
keduanya makan dengan tenang disana, tak jarang Abigail menyuapi Aletha dengan makanannya tampaknya keduanya sudah saling nyaman dan mulai terbuka satu sama lain.
" aaaa "
Aletha membuka mulutnya lagi " Hentikan atau makananmu akan habis karena diriku " Gumam Aletha sambil mengunyah makanan itu.
" Tidak apa aku senang " Jawab Abigail.
" Ngomong-ngomong Abigail aku melihat foto yang ada didepan kulkas itu, aku hanya melihat ibumu dimana ayahmu ?" Tanyanya yang sangat penasaran karena selama ini dirinya tidak pernah melihat sosok ayah Abigail.
" Ayahku meninggal saat usiaku 6 tahun "
" Karena apa ?"
" Tumor otak, Saat itu kami hanya orang miskin tidak punya uang untuk membawa ayah kerumah sakit yang besar hanya ditangani di rumah sakit kecil. dia sempat dioperasi dengan uang bantuan tapi tetap tak tertolong. "
Aletha baru tau jika Abigail dulunya hanya orang biasa tapi sekarang dia adalah salah satu pengusaha sukses di indonesia yang sangat kaya raya sungguh menakjubkan pikirnya kerja keras yang tidak sia-sia.
" Kau pasti sangat kesulitan waktu itu "
" Benar, tapi aku sempat berpikir saat melihatmu menyelamatkan nyawa remaja itu ... Jika saja dokter yang menanganinya adalah dirimu ayahku pasti selamat. "
Aletha pun menggenggam tangan Abigail, dia mengelus nya lembut.
" Aku juga pernah gagal dalam menyelamatkan nyawa orang. Saat pasien pertama ku meninggal aku berpikir aku tidak pantas menjadi seorang dokter karena aku sudah menyabut nyawa orang itu, Tapi Mark bilang padaku Dokter Hanya perantara dalam menyelamatkan manusia berhasil atau tidaknya dia sudah ditentukan oleh Tuhan dan semenjak saat itu aku yakin jika aku bisa menyelamatkan nyawa orang lain dan jika gagal itu artinya aku sudah berusaha tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah diatur. " Ungkapnya yang lagi-lagi dia jadi mengingat Mark.
" Saat kau menyebut nama Mark kau seakan masih mencintainya. " Ujar Abigail yang tahu dari caranya Aletha berbicara.
" Mark dan aku berpacaran kurang lebih 3 hampir 4 tahun, saat aku masih di bangku kuliah. Selain mark aku jarang berteman, Tadinya ... Aku mengajaknya menikah tapi dia selalu mengulur waktu, hingga akhirnya semua terjadi dan bohong rasanya jika aku sudah melupakannya. "
saat mendengar itu abigail agak sedikit kecewa tapi dia paham Hubungan selama itu tidak bisa dilupakan hanya kurun waktu beberapa bulan.
" Jadi kau sekarang masih mencintainya ?"
" Kau lihat mataku ? "
" Hmm aku mencari tahu dari matamu."
" Mungkin iya tapi entahlah dari dulu pun aku seperti ini berpacaran atau tidak semuanya sama. "
" Tolong ya aletha aku itu ingin kejelasan jangan seperti ini tidak baik yang setengah-setengah itu " Gerutu Abigail ingin rasanya aletha tertawa melihat wajah abigail sekarang.
" Hahaha apa kau cemburu ? Lagipula aku dan dia sudah sama-sama menikah kami masih dekat tapi bukan berarti kami tidak punya otak, kami tau batasan. "
" Baguslah kau itu sudah menikah jadi jangan ganjen sana-sini lihat saja jika kita sudah saling mencintai aku akan berikan hukuman dan peraturan. "
" Terserah kau saja, aku ke toilet sebentar setelah itu kita akan pulang "
***
" Abigail bangun " Ucap suara serak Aletha ketika membangunkan abigail yang memeluknya saat ini.
" Hmm aku masih mengantuk Aletha " jawab Abigail yang malah semakin memeluk erat Aletha.
" Kau tidak bekerja ?"'
" Bekerja "
" Baiklah 5 menit lagi " Ujar Aletha yang membiarkan abigail memeluknya saat ini.
melihat jakun yang menggoda itu Aletha ingin sekali menyentuhnya, jadi tangannya perlahan-lahan menyentuh jakun itu hingga membuat jakun itu naik turun.
pagi-pagi begini disentuh begitu oleh Aletha membuat milik Abigail langsung bangun seketika, dia masih menahannya sekarang tapi Aletha sungguh apakah dia tau jika pria di pagi hari suka terbangun sendiri walau tidak diapa-apakan.
" Aletha ... kau membangunkan dibawah sana " ujar abigail dengan serak.
" kau tidak mau bangun jadi aku lakukan ini "
" Kau bukan membangunkan aku tapi membangunkan adik kecilku disana, kau harus tanggung jawab "
Secepatnya abigail bangun dan menindih Aletha, Nafasnya memburu karena hasrat itu.
__ADS_1
" A-abigail ... itu ... kita harus bekerja. " ucap Aletha tergugup.
" Salah siapa yang membangunkannya " Diam-diam Abigail mengambil tangan Aletha lalu dia menaruh tangan itu dijuniornya hingga mata Aletha membulat merasakan sesuatu yang keras.
" Kau rasakan sendiri kan sekeras apa dia ?"
" A-a..abigail le..lepaskan tanganku "
ya ampun besar dan panjang juga sangat keras, pasti jika masuk aku akan berteriak sekuatnya.
" Bantu aku lepaskan sekali ya, dengan ini " Tangan aletha dinaik turunkannya oleh dia di junior miliknya itu.
" Tidaaak !! " Teriak Aletha begitu saja, Abigail memasang wajah kusut.
" Kenapa sih Aletha aku kan suami kamu. Fine-fine saja jika melakukan itu, Ayolah kau akan kubuat mengerang keenakan nanti dengan tekhnik ku ya, ayolah cobalah dulu kau akan ketagihan nanti. " Abigail berusaha mempengaruhi Aletha yang dia pikir pasti terpengaruh.
" Mundur ! kau itu harus bekerja lihat jam sudah jam 7 begini kita akan telat nanti. "
" Ish dasar Lagi-lagi aku harus menahan ini. ahhhhh Alethaaaaaa !! "
brak
Aletha masuk kekamar mandi mendengar suara teriakan abigail yang tersungkur-sungkur di kasur itu membuatnya tertawa di kamar mandi.
" Hahaha " Teriakannya sangatlah kencang.
" Awas kau Aletha aku akan buat kau mengerang dibawahku nanti, kurang dari 3 bulan ! "
***
" Brengsek ! ini semua gara-gara Aletha ... dasar wanita murahan dan kelas rendahan, kau membuatku kesepian dan tak sekali pun mendapatkan perhatian Mark "
" Tunggu Aletha dan lihat aku akan menghancurkanku sama seperti ibumu "
Dendamnya sangatlah besar, jika dibilang dia dan Aletha punya sifat yang sama yaitu sama-sama pendendam. tapi Kelemahannya dia selaiu menyalahkan orang lain ketika dirinya kecewa untuk melampiaskan kemarahannya.
" Sama seperti aku membunuh ibumu aku juga akan melakukannya kepadamu ! " ucapnya dengan penuh rasa marah.
***
Ketika dia keluar dari ruangan operasi Aletha terlihat memukul-mukul pinggangnya yang terasa keram dan sakit itu.
" Mau aku pijit ? tapi tidak gratis "
tanpa dia ketahui Abigail menyender di salah satu dinding, dia tersenyum terkekeh melihat Aletha yant begitu kelelehan.
" Sejak kapan kau disini ? seperti hantu ada dimana-mana "
Abigail kini berdiri tegak, lalu berdiri di depan Aletha memandangi wajah aletha yang nampak sendu dan sayu.
" Kau sudah seperti berusia 50 tahun, lihat muka yang ketekuk, lusuh dan jelek itu. " Ujar Abigail yang hanya menggoda Aletha.
" Tapi kau menikah denganku. " Telak Aletha
" Terpaksa "
" Aku lebih terpaksa "
" Hei aku bercanda, Tunggu Aletha kau suka sekali meninggalkan orang saat sedang berbicara. " gerutu Abigail yang mengejar aletha yang berjalan cukup cepat itu.
" Dokter aku butuh tanda tanganmu disini " Seorang perawat pria datang lalu dengan senang hati Aletha langsung menandatanganinya.
" Terima Kasih Dokter "
Aletha mengangukkan kepalanya " Ayo kita ke tempat refleksi agar tubuhmu segar " Ajak Abigail
" Tidak mau. "
Ceklek
Aletha duduk di kursinya itu sedangkan abigail memilih duduk di sofa nya.
__ADS_1
" kau tidak bekerja ? oh iya aku mau tanya kau kan punya perusahaan besar apa kau tidak pernah bekerja ? hidupmu santai sekali. " Tanya Aletha yang tampak sangat penasaran dengan Abigail.
" Suamimu ini bos bekerja atau tidak, tidak ada pengaruhnya untukku. Berbenahlah kita pulang "
" Aku tidak tau kau akan menjemputku. aku ada janji dengan seseorang diluar kau pulang saja. "
" Siapa ? Pria atau wanita ?"
" Pria "
" Hei ! Aku suamimu. "
" Ck bisa tidak jangan berteriak disini rumah sakit. pria atau wanita memangnya kenapa ? aku tidak suka selingkuh tenang saja. "
" Aku ikut "
" sungguh ?"
Abigail mengangukkan kepalanya, Dan sekarang mereka berada di Bandara internasional entah siapa yang Aletha tunggu dia sangat antusias.
Tanpa mereka duga juga disana ada Arkan yang baru saja tiba, Ketiganya tidak saling bicara tampak renggang dan sangat Jauh.
tak lama banyak orang yang keluar dari pintu kedatangan itu, Aletha nampaknya benar-benar menunggu kedatangan orang ini.
sampai agak sepi itu seorang pria tinggi memakai jaket berwarna coklat dan celana jeans warna putih, berkacamata tampan dan putih.
Aletha langsung tersenyum lebar begitu pun dengan pria itu yang melambaikan tangannya ke arahnya dan berjalan cepat menghampiri Aletha
Aletha secepatnya berlarian menuju ke arah pria itu dan akhirnya kedua bersatu saling memeluk dan tubuh Aletha diangkatnya.
Abigail dan arkan sama-sama melongo melihatnya, sampai Abigail membuka kacamatanya tak percaya istrinya selalu memeluk orang begitu.
" Ran "
" Aletha ! aku merindukanmu. ".
" Kau pikir hanya kau saja, aku juga sama."
Keduanya masih memeluk satu-sama lain, begitu sayangnya pria itu kepada Aletha hingga tak pernah melepaskan pelukannya dan elusannya di kepala Aletha.
" Istriku .. kau melupakan suamimu yang berdiri disana " ucap Abigail yang sangat manja itu.
pria itu tertegun, dia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Aletha.
" Ran, dia pria yang aku bicarakan itu."
" oh jadi kau suaminya Aletha, kenalkan aku Ran Lando, sepupu Aletha " dia menjulurkan tangannya, mendengar itu abigail barulah dia tenang dia pun membalas jabatan tangan itu.
" Abigail suami Aletha "
" Ran Ayahku memintaku untuk menjemputmu " Kini Arkan mendekati ketiga orang itu.
" Ayahmu ? " tanya ran.
" Kau sebaiknya ikutlah ke rumah ayahku, lain kali kita bertemu lagi masih ada banyak waktu untuk bicara. " jelas Aletha
" Baiklah , tapi aku benar-benar merindukan dokter cantik ini " Kembali dia memeluk Aletha dan mencium keningnya.
" Hentikan Ran atau pria yang disampingku akan menganggapku wanita gampangan. " katanya yang ditujukan untuk abigail.
" Hahahah jangan cemburu kami memang seperti ini aku sangat dekat dan menganggapnya adik sendiri. " Ujar Ran menyentuh bahu Abigail.
" Aku mengerti " balas Abigail.
" Kau pergilah " Ujar Aletha kepada Ran.
" kau duluan " Balas Ran.
Abigail pun mengambil tangan Aletha, Arkan sama sekali tak menolehnya walau dari tadi dia terus memandangi keduanya.
" Ayo sayang kau lelah habis bekerja " Ucap abigail dengan lembut yang dibalas anggukan pelan oleh Aletha.
__ADS_1