dia terkejut lalu mendorong tubuh rendra.
brak
' ahh '
rendra meringis sakit di pinggangnya " kak rendra ! astaga " ujarnya reflek dan langsung membantunya bangun.
" sayang kamu kenapa mendorong kakak " ucapnya dengan suara yang serak khas orang baru bangun.
" aku .. aku tidak sengaja , maaf kak " ucapnya.
" Jam berapa ini ?"
" 5 " jawab dirlara.
" kau bangun sepagi ini sayang ?"
dirlara mengangukkan kepalanya " kakak tidurlah lagi, ini masih terlalu dini. aku akan pulang kerumah. "
" jangan ! "
" ha ?"
" maksud kakak , jangan pulang sendirian. nanti saja besok pagi mau ganti baju kan ? nanti suruh vano saja bawa kesini " katanya melarang dirlara pergi dia khawatir karena jalanan masih gelap dan juga menyetir dalam keadaan ngantuk bisa menyebabkan kecelakaan.
" Tapi semalam lupa mengabari papa, nanti papa mencariku kak. "
Rendra terkekeh mendengarnya lalu mengelus rambut dirlara " Baru saja kemarin kita menikah sayang, papa tidak akan marah ... "
" hmm "
sebenarnya dirlara tau dia sudah menikah dengan Rendra tapi dia masih tak percaya akan secepat ini menikah dan menikah dengan Rendra.
" Sayang ada apa ? kenapa wajahmu ?" tanya rendra.
dirlara menggelengkan kepalanya " Aku ke kamar mandi dulu "
" iya "
didalam kamar mandi dirlara mencuci wajahnya, ia tidak bisa memikirkan apapun bahkan berkata apapun jika dekat dengan Rendra.
sebelumya ia memang selalu bersikap biasa tanpa rasa canggung tapi sekarang setelah statusnya berubah menatapnya saja ia tidak bisa.
dia merasa bersalah pada rendra dan juga merasa menyakiti hati Aadinata.
" Ma, dirlara bingung " gumannya pelan.
***
Dari kediamana hasan, vano membawakan baju untuk dirlara yang sudah disiapkan pelanggan. jadi dia membawa paper bag berwarna putih yang cukup besar itu, dan secara tidak sengaja ia melihat sebuah buku sedang yang terbuka di bawah nakas.
diambilnya buku itu " Yang hidup akan mati, dan yang mati tidak akan bisa kembali bersama seseorang yang ia cintai. dan yang ditinggalkan hanya bisa diam tanpa bisa berkata. "
vano bisa menebak kalau kata itu ditunjukkan untuk mamanya, selama ini dirlara tidak banyak bicara perihal kematian mamanya.
bahkan sekian lamanya ia tidak pernah membahasnya mengatakan kalau dia rindu bahkan menyebut mama saja tidak.
dibaliknya kertas halaman itu ternyata itu adalah buku diary dirlara yang selama ini ia punya.
" Dirlara Aadina Maqda "
namun ada satu kertas yang membuatnya sangat tertarik dan ia foto itu, setelah itu ia bergegas untuk segera pergi.
namun baru saja keluar papanya akan naik ke lantas atas sehingga mereka bertemu di ditengah tangga.
" selamat pagi pa " sapanya.
__ADS_1
" pagi nak, mau kemana ? bukankah itu punya kakakmu ?" tanya hasan memperhatikan cara berpakaian vano yang terlihat rapi.
" Kerumah sakit pa, mengantar baju ganti kakak. "
" Kau tidak sekolah ?"
" Libur pa dua hari. aku pergi ya pa "
" Tunggu sebentar. "
hasan pun naik ke lantai dan ia menuju kesebuah nakas dan membuka laci disana.
" berikan pada kakakmu, katakan minum obat nya "
" memang kakak kenapa pa ? tidak biasanya dia meminum obat dia kan kuat. "
" Dia tidak bisa terlalu lama dirumah sakit, kakakmu akan flu dia seperti alergi rumah sakit dan obat-obatan. " jelas papanya.
" ada juga alergi seperti itu " gumamnya membolak-balikkan obat itu.
" yasudah pa aku pergi dulu. "
" hati-hati. "
hasan memperhatikan vano yang berjalan menuju keluar rumah, sekarang hanya ada dia dan vano dirumah ini. mungkin dia akan sangat kesepian tanpa istri dan anak perempuannya lagi.
" maafkan papa sayang " katanya menatap foto dirlara yang ada di dinding itu.
***
" hachu " dirlara terus bersin-bersin dari tadi, hal itu tak luput dari pandangan Rendra yang sedang membaca buku.
" hachu .. "
" Sayang kau sakit ?" tanya rendra.
dirlara yang sedang mengerjakan tugasnya itu langsung menatap rendra. " tidak kak, jangan perdulikan aku. "
" tapi kakak khawatir "
dirlara tersenyum kecil " ceklek "
" selamat pagi ! wah kak rendra wajahmu makin bersinar dan tampan " bukannya menyapa dirlara ia malah menyapa rendra terlebih dahulu dan memeluknya.
" seperti dirimu. kau tidak sekolah ?" tanya rendra.
" aih dari tadi semuanya bertanya kenapa tidak sekolah. aku libur kak , kak dirlara ... ini pakaianmu gantilah dan ada obat dari papa didalamnya dia menyuruhmu meminumnya. "
dirlara bangkit dan menaruh semua bukunya lalu menerima paper bag itu.
" siapa yang memilihkan bajunya ?" tanyanya.
" aku "
" mana mungkin. "
" tentu saja bi du , "
" gantilah bajumu kau sudah mandi, jadi biarkan vano membawanya nanti. " ujar rendra yang langsung dijawab anggukan oleh dirlara.
setelah dirlara masuk vano membuka ponselnya " kakak mau lihat sesuatu tidak ? aku jamin ini jalan kakak untuk mendapatkan hatinya. "
" apa ?" tanya rendra penasaran.
rendra memberikan ponselnya " Kriteria Pria Idaman Dirlara" baca Rendra.
" hust ! jangan keras-keras kak bisa gawat kalau dia tau " kata vano yang ketakutan itu.
jadi rendra membacanya dari dalam hati ada 5 tipe pria idaman dirlara.
1. Pria bertubuh tinggi
2. pria yang kuat dan tidak mudah mengeluh.
3. Pria yang bisa menemani dirlara kemanapun dia mau.
4. selalu tersenyum saat menyebut nama dirlara.
5. Menyayangi vano dan menganggap vano sebagai adik.
setelah membaca kriteria yang ada di buku itu, Rendra akhirnya tau seperti apa pria yang dicari dirlara.
__ADS_1
" dari sekian tipe aku punya semuanya tapi hanya satu yang tidak kupunya, tubuhku lemah tidak kuat seperti yang ia inginkan. " pikirnya.