Jatuh Cinta Kepadamu

Jatuh Cinta Kepadamu
Bangkit


__ADS_3

malam itu aletha sangat terpukul, hanya bisa memeluk foto ibunya diranjang kamar ibunya itu. tadinya ia ingin dipeluk oleh ibunya tapi malah dia memeluk akta kematian dan juga foto ibunya.


tidak ada orang yang ada bersamanya saat ini kecuali dirinya sendiri, dia butuh sandaran tapi tidak ada yang rela melakukannya bahkan ayahnya sendiri.


" Kenapa semuanya sangat jahat. jika tau begini untuk apa aku kembali. "


" Kau sudah makan ?"


nampak tampan berisi makanan itu ada disebelahnya, orang itu berdiri sedangkan dia duduk di lantai.


" Keluar " usirnya.


" Setidaknya kau makan dulu " Arkan menaruh nampan itu disamping Aletha.


" Keluar " usir aletha lagi.


" dek "


" Aku bukan saudaramu " jawab aletha dengan tatapan kosong.


" Baiklah tapi kau makan ya "


Aletha tak bergeming , dia tak selera makan bahkan untuk menelan ludah saja rasanya sangat pahit sekali seperti kenyataan yang saat ini dia terima.


Arkan menutup pintu kamar itu, dia sedih melihat Aletha sedih. dia berbeda dari ibu dan adelia.


" kau tidak akan sendirian, aku akan ada disini untukmu " Batinnya.


***


keesokan paginya


kembali seperti semua semuanya makan dengan tenang dimeja makan itu tanpa aletha, padahal Arkan dan ayahnya terus menunggu aletha untuk turun.


Hasan juga menyayangi aletha sama seperti kedua anaknya yang lain, namun semenjak dia membawa istri dan kedua anaknya itu kerumah aletha jadi membencinya dia tak lagi menganggap Hasan ayah yang pernah dia cintai hanya sebatas panggilan saja.


" Sayang kenapa kau tidak makan inikan kesukaanmu semua ?" tanya melinda.


" iya ayah makanlah, jangan pikirkan wanita itu dia juga nanti keluar " saut adel.


" Dia Saudaramu " jawab hasan


" Dia tidak menganggapku saudara " jawab Adelia.


" Karena dia membenci ayah, sudahlah kalian makan saja ayah lihat dia dulu "


" Tunggu ! " cegah melinda.


Hasan menatapnya " Biar aku yang bicara padanya " sambung melinda.


" Kau akan membuatnya semakin marah, disini saja " jawab hasan.


" Kalau begitu ... hmm pelayan sini . wadahkan beberapa lauk untuk Aletha dikamar ibunya sekarang "


" Baik nyonya besar "


" Melinda ... "


" sayang duduklah " melinda tak suka jika Hasan dekat dengan aletha dia takut akan mempengaruhi suaminya hingga dia menjadi asing dirumah ini.


hasan pun menurut dia tak marah sama sekali , Arkan khawatir mendengar Aletha yang tak turun untuk makan, tangannya terus mengusap celananya dibawah meja makan itu.


" Selamat pagi " ucap Abigail


" Eh nak abigail duduk-duduk kau sudah sarapan ?" tanya melinda.


" sudah Tante tidak perlu terima kasih, Arkan ayo kita pergi sekarang klien sudah menunggu. " Ajak abigail


memang Abigail dan Arkan adalah teman semenjak lama keduanya dekat.


" Ayah , ibu aku pergi bekerja dulu " pamitnya.

__ADS_1


" ya sudah hati-hati sayang "


Arkan dan Abigail pun berjalan bersama, tapi saat itu Arkan melihat Aletha yang turun menggunakan tangga tak biasanya pikirnya.


" Aletha makanlah ayah menunggumu " ujar Arkan yang peduli padanya.


" Inikan wanita yang semalam " pikir Abigail.


Aletha menatapnya sebentar, lalu kembali menuruni anak tangga. bukannya belok untuk makan bersama tapi dia menuju keluar.


" ale.."


aletha menoleh kebelakang Menatap arkan " Jangan sok peduli padaku. urus saja ibu , adik dan ayahmu "


" Tap..."


belum juga selesai bicara aletha pergi begitu saja, rasa bencinnya sangatlah besar dia menghapus air matanya yang jatuh dari pelupuk matanya


" Siapa dia Arkan ? aku semalam melihatnya " tanya Abigail.


" Sepertinya kau saja yang ketemu klien aku tidak bisa "


" Kenapa ? "


Arkan berlari tapi saat itu aletha sudah memakai salah satu mobil yang ada di garasi begitu cepatnya hingga dalam sekejap tak bisa dia pandang.


" Arkan aku ikut " pinta Abigail.


" ya "


***


Aletha membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, semalam dia diberitahu ayahnya dimana tempat pemakaman ibunya.


dikursi sebelahnya sudah ada bunga yang sempat dia beli tadi, hingga 15 menit kemudian dia sampai kesebuah pemakaman yang paling beda sendiri , pemakaman itu terlihat tidak terurus sekali.


" Ibuu " gumamnya kemudian mengelus tanda nama itu.


" ibu hiks hiks ... tega sekali meninggalkan aku sendirian disini, aku rindu ibu "


Dari jauh Arkan dan Abigail berada didalam mobil dan memandanginya, Aletha begitu sedih meratapi makam ibunya.


" Itu makam ibunya yang kau bilang " ucap Abigail


" iya "


" Bahkan pemakaman orang miskin tidak seperti itu, kau tidak mau merapikannya ?" tanya Abigail.


" Aku malu mendatanginya, ibuku ... sudah merebut kebahagiaan mereka berdua "


" Aku tidak mengerti dengan keluargamu siapa yang lebih dahulu menikah dengan ayahmu , tapi jika dilihat mungkin usia dia baru 24 tahun. "


" Ibunya dan ayah sudah menikah lebih dahulu tapi sangat lama diberi keturunan, mereka dijodohkan tapi ayah tidak mencintainya. justru dia menikahi ibuku diam-diam hingga melahirkan aku dan Adelia tapi sebuah keajaiban datang Aletha juga lahir ditahun yang sama dengan Adelia hanya beda beberapa hari saja. "


" Jadi ... "


" ya , ibuku merebut kebahagiaan keluarga mereka. " poton Arkan sebelum Abigail menyelesaikan perkataannya.


" kau tidak salah, hanya saja waktu nya yang tidak tepat. anak itu sebuah karunia yang disalahkan adalah orang tua. "


" Tapi aku kasihan melihatnya, 10 tahun pergi jauh karena ibu adina tidak ingin dia melihat penindasan yang dilakukan ibuku dan adikku. "


" Kau menyayanginya ?" tanya Abigail.


" Entahlah "


" kau tidak mungkin mencintainya kan ?"


Arkan diam tak menjawabnya " Cinta atau sayang apa ada beda " pikir Arkan.


Aletha menaburkan bunga keatas makam ibu lalu dia menoleh kesemua arah, melihat begitu tragisnya pemakan ibunya yang tak layak itu.

__ADS_1


" Aku akan membuat rumah ini menjadi layak, ibu... aku bersumpah akan membalaskan dendam dan mencari tau penyebab kematianmu "


***


Lantas Aletha kembali berjalan dengan lesu seusai menemui makam ibunya, masih dengan pantauan Arkan dan Abigail. diliriknya lagi makam ibunya.


" hiks hiks hiks "


" bahkan tidak ada dipikiranku akan terjadi hal ini " gumamnya kecil.


***


dan mulai hari ini aku akan mengatur hidupku dengan baik, masih banyak hal yang menungguku didepan nanti. walau aku sangat kehilangan mu aku juga akan sangat bersemangat untuk mencari tahu siapa penyebab kematian ibu.


Dikamarnya dengan sinar yang redup itu dia merebahkan dirinya berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri.


kring ... kring ... kring


Aletha mematikan alarm di sebelah telinganya itu, dia masih mengantuk tapi jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. secepatnya dia bergegas kekamar mandi, dia menggosok gigi, mencuci muka lalu mandi dengan benar.


berulang kali dia memilik pakaian yang cocok hari ini dia akan mendatangi salah satu rumah sakit yang sudah ditujukan kepadanya saat masih di washington dulu.


Dia tidak ingin memanfaatkan kekayaan Ayahnya seperti orang dirumah ini, tak butuh waktu lama baginya dia sudah cantik dengan pakaian casualnya.


langsung saja dia keluar dari kamarnya tapi dia berpapasan dengan melinda.


" Selamat pagi sayang kau mau kemana sudah cantik begini ?" tanya melinda seakan sedang menjilat sesuatu itu.


" Ibu apaan sih kenapa menegur orang rendahan seperti itu " Saut adelia yang ada disebelahnya.


" Aku juga tidak butuh pujian dari wanita ini, minggir jangan menghalangi jalanku " usirnya.


" kau ini ! " desis Adelia.


" hehehh iya lewatlah maaf ibu menghambat jalanmu " kekeh melinda.


Tanpa bereskpresi apapun Aletha langsung pergi dari sana namun lagi-lagi ada ayahnya yang akan naik. dia pun tak menegur hanya lewat saja.


" Aletha kau mau kemana ?" tanya Hasan.


dia tak menjawab hanya pergi saja, sedangkan diatas melinda terlihat mengepalkan kedua tangannya " Tidak tau diuntung " umpat melinda.


" Apa yang kalian lakukan disana ? bersiaplah cepat " tanya hasan.


" iya ayah " saut adelia.


***


Jakarta Hospital City


Aletha sudah berdiri didepan gedung rumah sakit yang luas itu, Dia akan pindah kerja disini. setelah itu dia akan memasuki rumah sakit namun secara tak sengaja ada mobil yang akan lewat disampingnya dengan mengebut .


" Hey ! " teriak seseorang yang langsung menariknya hingga mereka terguling ke lantai dan bertindihan.


Aletha memejamkan kedua matanya, Sedangkan pria itu masih menindihnya namun tangannya berada di bawah kepala aletha untuk melindungi benturan dikepalanya.


" aku tidak mati " pikir Aletha.


dia pun membuka matanya secara perlahan, hingga akhirnya mata mereka saling menatap manik mata satu sama lain.


" Inikan Saudara nya Arkan " batin Abigail


" Kau akan terus menindihku ?" gumam Aletha.


mata abigail masih menatapnya tak berkedip " kau tidak malu dilihat orang ?" tanya Aletha lagi


akhirnya Abigail tersadar kalau mereka berdua dilihat begitu banyak orang, diapun bangun diikuti oleh aletha setelahnya.


" Terima kasih " ucap Aletha yang langsung pergi setelah itu karena buru-buru atau dia akan terlembat.


" He dasar wanita dingin " kata Abigail.

__ADS_1


__ADS_2